Dibawah ini ada beberapa fakta dan hasil penelitian yang pernah saya dapatkan di seputar Inteligensi dan IQ. Saya pernah menuliskannya di beberapa forum. Tapi yang ingin saya tekankan bahwa fakta dibawah ini ada yang memang sudah teruji kebenarannya dan ada juga yang masih diperdebatkan. Saya sendiri tidak tahu mana yang masuk dalam kedua kategori itu.
Itu karena saya bukan ahlinya di bidang itu.
Selain itu ada juga fakta dibawah ini yang telah dibantah, diperbaharui, dan dikembangkan lebih lanjut oleh penelitian-penelitian lain. Selain itu saya juga menyertakan beberapa catatan-catatan “ringan” dan “aneh” di seputar fakta tentang IQ dan Inteligensi ini. Catatannya juga terkadang ngawur dan asal tulis. Bagi yang mempunyai penelitian termutakhir tentang IQ dan Inteligensi dapat menambahkannya sendiri.
*************
1. IQ berhubungan dengan kemampuan mengerjakan tugas yang sederhana
IQ berhubungan dengan kemampuan-kemampuan manusia dalam mengerjakan tugas-tugas yang sangat sederhana, seperti menyusun puzzle sederhana, membandingkan panjang 2 garis, melihat perbedaan antara 2 gambar, dll. Orang-orang dengan IQ rendah dapat saja mengerjakan tugas-tugas sederhana itu tetapi mereka membutuhkan waktu yang lebih lama, bahkan bisa 5 kali lebih lama, dibandingkan dengan orang yang mempunyai IQ tinggi.
cat : berarti saya termasuk orang dengan IQ jongkok. kenapa ? karena membaca peta yang sederhana saja saya bisa sampai setengah mampus
![]()
2. IQ dipengaruhi oleh school attendance
Penelitian-penelitian dalam inteligensi membuktikan bahwa inteligensi dipengaruhi oleh school attendance. Penelitian itu antara lain :
- IQ dipengaruhi oleh “delayed schooling”. Peneliti-peneliti di Afrika Selatan meneliti fungsi intelektual terhadap penduduk lokal. Untuk setiap tahun “delayed schooling”, terjadi penurunan IQ sebesar 5 poin. Hasil penelitian ini juga sudah ditemukan di AS.
- Drop out dari sekolah dapat menurunkan IQ. Penelitian ini dilakukan di Swedia, dan mendapatkan hasil bahwa terjadi penurunan IQ sebesar 1,8 point bagi mereka yang tidak menyelesaikan sekolahnya (drop out).
- IQ dipengaruhi oleh “remaining in school longer”. Penelitian ini dilakukan di AS, dan memberikan hasil bahwa terjadi penurunan IQ yang cukup signifikan bagi mereka yang lebih lambat menyelesaikan sekolah pada waktunya.
- IQ dipengaruhi oleh “summer vacation”. Penelitian ini juga dilakukan di AS terhadap siswa yang mengambil liburan musim panas. Siswa yang liburan mengalami penurunan IQ setelah mereka masuk kembali ke sekolah dibandingkan sebelum mereka liburan.
cat : kalau delayed schooling, drop out, dan remaining in school longer alias tinggal kelas mulu, mungkin masih bisa keterima. tapi liburan ?
mungkin ntar sekolah-sekolah dilarang libur, karena bisa menurunkan IQ siswanya
![]()
3. IQ tidak dipengaruhi oleh urutan kelahiran (birth order)
Kepercayaan bahwa anak pertama lebih cerdas dibandingkan anak berikutnya sudah lama menjadi kebenaran di masyarakat. Tetapi penelitian di AS membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara urutan kelahiran dengan inteligensi. Anak-anak yang lahir duluan dalam urutan kelahiran tidak mempunyai perbedaan IQ yang signifikan dengan anak-anak yang lahir belakangan.
cat : iya juga sih, tapi kalau jumlah anaknya sebanyak kesebelasan sepakbola ? tapi katanya juga anak pertama itu biasanya pintar karena buah cinta orang tuanya yang lagi hangat-hangatnya dan juga pasti diperhatikan sangat berlebihan. iya nggak ?
