Ide tulisan ini berawal dari ketertarikan dengan ide Pak Budi yang menulis postingan Aturan Menulis Blog ? di blognya. Dimana untuk menjadi sebuah blog yang populer maka seorang blogger “harus” (1) tulisan di blog pada umumnya pendek-pendek, dan (2) pembahasan agak dangkal. Mungkin saya bisa menambahkan yang ke (3) topiknya kontroversial
Menurut saya hal itu ada benarnya juga. Padahal saya punya kebiasaan menulis sesuatu yang panjang-panjang dan analisa yang cukup mendalam, walaupun terkadang tidak kontroversial. Oleh karena itu saya (khususnya di postingan ini) akan menulis hal-hal yang “pendek dan dangkal” tapi tidak kontroversial. Sekalian sebagai latihan menulis pendek. Tentunya saya bagi dalam beberapa bagian. Tapi sayangnya sebenarnya ini bisa menjadi beberapa postingan.
1. Communism and Myself
Mungkin banyak yang tidak tahu kalau saya pribadi juga punya kecenderungan untuk memiliki ideologi tertentu. Mungkin hanya Kang Kombor saja yang tahu bahwa saya seorang Sosialis, karena bergabung di forum yang sama (Ikatan Alumni SMA TN). Dan memang saya akui bahwa saya seorang sosialis, atau lebih tepatnya sosialis-humanis. Untuk apa punya ideologi pribadi ? Saya tidak tahu, tapi itu hanyalah kecenderungan untuk memposisikan diri pribadi secara politik dan ideologi (homo politicus). Mungkin yang lain tidak punya kecenderungan untuk berideologi, karena itu terserah kepada diri masing-masing.
Hal ini sekaligus untuk “menjawab” pertanyaan fourtynine di blognya yang menulis Mana Yang Lebih Layak Untuk Dibenci ? Komunisme atau Kapitalisme ? Ketertarikan terhadap sosialis terwujud ketika saya sudah lulus SMA, karena waktu jaman saya dulu (Orba dan Pak Harto) tertarik kepada ideologi lain selain Pancasila bisa dianggap subversi. Anda tahu seperti apa saat itu, apalagi bersekolah di sekolah seperti SMA TN.
Sewaktu kuliah, buku-buku sosialis mulai dari Proudhon, Owen sampai Marx dan Engels menjadi santapan sehari-hari, walaupun dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Memang banyak yang takut mendengar kata-kata Marxisme, karena seringkali Marxisme diidentikkan dengan Komunisme dan Partai Komunis Indonesia. Padahal Marxisme berbeda dengan Komunisme. Marx adalah seorang Sosialis (sosialis ala Marx), dan dia membangun teori sosialisnya dengan ciri sendiri. Para pengikutnya kemudian yang membakukan ajaran Marx dalam sebuah isme yang bernama Marxisme. Dan Marxisme ini kemudian “dipelesetkan” oleh beberapa orang menjadi ideologi yang bernama Komunisme. Dan akhirnya komunisme dan marxisme sering menjadi kembar siam bahaya laten di Indonesia dan juga sering dilabeli kata-kata “anti agama”, “atheis”, “kejam”, “pemberontak” dan lain-lain, sesuatu yang belum tentu benar.
Ketika Pemilu 1999, ketertarikan kepada sosialisme saya wujudkan dengan mencoblos PRD (Partai Rakyat Demokrat), karena menurut saya tidak ada Parpol yang bisa mengakomodasi keinginan politik saya selain PRD (saat itu tentunya). Saya masih ingat, saya mencoblos di salah satu TPS di kota Cimahi (sedang liburan). Dan ketika penghitungan suara di TPS itu berlangsung, PRD hanya mendapat 1 suara saja (otomatis itu suara saya). Jadi lebih berasa kan ?
2. Generatio Spontanea
Bukan, ini bukan pembicaraan tentang asal-usul kehidupan seperti yang dulu diajarkan di pelajaran Biologi di sekolah. Generatio spontanea (abiogenesis) ini bukanlah teori yang mengatakan bahwa kehidupan dan bentuk-bentuk kehidupan berasal dari materi non-kehidupan.
