[mode kalem ON]
Tadi saya mengecek e-mail, dan mendapatkan sebuah e-mail yang bersifat memojokkan seputar opini saya terhadap masalah IPDN. Email itu sebaiknya tidak perlu saya tampilkan disini karena ada beberapa kalimat yang tidak senonoh di dalamnya. Intinya email itu berisi “hujatan” kepada saya seputar masalah IPDN dan opini serta argumentasi saya yang saya berikan baik di blog ini maupun komentar-komentar di blog orang lain.
Bagi saya email nyasar seperti itu adalah hal yang biasa
Saya tidak mempermasalahkannya karena debat argumentasi adalah sesuatu yang wajar. Tapi sebaiknya dilakukan dengan elegan dan penuh kesantunan. Bahasa boleh keras, kepala boleh panas, emosi boleh meledak-ledak, semangat boleh menggebu-gebu, tapi yang harus diingat adalah Hati Tetap Dingin dan Jangan Menyerang secara Personal (adhominem).
[mode kalem OFF]
[mode marah ON]
Mungkin saja ada yang belum mengerti posisi saya dalam perdebatan seputar kasus IPDN itu, maka kali ini saya akan menegaskan dengan lebih jelas lagi di mana posisi saya.
1. Saya tidak pernah mengatakan TIDAK SETUJU terhadap Pembubaran IPDN.
Dalam semua argumentasi saya terhadap kasus IPDN ini saya secara eksplisit, sekali lagi, TIDAK PERNAH mengatakan bahwa saya TIDAK SETUJU Pembubaran IPDN. Tapi bukan berarti Saya SETUJU IPDN dibubarkan. Ada perbedaan persepsi disini.
Jika kita hanya memandang seseorang dengan menggunakan Paradigma Dualistik seperti itu maka kita akan kehilangan esensi dan nuansa dari suatu kasus. Saya masih ingat ucapan Presiden USA George W. Bush tentang perang terhadap Terorisme : “Jika Anda Tidak Bersama Kami, maka Anda Melawan Kami (if you not with us, you against us)”. Dan saya sangat TIDAK SETUJU dengan kalimat seperti itu.
Saya hanya mengatakan : IPDN masih memungkinkan untuk DIPERBAIKI, dan jika PERBAIKAN itu berujung pada PEMBUBARAN, maka itu mungkin jalan yang terbaik. Saya hanya membuka kemungkinan bahwa suatu SISTEM yang bernama IPDN masih mungkin untuk diperbaiki, karena TIDAK ADA sistem yang tidak bisa diperbaiki selama sistem itu buatan manusia.
Walaupun berada di jalur yang berbeda, saya tetap menjadi pendukung yang setia pada setiap usaha perbaikan di negeri ini. Bagi saya, PARADIGMA UTAMA yang harus dibangun adalah PERBAIKAN. Itulah sudut pandang saya. Jika perbaikan itu berujung dengan sebuah “penghancuran”, itulah mungkin jawaban yang tepat bagi sebuah perbaikan. Saya tidak membangun suatu paradigma utama PENGHANCURAN.
2. Saya TIDAK PERNAH mengatakan TIDAK SETUJU terhadap Petisi Pembubaran IPDN.
Saya tidak pernah mengatakan bahwa Petisi Pembubaran IPDN adalah sesuatu yang TIDAK PERLU, KONYOL, TIDAK DEWASA, EMOSIONAL, dan segudang anggapan yang lain. Jika berada di jalur yang berbeda, untuk apa saya menghina sebuah Petisi yang dalam pikiran saya juga adalah sebuah SOLUSI bagi masalah IPDN ? Sebuah pilihan solusi adalah sesuatu yang harus dan layak dihormati, karena itu merupakan proses dari pemikiran dan keprihatinan yang mendalam
Petisi itu adalah salah satu solusi bagi PERBAIKAN Sistem Pendidikan di negeri ini. Saya menghormati Petisi itu sebagai suatu jalan terakhir setelah semua usaha yang dilakukan untuk MEMPERBAIKI IPDN sudah TIDAK MUNGKIN lagi dilakukan. Itulah makanya dalam tulisan saya di ‘Tertawa” dan IPDN, saya justru mempertanyakan kembali “Apakah memang IPDN harus dibubarkan demi nyawa anak bangsa ? Apakah TIDAK MUNGKIN dapat diperbaiki seandainya perbaikan itu mungkin dengan cara”mengamputasi” kaki dan tangannya ?”