4. IQ dipengaruhi oleh “pemberian ASI”
IQ sangat dipengaruhi oleh pemberian ASI. Anak-anak dengan pemberian ASI yang cukup, mempunyai IQ yang lebih tinggi (sekitar 3 – 8 point) dibandingkan dengan anak-anak yang tidak diberikan ASI atau diberikan ASI dalam waktu yang singkat. Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain adalah kandungan gizi dalam ASI yang berpengaruh terhadap otak bayi yang juga turut mempengaruhi perkembangan inteligensi bayi.
cat : ini nggak usah dipertanyakan lagi, dan saya termasuk pendukung gerakan pemberian ASI. ini juga pengalaman pribadi sih, karena dulu diberi ASI sampai 1,5 tahun
*dasar rakus*
5. Inteligensi : “plural, not singular”
Teori pertama dalam inteligensi mempercayai bahwa ada satu faktor utama yang berpengaruh terhadap inteligensi dan menentukan keseluruhan inteligensi seseorang. Faktor itu disebut sebagai general intelligence. Tetapi penelitian di Harvard University oleh psikolog Howard Gardner, memberikan hasil bahwa inteligensi bukan hanya terdiri atas satu faktor utama melainkan multifactor. Tidak ada faktor penentu dalam inteligensi sebagaimana halnya general intelligence, tetapi inteligensi sendiri terdiri atas bermacam-macam domain. Sampai sekarang telah diketahui bahwa inteligensi terdiri atas intrapersonal intelligence, interpersonal intelligence, linguistic intelligence, motoric intelligence, dan musical intelligence.
cat : nanti sepertinya bisa ditambah satu lagi : blog intelligence
kemampuan yang aneh-aneh yang sering keluar di dunia blog…
6. IQ berkorelasi dengan “head size”
Hubungan antara ukuran kepala dengan IQ sudah cukup lama menjadi subyek kontroversi. Tetapi penelitian dengan teknik neuroimaging membuktikan bahwa volume otak berkorelasi dengan IQ. Bukti ini didapat dengan mengukur ukuran helm tentara AS yang sedang mengikuti training dan dibandingkan dengan IQ-nya. Walaupun demikian korelasi tersebut cukup kecil.
cat : ya ampun… UKURAN KEPALA ? apa Om Einstein kepalanya besar juga ya ? yang kutau dari dulu adalah volume otak. pantesan kalau di film, kepala alien itu besar-besar
![]()
7. IQ : “on the rise”
Poin IQ meningkat sekitar 20 poin dalam setiap generasi. Efek ini disebut dengan nama “Flynn Effect” yang berasal dari nama peneliti Selandia Baru, James Flynn. Jika kita mengikuti tes IQ sekarang dan membandingkannya dengan norma skor tes yang diikuti oleh kakek kita 50 tahun yang lalu, 90% dari kita akan digolongkan “genius”, tetapi jika skor kakek kita dulu dibandingkan dengan norma sekarang, maka mayoritas dari mereka akan digolongkan “terbelakang mental (mentally retarded)”. Kenaikan nilai IQ ini dapat dihubungkan dengan beberapa faktor, antara lain : nutrisi yang lebih baik, sekolah, orangtua yang lebih terdidik, lingkungan yang lebih kompleks, dan permainan-permainan seperti komputer dan konsol game.
cat : setidaknya saya lebih pintar dari orang-orang jaman dulu
berarti saya lebih pintar juga dari Einstein dong ?
