Tidak semua yang bertelinga
bisa mendengar
Tidak semua yang mendengar
bisa mengerti
Tidak semua yang mengerti
bisa memahami
Tidak semua yang memahami
bisa berempati
Tidak semua yang berempati
bisa beraksi
Tidak semua yang beraksi
bisa mengevaluasi
Mendengar adalah perkara yang sangat gampang bagi orang normal, segampang memejamkan mata dan membukanya kembali. Hanya butuh telinga dan bunyi, maka apa yang disebut mendengar sudah dilakukan. Mendengar hanyalah proses bergetarnya gendang telinga dan mengantarkan stimulus ke otak. Sangat biologis. Selesai sampai disitu ? Tidak juga.
Mendengar juga adalah proses menyaring. Dalam satu detik kita terpapar ribuan stimulus dan informasi yang masuk melalui indera pendengaran. Dan dalam satu detik itu juga, kita bisa menentukan informasi mana yang kita pilih untuk didengarkan. Itulah penyaringan tidak sadar yang dilakukan diri kita atas perintah otak. Tak terbayangkan bahwa semua informasi itu masuk dan diproses di otak secara optimal. Jika itu yang terjadi, dalam hitungan menit otak kita akan kelebihan beban pemrosesan.
Tidak semua yang kita dengar bisa kita mengerti. Oleh proses penyaringan itu hal-hal yang tidak perlu kita dengarkan kita abaikan begitu saja. Kita memilih dari sekian banyak informasi itu mana yang INGIN kita dengar. Proses penyaringan itu juga bersifat sadar dengan mengikutsertakan keinginan kita untuk mendengar apa yang ingin didengarkan. Apa yang menurut kita penting untuk didengar maka itulah yang didengar dan diproses, sementara yang lain diabaikan. Seandainya pun diproses maka pemrosesan itu hanyalah pada tingkat terendah di otak.
Hal yang sulit dari mendengar adalah ketika proses selanjutnya hanya berhenti pada mendengar belaka. Orang yang mengerti apa yang didengar belum tentu memahaminya. Paham memang membutuhkan kerja yang lebih lagi dari seorang manusia. Selain melibatkan otak, juga melibatkan aspek kepribadian yang lain.
Dan orang yang telah melewati proses pemahaman, belum tentu juga mampu berempati terhadap apa yang telah dipahaminya. Empati membutuhkan kepekaan dan kecerdasan emosi untuk berada di pihak lain tanpa tercebur ke dalamnya. Dan yang berempati belum tentu juga mampu untuk melakukan aksi dan tindakan. Aksi dan tindakan membutuhkan kemampuan yang lain yang lebih dari sekedar empati.
Tetapi YANG PALING SULIT dari proses mendengar adalah : “mendengar dan bukan hanya didengar”. Setiap orang normal pasti bisa mendengar. Tapi mendengar menjadi sulit ketika seseorang hanya mau didengar dan tidak mau mendengar. Didengar oleh orang lain memang enak dan bagi sebagian orang penting. Mendengarkan suara orang lain menjadi masalah yang sulit ketika kita tidak membuka ruang dalam diri kita untuk memberikan orang lain menyampaikan apa yang dipikirkannya.
Masalah “mendengar dan didengar” bukanlah di telinga. Dia ada disini, di diri ini : Apakah “ruang” itu telah terbuka untuk mendengar daripada hanya didengar ? Sulit memang.
Mendengar memang bukan hanya butuh telinga. Dia butuh otak, butuh hati, butuh emosi, butuh empati, butuh aksi, dan juga butuh “ruang lain” dalam diri. Sesuatu yang kelihatannya sederhana bisa saja berujung kerumitan dan kesulitan.
Mari Mendengar….






hik pertamax nih
keduax!!