3. Argumen dan Opini Saya terhadap kasus ini mencerminkan PEMIKIRAN Saya pribadi.
Semua opini, argumen, komentar, dan apa saja yang saya tulis di dunia blog, baik itu di blog ini maupun berupa komentar di blog orang lain, adalah MURNI pemikiran saya pribadi dan TIDAK ADA kepentingan, titipan, dan agenda tersembunyi di dalamnya. Semua itu murni berasal dari diri saya sendiri.
Saya bukan PEMBELA IPDN, karena saya tidak punya kepentingan dan urusan dengan IPDN. Tetapi kasus di IPDN menjadi masalah bangsa karena menyangkut nyawa manusia, sistem pendidikan Indonesia yang humanis, dan juga kepentingan rakyat banyak sebagai salah satu stakeholder IPDN. Karena saya adalah bagian dari bangsa ini dan juga salah satu dari rakyat Indonesia yang menjadi stakeholder IPDN, maka saya BERHAK untuk menyuarakan opini saya bagaimana kasus ini sebaiknya diselesaikan.
4. Paradigma yang saya bangun pertama kali dari keseluruhan argumen itu adalah Paradigma PERBAIKAN.
Prefesensi pribadi saya adalah bahwa suatu sistem mungkin diperbaiki selama sistem itu buatan manusia. Sesuatu yang RUSAK harus dipandang pertama kali dengan sebuah pertanyaan : Apakah Masih Mungkin Diperbaiki ? Itu pertanyaan utamanya. Pertanyaan itu menjadi relevan ketika kita mempertimbangkan segala hal, termasuk cost and benefit, soal kemanusiaan, masa depan orang lain, dan banyak kepentingan lain yang turut terlibat disitu.
Saya tidak menutup kemungkinan bahwa IPDN sudah tidak mungkin diperbaiki, kemungkinan itu masih ada dan masih terbuka lebar. Itulah maka saya juga bertanya di tulisan “Tertawa” dan IPDN : Ataukah IPDN sudah seperti Kanker stadium akhir yang sudah menggerogoti hampir seluruh tubuhnya dan sudah tidak mungkin diselamatkan ? Jika itu yang terjadi, saya menjadi salah satu penganjur utama agar sebuah institusi bernama IPDN memang layak dan pantas untuk dibubarkan.
5. Semua Opini yang ada di dunia maya adalah bentuk KEPEDULIAN komunitas itu terhadap kasus di IPDN.
Apapun opini dan argumentasi yang ada di dunia maya, sejatinya adalah sebuah bentuk KEPEDULIAN komunitas itu terhadap kasus kekerasan dan kematian di IPDN. Kepedulian itu bukannya harus ditanggapi dengan sikap antipati dan meremehkan, tetapi seharusnya dilihat sebagai salah satu solusi anak bangsa terhadap masalah yang terjadi di negerinya.
Apapun opini itu, baik berupa pernyataan berupa Petisi, baik berupa pertimbangan, atau solusi lainnya harus dilakukan dengan pemikiran yang jernih, serta bukan merupakan sarana adu argumenasi “tidak sehat” baik itu berupa pencemaran martabat ataupun pembelaan membabi buta terhadap apa yang dbicarakan. Semua harus mempunyai dasar dan bukan hanya asal bunyi, semua punya alasan dan bukan hanya ikut-ikutan meramaikan suasana, semua harus punya kepedulian karena itu yang dibutuhkan, semua harus punya sudut pandang karena itu menjadi penegasan bersikap, dan yang paling penting semua demi kebaikan bersama.
