Setelah kurang lebih seminggu tidak nongol di wordpress, ternyata banyak peristiwa yang terlewatkan termasuk “perkelahian” di blog tetangga. (apaan tuh ?
). Jangan tanya karena saya juga bingung melihatnya. Sudah selesai belum ya berantemnya ?
Tapi bukan itu yang menjadi sorotan kali ini. Karena kalau ikut-ikutan nanti dilabeli dengan cap tertentu.
Yang saya ingin bicarakan hanyalah sebuah fenomena yang sudah biasa kita lihat dan jalani sehari-hari. Apa itu ?
INSTAN. Itu kata pamungkasnya kali ini. Saya yakin anda sudah pernah mendengarnya dan bergelut dengan kata INSTAN ini. Apa itu instan ? Silakan cari tahu di kamus, dan saya yakin anda dapat menemukannya. Fenomena instan ini menurut saya sudah menjadi ciri khas kita. Sesuatu yang instan biasanya kita nikmati kalau sedang makan, misalnya. Kita punya susu instan, kopi instan, dan makanan instan seperti mie instan dan makanan instan cepat saji (junk-food).
Hal pertama yang terpikir oleh saya mendengar kata instan adalah CEPAT. Segala sesuatu yang instan adalah segala sesuatu yang dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat CEPAT menghasilkan sesuatu. Kalau tidak instan berarti tidak cepat, tetapi yang cepat belum tentu instan. Dalam hal ini prosedur diperamping dan didesain agar efektif dan efisien. Masalah utamanya adalah kecepatan, karena waktu memegang peranan penting.
Misalnya kalau kita mau minum susu, ada yang namanya susu instan. Kita tinggal menaruh air dan jadilah susu instan. Jadi kita tidak perlu lagi memerah sapi, memanaskannya, mensterilkan, mengemas, dan sebagainya. Tinggal tuangkan air, maka susu instan dapat dinikmati. Begitu juga dengan mi instan. Kita hanya menuangkan air panas, diamkan beberapa saat, taburkan bumbu dan penyedap, dan bisa langsung dinikmati. Mengenyangkan.
Juga dengan makanan cepat saji ala fast-food (saya sering memelesetkan jadi fat-food) atau dalam bahasa sononya sering disebut junk-food. Kita hanya datang ke restoran cepat saji, pesan makanan yang disukai, bayar, lalu bisa dinikmati. Mengenyangkan juga. Misalnya saja di KFC, MacD, dan yang lain.
Tapi bicara tentang makanan instan seperti mie instan, yang terpenting selain cepat adalah KENYANG. Masalah kandungan gizi atau sehatnya berada di nomor sekian. Padahal mie instan berdampak kurang baik bagi kesehatan kalau dijadikan makanan sehari-hari. Yang saya herankan adalah jika kita tertimpa bencana atau musibah, seperti gempa bumi, banjir, longsor, dan lain-lain. Bantuan dalam bentuk makanan yang diberikan biasanya dalam bentuk mie instan. Mungkin karena mie instan bisa langsung dijadikan makanan utama tanpa perlu bersusah payah untuk diapa-apakan.
Konotasi CEPAT dalam kata INSTAN membuat beberapa filosofi suku tertentu di Indonesia menjadi tidak relevan lagi. Saya masih ingat ucapan teman saya (bersuku Jawa) beberapa tahun yang lalu tentang salah satu filosofi Jawa itu.
Alon-alon waton kelakon
Filosofi itu mungkin sudah dianggap masuk museum oleh orang Indonesia modern. Dalam jaman yang serba edan cepat ini, kata-kata : biar lambat asal selamat sepertinya tidak lagi dianut. Kalau bisa cepat untuk apa lambat ? Kalau bisa selamat untuk apa celaka ?
Lalu kalimatnya diubah menjadi : Biar Cepat Asal Selamat.
Padahal filosofi itu mempunyai banyak arti bijak tersembunyi yang kadang tidak dimengerti oleh semua orang. Yang orang Jawa yang mungkin akan menjawabnya, karena saya merasa kurang berkompeten.
