PERHATIAN
tulisan ini tidak pendek dan tidak dangkal, mohon dibaca dengan hati-hati![]()
Saya masih sering bingung melihat jagat blog yang lumayan aneh. Sepertinya tidak habis-habis dirundung masalah. Belum habis kasus “membinatangkan” (doggy style) di blog tetangga, kemudian datang lagi kasus Ih PD Nya
(dibaca IPDN) yang menguras hampir seluruh tenaga dan upaya para blogger. Belum lagi surut kasus itu yang ditengarai akan bernasib seperti lilin yang mau padam, lagi-lagi kita dikagetkan dengan beberapa kasus di blog tetangga.
Terus terang saya masih bingung melihat istilah-istilah aneh seperti SEO, Suspend, Adsense, Traffic, Copycat, Report as Spam, dan segudang istilah yang lain. Maklum masih terhitung “bau kencur” di dunia aneh bernama internet, sehingga saya tidak ingin dikatakan SOK jika berkomentar dan tidak pada tempatnya. Saya sengaja tidak memberikan link dan back-back (ping dan track, entah apa bedanya
) karena tidak ingin dianggap mencampuri urusan orang lain dan juga demi tidak mengeruhkan suasana. Lebih baik bagi saya yang untuk diam dan menjadi pengamat saja dari “perang” yang mungkin akan atau sudah terjadi. Diam disini berarti hikmah dan bukan pengkhianatan.
Ide tulisan ini timbul ketika saya membaca blognya Mbak Maya yang membahas tentang Petisi Online Pembubaran IPDN dan The Oprah Way. Tulisan itu sangat bagus karena mencoba membedah Petisi itu dengan formula Oprah Winfrey (the Oprah Way) dalam membahas suatu masalah di acara talkshow-nya.
Dan baru kemarin saya membaca beberapa penelitian cross-cultural psychology yang membandingkan beberapa fenomena psikologis dari beberapa bangsa di dunia. Juga saya pernah membaca sebuah buku yang judulnya cukup “provokatif” berjudul Can Asians Think ? karya Kisore Mahbubani. Dari judulnya saja saya yakin banyak orang Asia akan meradang karena hal itu dianggap sangat merendahkan kemampuan orang Asia.
Saya akan menyeret masalah ini menjadi masalah cross-cultural.
Petisi dan Tuntutan
Petisi, dalam bahasa kasarnya, adalah sebuah tuntutan. Petisi berisi sesuatu hal yang oleh beberapa orang perlu mendapatkan perhatian dan juga dukungan (serius) dari masyarakat banyak menyangkut suatu masalah. Masalah yang dianggap berkaitan atau berkorelasi dengan kepentingan dari baik si pembuat petisi, pendukung petisi itu, ataupun masyarakat banyak keseluruhan. Ini bukan definisi resmi, tapi hanya sebuah asumsi belaka.
Apa yang dituntut oleh orang-orang yang membuat dan mendukung petisi adalah hal yang sangat penting dalam pandangan mereka. Seperti misalnya kasus IPDN, maka dalam pandangan beberapa orang masalah ini juga adalah masalah bangsa. Banyak blogger yang sudah memberikan alasan mengapa Petisi Pembubaran IPDN itu menjadi sesuatu yang penting dan mendesak.
Dalam sejarah kita sebagai bangsa, kita sudah terbiasa dengan semacam petisi, tuntutan, dan sejenisnya. Memang tidak selalu berwujud online. Tetapi petisi apapun itu berisi hal-hal yang dianggap penting untuk diwujudkan sesegara mungkin oleh pihak yang berwenang mengatasi kasus itu. Salah satu petisi yang terkenal adalah Tritura (Tri Tuntutan Rakyat) yang berbunyi :
- 1. Bubarkan PKI
- 2. Perombakan kabinet
- 3. Turunkan harga
Pada saat reformasi 1998 ada beberapa tuntutan yang disampaikan oleh masyarakat menyikapi beragam masalah yang timbul saat itu. Pada intinya mereka menuntut agar reformasi segera dilaksanakan, meskipun dengan sebuah tuntutan yang sangat “mahal” yang berujung pada lengser keprabon Soeharto dari jabatan Pesiden RI. Salah satu tuntutan itu yang saya pernah lihat adalah tuntutan civitas akademika Universitas Parahyangan Bandung yang berbunyi seperti ini :
- Memberhentikan Presiden Soeharto dari jabatannya selaku Presiden Republik Indonesia/Mandataris MPR serta B.J. Habibie selaku Wakil Presiden Republik Indonesia;
- Mengadakan pemilihan dan pengangkatan Presiden Republik Indonesia/Mandataris MPR yang baru untuk Periode 1998 – 2003.
Selain itu banyak juga petisi yang nyangkut di PetitionOnline.com yang menyangkut beberapa masalah di Indonesia. Beberapa hal yang saya angkat antara lain :
To: DPR / MPR RI
Dear DPR / MPR RI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan bahawa kami menginginkan dibubarkannya FPI ( Front Pembela Islam ) dan FBR ( Forum Betawi Rembug ) dikarenakan kedua organisasi ini adalah preman – preman yang mengatasnamakan agama dan suku tertentu dan merupakan hasil ciptaan SUTIYOSO ( Gubernur DKI JAKARTA )
Sincerely,
Petisi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan
To Indonesian Government and People
Petisi Bersama
Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan…..pendahuluan dan latar belakang ….
1. Kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden M. Jusuf Kalla, kami mendesak agar….
2. Kepada Jajaran Kepolisian, kami menuntut untuk….
3. Kepada Pemerintah, baik yang di pusat maupun di daerah, kami menuntut agar….
.
.
.
14. Kepada Organisasi-Organisasi Civil Society, kami menuntut untuk….
15. Kepada Kalangan Profesional, kami menuntut untuk….Demikian sikap keprihatinan dan imbauan ini kami sampaikan, semoga dapat menjadi perhatian semua pihak.
Jakarta, 5 April 2006Sincerely,
Petisi Anak Bangsa Menuntut Pembubaran IPDN
To: Yth Presiden Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono
PETISI ANAK BANGSA
(TUNTUTAN PEMBUBARAN IPDN)
1. Bubarkan IPDN.
2. Usut tuntas segala bentuk kekerasan di STPDN/IPDN sejak pertama berdiri, tegakkan hukum tanpa basa basi.
3. Stop anggaran khusus dan ikatan dinas bagi siswa IPDN. Siswa yang masih tersisa saat ini diberi kesempatan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri di daerah asal masing-masing.
4. Hapuskan segala bentuk kekerasan dan manipulasi dalam dunia pendidikan di Indonesia.
DUKUNG PENDIDIKAN TANPA KEKERASAN DAN INTIMIDASI !!!
Sincerely,
Itu hanyalah sekelumit petisi atau tuntutan yang dilakukan oleh beberapa bagian dari bangsa ini.
Petisi dan Oprah
Mbak Maya sudah mengulas dengan cukup lengkap bagaimana cara Oprah mengelaborasi masalah dalam setiap talkshow yang dibawakannya. Intinya adalah formula yang ditawarkan berupa empathy-analyze-work through. Bagi penonton Oprah, yang menarik dalam tayangan itu adalah dinamika suatu masalah. Yang terpenting adalah proses dan bukan hasil akhir, dan dari proses itulah mereka mendapatkan insight dalam dirinya. Insight itu dapat berbeda-beda tiap orang.
But, Why Oprah ?
Ketika membandingkan cara Oprah membahas suatu kasus (the Oprah Way) dengan beberapa contoh petisi diatas, saya dapat melihat perbedaan yang sangat besar antar keduanya. Disatu sisi Petisi dan Tuntutan yang dilakukan oleh anak bangsa ini mulai dari Tritura sampai Petisi IPDN, menurut saya, sangat tidak sesuai dengan formula empathy-analyze-work through ala Oprah. Juga dengan beberapa petisi lain seperti dibawah ini :
Petition Rename Norris Hall to Librescu Hall :
To: Virginia Tech
On April 16th, 2007, Cho Seung-Hui, a student of Virginia Tech, senselessly murdered 32 students and teachers before taking his own life. His shooting spree lasted over 2 hours, and when it was all over, the fabric of our lives, our families, and the families of our friends, neighbours and fellow students were ripped apart.
We then learned of the heroic acts of Dr. Liviu Librescu, our beloved Professor of Engineering Science and Mechanics. When the second shooting began, Dr. Librescu instructed his students to leave the room, and blocked the door with his body. As the last students escaped the room through a second floor window, Cho Seung-Hui shot and killed Dr. Librescu through the very door he was barricading. The greatest irony behind his death is that Librescu, a Holocaust survivor from Romania, died on Yom HaShoah, or Holocaust Martyrs Remembrance Day.
Had it not been for the brave and selfless acts of Dr. Librescu, many more families would have been torn apart that day. We should forever remember the heroism of our dear professor, acts that saved the lives of many. There are numerous ways in which we can do this, from bursaries to scholarships, to planting a tree or erecting a statue in his honor.
We, the undersigned, feel that the most fitting way to honor the memory of our dear professor is to rename Norris Hall to Librescu Hall. Norris Hall should not be allowed to remain synonymous with a place of darkness and terror. Renaming the building will begin the healing process and help us remember Dr. Librescu for what he truly was. A friend. A colleague. A hero among the ages.
Sincerely,
Kalau saya dan juga Mbak Maya mengasumsikan bahwa CARA membuat Petisi model Oprah adalah cara yang tepat maka apakah kita sebagai bangsa menggunakan cara-cara demikian dalam menyelesaikan sebagian besar kasus di tanah air ini ? Atau apakah ini hanyalah suatu cara kita, yang juga menandakan kerpibadian kita, dalam menyelesaikan masalah di negeri ini ?
Timur-Barat dan Teori
Saya tertarik dengan perbedaan culture antara kita sebagai orang Timur dengan model Oprah yang merepresentasikan model Barat.