6. Semua opini itu seharusnya dilakukan dengan semangat Kebebasan Berbicara dan Menghormati Pendapat Orang Lain.
Apa yang disuarakan oleh sebagian besar anggota komunitas ini adalah bagian dari suatu kebebasan berpendapat dan juga penghormatan terhadap pendapat orang lain. Setiap orang bebas berbicara dan bersuara, dan setiap orang sebaiknya menghormati pendapat orang lain sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari solusi bersama mengatasi kasus IPDN ini.
Jika ada pihak yang tidak bisa melakukan kedua hal itu, saya minta dengan hormat agar sebaiknya tidak perlu menggunakan cara-cara yang “tidak terhormat”.
[mode marah OFF]
============================
Itu saja “kalem dan marah” hari ini.
Sebenarnya saya tidak terlalu ambil pusing alias peduli setan terhadap pesan-pesan tidak bertanggung jawab. Tetapi penjelasan sikap itu dirasa perlu karena untuk meluruskan apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin saya tidak mengikuti arus utama (mainstream) pemikiran dan pendapat di komunitas ini, tetapi opini saya telah saya sampaikan dengan argumen yang jelas dan cara yang elegan.
Tulisan (keluhan) serupa juga dituliskan oleh Bu Evy dengan tulisan Alasan rasional dong!!! Pada intinya tulisan beliau sama dengan tulisan ini tapi dari sisi yang berbeda.
[mode nggak jelas ON]
ps : eh, kalau saya “kalem dan marah” jadi aneh ya ?
[mode nggak jelas OFF]







Eh bener tuh mas, aku malah di chat box ku sama temen SMA aku di bombardir… aku ga sempet jawab, aku bilang ntar dulu deh aku posting aja…. padahal menurutku berbeda pendapat itu biasa, dan ga ada masalah sama sekali, awalya aku juga masih berharap rekonstruksi total masih bisa jadi solusi, spt di postingku yg pertama, ketika Cliff menyusul Ery dan Wahyu, aku kasihan sama praja2 itu mau di kemanakan dan aku juga berharap ada perbaikan.
Tapi setelah baca friendster mereka dan membaca fakta bahwa tradisi kekerasan itu adalah dari orang dalam atau pengasuh yang mengajarkan, aku jadi sedih dan kasihan sama mereka… kasihan sekali mereka yg di hujat sana sini padahal mereka itu cuman korban dari suatu sistem, jadi kupikir akhirnya sistem nya yang musti di ganti, itu aj kok mas…
ga ada maksud mengcounter balik tulisan mas Fertob, bener deh, aku suka ga baca lengkap sih jadi gataw kalau kaki busuk itu dari sini… lho aku mendukung sikap humanis mas fertb, aku juga humanis kok, makanya aku ga rela praja2 itu disamakan dengan tikus dan cara membasmi-nya, kita sebagai orang tua harus mikir apa yang terbaik buat mereka khan mas?
Aku juga tahu mas fertob menyikapi bukan karene tidak mendukung pembubaran tapi lebih ngelihat ke sisi chance, mendukung atau tidak mendukung itu hak pribadi sih sebenernya semua punay alasan dan apapun alasannya itu kita saling menghargai ya toh? yang penting tujuannya kebaikan.
Maafin deh kalau tersinggung ya mas, tapi suwer ini gara2 temenku yg ngemail dan chat kok, kebeneran temen deket jadi aku njelasinnya kayak gitu… klo ga deket aku pasti lebih halus… udah jangan marah ya mas…mosok berbeda aja kok malah ribut dewe? Khan inti persoalannya bukan disitu…
Thanks anyway…
Kalo liat dari frenster mereka, kayaknya para dosen pun melakukan kekerasan dalam kelas (dalam tuduhan mereka bahkan pak Inu Kencana juga pernah melakukannya kepada seorang wanita).
