Ide tulisan ini timbul secara tidak sengaja ketika saya sedang menonton acara Empat Mata dengan pembawa acaranya Tukul Arwana di Trans 7.
Saya rasa anda semua pasti tahu siapa itu Tukul. Setidaknya dari aksi-aksi menawannya di acara Empat Mata Trans 7. Begitu heboh, menggelikan, memancing tawa, menghina kanan kiri, peluk kanan-peluk kiri, cium kanan-cium kiri, dan segudang aksi yang lain. Bagi anda yang tinggal di luar negeri dan tidak sempat menonton acara Tukul di televisi, saya cuma bisa bilang : Kasian deh lo…
Dan baru beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah tulisan yang sangat bagus di sebuah blog wordpress yang membahas Tukul dengan menghubungkannya dengan Pendangkalan Ruang Publik. Selain itu di blog itu ada tulisan juga tentang Tukul : Tukul atawa Humor ? Humor atawa Tukul ? Saya jadi membuka kembali berkas-berkas (bahasa Inggrisnya : files ?) masa lalu dari kliping-kliping koran dan menemukan apa yang saya cari : Sebuah Opini di Kompas pada bulan Mei 2003 yang berjudul Pantat Inul adalah Wajah Kita Semua yang ditulis oleh Emha Ainun Nadjib. Bung Jay kemudian memuatnya di blognya dengan judul yang sama : Pantat Inul adalah Wajah Kita Semua.
Saya memberikan perspektif yang agak sedikit berbeda dari beberapa tulisan diatas.
Konsep ruang publik (public sphere) pertama kali diperkenalkan oleh seorang filsuf Jerman bernama Jurgen Habermas. Intinya ruang publik adalah suatu ruang/arena dimana setiap warga negara mampu melemparkan opini mereka secara diskursif dengan bebas. Saya tidak membahas konsep ruang publik ala Habermas ini, tapi melihat dari sisi lain sebuah fenomena bernama Tukul dan Empat Mata-nya.
Banyak kritik dan banyak juga pujian menyertai kesuksesan acara Empat Mata. Mengapa acara ini begitu sukses sementara pembawa acaranya hanyalah seorang Tukul (you know what i mean
). Mengapa orang dengan mudah diseret kedalam gaya Tukul memperlakukan mereka ? Mengapa banyak penonton (dan juga selebrity yang diundang) tertawa sementara lawakan dan humor yang dibawakan Tukul lebih bernuansa hinaan fisik, beraroma kekerasan psikologis, dan menyinggung asal-usul seseorang ? Dan segudang mengapa yang lain.
Tukul dan Menertawakan Diri Sendiri
Satu hal yang saya catat dari Tukul adalah kecerdasannya dan kemampuannya dalam menertawakan dirinya sendiri tanpa merasa bahwa dirinya sedang terhina. Pusat semua lawakan yang cenderung sarkasme itu adalah dirinya dan orang-orang disekitarnya (pemain band dan “asisten-asisten”-nya). Butuh suatu kemampuan khusus bagi kita untuk bisa menertawakan diri sendiri. Lebih mudah bagi kita, karena tidak butuh kemampuan lebih, untuk menertawakan orang lain dengan humor-humor yang menjurus penghinaan.
Kita sering salah dalam mempersepsikan sebuah humor. Humor dibangun diatas dasar bahwa seseorang bisa tertawa karena suatu situasi tertentu. Tetapi jika situasi itu diri kita sendiri, saya yakin banyak dari kita yang TIDAK SUDI untuk ditertawakan. Tertawaan orang lain atas diri kita sering bisa dianggap penghinaan terhadap diri kita. Itulah yang membuat batas antara tertawaan (humor) dan hinaan sangat tipis.
Dan seorang Tukul mampu mengaplikasikannya dalam bentuk yang paling kasar sekalipun : menghina dirinya sendiri secara fisik. Siapa dari kita yang mempunyai fisik sempurna sehingga pantas menertawakan orang lain yang berfisik “kurang beruntung” ? Kita tahu kalau Tukul bukanlah seorang yang GANTENG (walaupun kagantengan itu relatif) seperti aktor-aktor tak bisa berakting yang banyak kita lihat di sinetron-sinetron. Tapi kemampuannya membangun humor diatas penampilan fisiknya sendiri justru menjadi suatu pujian bagi saya.
