Duh, beberapa hari ini badanku nggak enak terus. Selalu ingin tidur dan tidur dan tidur. Yang kutahu adalah aku pengidap darah rendah (hypotensi) . Dan mungkin sekarang ini darah rendahku lagi mengamuk butuh pelampiasan.
Kata temanku :
“Kamu itu aneh punya darah rendah… Sementara orang-orang kota kebanyakan darah tinggi, jantung, diabetes, dan kanker, kamu malah darah rendah. Itu artinya kamu belum makmur….!!!”
Ukuran temanku itu kalau aku makmur berarti harus punya penyakit darah tinggi, kanker, jantung dan diabetes. Gila. Lebih baik jadi orang ndeso dan nggak punya apa-apa daripada orang kota yang punya segudang harta dan juga segudang penyakit. Kenapa nggak sekalian ditambah AIDS, Flu Burung, sama Demam Berdarah ? Kan itu salah satu ciri Jakarta (Kota) saat ini.
Kata temanku lagi :
“Makanya olahraga yang teratur. Jangan merokok. Jangan begadang. Makan yang sehat. Pikiran juga sehat. Kalau cara hidupmu seperti ini, nggak sampai umur 50 tahun kamu sudah mati.”
Aku cuma bilang : “Iya bu dokter.” Sambil manyun dan manggut-manggut nggak jelas. Masalahnya memang lebih kepada cara hidup. Kalau menjadi kalong (melek di waktu malam, tidur di waktu siang) sebenarnya sudah lama bukan menjadi life style-ku lagi. Olah raga juga cukup teratur alias minimal 2 kali seminggu. Makan juga yang sehat-sehat saja dan tidak mengandung racun. Apalagi racun formalin yang katanya bisa bikin kanker. Merokok juga mulai berkurang dan nggak “segila” dulu. Tapi masalah yang lain masih ada.
Dan ini masalahnya kata temanku :
“Makanya kawin….eh nikah maksudku. Kalau kawin kayaknya kamu sering, deh. Punya istri biar ada yang ngurus. Biar hidup jadi lebih tenang, teratur, punya tanggung jawab, dan nggak stress”.
Lha…? Wait a minute young lady…!! Sepertinya semua masalahku termasuk darah rendah ini akan selesai kalau aku menikah ? Oh, jadi itu toh tujuannya menikah. Saya kira buat melampiaskan nafsu saja (sambil ngelirik yang lain). Tapi kalau menurutku solusinya bukan memecahkan masalahku tetapi memecahkan situasiku saat ini yang belum menikah.
“Punya istri biar ada yang mengurus”. Menurutku kalau menikah dan punya istri buat mengurus kita, lebih baik cari pembantu saja. Lebih enak karena bisa disuruh-suruh dan selalu nurut sambil bilang, “Iya Pak…”. Apalagi kalau istrinya nggak bisa ngurus suami, ditambah suami yang takut istri.
“Menikah biar lebih tenang”. Menurutku jadi tambah banyak masalah. Belum lagi kalau istriku nanti rewelnya minta ampyuuuunnnn. Belum lagi kalau waktu “minta jatah” malah ditolak dengan segudang alasan. Belum lagi ngurus anu, ini, dan itu. Wuih, katanya (kata yang belum menikah), menikah itu jadi menambah persoalan dan bikin nggak tenang. Sepertinya ada yang memata-matai dan selalu terhambat dalam beraktivitas. Katanya lho….
“Menikah biar bertanggung jawab”. Nah ini yang bikin aku agak marah. Memangnya kalau aku belum menikah, aku kurang bertanggung jawab. Yang kutahu dalam ilmuku (psikologi) memang kalau menikah seseorang lebih bertanggung jawab dibandingkan sebelum menikah. Tapi itu penelitian di Amrik sono. Dan penelitian itu juga punya persentasi sekian persen, punya error sekian persen, dan punya tingkat kepercayaan sekian persen. Lha, kalau aku tidak menikah dan dianggap tidak bertanggung jawab, lebih baik penelitian itu kubuang saja. Aku mungkin saja masuk dalam error sekian persen itu, atau tidak masuk dalam los/loc yang sekian persen juga.
“Menikah biar nggak stress”. Sama saja menurutku. Mau single fighter atau dual fighter, apalagi ditambah kalau punya anak-anak jadi triple fighter, dan seterusnya, stress itu selalu ada pada setiap manusia. Jenis stressnya yang berbeda, tapi stressnya tetap ada. Mana ada manusia yang nggak punya stress ? Perlihatkan kepalanya, biar kujitak….!!
Sepertinya semua itu adalah seperti sebuah pembelaan diri, unreasonable argument, replik, duplik, excuse, atau apa namanya itu. Tapi sebenarnya tidak.
Dan ini sambungan kata temanku :
“Lu kuat amat umur segini belum nikah. Nggak takut “barang” lu karatan karena jarang dipakai. Ada yang bilang, kalau masih muda namanya “pandangan hidup” alias dipandang saja sudah hidup. Kalau sudah agak tua jadi “pegangan hidup”, dipegang dulu baru hidup. Nah, kalau sudah tua jadi “siksaan hidup”, disiksa dulu baru hidup. Atau jangan-jangan disiksa juga nggak hidup-hidup. Mau lu kayak gitu ?”