8. IQ dipengaruhi oleh “school cafeteria menu”
Penelitian ini dilakukan tehadap kurang lebih 1 juta siswa di kota New York, dan menghubungkannya dengan menu di kantin sekolahnya. Hasilnya membuktikan bahwa diet makanan dapat mempengaruhi fungsi otak. Makanan-makanan tertentu, seperti ikan, sayuran, dll, dapat mempengaruhi kerja fungsi otak, sehingga dapat juga berpengaruh terhadap IQ. Makanan-makanan seperti makanan cepat saji (junk food) tidak memberikan pengaruh apa-apa bagi perkembangan otak. Motonya saat itu adalah : eat your fish; it’s brain food.
cat : moral story-nya adalah dilarang makan sembarangan
dan kalau punya kenalan penjaga kantin (sekolah, kantor, fakultas, dll) bisa minta dibuatin makanan bergizi…
9. Inteligensi lebih banyak diturunkan oleh ibu dibandingkan ayah
Penelitian ini adalah penelitian terhadap pengaruh gen yang dominan yang diwariskan oleh orang tua terhadap anak dalam perkembangan inteligensinya. Hasilnya adalah bahwa inteligensi anak lebih banyak dipengaruhi oleh sumbangan gen yang berasal dari ibu dibandingkan dari ayah, tetapi seberapa besar perbedaan itu masih belum diketahui. Hal ini disebabkan karena gen inteligensi adalah salah satu gen yang kompleks.
cat : ini pesan sponsor buat para calon suami : “carilah istri yang pintar“. buat yang sudah menikah, silakan berkonsultasi pada saya
![]()
*************
Itulah sekelumit fakta dan catatan “ngawur” seputar inteligensi dan IQ. Anda mau percaya ? silakan, tetapi tidak percaya juga nggak apa-apa. Tapi catatan kecil yang saya tulis dibawah fakta itu-lah yang harus dipercayai.
Ada tambahan “ngawur” ?
sumber : beberapa penelitian “tidak ngawur” tentang inteligensi. mungkin otak saya yang lagi ngawur baca penelitian-penelitian itu…






klo sekolah dilarang libur, yang ada anak2 pada stress.
IQ jongkok versus stress (yang btw stress itu bisa menjalar ke penyakit lainnya & fluktuasi hormon yang menyebalkan).
hubungan IQ dengan ukuran kepala ada di mana ya? ukuran otaknya yang biasa aja juga yang nggak semua bagiannya yang kepake kok v_v;
trus mengenai kenaikan IQ sejalan dengan generasi … kaya’nya juga ganjil. soalnya klo aku baca sejarah tokoh2 ilmuwan jaman dulu … kemampuan ngapalnya pol banget, dan menguasai beberapa bidang ilmu sekaligus lagih. dan pencapaian besar mereka pun nggak sedikit yang diraih dalam usia yang muda. klo IQ naik sejalan generasi, seharusnya orang2 di generasi sekarang lebih mantabs lagi dari dulu ya …
tapi kalo mengenai ASI & makanan aku setuju sih ..
nah klo perkawinan antara orang pintar dengan orang pintar … walaupun gen dominannya mungkin adalah bahwa “cerdas” (misalnya alelnya C), gimana kalo yang lahir membawa kedua gen resesif? genotipnya cc
; akhir2 ini aku juga mikir soal itu … kebetulan sekali.
seru betul …
@mas fertob : untuk no.6, masa sih? bukannya hitler-nazi juga pernah meneliti ukuran kepala ras aria, dan ternyata mereka salah?
@kk kikie : Ngga juga. Penelitian sekarang membuktikan bahwa kalau anak tidak menyukai pelajaran yang diterimanya, maka mereka akan cepat lupa, karena katup limbiknya tidak terbuka (cmiiw). Maka itu ada teori kecerdasan jamak (multiple intelligence, cmiiw) , no.5, yang menyatakan bahwa kecerdasan anak bukan dinilai pada pelajaran-pelajaran di sekolah saja, tapi juga pelajaran kehidupan, sosiolisasi, menyanyi, gambar, foto, tulisan, dan lain sebagainya. Bahkan ada juga kecerdasan intrapersonal, kecerdasan “diri sendiri”.