Tapi banyak yang bilang bahwa humor demikian adalah humor yang “tidak mendidik”. Mari kita lihat lagi sejarah lawakan di tanah air ini. Warkop DKI, Bagito, Ngelaba, Komeng, dan lain-lain membangun lawakannya dengan ciri sendiri. Tetapi salah satu ciri yang tidak ketinggalan bagi adalah : membangun tertawaan atas penampilan orang lain. Terasa begitu mudah menertawakan orang, tetapi terasa begitu sulit menertawakan iri sendiri. Mungkin itulah ciri bangsa kita.
Tidak mendidik bagi sebuah humor mempunyai banyak arti.
Yang pertama adalah, konsumen sebuah lawakan. Lawakan mempunyai segmen tertentu. Dan segmen yang disajikan Tukul adalah segmen masyarakat bawah kebanyakan yang mempunyai persepsi berbeda tentang sebuah humor. Lawakan Tukul bukanlah konsumsi umum untuk kalangan Intelektual dan Cerdik-Pandai di negeri ini. Bagi mereka, lawakan Tukul tidaklah mempunyai makna apa-apa alias tidak mencerahkan dan mendidik dengan berbagai kategori-kategori bagaimana sebuah humor harus mendidik.
Tapi bukan disitu letak kekuatan lawakan Tukul. Bagi masyarakat kebanyakan intinya adalah TERTAWA. Dengan cara apapun suatu tertawaan disajikan, jika itu bisa sejenak menghilangkan kepenatan mereka akan masalah hidup sehari-hari, maka lawakan itu tetap mempunyai makna bagi mereka. Setidaknya untuk menghilangkan stress dan tekanan.
Yang kedua, humor adalah humor dengan batasan jaman, tempat, dan selera. Di luar negeri, humor yang disukai adalah komedi situasi atau komedi romantis. Tapi disini, humor jenis komedi situasi tidak mendapat tempat. Sama seperti jika kita mengandaikan musik. Di negeri luar (Amerika Serikat, misalnya) R & B dan Hiphop adalah musik kaum bawah, tetapi disini saya yakin Dangdut dan (mungkin) keroncong adalah makanan kaum itu. Itulah yang membuat suatu humor bisa berbeda persepsi dan kegunaannya tergantung siapa yang mempersepsikannya. Jadi jangan katakan tidak mendidik jika bagi kebanyakan orang mempunyai manfaat dan menyenangkan. Jangan samakan humor ala Tukul dengan Narkoba.
Yang ketiga, Didalam suatu humor yang dikatakan “tidak mendidik” ada “sesuatu yang mendidik”. Apa itu ? Kemampuan seseorang untuk menertawakan dirinya. Itulah pendidikan yang termuat secara implisit dalam lawakan Tukul. Itu pulalah yang seharusnya dimiliki oleh bangsa ini. Menertawakan diri sendiri mengisyaratkan adanya kecerdasan emosi yang tinggi, dan juga syarat untuk kesehatan mental yang bagus. Jadi kalau seseorang BELUM BISA menertawakan dirinya sendiri, jangan salahkan orang yang BISA menertawakan dirinya dengan alasan TIDAK MENDIDIK. Mengapa tidak mencari hikmah dari “lawakan sarkasme” ala Tukul ?