Dengan keadaan yang parah seperti ini, bahkan dosennya pun harus diganti. Suatu biaya yang sangat mahal untuk sebuah perubahan.
Mungkin inilah akibatnya kalau orang sipil sok2an milter.
Hmm.. perasaan pembahasan abang termasuk yang paling santun dan humanistik. Bukan yang tipe “Maling Ayam!!! … SIRAM BENSIN!!! … BAKAR!!!”
Oh well …
Eh maaf bang fertob nulisnya kaki yang di amputasi, halah aku bener2 ga nyangka klo tahu aku pake tangan atau rahang deh, wiii abis itu aku di link, mudah2an bukan karena mangkel ama aku, tapi bener aku di email dan terutama YM di kata2in ama temen dibilang memandang masalah dengan emosional ga realistis, ga masuk akal, meski ada benarnya sih klo di bubarin trus gimana khan kita masyarakat ilmiah kudunya mikir ga sekedar brenti disitu.
Ya emang postingan itu rada2 curhat siiih… ga nyangka bisa menyinggung orang lain
Trus aku juga baru baca tulisan yang sebelum ini bang, suwer deh, klo g percaya dilihat aja di kunjungannya apa aku noleh2 kesini sebelum nulis, jadi ga enak nyebut2 ngutip kata “humanis”, lha mosok klo minta dibubarin opo trus ga humanis to bang? khan sakjane mikirin nasib mereka dan orang2 yang bakal mereka pimpin jeee… walah pancen aku sing sok mikir kali… padahal ga punya kemampuan mikir… lha wong ga punya pengetahuan masalah2 sosial…
Klo teori management sih harusnya kalimat awal di awali dengan “In what way can we solve the problem in IPDN without …. dst…” urutannya khan bikin diagram fish bone dulu dsb, gitu ya bang? cuman aku mo nulis yg gitu2 ntar malah pada ga mudeng…
OK deeh CMIIW yaaa…
waaah, siapa yang email tuh… jadi penasaran apa isi emailnya sampe bikin bang Fertob begini *elus-elus jenggot nabi*
Jadi mikir, saya jadi terlihat seperti abu bush ya
Sepertinya saya perlu belajar menulis lebih santun nih…
Bang, saya takut ngebaca postingan ini, soalnya ngebayangin abang marah2 jaman SMA dulu kyk adegan2 di STPDN X(.
Saya sependapat ama abang, standing motionless between ‘to be or not to be’, karena menurut saya (seperti kata abang), tidak ada system yang sempurna, dan tidak ada kebenaran absolut. Dan bukan kapasitas manusia untuk menilai keduanya X(.
To all :
Warning, don’t u ever ever terrorize me!
Coz I know no danger
Coz I know no fear
Coz I know nothing X(
Om fertob biarpun marah tetep aja berasa adem dan tetep kalem
Saya setuju dengan sikap om, memandang sesuatu dari tengah bukan selalu berarti plinplan dan tidak punya sikap. Tapi empati adalah mencoba memandang permasalahan tidak hanya dari satu-dua sisi, hanya parsial. Namun, mari mencoba memandang secara integral dan menyeluruh, sehingga tidak sampai seperti kata pepatah “buruk rupa cermin dibelah”
saya setuju dgn anda, apa yang telah dipertontokan telah menjadikan bukti yang cukup untuk ke sebuah jalan perbaikan sistem yakni pembubaran (bukankah pembubaran adalah hasil dari perbaikan sistem juga?), lha gimana bagi lulusan yg telah menduduki jabatan camat? toh mereka adalah produk dari kesalahan sistem, tentu ini adalah pertanyaan baru lagi.
hahahaha… bisa marah juga ya??? :p tapi saya setuju cara bang fertob marah, marah boleh aja tapi kepala wajib dingin….
sabar Om
saya aja yang beringas ini dituduh macem-macem tapi tetap cool..
Ha…?