Sebagian besar (untuk mengganti kata hampir semua) teori-teori yang saya pelajari dulu semasa kuliah berasal dari Barat (USA dan Eropa). Hampir semua teori psikologi yang diaplikasikan di negeri ini berasal dari Barat dan mempunyai sampel penelitian orang sana. Padahal ada perbedaan besar antara “orang Barat” dan “orang Timur” yang membuat Mahbubani mempertanyakan Apakah Orang Asia Bisa Berpikir ? Salah satunya adalah Collectivism-Individualism oleh HC Triandis yang pernah saya tulis di Mengapa Harus Sama ?
Teori-teori itu bagi kebanyakan peneliti dan juga kebanyakan orang diterima dengan mentah-mentah dan tanpa penyesuaian. Teori yang dibangun diatas dasar sample yang terbatas ketika diaplikasikan pada populasi lain yang lebih luas sudah barang tentu akan kehilangan relevansinya. Kita tidak mendapatkan apa-apa dari situ kecuali generalisasi buta akan suatu teori dengan dasar yang sangat jelas berbeda.
Psikologi dan Ilmu-ilmu Sosial kebanyakan adalah ilmu yang terbatas tempat dan budaya (culture-bound, tetapi sering saya plesetkan menjadi culture-blind). Terbatas dalam arti bahwa ada batasan-batasan dimana teori-teori itu dapat digeneralisir dan diaplikasikan. Ilmu itu sangat terikat dengan dimana dan dalam budaya apa seseorang hidup dan berakar. Penerapan yang salah tentunya akan menghasilkan kesimpulan yang salah pula.
Sepertinya sudah menjadi rahasia umum bahwa ada anggapan yang beredar luas di masyarakat kita bahwa segala sesuatu yang berbau Barat cenderung untuk dianggap sebagai sebuah “kebenaran”. Dengan perkataan lain, CARA (baca : teori) Barat adalah yang paling “benar” dan paling “tepat” dalam memecahkan suatu masalah, siapapun yang mempunyai masalah. Jika masalah itu didekati dengan cara Barat, maka sudah dipastikan bahwa cara itu dianggap mumpuni menyelesaikan masalah beberapa orang yang terletak ribuan kilometer jauhnya dan berbeda budaya dan latar belakangnya dari si pembuat “cara” (teori).
Dalam pemikiran filsafat ilmu juga begitu. Bagi orang Barat, karena logika Cartesian merupakan produk mereka, mereka terbiasa berpikir dengan menggunakan prinsip-prinsip logika yang ketat dan terstruktur. Tapi bagi orang Timur, prinsip logika yang ketat bukanlah kebiasaan mereka dalam berpikir. Orang Timur juga memasukkan Rasa dan Hati dalam pemikiran filsafat mereka. Itulah yang membuat Filsafat Barat yang dipelopori oleh filsafat Yunani sangat jauh berbeda dengan Filsafat Timur (Asia).
Bagi Timur, “kebenaran” bukanlah dilihat dari bagaimana sesuatu hal telah memenuhi prinsip-prinsip logika. Mereka tidak kesulitan untuk MEMAHAMI suatu pernyataan yang menurut prinsip logika Barat mempunyai kesalahan berlogika seperti misalnya kalimat ini :
Sesuatu yang kosong adalah yang berisi;
Sesuatu yang berisi adalah yang kosong
Bagi orang Barat, yang terutama dari suatu proses berpikir dan berfilsafat adalah TO EXPLAIN, yaitu berusaha menjelaskan suatu fenomena yang mereka temui. Tapi bagi orang Timur, TO EXPLAIN tidaklah menjadi suatu keharusan, tetapi yang lebih penting lagi adalah TO UNDERSTAND atau memahami. Memahami selain menggunakan otak juga lebih menggunakan Rasa dan Emosi, sementara TO EXPLAIN lebih banyak menggunakan kerja kognitif.
Cross-Culture dan Indigenous
Terus terang hal ini sangat menohok saya akan keunikan individu, dan bukan hanya keunikan individu, juga keunikan budaya yang melatarbelakangi bagaimana orang-orang dalam budaya itu memecahkan masalahnya. Saya menyebutnya kearifan lokal (local wisdom) atau filosofi unik, tetapi bagi beberapa orang sering disebut Cultural Psychology atau Indigenous Psychology. Pada intinya adalah setiap budaya mempunyai cara tersendiri dalam memecahkan setiap masalahnya.
Lalu apakah budaya itu masih perlu menggunakan cara dan teori luar dalam memecahkan masalahnya ? Tidak sama sekali. Cara lain yang berasal dari luar budaya itu bukan ditolak, tetapi disesuaikan dengan kearifan lokal yang tersimpan dalam budaya itu. Cara dan teori luar tidak sertam merta dan otomatis bisa menjadi panasea bagi masalah suatu budaya dengan mengabaikan cara lokal.
Dahulu, paradigma yang berkembang dalam ilmu-ilmu lintas budaya adalah berusaha MEMBANDINGKAN antar berbagai budaya mengenai suatu kasus tertentu (dan juga pemecahannnya). Paradigma PERBANDINGAN ini masih cukup terasa sekarang ini. Tetapi sekarang paradigma yang dipakai dalam ilmu-ilmu lintas budaya adalah paradigma MENGGALI keunikan fenomena psikologis tertentu di suatu budaya.