Ini hanya sebuah penegasan bahwa sebuah IDE dapat lahir dan timbul pada situasi apa saja, juga dari situasi tanpa apa-apa, bahkan situasi yang tidak terbayangkan untuk menghasilkan ide. Tadi ketika saya sedang membaca koran sambil tiduran, tiba-tiba ide menulis tentang Photoshop dan Flash di blog ini tiba-tiba timbul, sekalian mempraktekkan apa yang selama ini sudah saya pelajari secara otodidak. Padahal saya lagi asyik membaca dan tidak ada pikiran ke arah Photoshop atau Flash.
Itulah kerja otak, atau lebih tepatnya lagi itulah kerja otak yang tidak terorganisir seperti otak saya ini. Hal ini sudah saya akui di blog manusiabiasa (deking) yang menulis Peringatan Dini : Tidak usah memaksakan diri untuk membaca ini ya di koment #9. Memang otak saya ini bekerja tidak terorganisir dalam pengertian umum. Kalau orang lain memakai JK (jembatan keledai) untuk memudahkan menghapal sesuatu, maka saya punya cara sendiri (yang tidak bisa saya sebutkan) untuk membantu meningkatkan daya ingat. Kalau orang lain biasanya memakai mnemonic maka saya mungkin pakai demonic
Ide yang dapat timbul kapan saja terkadang membuat repot, apalagi ditambah berubahnya keinginan (mood) secara tiba-tiba untuk mengakomodasi ide itu. Dan akhirnya harus bongkar-bongkar berkas-berkas (files) lama yang terkadang sudah berabu dan jamuran. Ditambah alergi debu yang membuat semakin parah. Tapi kalau ide sudah mengambil alih pikiran, sepertinya mendaki pegunungan Himalaya mungkin akan ditempuh juga (kayak lagi jatuh cinta atau ngidam)
3. Psikologi Untuk Siapa ?
Sebenarnya psikologi itu untuk siapa sih ? Ini bukan pertanyaan serius, cuma hanya mengomentari beberapa slogan yang terkenal di kalangan psikologi : Psikologi Untuk Anda. Seakan-akan psikolog dan orang-orang yang berkecimpung di bidang psikologi tidak membutuhkan psikologi. Lalu mengatakan Psikologi itu memang untuk ANDA. Ya, anda-anda itu yang begini dan begitu.
dan bukan untuk saya sehingga saya belajar psikologi itu untuk ANDA dan bukan untuk SAYA.
Psikologi itu Ilmu Pengetahuan yang paling MUDAH sekaligus paling SUSAH sedunia.
Tidak percaya ? Begini ceritanya.
Paling MUDAH, karena siapapun dapat belajar psikologi sambil lalu. Kalau kita baca rubrik opini di Kompas atau koran lainnya, dengan mudah orang-orang yang bukan berlatar belakang psikologi menjelaskan tentang suatu teori dalam psikologi yang dikalangan orang psikologi harus dipelajari bertahun-tahun. Teori Maslow, Humanisme Frankl, Freudian Psychoanalysis, Learning Process Bandura, dan seabrek teori yang lain dapat dengan mudah dijelaskan justru oleh orang yang bukan berlatar belakang psikologi. Itu artinya psikologi memang gampang dipelajari. Bandingkan dengan saya yang kadang harus bingung mendengar istilah-istilah medis, teknik, dan komputer yang bikin pusing kepala
Paling SUSAH, karena psikologi mempelajari sesuatu yang abstrak dari manusia, yaitu mental dan tingkah laku. Manusia memang makhluk yang paling susah dihadapi. Saya lebih gampang berhadapan dengan CPU dan mengutak-atik barang elektronik dibandingkan berhadapan dengan manusia. Mesin-mesin itu kalau diapa-apain pasti tidak akan protes, meskipun sampai dirusak dan dipreteli. Lain cerita kalau manusia dipreteli dan diungkapkan tingkah lakunya, pasti akan bereaksi dengan cara yang tidak terduga. Manusia memang paling susah dihadapi, apalagi kalau menghadapi sesuatu yang abstrak dari manusia. Ini yang membuat psikologi menjadi ilmu paling susah sedunia karena harus berhadapan dengan manusia.
