Kapan terakhir kali anda menangis ? Dan peristiwa apa yang membuat anda menangis ?
Ini bukan pertanyaan yang “biasa-biasa saja”. Karena kita pun bisa lupa kapan dan pada situasi apa kita terakhir menangis. Apa ada yang masih ingat ? Mungkin waktu putus dengan pacar ? Atau kehilangan benda yang sangat berharga ? Atau ditinggalkan orang yang terdekat dengan kita ? Atau karena masalah “sepele” seperti terjebak macet atau terlambat masuk kantor membuat anda menangis ? Atau justru karena sesuatu yang membahagiakan seperti lulus kuliah, kelahiran anak pertama, dan perkawinan ?
Kalau pertanyaan itu ditanyakan pada saya, maka tentu saja saya tahu kapan dan pada situasi apa saya menangis. Tentunya itu rahasia perusahaan dong….
Ketika kemarin saya terkena Virus Sialan, saya hampir menangis membayangkan data-data saya akan lenyap begitu saja. Padahal bagi beberapa orang itu hanya peristiwa “kecil” belaka.
Saya pernah mempunyai pengalaman mencengangkan dengan orang lain berhubungan dengan masalah menangis ini. Ceritanya seperti ini :
Waktu itu saya lagi jalan-jalan di sebuah toko buku di sebuah mal di Jakarta. Ada seorang anak laki-laki kecil berusia kira-kira 4 tahun yang sedang berlari kesana kemari. Sendirian. Dia berlari ke arah seorang laki-laki (sepertinya ayahnya), menarik-narik tangannya, ngobrol sebentar, kemudian berlari lagi kearah seorang wanita (sepertinya ibunya). Begitu seterusnya, seperti tidak ada habis energinya.
Setelah ngobrol dengan ayahnya, dia kemudian berlari kearah yang lain. Tetapi kakinya tersangkut rak buku dan jatuh ke lantai. Kebetulan rak buku itu dekat dengan saya. Saya tidak menolongnya, dan hanya memandangnya. Sambil menatap ayahnya, si anak itu kemudian menangis sambil masih terduduk di lantai. Tidak keras tapi cukup terdengar, sambil mengusap-usap tangannya.
Sang ayah kemudian berkata, “Stand up, and stop crying. Men don’t cry“.
![]()
Ada 3 hal yang membuat saya terkejut, terpana, dan terkagum-kagum atas komentar dari sang ayah itu.
- Si ayah berbicara dengan anaknya yang masih berusia 4 tahunan dengan menggunakan bahasa Inggris. Wow, keren banget….
Padahal kedua orangtua itu asli berwajah Indonesia dan bukan orang asing. - Si ayah melarang anaknya menangis. Padahal anak itu baru saja terjatuh dan tangannya bisa saja sangat sakit atau mungkin juga tangannya terkilir. Si ayah hanya memandanginya saja.
- Anak kecil itu dipanggil dengan “MEN”. Seakan-akan anak berusia 4 tahun sudap pantas disamakan dengan seorang laki-laki dewasa.
Memang itu yang sering terjadi dalam budaya kita. Saya rasa anda (yang laki-laki, tentunya) waktu kecil dilarang oleh orangtua kita (ayah terutama) untuk menangis walaupun jika mengalami suatu peristiwa yang menyakitkan kita. Menangis bagi laki-laki adalah TABU, dan itu ditanamkan terus menerus. Jika anak perempuan menangis dianggap wajar, sementara anak laki-laki menangis dianggap cengeng. Benarkah demikian ?
Menangis bukanlah emosi. Tapi menangis adalah ekspresi dari sebuah emosi. Emosi sendiri mempunyai beragam definisi yang mempunyai penekanan pada faktor-faktor tertentu. Tapi umumnya disepakati bahwa emosi adalah timbulnya suatu perubahan dalam tubuh manusia (dalam sistem saraf) yang menimbulkan suatu respon psikologis tertentu yang diakibatkan suatu peristiwa. Dalam emosi banyak faktor yang terlibat seperti limbic system (amygdala dan hippocampus di otak manusia), sistem hormon, kondisi psikologis, sampai kondisi fisik. Banyak sekali faktor-faktor yang terlibat dalam suatu emosi.