Tukul dan Kegamangan Beridentitas
Ciri khas yang selalu ada dalam acara Empat Mata Tukul adalah adanya acara peluk-pelukan dan cium pipi kiri-kanan (cipiki-cipika)
Itu selalu menjadi sajian pembuka sebelum seorang tamu undangan masuk ke acara talk-show tersebut. Dan biasanya ritual pembuka itu selalu dibarengi dengan keriuhan penonton. Tertawa menyaksikan aksi yang seakan “tidak pantas” untuk disajikan. Bisa saja ada yang ngedumel :
koq orang sejelek Tukul bisa nyium Tamara Blezinsky ? Koq orang separah Tukul bisa memeluk Nia Ramadhani ? Lha gue yang ganteng gini malah nggak kebagian….!!! Sialan si Tukul
![]()
Tapi bukan itu masalahnya. Masalah utamanya adalah apakah ritual pembuka itu menjadi ciri khas kita ? Apakah pantas cium pipi kanan-kiri dan peluk-pelukan menjadi identitas kita dalam berinteraksi satu dengan yang lain. Cium pipi dan pelukan bukanlah ciri khas kita dalam berinteraksi. Kita tidak terbiasa melakukannya apalagi di depan umum dan apalagi jika ditonton jutaan pemirsa di layar televisi. Cium pipi kiri-kanan adalah budaya luar yang kita adopsi dan kita tiru, begitu juga dengan pelukan.
Apakah kita mempunyai ciri tertentu yang menjadi identitas kita jika kita bertemu dengan orang lain ? Apa yang akan kita lakukan ? Berjabat tangan, misalnya, adalah cara khusus ketika kita menyapa orang lain, tetapi apakah berjabat tangan juga adalah ciri asli kita ?
Bagi beberapa orang, cara Tukul bernuansa ketidaksopanan. Tapi ketidaksopanan adalah sesuatu yang relatif. Apa yang sopan bagi orang lain belum tentu sopan bagi kita. Memberikan sesuatu dengan tangan kiri adalah tidak sopan, tetapi bagi orang lain hal itu biasa-biasa saja. Bertemu dengan orang lain (apalagi jika lawan jenis) kemudian berjabat tangan adalah sesuatu yang sopan, tetapi bagi orang lain yang berbeda budaya berjabat tangan saja tidak menunjukkan keakraban, mereka perlu menambahnya dengan cium pipi dan pelukan. Itulah yang sopan bagi mereka. Bagi beberapa orang yang lain mengucapkan salam dengan merangkapkan kedua tangan di dada adalah yang sopan. Jadi mana yang sopan ?
Kita (sebagai bangsa) selama ini cenderung mengadopsi bagaimana cara orang luar dalam berinteraksi. Tetapi kita sendiri tidak membentuk sendiri cara kita (original style bahasa sononya) bagaimana seharusnya dalam berinteraksi. Ketika ada yang menampilkan “sesuatu yang lain”, kita lalu berteriak : “Itu tidak sopan”. Sementara kita tidak punya ciri khas sendiri yang bisa dikategorikan sopan.
Satu hal lain yang saya amati dari Tukul dan Empat Mata-nya adalah kemampuan berbahasa Inggris (setidaknya pengucapan suatu kata/kalimat dalam bahasa Inggris). Pengucapan Tukul selalu memancing tawa penonton karena terkesan “tidak beres”. Entah pengucapannya yang salah, atau juga pengucapannya betul tetapi dengan aksen dan logat “berbeda”. Maaf, saya tidak ingin menyinggung suku tertentu.
Apa artinya itu ? Saya melihatnya sebagai kegamangan kita dalam beridentitas, khususnya kegamangan berbahasa. Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa segala sesuatu dipandangan “indah dan berkelas” jika menggunakan bahasa asing dan dipandang “jelek dan murahan” jika menggunakan bahasa Indonesia. Rasanya keren abiiissss jika bisa bicara dicampur-campur dengan bahasa Inggris (atau Perancis dan Jerman sekalian), tetapi menjadi kuno dan jadul kalau menggunakan bahasa Indonesia dicampur bahasa daerah.
Padahal bahasa Inggris bukanlah bahasa kedua di negeri ini. Bahasa pertama menurut saya malah bahasa daerah baru setelah itu bahasa Indonesia. Apa yang salah dengan bahasa Indonesia jika kita menggunakan kata-kata seperti unduh, sangkil, dan mangkus dalam berbicara ? Apakah kita lalu menjadi cool dan sophisticated
kalau menggunakan kata-kata seperti Residence, Log Off, dan Plaza ?