Wah… kalau yang ini no-commnet. Karena sampai sekarang aku masih mempunyai “pandangan hidup” alias dipandang saja kadang sudah hidup.
tapi terkadang juga nggak hidup-hidup. Susah memang dunia ini, harus punya pandangan hidup segala.
*Gila juga punya teman kayak gitu*







Waw, sama dong. Sepertinya pengaruh cuaca juga nih, buat mereka yang hypo jadi pada ngantuk mulu.
*ngantuk, pengen bobo, tp hrs brkt lg, argh*
emang susah jadi orang hypotensi, badan selalu merasa lemas terus.
tapi katanya orang hypo itu sabar-sabar lho…
Saya juga mengidap penyakit darah rendah. Dulu waktu almarhumah ibu saya masih hidup, setiap kali saya “kumat” saya dibuatkan kaldu ayam. Sekarang ibu telah tiada, tetapi penyakit saya masih aja betah tinggal sama saya. Mungkin karena saya orangnya baik
Tapi itu tentang kaldu ayam, it really helps. Kaldu sapi juga boleh. Happy trying.
Tentang penyembuhan ala teman anda, menurut saya masuk akal juga sih. Saya tiap punya pacar, selalu jadi sering sakit hati. Mungkin saat itu tekanan darah saya yang rendah jadi naik – jadi malah me-”normal”-kan
Menikah itu “sehat”, terlebih kalau dalam pernikahan jadi timbul banyak masalah
menaikan tekanan darah yang rendah.
Tentang karatan, nggak usah kuatir. Kan ada Ziebart dkk?
Hypo, … diem-diem ada diskusi hypo dan hidup.
Apa betul hypo itu penyakit ? Seandainya dianggap penyakit, enak kali ya … gak resiko stroke. Paling-paling pingsan waktu upacara, obatnya mudah, kipasi pakai uang seratus ribuan 5 lembar mungkin udah siuman, kalo belum siuman tambah jadi 10 lembar …
Pandangan hidup-bayangan hidup-pegangan hidup-kenangan hidup-harapan hidup, … hehehe ada siksaan hidup segala, yang ini gak ikutan.
Tapi saya sependapat dengan mbak di atas, selain menikah itu sehat, jugak saling “menghidupkan” ide, dan tambah kaya, contoh: kalo tadinya makan aja sendoknya pakai punya ortu, saat menikah pakai sendok sendiri …
istirahatt…
[...] Wadehel Mengeluh Sakit Januari 15th, 2007 Sejak hari Jum’at 12/01 kemarin, Fertob mengeluh hypotensinya kumat. Menulisnya sambil bercanda. Tapi sampai hari Minggu dia masih mengeluh sakit. Orang yang paling [...]
[...] e h e l Mengeluh Sakit Januari 15th, 2007 Sejak hari Jum’at 12/01 kemarin, Fertob mengeluh hypotensinya kumat. Menulisnya sambil bercanda. Tapi sampai hari Minggu dia masih mengeluh sakit. Orang yang paling [...]
Makan sate kambing aja om..
makan sate jamu oom
eh gemuk gemuk gini, tren tekanan darahku juga darah rendah lho, dan saya sabar kalo lagi sabar, ngaukan kalo lagi emosian hueheheehe
http://kombor.com/2007/01/16/hipertensi-mbalik-jadi-hipotensi/
Hipertensi mbalik jadi hipotensi?
Duh, gitu kata Fertob yang hipotensinya kumat sehingga badannya nggak enak terus. Kang Kombor kok lain lagi. Zaman kuliah dulu Kang Kombor sering tepar nggak masuk kelas berhari-hari, yang paling lama 2 minggu karena bludrek sedang kumat. Bahu dan lehe…
Hipotensi itu bisa menyebabkan stroke. hal ini terjadi karena supplai darah ke otak gak cukup oleh sebab pompa darah ke otak gak cukup kuat. karena agar darah masup ke otak, darah dipompa naik melawan gravitasi oleh tekanan jantung. Kalo tekanan jantungnya letoy, otak gak kecukupan dapet supplai darah. Jika berketerusan dan parah bisa stroke.
So, yang bagus adalah tekanan darah normal. Bukan hyper atau hypo. Ini gak meden-medeni lho…
@ mbah Dipo :
jadi hyper dan hypo bisa menyebabkan stroke, ya ? makasih infonya mbah…
*benar-benar harus jaga kesehatan nih… *
[...] 16, 2007 in Kesehatan, Cermin Retak Duh, gitu kata Fertob yang hipotensinya kumat sehingga badannya nggak enak terus. Kang Kombor kok lain [...]
beribadah
Badan gw gede t 185 brt 100 dan udah nikah, istri lumayan cerewet tambah anak 2 ,tapi gw tetep penderita hipo alias darah rendah dr mulai kecil,jadi kalo temenlo ngomong nikah bisa nyembuhin hipo adalah boong adanya,he he dinikmatin aja broer, itung-itung bisa agak teler tanpa minum alkohol,he he he
[...] terkena Gabagen (Campak, Morbili, Kerumut: bahasa Banjar). Posting tersebut menindaklanjuti posting Hipotensi oleh fertobhades. Berikut [...]