Sekarang, segala sesuatu harus serba cepat. Jika ingin mengejar orang lain yang berlari dengan cepat maka kita juga harus berlari dengan cepat. Jika lambat, maka dijamin akan ketinggalan kereta. Maka buat beberapa orang, mendapatkan gelar segudang (MBA, MSc, Ir, MSi, Dr, PhD, dll) juga diperoleh dengan cara cepat (baca : INSTAN), yaitu membeli ijazah. Untuk apa capek-capek kuliah bertahun-tahun kalau dengan beberapa lembar duit kita bisa menempelkan sejuta gelar dibelakang (dan didepan) nama kita ? Dengan cara instan (membeli ijazah dan gelar) maka kita sudah merasa memiliki kemampuan dengan gelar yang kita pasang itu. Instan membawa Gengsi, dan instan pula bisa membawa celaka.
Hal kedua yang terpikir oleh saya mendengar kata instan adalah HASIL. Orientasi yang dibangun adalah orientasi hasil atau tujuan. Demi suatu hasil tertentu maka cara dan proses bukan lagi menjadi perhatian utama. Yang penting adalah sesuatu yang berada di ujung sana yang harus direngkuh dan diraih. Masalah jalan menuju ke sana itu urusan belakangan. Mau menerobos lampu merah, menghalalkan segala cara, atau sikut kanan-sikut kiri, itu dihalalkan dan diperbolehkan asalkan tujuan dan hasil tercapai. Mau dengan cara instan atau dengan cara yang “aneh-aneh” juga terserah, yang penting HASIL.
Itu pulalah yang membuat negara kita menjadi “kaya” korupsi. Tujuan dari suatu usaha adalah Hasil yang maksimal, dan hasil yang maksimal sering disamakan dan diidentikkan dengan membuat diri menjadi kaya raya. Jadi tujuan bekerja adalah KAYA RAYA. Dengan demikian maka apapun cara yang dilakukan menjadi halal asalkan tujuan kaya raya terpenuhi. Korupsi atas nama keserakahan (greed) dan kebutuhan (need)-pun menjadi cara INSTAN untuk menjadi kaya. Cara tidak penting asalkan kaya. Woooaaahhhhh…..
Dan baru-baru ini cara-cara instan untuk mendapatkan hasil maksimal juga dipertontonkan oleh Tim Nasional Sepakbola U-23. PSSI bertujuan untuk menghadirkan Indonesia di pentas Piala Dunia. Tujuannya sudah pasti : Piala Dunia. Kalau bisa secepat-cepatnya. Dan cara yang dilakukan adalah mengirimkan TimNas U-23 Indonesia berguru di Negeri Belanda selama beberapa waktu. Dengan cara itu maka diyakini TimNas kita akan mampu untuk tampil di PD.
Tujuannya mulia : Piala Dunia. Caranya ? Terlalu menyederhanakan masalah. Sukses suatu tim tidak diukur dari “keberhasilan” mengirimkan tim nasional ke belahan dunia yang lain. tapi dari cara dan proses bagaimana pemain sepakbola terbentuk yaitu Kompetisi Sepakbola. Dan kompetisi itu adalah Liga Sepakbola Indonesia. Tetapi karena beberapa pengurus PSSI hanya memikirkan TUJUAN yang jauh di depan, mereka lupa akan proses yang harus ditempuh menuju kesana. Jadilah cara-cara instan dipakai.
Hasilnya ? Kita sudah tahu sendiri.
Bahkan seorang Foppe de Haan, yang melatih TimNas U-23 kita di Belanda memberikan sedikit penilaian yang membuat bulu kuduk saya sedikit merinding dan “rasa nasionalisme” saya tersentil. Kata de Haan, pemain sepakbola kita mempunyai 3 ciri khas yang melekat pada mereka :
- Tidak Cerdas
- Malas Berpikir
- Tidak Mempunyai Mental “Pembunuh”
Haaaaahhhhhhh….. ???