Emosi juga punya emosi-emosi dasar (primary emotion) yang juga sangat beragam dari sudut pandang beberapa orang, tetapi Paul Ekman membagi emosi dasar manusia menjadi 6 yaitu :
- Anger
- Fear
- Disgust
- Sadness
- Joy
- Surprise
Menangis (cry) tidak termasuk dalam emosi primer diatas. Menangis adalah ekspresi emosi yang timbul bukan hanya dari satu emosi primer saja tapi bisa berupa penggabungan emosi primer. Emosi yang paling sering menjadikan menangis sebagai ekspresinya adalah Kesedihan (sadness) tapi bukan berarti kita hanya boleh menangis jika sedih saja. Tidak. Ada juga orang yang menangis karena marah, takut, bahagia, atau terkejut. Saya belum pernah ketemu orang yang menangis karena Disgust (merasa jijik). Ada yang sudah pernah ?
Menangis juga bisa timbul karena kombinasi dari emosi-emosi primer itu, misalnya ada orang yang menangis karena perasaan takut dan terkejut. Atau menangis saking marah dan sedihnya atas suatu peristiwa. Tapi kombinasi bahagia dan sedih dalam bentuk ekspresi menangis belum pernah saya jumpai. Lagian apa mungkin seorang sedih dan bahagia dalam suatu saat tertentu ? Mungkin saja, tapi saya tidak tahu bentuknya seperti apa.
Dari beberapa penelitian tentang menangis (yang saya punya), tidak pernah dibatasi bahwa menangis adalah monopoli dan hak jenis kelamin (sex) tertentu. Jenis kelamin tidaklah menjadi halangan bagi seseorang untuk menunjukkan ekspresi emosinya dalam bentuk tangisan. Secara genetis dan biologis juga, laki-laki dan perempuan mempunyai kemampuan yang sama dalam ber-emosi dan berekspresi dengan emosinya. Yang membuat ekspresi emosi tertentu jarang ditampilkan oleh suatu gender tertentu adalah faktor lingkungan sosial, seperti orangtua, adat dan tradisi, agama, pergaulan dan teman sebaya, sekolah, media, dan lain-lain.
Ada beberapa emosi tertentu yang jarang ditampilkan oleh suatu gender karena alasan lingkungan sosial diatas. Misalnya, Laki-laki lebih jarang (jika dibandingkan dengan perempuan) untuk menampilkan emosi TAKUT dan SEDIH. Takut dan sedih adalah emosi-emosi negatif yang kebanyakan ekspresinya adalah menangis. Hal ini didukung juga oleh cerita saya diatas, sejak kecil si anak sudah dilarang untuk menampilkan emosi sedih dalam bentuk menangis. Sementara untuk perempuan, sedih dan takut sudah biasa mereka ekspresikan sejak kecil karena tidak ada batasan-batasan sosial.
Sementara, perempuan lebih jarang (jika dibandingkan laki-laki) untuk menampilkan emosi MARAH. Marah adalah emosi positif. Jika laki-laki marah, ekspresinya biasanya keluar (outward) dalam bentuk pelampiasan destruktif (fisik, psikologis, dan verbal). Dan hal inilah yang membuat jika laki-laki marah maka dengan mudah akan ketahuan. Sementara perempuan jika marah, ekspresi emosi yang ditampilkan biasanya adalah kedalam (inward) dirinya sendiri.
Secara rata-rata, Ralston (1998) pernah melakukan penelitian bahwa lama tangisan jika seseorang berbahagia (happiness) adalah 2 menit. Tetapi jika tangisan itu karena kesedihan (sadness), rata-rata lamanya adalah 7 menit. Tapi itu subyeknya di luar negeri, kalau di Indonesia lamanya bisa saja berbeda.
Karena faktor sosial tadi, bentuk tangisan (disertai air mata) juga berbeda antara laki-laki dan perempuan. Kalau laki-laki menangis, air matanya biasanya hanya segelintir dan bergulir setitik demi setitik melewati pipi. Sementara perempuan bisa menangis sampai meraung-raung dan wajahnya penuh dengan air mata. Perempuan juga secara rata-rata menangis lima kali (5 times) lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki.