TernyataMas Fertob bisa juga jadi marah dan nggak jelas…Btw, sebetulnya ada beberapa alasan logis kok buat itu… (sebagian sudah saya tulis di blog saya sih
). Cuma memang, kebanyakan orang yang pro-petisi kurang bisa menjabarkan alasan yang kuat, soalnya udah kebawa emosi.
…dan, netter-pro-petisi yang kebawa emosi itu jadi nggak bisa berpikir dengan baik, dan jadilah membabi-buta menyerang mereka yang dikira tidak sehaluan.
Tentunya segala sesuatu harus ditimbang dengan seksama dulu sebelum diberi vonis tertentu, kan?
oom..tak komporin aja kayak oom ngomporin aku waktu itu,,
udah cukup ‘panas’ blm?
kapan2 aku kasih advis..wakakak47x…
*sok banget ya aku mau ngasih advis segala*
@ Bu Evy :
Saya nggak bicarakan ibu lho…!
“Kemarahan” itu karena perdebatan yang sehat selama ini di dunia blog/maya dirusak oleh pernyataan/pesan-pesan tidak bertanggung jawab yang menuduh seenaknya.
Ibu mungkin di pihak pro-pembubaran dan pro-petisi dan akhirnya dianggap konyol, emosional, tidak dewasa dan sebagainya oleh orang lain. Saya yang lebih pro-perbaikan juga dibegitukan.
Intinya, perbedaan pendapat kita selama ini kan masih sehat dan wajar-wajar saja, tapi akhirnya dirusak oleh pandangan negatif orang lain yang tidak memahami apa alasan kita. It’s TOLERANCE, and not ACCEPTANCE.
Saya maksudnya bertoleransi terhadap semua pendapat, baik yang pro dan kontra. Bertoleransi berarti saya memahami dan menghormati pendapat mereka. Tetapi belum tentu saya menerima apa pendapat mereka karena saya punya sudut pandang sendiri.
Maksud saya dengan tulisan ini :
Itu maksudnya, pendapat ibu seputar masalah IPDN (dlm tulisan itu) dipandang dengan cara yang salah oleh orang lain. Malahan aku menghormati ibu yang sudah menyuarakan pendapatnya dengan bebas. Apapun pendapat orang lain yang meremehkan dan merendahkan sebaiknya memang nggak usah ditanggapi, tapi tulisan ini hanya sekedar mempertegas sikap saya saja.
Tulisan ini saya tujukan buat orang yang mengirim e-mail nyasar itu, dan bukan buat siapa-siapa.
@ dnial :
Memang IPDN sudah seperti benang kusut yang susah diurai awal dan ujungnya. Kekerasan didalamnya sudah menggurita dan yang saya khawatirkan sudah seperti kanker stadium akhir. Jika itu kenyataannya, memang selayaknya dibubarkan….
@ Hardono :
Tapi bahasa paling santun sekalipun jika dibenak orang sudah nggak suka, ya jadinya dianggap maling ayam
@ Wadehel :
Waduh nggak usah saya beritahu dari siapa. Saya juga nggak berniat membalas dengan cara yang lebih kasar. Nggak ada gunanya.
Jadinya aneh kalau seorang Wadehel menulis dengan santun. Masa gara-gara kasus IPDN jadi berubah, emang siapa IPDN sampai bisa mengubah wadehel ?
@ Apret :
Heheheheee…. boleh tanya sama alumni yang pernah kenal samaku (Angk. 1, 2, dan 3 atau yg lain) apa Fertob pernah marah-marah dan seorang yang “SANGAR” selama di TN ?
Jawabannya sudah pasti TIDAK.
Pesan terakhirnya bagus juga tuh…
@ Mbak Ning :
Lho, kayak tulisan diatas masih dianggap adem-ayem ya ? Berarti masih salah nih cara marahku…
Betul mbak, empati dan kepedulian berarti memahami dari sudut pandang orang lain.
@ peyek :
Yup benar mas. Pembubaran juga adalah salah satu pilihan dari perbaikan sistem. Tapi bagi lulusan yang sudah pernah merasakan sistem yang rusak, saya malah tidak tahu mau diapain.