Keterpelesetan Tukul dalam berbahasa juga menjadi ciri khas kita dalam berbahasa. Sementara kemampuan bahasa kita masih pas-pasan, kita sudah kemana-mana menonjolkan diri bahwa kita bisa berbahasa asing. Kita tidak bangga memakai bahasa sendiri (Indonesia). Bagi kita, bahasa Indonesia itu tidak canggih dan terkesan kuno. Itulah yang membuat kita gamang dalam memiliki identitas, khususnya identitas berbahasa.
==================================
Ruang publik yang disodorkan Habermas bukanlah sebuah ruang publik yang rigid yang hanya boleh berisi ide-ide “mencerahkan” dan “mendidik” dari negara dan kaum intelektualis. Dia juga berisi ide-ide konyol dan penuh humor yang secara bebas dan tanpa tekanan dapat disampaikan oleh setiap warga negara. Ruang publik, sekali lagi, bukanlah sebuah arena dengan pertunjukan interpretasi tertentu, termasuk interpretasi terhadap sebuah humor yang dibawakan secara “kacau”. Jika ruang publik hanya seperti itu, maka diri kita menjadi kering dari emosi dan tanpa nuansa. Tukul tidak sedang mendangkalkan ruang publik, dia memberikan alternatif lain bagi masyarakat bagaimana menyikapi sebuah ruang publik.
Tukul tidak sedang berkotbah atas suatu ideologi di ruang itu. Dia hanya menampilkan sisi lain bangsa ini yang secara kasat mata memang ada tetapi ditiadakan. Jadi jika anda tidak suka menonton Empat Mata, janganlah tonton jika itu hanya akan membuat pikiran anda terhalang. Tetapi biarkan orang berekspresi dengan “selera humor”-nya sendiri (karena selera humor tiap orang berbeda-beda) sebelum humor benar-benar dilarang di negeri ini. Demikian juga dengan goyangan nge-bor ala Inul Daratista. Inul menggambarkan apa yang terpendam dalam ketidaksadaran bangsa ini.
Wajah Tukul dan Pantat Inul adalah Wajah Kita sebagai bangsa. Itulah salah satu ciri kita. Mengapa harus malu untuk mengakuinya ?
Ada persepsi lain ?







pertamax
keduax
Kehadiran acara komedi (dalam berbagai macam format) bisa sejenak menjadi sedikit penghibur, setidaknya Tukul (dan komedian lain) bisa sedikit membuat sebagian dari kita untuk tertawa walaupun kita sedang dihimpit berbagai masalah (tidak peduli apa dan siapa yang sebenarnya kita tertawakan, bahkan kita juga tidak hanya menertawakan si komedian tetapi juga menertawakan diri kita sendiri seperti Tukul).
Tetapi hobi dan kebiasaan bangsa kita untuk tertawa ternyata bisa sedikit menjadi bumerang. Seperti Menkokesra yang memanfaatkan hobi tertawa kita untuk menyatakan bahwa bangsa Indonesia tidak menderita… “Siapa bilang bangsa indonesia sedang susah dan menderita? Tuch buktinya mereka pada tertawa”
Memang susah untuk tertawa pada tempatnya
Kalo ngeliat thukul bisa nyium2 artis2 cantik…saya jadi pengen jelek aja…siapa tahu hoki, bisa kayak thukul…
eit…
*sambil nepuk2 pundak om fertob*
gapapa om, ga perlu menyesali diri sendiri…ntar kalo tukul dah ilang pamornya gantian om fertob deh yg jadi host empat mata, hahahaha…
Aku setuju dan tidak malu mengakuinya. Kita memang masih berada di tingkatan itu, Kok.
Panjang rek…
Ahihihi… penulisnya lagi curhat yaa??
Anehnya, kalau menertawakan kelemahan diri, biasanya justru orang lain yang jadi kasihan sama kita. Waktu SMA ada tuh, teman yang nilai ulangannya jelek, terus malah dipamerin sambil ketawa-ketawa.
Tapi saya tahu (entah dari mana) bahwa dia sebenarnya sedih dengan itu. Terasa aja sih…
Mungkin kalau buat “kelemahan” yang biasa (semacamnya ‘tampang jelek’ atau ‘belum menikah’), hal kayak gitu nggak berlaku ya?