Paradigma menggali dan mengeksplorasi keunikan tingkah laku, karakter, pengetahuan, skill, dan kepercayaan dari suatu budaya setempat merupakan hal yang terpenting dalam memahami bagaimana suatu masyarakat dalam budaya itu memecahkan masalahnya dan juga dalam berkomunikasi.
Paradigma ini juga tidak mengintrodusir CARA dan TEORI Barat dalam memandang sesuatu. Pendekatannya lebih banyak kepada pendekatan induktif, relatif bebas teori, dan eksploratif. Bagaimana mungkin kita memahami dan menjelaskan keunikan suatu suku tertentu di Indonesia dengan menggunakan teori Psikoseksual Freud misalnya.
Setiap tingkah laku yang ditampilkan tidak bisa lepas dari konteks budaya (culture), ekologi, dan sejarah dari orang-orang atau komunitas tersebut. Juga setiap pemecahan masalah, termasuk Petisi diatas, tidak terlepas dari konteks bagaimana kita sebagai orang Indonesia berpikir. Bagi orang luar (Barat) bisa saja CARA tersebut tidak sesuai dengan bagaimana mereka memecahkan masalahnya (empathy-analyze-work through).
Wadever
Cara yang ditunjukkan oleh Oprah dan disarankan oleh Mbak Maya bukanlah suatu cara yang salah bagi kita orang Indonesia. Tapi cara itu dalam sudut pandang cross-culture adalah cara yang juga terikat secara budaya. Dalam artian bahwa cara itu memang bisa dan sukses diterapkan dalam CARA berpikir orang Barat (Oprah) yang sudah terbiasa mendapatkan insight dan mengambil kesimpulan seperti itu.
Cara itu kemudian menjadi lemah ketika kita mengaplikasikannya kedalam manusia Indonesia yang mempunyai perbedaan yang sangat besar dengan orang luar (Barat). Cara dan model berpikir apapun yang ditampilkan dalam setiap Petisi diatas, termasuk Petisi Pembubaran IPDN adalah ciri kita yang tampak kasat mata dalam memecahkan masalah dan berkomunikasi. Bisa saja hal itu tidak menampilkan empathy, karena kita tidak tahu seperti apa empathy dengan model kita sendiri. Bisa saja itu memang menunjukkan emosi daripada pertimbangan matang, karena pertimbangan dan pemikiran apapun juga dalam pemecahan masalah tidak pernah lepas dari emosi. Yang membedakannya hanyalah kadar keterlibatan emosi dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.
Selama ini, menurut saya, kita sangat jarang melakukan penelitian-penelitian tentang karakter kita sendiri sebagai bangsa. Satu peneliti besar bidang antropologi yang sering melakukan penelitian tentang karakter indigenous bangsa kita adalah Prof. Koentjaraningrat. Hal inilah yang membuat terkadang kita tidak tahu seperti apa ciri kita dalam bertingkah laku, berkomunikasi, berkepercayaan, dan lain-lain. Tulisan ini juga semoga menjadi pelecut semangat untuk meneliti dan mengeksplorasi keunikan bangsa ini, yang saya yakin sangat banyak dan “berbeda”.
wuaaahhhh…. capek nulisnya nih, mau istirahat dulu ah, tapi kayaknya masih ada sambungannya…
![]()







Pertamaxxx…
saya sih KEDUAXX saja om ganteng….
disave dulu ya om fertob, panjang bener euy…
@ Biho dan Anto :
Eh tadi masih diedit tapi tak sengaja kepencet Publish-nya.
Saya tadi udah ngisi, taunya di-edit… Pantesan ilang koment bijak saya…
Pokoknya mantabs dah, kalo abang yang satu ini sudah ngomong pake teori, yang laen pada “50 + 50″!
Kita memang tidak bisa menyamakan budaya, tapi tidak ada salahnya kan, menerima kritikan untuk perbaikan…
Puanjang…
Kalau nggak salah, dulu di psikotes kan ada pertanyaan “apakah Anda percaya pada kekuatan kata-kata/penyampaian?”
Mungkin banyak dari kita yang kurang peduli pada hal itu. Padahal, maksud yang biasa-biasa saja pun kalau disampaikan dengan baik, pasti deh bisa menarik perhatian lebih optimal.
Hlo, kalau saya lebih suka dengerin musik Jepang daripada MTV, itu artinya apa yah??
…pingsan. (x_x)
Bang Fertob sama mbak May sama2 psikolog jadi emang memandang manusia lebih dalem ya bang, yang ini di baca kok bang biarpun panjang hehehe, biar ga salah lagi.
Iya bang bikin penelitian tentang bangsa kita, bangsa kita klo kulihat cepat bereaksi rame di awal aja abis itu lupa, hampir semua urusan begitu, jadi ga ada masalah yang selesai, ditunda bentar aja 2-3 bulan paling udah ga ada yang ribut, akhire ya ga ada perubahan. Contoh paling deket banjir, baru beberapa bulan lalu mana ada yang inget tindakan apa yg udah di lakukan untuk mencegah terjadi lagi. Klo di barat lain bang, planning-nya jelas dalam menyikapi suatu masalah, jangankan sampe 37 meninggal, cukup satu meninggal gara2 violance yang terstruktur pasti sudah di tutup sekolahnya. Contoh kasus Virginia jadi pada libur khan kampusnya padahal cuman gara-gara satu orang sakit jiwa dan tidak terstruktur.