Menangis adalah kemampuan manusia. Menangis menunjukkan bahwa kita masih manusia yang hidup. Jadi kalau ada yang lupa kapan terakhir menangis, sepertinya patut dipertanyakan “kemanusiaannya” ?
Atau jangan-jangan sudah lupa bagaimana cara menangis dan sudah lupa bagaimana rasanya menangis ? Menangis juga tidak dibatasi oleh gender, karena laki-laki dan perempuan bisa melakukannya. Caranya dan ekspresi yang ditampilkan yang biasanya berbeda.
Jadi, kalau anda merasa sudah lupa bagaimana cara dan rasa menangis, MENANGISLAH sekarang. Kalau tidak ada yang bisa ditangisi, setidaknya anda bisa menangisi bangsa ini yang katanya terpuruk ini.
Ayo menangis rame-rame……







Harus belajar main sandiwara seperti dulu ikut teater saat SMA susahnya minta ampun suruh menangis. BTW emm ini OOT lo, saya malah pingin nanya pernah gak lihat reaksi wajah orang menangis, kira2 sadar gak yah wajahnya kayak apa orang yg nangis itu?
kolok aku terkhir nangis ya waktu ompung ku meninggal, tanggal 8 maret yg lalu…. paling2 saya menangis lagi kolok aku bikin natua-tua ku kecewa atau bersedih… apa aku termasuk orang yg dikategorikan ‘cengeng’?
nangis terakhir kali pas tau bokap masuk ICU,,
itu jg ga nangis kejer,,
soalnya br bgn tidur lgs dikabarin,,
jadi nyawanya blm ngumpul,,:-)
manusia menangis emang blm tentu karena sedih,,
tergantung proses kognitifnya,,
ya tho?
@ Pak Guru :
Yang nangis pasti malu kalo dibilangin bagaimana ekspresinya saat menangis. Memang nggak ada yang menangis yang bikin orang jadi “cantik/ganteng”
Dari sinetron yg saya tonton di tipi, hampir nggak ada yang nangisnya “bagus”.
@ poltak :
kamu nggak cengeng, Tak. cuman bermata kaca, berhati baja, berlagu Rinto…
@ calonorangtenarsedunia :
eh, ada orang psikologi (jadi malu nih…)
Memangnya kalo baru bangun tidur, nyawanya belum terkumpul semua ya ?
benar mbak, emosi memang terhubung dengan proses kognitif. alias ada faktor penilaian dari kognisi kita kapan kita menampilkan ekspresi emosi tertentu, dan penilaian itu tergantung suasana dan situasi kita menampilkan emosi itu.
misalnya : masak sih ada yang menangis di pasar yg lagi rame, kalo nggak mau dicap orang gila ?
Terakhir kali nangis? Saya nggak begitu inget sih…
Tapi, kalau soal terakhir kali “hampir” menangis, kayaknya saya tahu. Pertama, pas ngerjain PR statistik tahun lalu (susah banget!). Yang kedua, habis ujian akhir salah satu MK semester kemaren… (karena udah tahu bahwa nilainya bakal jelek banget).
Hoalah…
Biasanya saya hampir nangis gara2 masalah akademik (e.g. ngulang kuliah, atau tugas berat). Disuruh nangis rame-rame, berarti…??
huaa….
::
[OOT]
Saya pernah ngomong gitu ke seorang temen, dan dia bilang gini:
“Ada.”
“Siapa?”
“Erika Sawajiri di One Litre of Tears ep. 6″
=x
[OOT. Btw, itu salah satu film yang paling bikin nangis loh. Coba nonton deh.
]
kesehatan mental juga sangat menentukan bagaimana kognisi kita memroses informasi dan stimulus di sekitar kita.
lha kalo mentalnya sehat mana ada org yg kognisi menyatakan “gpp kok nangis di pasar,,ga ada yg liat,,”
hwehehe47x…
selama hidup, sering kok nangis.. i’m a human being too..