@ Poltak :
Gw kalau marah nggak pernah kelihatan dari luar. Bisa menyimpannya dan mengemasnya dengan baik. Tapi itu sering disalahartikan orang lain, termauk loe itu Tak….
@ Biho :
Sudah sabar sekarang koq mas…
Tapi pas baca email itu memang sempat rada emosian, untung aja nggak sampai stroke
@ Sora9n :
Bukan yang pro-petisi dan pro-pembubaran saja yang seperti itu, yang kontra seperti blog yang bikin saya TERTAWA juga seperti itu.
@ hana :
calon psikolog dilarang jadi provokator…
*yang udah psikolog nggak apa-apa jadi provokator*
kalo gt karena masih calon psikolog, aku jg jadi calon provokator jg,,
buat jadi psikolog kan belajarnya dari sekarang ni,,oom..
berarti aku jg dari sekarang harus belajar jadi provokator,,
*pasang wajah tanpa dosa*
Koq marahnya cuman gitu tho Pak. Saya nggak menemukan satupun kalimat “kemarahan”. Bukan PMS kan ? *halah*
wuehehehehe..
Enek Priyayi duko..
Setuju pak, kalimat “if you not with us, you against us” adalah kalimat yang arogan dan konyol.
Pak, tenang…santai…rileks…
Kata orang, siapa yang sabar disayang Tuhan lho…
sabar, maaaasss…sabaaaarrrr…
kadang-kadang saya juga esmosi kalo dicecer pertanyaan soal petisi kemaren. dibilang gak problem solving blablabla…saya disuruh mikir lagi solusinya apa. lama-lama males jawab. ini orang ga mau ikut mikir, ga bertindak apa-apa, ga menawarkan solusi apa-apa, bisanya cuma nonton dan protes dan nyalahin. wiiiisssss…bener2 harus latihan sabar, ya mas..
apa pun pendapat sampeyan, di mana pun posisi sampeyan dalam menilai kasus yg paling bikin eneg ini, memang sudah seharusnya kita semua belajar saling menghargai perbedaan. ini yg orang sering lupa.
siapa yg ngirim email yg bikin sampeyan marah2? mana alamatnya? lho malah ngomporin, hehehe….
orang sabar disayang tuhan….
Thanks, always good posts on your blog!
Eh apaan nih???
@ hana :
ya udah nggak apa-apa. jadi calon provokator aja deh. tapi nggak nyesal nantinya ?
@ cakmoki :
banyak juga yang bilang kalau saya marah bukan seperti orang Batak marah : meledak-ledak
tapi itu saja sudah cukup sepertinya, yang penting penjelasan sikapnya, Pak.
PMS ? mungkin mau puber kedua nih pak…
@ omsulis :
ya betul mas. kalimatnya Om Bush itu memang benar-benar konyol menurutku.
@ pandu & khaidar :
malah kata teman saya orang sabar disayang pacar…
@ venus :
itu memang dua hal yang masih sulit di pahami orang lain mbak : kebebasan berpendapat dan menghormati pendapat orang lain.
dan di dunia blog ini saya juga banyak belajar bagaimana menghormati pendapat orang lain dengan cara yang santun.
@ desktopjunk :
thanks anyway
@ juliach :
eeehhhh, nggak tau tuh bu, ada kucing ketabrak di alaska.
udah lewat koq masalahnya, jadi sepertinya nggak usah dipersoalkan lagi.
itulah salah satu budaya masyarakat kita: gak penting gimana & dimana kebenaran yang sejati, yang penting loe salah…!!
ngerasa lebih pinter n super kali ya, kalo bisa nyalahin orang lain?
mode provokator : on
hore-hore, ada yang marah2, marah terus aja mas, mereka kalo lagi punya mau memang tidak pernah mau mendengar pendapat orang lain (begitu juga saya hehehehe)
mode provokator : off
yang penting, jangan sampe komunits wp terpecah karena kesalahan orang yang tak pernah peduli dengan kita…..