Ada anekdot di kalangan psikologi, bahwa kalau masuk jurusan psikologi suatu universitas maka hal itu seperti sedang BEROBAT JALAN. Kalau Lulus dan Sembuh maka jadilah Psikolog, tapi kalau Lulus dan Tidak Sembuh maka jadilah Psikopat.
Apalagi yang tidak lulus-lulus dan tidak sembuh-sembuh, saya tidak tahu jadi apa nantinya. Jadi menjawab pertanyaan subjudul diatas, psikologi itu untuk siapa ? Sebenarnya untuk manusia (berarti saya masuk
), atau dengan kata lain untuk siapa saja. Bukan hanya untuk ANDA tapi juga untuk SAYA, alias untuk kita semua.
4. Berkelahi dengan Gambar (part 2)
Pada tulisan sebelumnya saya menulis tentang Berkelahi Dengan Gambar. Sebenarnya bukan maksud saya untuk menggungkapkan kejelekan-kejelekan orang lain (kalau ada yang merasa) dalam suatu diskusi. Tidak. Saya hanya melihat menggunakan sesuatu yang cukup saya pahami untuk menjelaskan berbagai sudut pandang yang dipakai orang.
Saya jadi ingin menambahkan beberapa gambar yang dirasa kurang pada postingan sebelumnya. Bagi yang tidak bisa membuka imageshack, maaf sebesar-besarnya karena gambar ini berasal dari sana.

Apa yang anda baca dari tulisan itu ?
Apakah bisa membaca kalimat No Sex Causes Bad Eyes ? Jangan dekatkan kepala anda, coba jauhkan sampai anda bisa membacanya.
Apa artinya itu ?
Semakin dekat kita dengan gambar diatas maka semakin kita tidak bisa membaca tulisan itu, tetapi jika kita sedikit menjauhkan mata kita maka gambar itu dengan mudah bisa kita baca.
Begitu juga dengan suatu masalah. Terkadang jika kita terlalu dekat dengan suatu persoalan, kita justru tidak bisa melihat hal-hal sebenarnya dari suatu masalah. Kita perlu menjauhkan diri kita, meluaskan cara pandang kita, dan melihat suatu persoalan dengan cara yang lain, maka masalah itu bisa kita lihat dengan lebih gamblang dan jernih. Terlalu dekat dengan persoalan terkadang membuat kita tidak bisa melihat secara sempurna keseluruhan suatu persoalan. Ambil jarak dari masalah dan pandanglah dengan seksama maka persoalan itu justru akan terbuka dengan sendirinya.

Apakah gambar diatas “MUNGKIN” ? Gambar diatas benar-benar “menyalahi” aturan-aturan geometri. Bidang yang dibentuk benar-benar bidang imajinasi.
Apa artinya itu ?
Sebenarnya artinya bisa macam-macam. Tapi menurut saya, suatu masalah bisa dipecahkan bahkan dengan cara yang “sangat tidak mungkin”. Gambar diatas dapat menjadi latihan imajinasi kita akan hal-hal yang “tidak mungkin” di dunia ini. Sesuatu yang dulu dianggap mustahil, bisa saja sekarang menjadi mungkin. Dan imajinasi itu tidak punya batas. Satu jawaban terhadap suatu persoalan bukanlah hal yang penting, tetapi yang lebih penting adalah kita membuka diri terhadap berbagai kemungkinan jawaban yang ada. Jangan menutup mata atas segala kemungkinan di dunia ini.
Hanya 2 gambar itu saja yang ditampilkan saat ini. Tentang jawaban Teka-teki di gambar #6 postingan Berkelahi dengan Gambar, jawabannya bisa apa saja. Saya minimal melihat 5 hal di gambar itu, (1) Wajah kakek-kakek, (2) orang yang sedang ciuman, (3) air terjun (4) buah anggu, dan (5) monyet. Tentunya ada gambar yang lain, tapi namanya juga proses “memirip-miripkan’
5. Generalisasi
Topik generalisasi diangkat menjadi judul tulisan beberapa hari ini. Tidak semua laki-laki menjadi judul pertama yang saya baca; kemudian Generalisasi :Benarkah sebuah pola pikir yang salah ? dan terakhir Mana yang lebih layak untuk dibenci, Komunisme atau Kapitalisme ?