Saya sering nangis ketika saya mengiris bawang
Uppsss…maaf kalau komentar saya tidak serius
Yang jelas sepertinya ada satu hari dalam setahun di saat saya hampir selalu nangis, waktu hari raya Idul Fitri…saya nangis mulai dikumandangkannya takbir sampai saat2 sungkem sama bapak, emak dan kakak2 saya.
Saya menangis karena saya menyadari betapa besar dosa saya terhadap Tuhan…betapa banyak kesalahan yang saya lakukan pada bapak, emak, dan kakak2 tercinta.
Tetapi saya sendiri merasa saya ini benar2 manusia dan anak yang tidak tahu diri karena hanya bisa menangis setahun sekali, padahal setiap hari saya melakukan dosa dan kesalahan….seharusnya saya menangis setiap hari
ihik…ihik…ihik…
*sambil mengelap air mata*
sedang ngiris bawang nih
Sy nangisbombay meraung2 selama 5 jam pas dapet Bad Ending Suikoden 2 *its true!*, terus ga napsu makan dua hari X(.
Terus nangisbombay yg basah banget lagi pas nonton Gundam Seed, ada kali 7 kali nangis T_T.
Pas kemaren, nangis lagi gara2 terharu liat DVD Live Laruku yg liriknya sedih banget XD.
Ah sy mah gampang menangis dan gampang tertawa (emosi sperti roler coaster), tapi percayalah, menangis itu sehat XD.Tapi kalo rame2 jadi ga bisa nangis, abis malu sih XD.
menurutku, nggak salah kalau laki-laki menangis. toh laki-laki juga manusia yang punya perasaan. keterlaluan kalau menangis saja dilarang. cuma ya pada tempatnya lah kalau menangis
karena di awal anda sudah wanti-wanti bahwa itu adalah rahasia perusahaan, maka beta pun tak kan buka rahasia saya™
kemudian saya mau cerita dongeng yang diceritakan istri saya yang tentunya saya modifikasi banyak biar garing, tentang tetangganya, laki-laki, usia 30-an lah, badan tegap perkasa berotot kawat bertulang besi berbicara lantang.
Alkisah, suatu malam sang pria sedang asyik merumpi bersama kawan-kawan sesama perkasa. Ketika sedang dasyatnya obrolan pria dewasa yang kamu, anak kecil di bawah umur, tak akan mengertinya, tiba-tiba sang kerah kemeja pria tersebut diselusupi cicak kalah perang yang jatuh dihentak pesaingnya ketika berebut betinanya yang siap dibuahi.
Apa yang terjadi?, Sang pria perkasa ternyata jatuh pingsan. Tentunya ini terjadi karena rasa jijik berlebihan yang dia idap terhadap binatang tak sopan ini yang kadang kalau kita sedang sial akan tertimpalah rambut kita oleh najis kotorannya. tetapi saya kurang jelas apakah dia sempat menangis juga karena jijiknya itu, jadi mohon beribu maaf saya telah mengecewakan tak bisa menjawab salah satu pertanyaan anda
terakhir, himbauan anda akan saya ikuti, marilah kita menangsi untuk Negeri tercintah.
mohon beribu maaf pula telah lancang ngeBlog di sini
terakhir nangis …
saat kangen bapak ibu hiks hiks …
tapi barusan dah telp
so dah ilang kangennya …..
;=( …
nangis terakhir kali….
mungkin ceritanya mirip dengan cerita dari salah satu postingannya mas wadehel…
it’s a secret…
kata ibuku, menangis itu belum berarti cengeng…
tapi hati(perasaan)nya halus…
yah, kayak aku gini lah contohnya…
*nungguin di cubitin cewek2*
aku pernah karena “jijay” liat kepalsuan dan keserakahan serta ke tegaan org2 itu…sedih aku campur jijay… mungkin emang aku aja yg cengeng poolll… wong klo pasienku udah hampir plus aku yg nangis, padahal harus di tabah2in depan keluarga….hiks.. thank mas fertob artikel-nya…
sudah lewat beberapa tahun yang lalu. jadi sudah lupa.
kadang2 memang pgn nangis lagi, tapi ndak pernah bisa e, mas.
pelampiasannya biasanya malah mukulin tembok, soale ndak mungkin saya mukulin orang2 yang kebetulan lewat depan rumah saya
(badan saya kan kecil. bagemana coba kalo saya ganti dikeroyok?)