Klo di Indo senjata bebas bisa beli di wall mart seperti disini, wah udah pada tembak2an bang, lha wong satu orang sakit jiwa seperti si Cho aja korbannya 32 orang, apalagi banyak yang sutris, tapi ya itu yang bikin bangsa kita tahan sutris sifat pelupanya itu… gimana bang, bener ga klo menurut kacamata psikolog?
Sorry ya bang klo OOT dari topik petisi, aku pikir abang mau menyikapi dari sudut psikologi orang teraniaya mungkin di postingan selanjutnya? soalnya orng cenderung ingin membalas khan bang, dalam kasus apapun…
Thank’s a lot
ralat ; sbelum di ketawain…ketawa duluan hehehe..pating pecotot tuh nulisnya kudunya “violence” gaya2an ngenglish sih…
jadi kalau ngikutin petisinya Mbak Oprah, kita bikin petisi Barak DKI Jakarta IPDN diganti namanya menjadi Barak Cliff Muntu untuk mengenang arwah Cliff Muntu yang meninggal dipukuli di situ?
salam
–
(orang Asia yang tidak bisa mikir)
Konon, sifat khas indonesia adalah ambeg, amuk, yang diserap jadi amok dalam bahasa inggris, entah bener atau nggak.
menarik… menunggu lanjutannya.
Pembahasannya mantabh!!. Seneng deh, kalau om fertob udah serius begini ;P
Kalau boleh memberi masukan, ada penggunaan idiom yang kurang tepat nih om :
Menurut Berita Acara Pemerikasaan (BAP) dari dari Polisi EYD, kalimat tersebut seharusnya :
Bisa dibaca di : http://polisieyd.blogsome.com/2005/10/13/bukan-rahasia-umum/
Hiks, mohon penulisan komentar saya di benahin ya om
. Lipa ngasi penutup tag blockquote ?
@ manusiasuper :
iya mas, budaya memang tidak bisa disamakan, perbedaannya sangat banyak khususnya pola pikir dan pemecahan masalah.
tapi saran dan kritik Mbak Maya memang sangat membantu kita dalam memahami kekhususan bangsa ini.
@ Sora9n :
psikotes yang mana nih
masalahnya tes psikologi itu jumlahnya sangat banyakm jadi saya nggak tau kalau ada salah satu item-nya yang bunyinya seperti itu.
hehehehee… kalo soal selera memang bisa lain masalahnya. yang saya ingin tonjolkan disitu adalah preasumsi tak berdasar yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang berasal dari Barat (pemikiran, tingkah laku, beliefs, dll) itu selalu dianggap “lebih” daripada orang timur.
@ Bu Evy :
Mbak Maya itu beberapa angkatan diatas saya, jadi merasa nggak enak nih “mengkritik” kakak angkatan sendiri
LUPA, itu juga menurutku salah satu ciri kita. Itu yang sering menjadi strategi orang luar kalau menghadapi kita. Singapura aja yang sama-sama Asia sangat mengandalkan kekuatan kesabaran dalam menghadapi kita.
Misalnya, kasus ekspor pasir itu, mereka memang bereaksi keras, tapi mereka pasti akan mendiamkannya dulu sampai isu itu sudah nggak menjadi berita hangat di Indonesia dan pejabat-pejabatnya sudah ganti. Jadi nggak usah heran kalau 2-3 tahun lagi ekspor pasir itu malah dilegalkan lagi. Intinya peraturan yang lama sudah DILUPAKAN oleh sebagian besar kita.
Kalau soal Cho, memang ada korelasi antara perdagangan senjata api secara bebas dengan tindak kriminalitas dengan menggunakan senjata api, tapi kasus itu nggak berdiri sendiri. Ada faktor-faktor lain yang juga harus dipertimbangkan.
Petisi itu nggak salah kok Bu. Saya pikir orang yang mengatakan petisi itu konyol, tidak dewasa, dan sebagainya itu kurang memahami apa penntingnya sebuah petisi. Masalah bagaimana puisis itu dirumuskan memang bisa berbeda pendapat, karena kita terbiasa dengan cara itu dalam bersikap. Dibilang emosional, memang mungkin itu ciri kita juga : EMOSIONAL. Karena tidak ada pertimbangan dan pemikiran yang bebas dari emosi.
@ wikan :
Dibikin petisinya dong, judulnya sama dengan pengubahan nama di Virginia Tech itu :
Atau sekalian nama-nama gedung di IPDN diberi nama dengan nama-nama Praja yang meninggal.
Saya pikir itu malah bisa lebih efektif. Secara tidak langsung orang akan teringat bahwa pernah ada suatu tindak kekerasan dalam kampus itu (supaya tidak LUPA), dan mengingatkan mereka supaya menghilangkan tradisi kekerasan.