Tidak ada yang saya ingin tambahkan secara esensial tentang topik diatas, karena para penulisnya telah menulis dengan pemahamannya sendiri.
Generalisasi adalah sebuah keniscayaan. Kita hidup dan bertahan hidup dengan mengambil potongan-potongan informasi dan menggeneralisasikannya pada kasus yang lain yang menurut kita mirip dengan itu. Tidak ada yang salah disitu. Bahkan ilmu pengetahuan berkembang karena adanya proses generalisasi, misalnya kita mengambil sampel penelitian disuatu daerah dan kemudian menggeneralisasikannya. Dengan cara itu kita bisa menghemat segalanya.
Generalisasi juga adalah proses normal yang biasa dan normal, sama seperti Defence Mechanism ala Freud. Cara-cara itu adalah cara yang biasa kita pakai dalam memahami dunia. Tetapi cara itu menjadi sesuatu yang “aneh” ketika kita selalu menjadikannya landasan kita dalam bersikap dan berpendapat.
Dan generalisasi yang sangat “mengerikan” dapat timbul menjadi bentuk-bentuk yang lain seperti prasangka (prejudice), diskriminasi (discrimination), stereotipi (stereotype), stigma, pelabelan, dan lain-lain. Hal itu jugalah yang menjadi awal konflik di negeri ini, termasuk konflik di Singkawang/Sambas (Kalbar), Poso, Ambon, Aceh, Papua, dan di tempat lain. Kesalahan penggeneralisasian yang akhirnya menjadi konflik berdarah. Kita memang tidak bisa menghilangkan generalisasi tapi setidaknya kita bisa memakainya untuk sesuatu yang berguna.
=========================
Sepertinya kalau dipanjangkan, tulisann-tulisan diatas bisa berubah menjadi 5 postingan yang berbeda. Lumayan untuk menghemat ide.
Tapi bukan itu tujuannya. Tapi kalau dilihat secara utuh, postingan ini bisa dianggap SANGAT PANJANG, padahal sudah dibagi-bagi. Mungkin lain kali saya akan menuliskan sesuatu yang pendek dan dangkal, tapi kontroversial.







Tuh kan … terlalu panjang untuk dibaca (secara cepat). Mbacanya nanti kalau ada waktu (dan kalau tidak kalah dari prioritas membaca yang lain, … yang lebih pendek).
Pantesan kata pendek dan dangkal pakai tanda petik, lha tulisannya ternyata tidak pendek dan dangkal
Masih khas tulisannya Bang Fertob..
• tulisan2 bang fertob ini bagusnya disimpan (syukur kl ada pdf-nya langsung kayak cakmoki..hi cak™) trus dibaca kapan pun tetap gak lapuk dikekang waktu..
– (tanda ini saya isi krn pd bbrp tema spasi kosong akan dikonversi..ntah tema ini..maap, saya coba pd 2 item komen terakhir..)
• perlu mikir dl nih bang..apalagi kl yg make warnet..dikejar waktu..kl pas make cdma gini sih bs baca ampe abis dl gpp..
–
• biar lbh terasa enak, kl komen panjang2 jg mestinya dibikin jeda tp pokok pikiran tetap gak kepotong
–
• maaf gambar sdg di-disable..
–
• tp yg menarik mnrt saya ya.. yg model gambar2 itu..semua pasti pengen komen..
• utk generalisasi, apa perlu terapi massal ya bang..
Mantab… Menyesal kemarin da masuk jurusan psikologi…
Sumpah, saya ngakak sendiri di kantor pas baca bagian yang ini:
—————————————————
Saya masih ingat, saya mencoblos di salah satu TPS di kota Cimahi (sedang liburan). Dan ketika penghitungan suara di TPS itu berlangsung, PRD hanya mendapat 1 suara saja (otomatis itu suara saya). Jadi lebih berasa kan ?