Aku pasti nangis nonton Empat Mata-nya Thukul Arwana. Nggak tega aja lihat cewe-cewe cakep n seksi se-Indonesia dicium pipinya ama manusia lumut sawah kayak si Thukul itu. Pasti cewe-cewe itu tersiksa kulitnya.
@ Sora9n :
Ngerjain PR statistik hampir nangis ? ooooaaalaaaahhhhh….
Saya malah sambil puter lagu Metallica.
[OOT. Btw, itu salah satu film yang paling bikin nangis loh. Coba nonton deh.
Udah nonton tapi nggak terlalu suka. Mungkin karena aku bukan penggemar sinetron dan kawan-kawannya. Memang nangisnya Erika bikin “merinding”. Cocoknya sih judulnya 1 ton of tears…
@ calonorangtenarsedunia :
justru orang yang sehat mentalnya yang HARUS menangis. kalau nggak pernah menangis malah dipertanyakan kesehatan mentalnya.
Udah pernah baca buku/novel Running With Scissors-nya Augusten Burrough ? Disitu ada kisah “gila” dari seorang anak yang tinggal di rumah psikiater yang “eksentrik”. Salah satu keeksentrikan adalah membiarkan anak-anaknya menampilkan emosinya sesuka hati mereka. Bagus banget….
@ roffigrandiosa :
sama mas…. nangis berarti masih manusia….
@ deking :
selamat ngiris bawang, mas… mo masak apa nih ?
nangis bareng-bareng yuk ?
@ Apret :
Walah segitunya ?
Endingnya emang benar-benar diluar dugaan… trus di Suikoden 1 waktu ada teman heronya yang mati (siapa namanya tuh ?), saya cuman bengong serasa nggak percaya. Tapi trus diulang dan ternyata dia bisa nggak mati lho…
Ehm, jangan-jangan manic-depresif
(jangan tanya apa itu ya ?)
@ kikie :
tempatnya dimana mbak ? di kamar kan ? jangan di pasar….
@ Biho :
Cerita yang dahsyat, mas Biho….
Preman Tanah Abang saja bisa nangis koq…..
*saya sudah kepala 3 lho…*
@ Mbak Nur Aini :
Iya mbak, jauh dari ortu kadang bikin kepikiran dan pengen nangis kalo tiba-tiba rasa rindu itu datang…
@ halludba :
rahasia ya….. (…kecewa….)
@ Mbak Evy :
Dokter juga manusia yang punya perasaan…. kadang kalo liat penderitaan pasien pengennya ikut nangis bersama mereka. Tapi kan harus membesarkan hati mereka…. sama dgn saya, kadang kalo dengar cerita klien pengennya ikut nangis sama mereka, tapi nggak boleh kan… ?
Makasih juga mbak….
@ joesatch :
hehehehe… takut dikeroyok
berarti mas joe ini, pertahanan matanya tangguh juga ya ? apa yang bisa bikin jebol mas ?
@ stopgoblog :
wakakakakakak….
kasihan si Tukul, kadang saya juga sedih liat dia : koq ada orang “lumutan” tenar kayak dia.
*jadi ngiri*
@ antobilang :
nangis belum tentu cengen lho…. tapi halus perasaannya ? sehalus apa sih ?
*dicubit gorilla cewek mau ?*
kalo sehat mental ya memang nangis, tapi ga mungkin di pasar,,
dia lagi di pasar trus dapet sms kalo kambingnya mati,, trus dia nangis,, kontrol emosinya ga jalan itu,, superego nya jebol,,hwehehe47x..
pinjem donk bukunya,,:p
udah pernah baca Jadie karangan Torey Hayden blm?
itu jg bagus lho,, Jadie itu seorang anak yg menyembunyikan emosinya,, tak pernah mengis,, tak pernah tertawa,, dan tak pernah bicara,, bahkan dia selalu berjalan dengan menekuk tubuhnya,, posisi ruku’ gt lah,,
*menangis maksudnya,, bukan mengis,,
hwehehe47x..