Untuk beberapa kasus, ini kembali ke faktor keterbiasaan sih. Misalnya di dunia komputer, kita (ter)biasa ngomong download, port, shell, kernel, proxy. Kalau diterjemahkan satu per satu, pasti jadinya “nggak kena” dan repot deh.
Contoh:
“Wizard adalah suatu sistem yang membantu instalasi dengan mouse saja”
== “penyihir adalah suatu sistem yang membantu pemasangan dengan tikus saja”
–
Sebaliknya, di dunia kedokteran kata2 asing biasanya sudah mendapat padanan sendiri (dan sering dipakai), sehingga tidak menimbulkan rasa “aneh” ketika diucapkan. Contoh buat ini misalnya “kapiler”, “hati” (maksudnya “liver”, bukannya “kalbu” lho
), “zakar” dan “paru-paru”.
Btw, orang Malaysia dan Jepang juga suka campur-campur kalau ngomong…. tapi nggak tahu deh apakah ini karena “terbiasa” atau memang “ingin gaya”.
Tergantung… Ada lho orang yang malu berat gara-gara mukanya jerawatan, padahal itu memang turunan gamoang jerawatan dari keluarganya. Sampai-sampai dia repot sendiri cuci muka dan berobat segala macem.
Suatu ketika, wajahnya bersih dari jerawat setelah sekian lama. Dan orang-orang di sekitarnya akhirnya baru sadar:
“Dia itu ternyata cantik ya…”
Rasa malu bisa jadi dorongan yang kuat lho, buat ke arah positif.
nonton tukul mudah saja, tinggal tunggu ada yang upload di youtube, nonton deh
Dan perlahan, Tukulisme masuk kesetiap pembuluh darah masyarakat kita. Dan kabar-kabarnya DPR aja gak mau kalah sama Tukul, mereka ikut-ikutan minta Leptop, beneran gak sih om?
ya udah setelah membahas tukul, sekarang kita…
……… kembali ke laptop….
Tulisan yang lengkap… ada pencerahan diri, mari kita tertawakan diri kita sendiri sbelum ditertawakan orang lain.
bisa nyium yang cakep2 puaaasss…puassss…? Halah cuek aja klo tukul ga bisa bahasa Inggris, wong bule juga ga bisa Bahasa Indonesia, bisanya cuman Inggris doang, mereka suruh belajar bahsa spanyol aja mumet kok. Bule malah apreciate banget kita bisa bahasa macem2, kudu belajar bahasa daerah, bisa ngaji, kudu belajar english juga
hhmmmmm…masih berpikir sampe kapan acara itu akan digemari?
saya kira mo ngebahas tentang fenomena keartisan TukuL yang mendadak meroket karena acara 4Mata-nya!
(itu sebeLum saya baca tuLisan Abang secara penuh)
ternyata…
oh
ternyata…
tuLisan yang daLam dan berat, untuk ukuran seorang awam seperti saya ini, hehehe
Terimakasih teLah memberikan pencerahan & hikmah dibaLik fenomena TukuL.
akhirnya,
“KEMBALI KE LEPTOOOOOP…”
@passya
sampai masyarakat indonesia sudah bosen dengan tukul mas
mauuuuuuuu…… enak banget deket2 sama artis diciumin lagi tapi aku ndak khawatir dikhayangan masih banyak cewe2 cuantik hiks…hiks…
yap. bener banget. nggak perlu malu lah…
Oooo tukul masih punya wajah ta? Tak pikir itu bibir semua….
@ deking :
Tertawa memang kelihatannya gampang mas…. tapi susah kalau diartikan berbeda oleh orang lain. Apalagi kalau jenis tertawanya dilihat “lain” seperti tertawa menghina, tertawa sinis, atau tertawa ala korban banjir…
@ antobilang :
gak nyesel koq, setidaknya “cuma” itu yang bisa dibanggakan dari Tukul. Selebihnya saya yang unggul…. hhahahaha..