—————————————————
Berasa apanya ya?
postingan mas fertob sangat mencerahkan!
postingan yang pendek-pendek, sedikit dangkal dan kontroversial memang selalu bikin gatal siapapun yang membaca untuk ikut komentar.
Dahsyaaaattt….
Ini postingan muantab suratab…
Semoga hostingan di wordpress tidak mati, sehingga tulisan ini biar tetap ada.
@ Pak Budi :
hehehehe… sebenarnya mau bikin 5 postingan sekaligus yang pendek, tapi jadinya malah disatukan dalam 1 postingan sekaligus. Dipilih saja Pak mana yang disuka, topiknya nggak berat koq…
@ deking :
Tulisan diatas pendek-pendek lho KALAU tidak dibaca sebagai satu kesatuan alias dipilah-pilah. Lama-lama memang agak sedikit pegal kalau tulisannya “panjang dan dalam”
@ pak dani iswara :
- waduh, saya malah nggak kepikiran kalau mau dijadiin format .pdf
- makasih sarannya pak, soal terapi massal saya malah tidak tahu bentuknya seperti apa
@ manusiasuper :
berasa di hati
lebih kena dihati karena saya tidak harus berbagi suara dengan yang lain. saya jadi bukan 1 dari 357 suara, tapi 1 dari 1 suara. apa nggak enak tuh ?
@ dalamhati :
makasih
tapi kalau soal gatal-gatal silakan ditanyakan sama cakmoki atau mas dani
@ projectidag :
saya takut wordpressnya yang malah mati
Kolaborasi Photoshop – Flash dan Psikologi.
Paling mudah sekaligus paling sulit ya. Ampun pak, sulit bagi saya.
Sisi psikologi sangat menarik ketika menyentuh kehidupan nyata, terlebih jika dikaitkan dengan generalisasi yang di blogpun sedang ramai diulas. *nunggu pdf*
Whuiiih….tadinya lagi asyik-asyik baca soal Marxisme dan Marx eh….tiba tiba ada soal psikologi. Jadi bingung………Harus banyak baca lagi nih untuk bisa pahama semua dan apa benang merahnya….?
Aneh ya, sebenernya rangka postingan ini juga parallel (dari soal sosialis, psikologi, sampe ke gambar), tapi koq tetep enak dibaca dan nyambung yah? *dua jempol*
Kata siapa postingan pendek lebih bagus? Nggak juga akh. Saya suka baca postingan panjang, semakin panjang semakin jelas malah semakin bagus (pesan yg mau disampaikan jadi lebih tersampaikan). Kalo postingan pendek kadang2 nanggung, gak ketauan arahnya kemana.
Pokoknya nulis terus bang, semangat! Semakin panjang semakin bagus, buktinya sy slalu baca ampe abis, hihihi.
Panjang-pendek gak masalah om, yang penting rasanya. Karena segala sesuatu ada tempat dan waktunya.
Analoginya, kalau lagi laper aku milih makan nasi, lengkap dengan lauk pauk. Sehat dan bergizi. Kalau lagi iseng, ya ngemil kripik atau kacang goreng.
Blog yang isi tulisannya ‘berat’, bergizi buat kepala dan hati. Blog yang ringan ya lumayan juga buat selingan. Lha, kalau tiap hari baca yang berat-berat, bisa cepet ubanan om
wah dapat ilmu nih… biarpun panjang mbacanya tuntas, meskipun berpikir keras untuk memahaminya…
Sayang ya, Kiri terlanjur dianggap setan oleh bangsa ini… =(
[...] Yang saya tidak sangka sangka, orang orang dengan blog kualitas tinggi macam Mas Agorsiloku dan Mas Ferthob ternyata memberikan paparan menarik terhadap tulisan jelek saya. Kemudian terjadilah suatu hal yang [...]
Uji pengetahuan anda tentang Marx, dengan menjawab pertanyaan yang tercantum di http://meontology.blogdrive.com , dan jawaban terbaik akan mendapatkan hadiah menarik…..