Usul yang bagus Om Wikan…
*orang Asia yang tidak bisa berpikir juga*
@ Wadehel :
Iya Hel. Amok itu asalnya dari AMUK (bahasa Indonesia), dan ada juga beberapa kata dalam bahasa Inggris yang diadopsi ke bahasa Inggris. Kang Adhi pernah membahasnya tapi sudah agak lupa.
lanjutannya ? nggak janji lho, kan “kayaknya”…
@ Mbak Ning :
Waduh ada polisi EYD lewat…
makasih banyak Mbak atas koreksinya. Waktu nulis postingan ini memang sudah agak ngantuk, jadinya ada beberapa kalimat yang ngelantur.
eh iya lho, beneran lumayan panjang postingannya. keren, mas..
yang ini OOT, kopdaran citos tanggal 5 mei jam 4 sore, mau ikut? si chikastuff kayaknya bisa ikut.
Sorry Bang, hanya bisa baca saja dan langsung menguap setelah sejenak melewati panasnya ruang otak saya. Jadi belum bisa komentar…
Hehehe….serius saya baca dengan teliti kok, cuma sedang tidak mampu berkomentar
HAHAHAHA.. baru baca nih, Mas Ferto.
Panjang beneeeerrr.. tapi tahan kok baca sampai habis
Menggarisbawahi aja ya..
Setuju dengan dua alinea terakhir. Kita memang harus mencari karakter kita sendiri, dan Oprah itu hanya salah satu referensi yang saya anggap “siap pakai” untuk saat ini
Yang membedakannya hanyalah kadar keterlibatan emosi dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.
Ini yang sebenarnya saya soroti. Dari sudut pandang saya, keterlibatan emosi (dalam pembuatan petisi) sudah cenderung dominan sehingga pemecahan masalah dan pengambilan keputusannya agak terpinggirkan. Saya berikan referensi yang bertentangan dengan harapan supaya kadar keterlibatan emosi turun dan tidak mengganggu pemecahan masalah/pengambilan keputusan.
Terimakasih sudah menajamkan tulisan saya.. hehehe.. Seneng ada yang melihat ini dari sudut yang saya harapkan
seperti biasa, abang emang teope.
one day i wish i can make such strong blog u have.
ya malah jadi serem, oom..*numpang OOT*
BTT:
karena orang asia lebih condong pada ‘TO UNDERSTAND’ yang memang lebih melibatkan rasa dan emosi, kalo menurutku begitulah cara kita, orang asia, mengekspresikan bentuk empati kita yang MUNGKIN tidak sama dengan orang barat.
seperti cara anak berbicara pada orang tuanya, pada suku batak dan suku jawa tentunya tidak sama. tapi kita sama2 melihatnya sebagai bentuk penghormatan.
begitu pula bentuk empati kita. orang barat menekankan pada kerja kognisi dan dan kita pada emosi. TO EXPLAIN atau TO UNDERSTAND sebenarnya hanya merupakan cara yg berbeda namun memiliki maksud yg sama.
@ calonorangtenarsedunia:
Uhm.. boleh komentar dikit ya?
“begitu pula bentuk empati kita. orang barat menekankan pada kerja kognisi dan dan kita pada emosi. TO EXPLAIN atau TO UNDERSTAND sebenarnya hanya merupakan cara yg berbeda namun memiliki maksud yg sama.”
Kalau kita berangkat dari konstruksi konsepnya, ada beda antara simpati dan empati.
Simpati, seperti yang Anda katakan, memang melibatkan emosi yg lebih besar. Atau malah bisa kita katakan sangat besar. Begitu besarnya emosi yang terlibat sehingga [secara tidak sadar] sering mengaburkan jpertimbangan terhadap permasalahan yg sebenarnya.
Empati, memang pasti ada unsur emosinya juga. Namun, empati itu emosinya lebih terkontrol, tidak mendominasi. Dengan demikian, walaupun dgn emosi itu kita merasakan apa yang dirasakan orang lain, pertimbangan kita terhadap permasalahan masih bisa jernih.
Dengan demikian, IMHO, adalah tidak mungkin bentuk empati berbeda2
Tapi Anda benar.. simpati memang ciri khas bangsa kita. That’s why dalam menangani permasalahan, pertimbangan kita cenderung lebih ke arah bagaimana mengembalikan lonjakan emosi pada titik normal, daripada pada penyelesaian yang efektif. Itu salah satu sebab mengapa masalah di negeri ini sering kali tidak selesai; karena begitu emosi mereda, secara tidak sadar kita menganggap masalah sudah selesai
Atau kalaupun kita sadar masalah belum selesai, sudah terlambat untuk mematangkan suatu konsep yang lebih baik. Momennya sudah hilang, karena masalah lain sudah datang
Satu lagi: empati itu bukan explaining, dan simpati bukan understanding. Lebih tepat empati = understanding, dan simpati = share the similar [intense] feeling and emotion.