Kategori ketiga memang berhubungan dengan masalah “mental” sebagai pemain muda yang belum berpengalaman. Tetapi 2 kategori sebelumnya benar-benar membuat saya terperangah. Benarkah mereka tidak cerdas dan lemah berpikir ? Apakah kata-kata itu ditujukan hanya kepada para pemain sepakbola TimNas U-23 ataukah kepada kita juga sebagai bangsa Indonesia ? Tapi kalau memang benar itu yang terjadi, saya sangat sedih kalau mentalitas INSTAN seperti itu akhirnya dikatakan tidak cerdas dan lemah berpikir. Seharusnya mereka yang bertanggung jawab atas sepakbola di tanah air ini yang pantas untuk dikatakan tidak cerdas dan lemah berpikir.
Itulah yang terjadi jika mentalitas INSTAN menjadi sesuatu yang menjadi bagian dari diri kita. Mungkin saja ada konotasi yang lain dari kata INSTAN itu sendiri. Tapi bisa jadi mentalitas INSTAN akan berakhir seperti kata-kata Foppe de Haan itu : Lemah Berpikir dan Tidak Cerdas. Kalau seperti itu lebih baik saya tidak mengadopsinya sebagai milik pribadi. Walaupun demikian, bukan berarti sesuatu yang instan itu merugikan, tetapi butuh kebijaksanaan untuk menyikapinya.
Ada pemikiran lain ?







lho, penontonnya aja ricuh kok…mau berkembang
lho, sepakbola pake dana APBD kok…mau berkembang
lho, wasitnya bisa disuap kok..mau berkembang
hihihi
nah..kalo yang rame2 di blog itu termasuk golongan apa, om fertob?
visiting my blog :
::::: semua blogger basodara :::::::
dalam beberapa hal, hasil adalah hal yang utama. tentu saja, dengan beberapa catatan, lho.
misalnya: saya harus mendapatkan nilai A untuk kuliah K, dengan syarat bahwa saya tidak boleh melakukan kecurangan akademik.
tidak peduli saya mau belajar dengan ‘cara biasa’ atau ‘cara instan’ (e.g. kebut semalam, atau cara belajar self-style yang unik), kalau saya tidak melanggar constraint yang ada, seharusnya tidak ada masalah, kan?
saya sendiri sih tidak melihat adanya masalah dengan hal yang ‘instan’, sejauh hal tersebut tidak melanggar constraint yang ada (e.g. hukum yang berlaku), dan hasilnya bisa dipertanggungjawabkan. kadang, hal yang kelihatannya ‘instan’ sebenarnya lebih efisien, lho.
…tentu saja, ini seperti pisau bermata dua: kalau anda berhasil dengan cara ‘instan’, anda mungkin dikenang sebagai ‘inovatif’ atau ‘berbakat’, tapi kalau gagal, kemungkinan anda akan dimaki-maki karena ‘menggunakan cara instan’.
lagipula, sukses Kroasia di Piala Dunia 1998 juga bisa dikatakan ‘instan’, kok. tapi tidak ada komentar yang aneh-aneh, tuh
Foppe De Haan agak salah. Pemain kita bukan lemah berpikir dan tidak cerdas melainkan malas berpikir karena tidak cerdas. Lihat saja gaya main bola semua tim di kompetisi yang ada sampai ke Tim Nas kita, semuanya sama.
hmmmm ….
*ngantuk*
berpikir dan bertindak instan itu perlu dalam beberapa kasus…. apagunanya lama2 membahas soal dan berhasil menjawab, tapi waktu sudah habis…. waktu sangat mahal…..
Hmm….
Soal timnas U-23, seorang rekan di kampus pernah cerita juga sih. Katanya, timnas itu tipenya kekurangan pemain “cerdas” — dalam arti, punya kreativitas tinggi dan punya teknik. (waktu itu, dia malah sampai membandingkan tipe pemain Zidane dan Bima Sakti. Weh…
).
Dan mau gimana lagi, soal pembinaan memang kita lemah. Padahal timnas sekelas Prancis pun membangun tim butuh 20 tahun?
(Cat: Clairefontaine berdiri 1988)
Dan hasilnya… wow. dari Prancis: Zidane, Pires, Ribery; dan untuk striker-nya sudah tentu Henry.