OOT:hiks…hiks…jadi inget kalo mau UTS,,
NOOT: kesatuan mendengar sampai dengan ‘beraksi’ juga merupakan sistem bentukan pengalaman subyektif dan proses belajar,,
seorang anak yg merasa dihargai, akan belajar untuk menghargai orang lain,,
terkadang kesulitan kita adalah terhentinya proses emosi kita sampai di empati,,tidak ada kelanjutan aksi,,
tidak semua yg bisa mendengar bisa mengerti, karena biasanya ada kepentingan yg mereduksi ‘keinginan’ mereka untuk mengerti,,
aku nyebutnya ‘kepentingan abadi’..
huehehe47x…*aku ngomong apa siih…panjang betul..*
Serasa diingatkan kembali isi buku mendengarkan secara efektif.
Mari, mari belajar mendengar
Kalo rapat di de-pe-er kadang kelihatan lucu pak. Kebanyakan ingin didengar, satu belum selesai ngomong, langsung disambar yang lain. Sambar-menyambar berebut ingin didengar, padahal sedikit yang mendengar. Jika di titik awal ini sulit, mungkin sulit berujung empati dan evaluasi ya
membaca posting ini sambil ‘mendengar’kan lagu2 Marroon 5.
Hihihihi..sorry bercanda..
Mendengar sama menyimak, beda juga ya pak?
Mendengar seh semua juga bisa, menyimak yang kadang perlu niat khusus…
Mlebu kuping kiwo, metu kuping tengen…
betul, “mendengar” adalah salah satu hal tersulit dalam hidup saya. ada tips gimana caranya?
Bang Fertob,
masalah komunikasi itu ternyata ga semudah yang kita pikirkan ya… kadang suatu pesan ga nyampe atau bahkan bisa jadi missunderstanding, persepsi yang berbeda juga mungkin juga karena ada barier baik dari lingkungan maupun pribadi…
btw..btw… awalannya seperti lagu nya sapaa gitu ya bimbo klo ga salah… lali aku…CMIIW
[...] seorang wanita curhat pada kita akan sangat berperan dalam kelanjutan hubungan. Lelaki yang mampu mendengarkan, akan sangat dihargai wanita. Dan biasanya, setelah jadi teman curhat yang nyaman, kita akan dengan [...]
@ hana :
kepentingan abadi ?
seperti kebutuhan dasar yang harus dipenuhi ?
@ em-em :
pernah baca ya ?
selain membaca secara efektif ada juga mendengar secara efektif…
@ cakmoki :
kan katanya (kata siapa ya ?) anggota de-pe-er kita seperti anak TK.
@ grandiosa :
saya malah sambil nonton Tukul
@ manusiasuper :
Menyimak adalah proses lebih lanjut dari mendengar. Disini prosesnya sudah menuju ke pengertian dan pemahaman. Mendengar memang gampang, tapi tidak semua mau mendengar dan hanya mau didengar.
Jika kita sudah memutuskan untuk mendengar sesuatu maka kita akan menyimak apa yang ingin kita dengar itu…
@ Dee :
betul Pak De
@ desti utami :
hehehehe… bukan mbak
intinya adalah kesediaan. apapun yang didengar kalau kita bersedia untuk mendengar maka “ruang” itu pada dasarnya sudah terbuka. walaupun yang kita dengarkan terkadang hanya pembenaran dan bukan kebenaran.
@ Titah :
Aduh mbak koq pake tips segala.
sama seperti membaca secara efektif ada juga mendengar secara efektif, sudah ada bukunya lho…
Tapi saya juga termasuk yang susah untuk mendengar, maksudnya listening by hearing. saya tipe belajar dengan melihat dan bukan mendengar. Makanya terkadang itupun terbawa kalau berkomunikasi dengan orang lain.
@ Bu Evy :
Iya Bu, komunikasi itu paling sulit. 80% dari pesan komunikasi yang ditangkap oleh orang lain biasanya berwujud non-verbal communication, yang berupa gerak tubuh, mimik muka, tangan, dan sebagainya.
Mendengar juga begitu, tidak semua informasi yang kita dengar itu dapat kita tangkap maksudnya SAMA dengan maksud yang menyampaikan informasi itu.
Pendaftaran Top-Posts Maret-April 2007 telah dibuka.
Silakan daftarkan postingan Anda di http://muhshodiq.wordpress.com/2007/05/02/pendaftaran-top-posts-maret-april-2007/