@-may-
maap,,
saya kan sama sekali ga nyebut simpati,,
according to oom fertob :
trus td kata mbak(/ibu?) :
saya kok melihatnya justru itu sudah turun ya kadar emosinya? karena saya setuju dengan oom fertob, bahwa tidak ada pemikiran yg benar2 bebas dari emosi. dan petisi itu pun tentu saja mengandung emosi, tapi kadarnya tidak berlebihan dan malah menggerakan orang untuk bertindak sesuai dengan yg mereka anggap benar. kalau petisi ini dianggap mengandung emosi berlebihan (simpati td anda bilang), ya berarti yg tidak berlebihan (empati kalo kata anda) seperti apa?
saya memandang pengadaan petisi ini sebagai sebuah empati( kalau merujuk pd komen anda td), karena begitu terkontrolnya emosi sehingga para pembuat dan pendukung petisi dapat berpikir jernih dan membuat keputusan. tidak membiaskan masalah begitu saja.
dan btw, saya bilang kalo empati versi asia adalah to understand, kalo barangkali terlewat anda baca.
jadi menurut saya sih petisi tetap aksi empati.
kita bisa sepakat untuk tidak sepakat kok,,lagipula saya ini baru anak kmrn sore, bukan seperti mbak/ibu dan oom fertob yg sudah jadi psikolog.
saya cm menanggapi postingan oom fertob dengan yg selama ini saya pahami, lha kalo ternyata dari ilmu psikologi itu ngawur ya mau gmn lagi, itu kan cm apa kata saya. saya ga minta pemakluman kok,,itu kan masalah biasa.
piss lah…
@oom fertob
maap ni, oom..jadi posting di tempat komen..whehehe47x…
[...] hari ini dengan blogwalking tentu saja, dan melihat bahwa komen saya di posting oom fertob soal cara menanggapi petisi sudah ada yg [...]
@ venus :
thanks mbak, soal kopdaran nanti bisa diatur karena ada kegiatan akhir minggu.
@ deking :
berkunjung saja sudah merupakan suatu kehormatan koq, Pak Guru.
@ mbak Maya :
Terima kasih juga atas kunjungannya mbak, maaf tulisannya saya komentari dengan agak “brutal”
Memang saya juga akui kalau kata-kata dalam Petisi (bukan ide utk membuat petisi) itu secara kasat mata memperlihatkan keterlibatan emosi yang cukup besar.
Disatu sisi saya menyadarinya dengan otak saya yang terbiasa dengan cara psikologi mainstream (Barat), tetapi disisi yang lain saya melihat bahwa itu juga suatu keunikan tersendiri kita (bukan dlm konteks benar-salah) sebagai bangsa dalam memandang dan memecahkan suatu persoalan.
Dari awal saya pernah tulis kalau IPDN hanyalah sekeping kecil dari kekerasan di dalam sistem pendidikan kita, tentunya selain paradigma perbaikan itu.
Mengenai SIMPATI sebagai ciri bangsa kita, bisa saja itu benar. Tetapi apakah itu berarti kita tidak mempunyai empati ? Atau kita tidak sadar bahwa ada ciri lain (empati) dalam diri bangsa kita ? Atau kita tidak tahu bagaimana cara berempati sesuai dengan definisi yang telah kita tau dari mainstream Barat ? Dan mengapa kita tidak memberikan definisi dan contoh sendiri pada empati model kita.
Bisa saja masalah simpati dan empati ini justru terkait dengan indigenous dan cross-culture juga. Karena empati merupakan bagian dari tingkah laku, kepercayaan, dan emosi yang bisa saja berbeda antar budaya. Ekspresi emosi (dan pengendaliannya) tentunya berbeda setiap orang.
@ Hana :
Saya tidak menulis TO EXPLAIN dan TO UNDERSTANDING dalam konteks empati dan simpati, lho…
Saya justru menulisnya dalam konteks pemikiran dan filsafat. Orang Barat jika menemukan suatu fenomena yang tidak terjelaskan, mereka berusaha untuk mencari penjelasan (explaining) atas fenomena itu. Fenomena yg tak terjelaskan itu menyentuh sisi rasio dan akal mereka, sehingga To Explain, menurutku, lebih banyak melibatkan akal dan rasio dalam konteks Barat.
Sementara orang Timur (Asia) justru menemukan penjelasan tidak langsung dalam PEMAHAMAN (understanding) atas fenomena itu. Memahami model orang Asia lebih banyak menyentuh Rasa dan Emosi (bahkan juga Belief). Bagi mereka diri sendiri merasa nyaman dan aman jika mampu memahami tanpa perlu penjelasan rasio dan akal lebih lanjut. Itulah makanya TO UNDERSTAND lebih banyak menyentuh sisi Rasa dan Emosi (juga Belief) pada konteks Orang Timur.
Untuk empati dan simpati, yang Hana perdebatkan dengan Mbak Maya
mungkin lain kali akan saya tulis.