*diseleksia..*
@ calonorangtenarsedunia :
Freudian banget….. tapi Freud terlalu “kuno” bagiku. Sekarang malah mendalami Transpersonal Psychology…
kalo kambingnya yang mati cuma 1 mungkin malah gak apa-apa, tapi kalo 100 mati sekaligus ?
Semua buku Torey Hayden udah habis kubaca. Bagus, walaupun pendekatannya sangat personal. Ada yang baru nggak ?
minjem ? beli dong….
kita kok malah kayak orang chatting ya..hwehehe47x..
pendekatan Hayden emang sangat personal karena dia bercerita soal pengalamannya,,
Freud ya jelas sudah “kuno”, lha wong madzhab yg paling tua kok,,
ah, saya bukan freudian kok,om..cuma nyoba pake pendekatannya dia di kasus yg lg kita bahas ini,,
aku juga bkn watsonian, pavlovian, maslowian, dan bukan pacarnya ian,, *apa sih…*
transpersonal seru lho,om..
aku nyoba mencari “kenikmatan” di luar diriku,,
berempati pada satu kasus,, dan terasa bgt aku “trans” menjadi org yg aku analisa kasusnya,, aku bisa ngerasain emosi dan pikirannya,,
assiiikkk….
Aku orangnya susah menangis & benci melihat orang menangis.
Kalo aku orangnya suka menangis, wah aku bakal menangis terus seumur hidup. Tahu sendiri liku-liku hidup ini: kadang di atas-kadang di bawah.
Enak kalau punya masalah kita bawa tertawa aja.
Menghadapi orang sakit parah ditambah tangisan keluarganya, saya ikut “menangis dalam hati”. Walaupun berusaha memberi support dan ikut menenangkan, tak urung perasaan mengharu biru. Apalagi saat si sakit parah memegang tangan sambil menghiba terbata-bata, rasanya gimana gitu.
You got the point.
Khan janggal khan saya manggil kamu padahal saya baru kenal anda
Kalau menangis karena nonton film itu termasuk menangis karena apa? Sedih atau Ikut-ikutan sedih? Jadi menangis itu bisa menular dunk. Karena situasi diluar yang menghanyutkan.
Terakhir kali menangis? Lupa, tapi kalau hampir menangis sih ingat, waktu saya menulis artikel ini, karena saya jadi teringat betapa orang tua saya berjuang keras membesarkan saya sampai saya lulus kuliah seperti sekarang ini.
Terakhir kali saya menangis ..beberapa minggu yang lalu..*jangan di ketawain yah* menangisi bangsa ini ..beneran loh..cengeng banget ya saya ini heu~..
menangis?
sampe lupa gmana harus nangis
ego terlampau gede sampe mo nangis pun gengsi sama diri sendiri.terakir kali nangis sie nonton 1 litre of tears
ngerasa ga ada gengsi2nya dah..
secara yg cowok2 pun pada nangis bombay
Ma sering nangis kok,, seneng nangis,, sedih nangis,, nonton film sedih nangis (Nonton Lion King nangis, ampe diketawain orang,,), nyanyi lagu nasional nangis (duluu banget!!),, denger lagu sedih nangis,, banyyaaaakk,,, kalo sebanyak itu udah kelewatan kali ya,, hehehe,,
[...] wajahnya untuk menyembunyikan matanya yang mulai dialiri airmata. Ini bukan pertama kalinya ia menangis, rasanya ia ingin berlari sejauh mungkin dan menghindari manusia itu. Dadanya pun terasa begitu [...]
semalam aq br ngrasain percampuran bahagia dan sedih
aq senang karena ud selesai ujian tp sedih jg krn ntar lg ud gk tinggal d asrama lg.. hiks..hiks..
menangis tuh manusiawi . hehehe . saia cengeng, menangis krna sedih, krna takut, krna marah, krna tdk tau hrus bbuat apa …terakhir menangis minggu lalu . gga tau kenapa na, mungkin karena udah lama gga nangis, jd air mata ny numpuk . perlu d keluarin tuh . hehehe