@ Kang Kombor :
Budaya bukan tingkatan Kang, tapi ciri khas spesifik. Tapi terkadang orang melihat yang diluar sana lebih “berbudaya” sementara kita yang bisa haha-hihi dan goyang sana goyang sini sering dilihat “tidak berbudaya”
@ Sora9n :
Nggak curhat koq… cuman sebel aja….
Kalau bahasa di dunia spesifik (kedokteran, komputer, psikologi, dll) memang kebanyakan belum diadaptasi ke bahasa Indonesia, karena alasan kesulitan mencari padanan yang tepat. Tapi untuk bahasa sehari-hari trus kita menggunakan bahasa asing, apa nggak keterlaluan ? Mending kalo sekalian in English for all…. (ini contohnya), tapi ini dipotong-potong…
misalnya gini :
@ grandiosa :
kalo saya tongkrongin aja di televisi tiap malam…. itupun kalo sempat…
@ Ning :
Tukulisme ? Itu istilah yang disodorkan para pengkritiknya, kalo nggak salah pernah dimuat di Media Indonesia. DPR memang meniru Tukul soal pake laptop, tapi lawakan mereka di gedung DPR nggak lucu alias GARING…
@ Arif :
kembali ke…. blog…
@ Pak Guru :
Memang menertawakan diri sendiri itu susah minta ampyuuuun pak… tapi saya sering salut pada orang yang mampu melakukannya…
@ Evy :
Iya mbak…
saya pernah ngobrol dengan bule pake bahasa Inggris, trus suatu saat bingung apa kata-katanya, saya tabrak aja pake bahasa Indonesia ditambah sedikit bahasa batak
Bulenya yang bingung….
@ passya :
selama masih ada penggemarnya
@ Arezk :
Awalnya sih mau meniru Mas Anto jadi semacam blogtainment, tapi gara-gara 3 tulisan di blog yang lain, akhirnya diarahkan jadi semacam Tanggapan Atas tulisan orang lain…
kecele ya….
@ jokotaroeb :
kalo mau saya juga mau, tapi kapan ?
@ khaidar :
tapi banyak orang2 yg terdidik dan cedik-pandai di negeri ini malu liat Tukul lho…. koq ada orang kutukupret dan ndeso kayak gini satu negara samaku, itu mungkin pertanyaannya…
@ Alief :
Eh… menghina lho mas… ntar disomasi Tukul gimana ?
@ fertobhades
Curhat == mencurahkan isi hati, terutama emosi negatif (termasuk “sebel”).
Itu mah namanya “curhat” juga, Mas…
ada orang yg bilang sungguh besar hati orang yg dapat manertawakan dirinya sendiri, tapi ada juga orang yg bilang kalo orang yg menertawakan dirinya sendiri itu “nggak tau diri”, “nggak tau malu”, atau bahkan “gila!”. Mana yg bener sih?
@fertobhades: orang2 yg terdidik kayak gitu yg bikin malu…
[...] menampung pendapat. Serta memberikan tips yang bermanfaat. Bisa Juga bicara politik, moral, atau etika. Justru semuanya ini adalah sebuah tidakan yang berani sekaligus bijaksana. Sebab dalam kehidupan [...]
Halah… mana enak cuma nyium? Lebih asyik kalau bisa lebih…
(** maksudnya bisa ngajak makan malam githooo **)
Terima kasih, kawan FERTOB..
)
ini tulisan yang obektif tentang tukul, dan mempunyai ‘point’ untuk direnungkan. sebelum baca tulisan ini, saya selalu nemuin tulisan2 yang cenderung gak obyektif. penulisnya ngritik, penggemarnya mbela abis2an. (dan saya termasuk yang mbela
gitu lah kira2..
sik ya kalo gitu tak merenung…
he’eh, mas…
hikmah itu bisa diambil dari mana saja, kok
Tulisan yang smart.
Analisisnya tajam dan mendalam.
Terima kasih.
@ sora9n :
iya deh curhat… puwas..!!!
@ poltak :
kalo “mentertawakan diri sendiri” itu memang susah dan butuh kemampuan emosi yang tinggi. tapi “tertawa sendiri” baru bisa dibilang “gila”
@ dewo :
minta lebih mas dewo ? mau sih, tapi nggak berani
@ J_Wicaksono ;
Tukul emang ruaaarrr biasa….