Semuanya tipe pemain “cerdas” dan punya “mental pembunuh”.
Kalau INSTAN(SI) gimana bang?
Instan—>cepat—->hasil
INSTAN(SI): kalau pengin CEPAT ya harus memberi HASIL (baca: suap)
kenyataannya dunia bergerak semakin cepat, dan yang instan-instan ini sering ditemukan. Tapi saya setuju kalo proses belajar tidak ada yang dinamakan instan.. hasilnya bakal jelek..
Kalau baca blog instan kadang ga dapet pointnya, akhirnya komen-nya ngawur… ga nyambung yo mas…?
iya tuh Om … perkelahian nya pun jg instan
Jangan bandingin tim Indonesia dgn tim perancis, wong gaji pemainnya aja jauh berbeda sekali. bagaimana bisa konsen nendang bola kalo masih mikirin biaya hidup esok lusa?
bukankah produk instan itu nggak baik?
@ juliach
Hehehe, iya yah?
Nah lho, dengan gaji sekian dan pembinaan pembinaan bagus aja Prancis butuh 10-20 tahun, gimana dong dengan kita (Indonesia) yang…
…
… (silakan diisi sendiri yah
)
Alon-alon mas… Alon-alon…
tapi yang namanya anak kos itu banyak tergantung sama yang instan…
[...] sebagian orang berpikir “instant“ tidak pernah berpikir “procces”, segalanya siap saji, siap pakai, siap coba dan selalu [...]
wah klau alon alon asal klakon kan jadinyaaaaa yang penting cepet dan klakon heheheeh
waduh…duit bukan ukuran deh.. Justru saat ukuran loyalitas dan totalitas mulai dihitung berdasar materi,saat itu juga kita udah menghambat perkembangan kita sendiri. Banyak kok negara2 “berkasus” ,baik negara berkembang sama kayak kita/ bahkan negara yang lagi perang, prestasinya fine2 aja.
Indonesia sih wis salah kedaden..(ups..kamsudnya salah proses “menjadi”nya).
Ada pemain yang berkiblat ke manca…(tapi cuma gaya hedonisnya)….
Ada yang baru sekali kepanggil timnas udah ganti tongkrongan (stussy,nike,planet surf, parfum blv…dst…).
Ada yang sebenernya pemain “serius” tapi pola makan “menakjubkan” (di klub nagri, pemain ketauan makan burger bisa kena tegur dan denda…, di sini…dari junk food pe jeroan ayooo ajaaa…)
Yang bener2 total di dunia pro dengan segala hak dan kewajiban juga ada sih…..(tapi ya itu…sedikit skali…). Soalnya yang dapet pengetahuan tentang skill dasar yang memadai, gerakan yang bisa bikin rawan cedera, gizi, dll,juga cuma dikit.
Btw…tentang tidak cerdas dan malas berpikir…. Kebanyakan pemain masih menggunakan pola pikir, asal masih kuat lari, berotot, punya skill…that’s enough. Padahal, permainan tim butuh taktik..en taktik butuh kecerdasan… We need smart player. Cilakanya pemain Indonesia kadang terlalu cepat puas dan nyaman dengan keadaannya. Kayaknya jarang tuh yang punya target pingin main di luar negeri..jadi atlet internasional… Puas-puas aja jadi selebriti lokal..(yang sialnya sebenernya juga ga smua pemain tuh di “ngeh” i di Indonesia…)
Tentang tidak cerdas dan malas berpikir…no comment…
Tapi sepertinya memang cepat puas dan malas meng up-grade pengetahuan dan kemampuan….
anyway…ni gak smua player lho ya……tapi taruhlah kita sebar angket…menurut anda berapa persen yang bener2 menjalani “takdir” kewajibannya sebagai atlet sepakbola?
[...] Afrika, terutama Nigeria, ada yang ngotot bahwa indomie aslinya dari Nigeria. Malahan, katanya mie instan yang biasa dikirim buat bantuan bencana itu adalah makanan pokok bangsa [...]