Wooooiii, kita berdiskusi bukan dengan mempermasalahkan latar belakang. Psikolog atau bukan, masalah ini terbuka bagi siapa saja. OKEH…
Saya menghormati pendapat siapa saja disini/
aku cuma berusaha menginterpretasikan dengan sisa-sisa kemampuan otakku kalo to understand pun kemungkinan bentuk empati orang asia. masalah itu konteks berpikir dan berfilsafat ya ga ada pengaruhnya, karena aku cuma mencoba memakai sudut pandang understanding untuk menjelaskan kemungkinan bentuk empati orang timur.
ah, aku sih ga ngerasa berdebat, oom. cm meluruskan maksudku biar mbak/ibu Maya ga salah tangkep,,
Waduh, postingannya panjang dan komentarnya juga panjang2 >_Pada intinya adalah setiap budaya mempunyai cara tersendiri dalam memecahkan setiap masalahnya.
—
tadinya mau ngomongin relativisme budaya as a “tidak ada satu budaya yg paling benar secara universal; bagi masing-masing budaya, caranya memecahkan masalah adalah yang paling benar”, tapi sudah dapet pencerahan dari mas Wiki. Nggak jadi dilanjutin…
—
Nyuu…jadi kepikiran lagi. Pendekatan lintas budaya itu kok mengesankan tiap budaya itu “uniquely distinctive, stable, and separate” ya? Mungkin itu masih berlaku buat suku2 di daerah terpencil (seperti yang kerap diteliti oleh para antropolog), or at least di kota provinsi. Tapi buat suku2 yg sudah hidup di kota ‘melting pot’ (misalnya Jakarta), yg kerap berinteraksi dengan manusia dan produk dari suku2 lain (termasuk ‘barat’), kyknya pendekatan itu bisa jadi terlalu berlebihan deh. Di situ mungkin lebih tepat jika melihat budaya sebagai lingkaran2 yg dinamis, saling beririsan, saling mempengaruhi dan mengubah satu sama lain.
eh bung fertob (dan juga para blogger yg laen), mbok ajari aku menulis yg heibat-bernas-mantabh kayak gini…… ^^V
@ hana :
udah ditulis di blognya kan ?
@ catshade :
Memang budaya itu unik. Dari berbagai penelitian lintas budaya rata-rata mereka melakukan penelitian di kota-kota besar suatu negara dan membandingkan keunikan itu dengan budaya di negara lain.
Untuk perbandingan budaya, memang tidak terlalu kelihatan apakah itu dikota besar atau di kota-kota kecil.
Banyak juga tes-tes psikologi dari luar (Barat) yang belum diadaptasi ke dalam budaya Indonesia tapi sudah diaplikasikan secara luas. Saya ambil contoh sederhana tes inteligensi untuk dimensi KOSA KATA.
Apakah orang-orang di daerah (Papua, Timor, dll) tau apa itu Wastafel, Toilet, dll ? Padahal dlm tes inteligensi kosa kata ada item-item seperti itu.
Satu lagi, penalaran spatial, untuk beberapa suku di daerah (Papua), mereka terbiasa dengan ruang yang berbentuk BUNDAR, karena rumah mereka (sebagai representasi ruang sehari-hari) memang berbentuk lingkaran. Tapi ketika mereka diberikan penalaran ruang selain lingkaran, mereka akan kesulitan mengerjakannya.
Budaya memang dinamis, tapi budaya juga punya pola tersendiri. Pola-pola (pattern) itulah yang membuat budaya menjadi unik dan berbeda satu sama lain. Pola-pola itu termasuk juga pola pikir dan tingkah laku, termasuk pemecahan masalah, komunikasi, dan pengambilan keputusan.
@ memeth :
semuanya diawali dari belajar, mas memeth. saya juga masih banyak belajar kok, termasuk dari komunitas blogger ini.
wakakakkk…..gw dipanggil mas!!!! uhuyyy…..emang nama bisa nipu yak?? gw kan cewek aseli lo, paling gak menurut ka te pe.
eh tapi bung fertob, ada dong tipsnya nulis bukan sekedar nulis.apalagi kalo nulis berbagai fenomena di sekitar kita dan memakai latar belakang ilmu yang kita pelajari.
kebetulan, pengen bgt nulis. dari dulu SD suka nulis tp vakumnya kelamaan jd gk tajam lagi. ada banyak pemikiran yang pengen saya tuangkan tp kok di dpan laptop jd mampet. apalgi kl baca2 tulisan para blogger, makin minder krn ternyata banyak yg pinter.
saya suka salah satunya blogger bung fertob, palagi saya juga lg belajar psikologi (tp saya kok malah jd psikoclok). dan ketika pengen nulis dengan latar berlakang ilmu saya, tp mampet dan yg muncul adl common sense, saya jd meyalahkan tidak adanya kebudayaan menulis di bangku sekolah dan kuliah.
wah uda panjang, ga nyambung ma topik lg. huehehehe
[...] moga-moga blog itu bisa berjalan dengan baik, dan mendapat dukungan serta restu dari penduduk blogosphere [...]
[...] Ambil contoh saja pengklasifikasian Collectivism/Individualism yang salah satunya pernah dikemukakan oleh H.C. Triandis.[2] Pada pendekatan dikotomikal di penelitian cross-cultural ini, bangsa Asia (termasuk Asia Tenggara) dikatakan lebih menonjolkan sifat collectivism sementara bangsa…. [...]