@ Joesatch :
iya mas… hikmah bisa diambil dari mana saja, bahkan dari sesuatu yang “menyakitkan”
@ Salat SMART :
terima kasih kembali
thukul menjadi kontroversi..
kita harus ngakuin, kreativitas thukul ini luar biasa,
bukan hanya bisa memancing tawa orang seisi indonesia, masih juga mampu membuat dirinya menjadi kontroversi,
lalu ada thukulisme, apalagi ini?
kita tunggu aja apalagi yang terbaru dari thukul, barangkali besok thukulisme bisa menjadi sebuah disiplin ilmu baru yang diajarkan di universitas-universitas. lalu siapa tahu lusanya muncul thukulholic,
sebuah komunitas kecanduan thukul.
thukul memang ruaarrrr biasa!
lihat apa yang akan terjadi nanti ….
Kita tidak bisa langsung potong kompas dengan seenaknya (mengeneralisir), kita juga harus ingat apa yang dibilang mas Thukul “don’t judge the book from the cover” (bener nggak sieh nulisnya: maklum saya juga wong ndeso).
Intinya saya sangat setuju dengan pandangan anda tentang bangsa kita yang tercinta ini. Memang terasa begitu mudah menertawakan dan menyalahkan orang lain, tetapi terasa begitu sulit menertawakan atau menyalahkan diri sendiri. Kira-kira 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun sampe 100 tahun kedepan, Indonesia bakalan jadi apa ya?
Mohon maaf sebelumnya, sebenarnya tulisan anda ini secara implicit juga telah memberikan stimulus pada orang lain untuk melakukan ‘persis’ seperti apa yang dilakukan oleh Mas Thukul (mencela secara fisik : tidak perlu saya jelaskan, karena dapat anda lihat sendiri dari comment tulisan anda). Hehehe…
Nb: biarkanlah Mas Thukul, Mbak Inul, Jusuf Kalla, dan lain-lainnya menikmati hasil dari ‘kristalisasi keringat’ mereka sendiri.. asal rejeki yang mereka cari halal bukan dari hasil korupsi… semoga KORUPSI di INDONESIA CEPAT PUNAH… karena korupsi itu merupakan akar dari semua permasalahan…
saya sih belum tentu setengah jam dalam seminggu nonton empat mata. tapi satu hal yang saya salut dari tukul (selain kemampuannya mentertawakan diri sendiri) yaitu kemampuannya untuk:
1. tidak menyesali kekurangannya
2. membalik kekurangan menjadi kelebihan, menjadikan kekurangan sebagai potensi dan tambang emas yang luar biasa.
wah, ternyata dua hal. puas, puass, puasss???
salam kenal
barusan tadi pagi saya baca di koran, katanya tukul & empat mata dilaporin sama KPI gara2 guyonannya yg terlalu vulgar & mengandung pelecehan seksual…
itu aja sih
btw saya bukan termasuk penggemar 4 mata.
dulu suka, tapi skrg bosen. gitu mulu.
Kembali ke laaap…toop…!!
@ Titah
Waduh… kalo aku mah rasanya sulit. Tapi aku pasti bisa berbuat sesuatu
.
[...] a. Wajah Tukul dan Pantat Inul [...]
Walah,, Ma baru kebaca lagi post ini,, truss,, Ma tuh agak gitu lho,, (yang nyampur bahasa inggris-indonesia,,) tapi kayanya ga ada niat buat terkesan keren atau gimana,,
Masalahnya Ma bisa nemuin bebarapa ekspresi dan definisi dalam bahasa inggris yang kena banget,, (Ma ga jago ngegambarin hal hal dengan bahasa normal sih,,) juga rasanya lebih pewe aja,,
kalo masalah tukul,, joke-nya dia bukan selera Ma kali ya,, masalahnya kalo tiba tiba ada Empat Mata, satu satunya orang dirumah yang bakal ketawa denger guyonan itu cuma Papa,, Ma, Mama, sama adek adek Ma saling liat liatan aja,, ckckck,,
[...] Wajah Tukul dan Pantat Inul [...]
tukul itu cerminan negara kita
seperti diri kita yang suka menertawakan negeri kita sendiri/..
ya hehehe setuju. aduh asosiasi antara wajah dan pantat… benar-benar unik!
tetapi ya begitu indonesia. mau dikata apa? orang sperti tukul di negeri kita kan banyak. coba, bila tidak ada sosok tukul, apa kita bisa mau mengerti bagaimana perasaan orang yang “di katro kan” dan “di-desa-kan” oleh manusia “serba urban” dan “mengaku elegan” itu? dan ada baiknya tertawakan lah diri anda, karena bagaimanapun itulah sosok anda sebenarnya!
konsep tukul itu menarik. dia mampu memancing orang-orang untuk menertawakan hal yang lumrah. dan justru, dengan tertawa seharusnya semua sadar, bahwa sebelum kita di “tertawakan” oleh bangsa lain, ada baiknya kita menertawakan diri “kita” ini sendiri. katro, ndeso, apalah…. bukankah bangsa kita juga demikian adanya?
goyangan inul juga begitu. mau dibilang bermartabat, mau dibilang bangsa yang berbudi pekerti luhur, namun lihatlah. tontonan seperti itu ternyata masih senang dikonsumsi. nah, sekarang kita pun akan berpikir: sebenarnya batasan luhur dan martabat bangsa kita ini sebesar apa sih? dan inul membuktikan bahwa sebenarnya bangsa kita ini ternyata masih belum punya pemahaman yang sama tentang 2 arti tersebut. bisa dilihat disana-sini adu argumen. katanya malu pada bangsa. dan inilah menariknya: dengan adanya goyangan tersebut maka bangsa kita pun terdidik untuk punya sikap malu. karena apa? bila kita buang rasa malu itu, kita tidak bakal tahu perbuatan yang memalukan apa lagi yang akan dilakukan oleh bangsa ini? padahal kasus hutan yang terbakar saja sudah cukup memalukan kita karena jamrud khatulistiwa kini cuman lahan gundul yang luasnya hampir tidak terkira.
jadi tidak salah! saya salut dengan hubungan antara wajah dan pantat itu ^^
salut juga buat bang (atau mba?) fertohables. mampu memberi gambaran yang demikian menariknya. teruslah berkarya dan belajar. kelak, akan berguna bagi sesama.
semangat
Semangat yang dibawa tukul sebetulnya bukan menertawakan diri sendiri, tetapi mengakui secara jujur kekatro-an dan keendesoan diri kita di hadapan lingkungan yang menuntut untuk terus tampil pura-pura kren, intelek, dan seudel-udelnya. Maka dengan adanya acara empat mata tukul arwana, orang-orang bersorak-sorai merayakan pelucutan terhadap kepura-puraan gaya hidup, dan kembali kepada ke aslian jati diri yang sebetulnya tidak penah terlepas dari kekatro-an dan keendesoan.
BITCHEZ
IMA Salshabella yang juara BINTANG CARI BINTANG Trans TV didikannya inul tuch. tapi jauh lebih cantik yang daripada inul… he he he
tukul etrmasuk orang maknyus baget sof…. muka bekas over
ketok mejik glod water yg gagal masa bi cipika-cipiki ma artis yang bohay2x lg trus kita2x ni kapan re…… tuhan memang tidak adil itu kata orang yang putus asa men…. sekarang kita tingal berjuang seperti di(hanoman kUly)yang suka nogol di tv7…..so….kita juga harus contoh kerja keras di yg bisa banting stir dari orng yang suka di remehkan oleh satu kampung ehhh taunya jadi orang di gemari 1 dunia karena mulutnya yang sesi kayak hanoman broooo……. mari kita contoh ja kerja kerasnya jgn sirik trus yang kita duluin mem………di juga manusia tw…yang mana asal usulnya ga jelas……….dan punya keturunan binatang gitudeh……… hidup tukuler di jakarta….khususnya di universitas uin jakarta….. kapan2x undang2x kata dong……man…..
nang boleh2 tukul kitak org tok.!!challenge bha tukul kwn kamek..ejam n hafiss nama nya..