Masalahnya adalah, sekolah-sekolah sekarang sistemnya, kata guruku masih klasikal, bukan modul/yang lainnya. Maka anak hanya dinilai dari angka, teori, dan pelajaran disekolah saja. > makanya saya mau homskuling
(Tapi yang salah bukan gurunya, sistemnya. meskipun selalu ada guru-guru yang inovatif dan terbuka. tahu sendiri siapa yang dimaksud
)
*
link terkait :
http://www.chariho.k12.ri.us/curriculum/MISmart/intra.htm
http://fertobhades.wordpress.com/2007/01/16/anakku-bukan-milikku/
Sepertinya hal tsb terlalu sempit jika dimasukkan sebagai contoh (indikator?) utama kemampuan IQ karena hal2 tsb hanya berkaitan dengan masalah spatial ability saja.
)
Saya kok setuju dengan poin 4 dan 5 ya (setuju bukan berarti membenarkan lho karena saya tdk tahu apa2 tentang IQ, bahkan IQ saya juga g tahu
Saya juga pernah baca buku Piece of Mind yang membahas multiple intelegence-nya Gardner. Sebenarnya ngapain sih pada mempermasalahkan yang berbau intelegensi dan Q-Q itu?
Wahh,,
Ma mo nanya,, jadi kalo test IQ, kecerdasan yang dinilai itu kecerdasan yang mana pak?
dipengaruhi ASI,, tuh,, ASI eksklusif itu penting,, (halah,, Ma ini,,)
Wahh,, betul itu pak,,?? adek Ma yang masi SMA suka banget maen PS,, IQnya tinggi ya,,
sayang pengambilan sampling semuanya di ‘luar’ sana. apakah berlaku buat ras mongoloid seperti kita? *sedikit kuatir* soalnya bapak ibu saya IQ-nya mengkhawatirkan…
Aku pernah denger yg soal gen pintar itu menurun dari ubu, tapi waktu itu bu dekan *yg diragukan kevalidan omongannya* blg kalo gen pintar menurun dari ayah. Tapi, mengingat ibu dekan itu memang diragukan kevalidannya, maka sampai sekarang aku memilih cari info sendiri aja, dan blm ketemu.
Intelegensi bukan kemampuan adaptasi toh?
berarti aku lebih pinter dari Oom Fertob, Cak Dokter, Bu Senyum, Gus Tajib, Pak De King, dll…Ah, jadi ingin geer..
anak pertama lebih cerdas dibandingkan anak berikutnya
That’s right…!! pemenggalan ‘ayat’ untuk mendukung para anak pertama..hehe47x..
Oom, katanya hasil tes IQ itu ga sampe 90% ya kebenarannya? soalnya kan tergantung variabel2 lain pas tes dilangsungkan bukan..berarti aku ga perlu percaya sama hasil tes IQ ku kan..wakakakak47x..makes me feel different..
@ kikie :
kalau untuk ukuran kepala memang ada korelasinya, tetapi korelasi itu nggak signifikan. tapi untuk kenaikan IQ karena perbedaan generasi, itu bukan dalam pengertian harafiah.
IQ itu punya norma standar. Dan setiap periode atau geografi biasanya dibuat suatu standar norma yang baru. Jadi kenaikannya dalam norma itu, bukan dengan pengertian bahwa orang sekarang lebih pintar dari orang jaman dulu…
@ halludba :
memang kecerdasan itu sangat banyak dimensinya an tidak hanya bisa dilihat dengan pelajaran di sekolah saja. bahkan ada yang mengatakan bahwa kecerdasan akademik bisa saja berbeda dengan kecerdasan sosial.
@ deking :
tapi spatial ability kan dimensi dari kecerdasan ?
memang pekerjaan-pekerjaan sederhana dapat dipakai untuk menentukan IQ. masalahnya bukan BISA/TIDAK BISA mengerjakan, tapi seberapa cepat pekerjaan itu diselesaikan (speed test).
Yang membedakan orang “pintar” dengan yang tidak menurut saya adalah cara mereka mengolah informasi di otak. Biasanya orang “pintar” itu sangat cepat, efektif dan efisien.
hehehe… postingan diatas jangan terlalu dianggap serius mas…
judulnya aja “ngawur” gitu. Itu cuma menuliskan apa yang pernah saya baca dan saya ketahui, tapi belum tentu saya anggap sebagai kebenaran.
Lagian saya juga nggak terlalu percaya sama model Q-Q seperti itu, apalagi jika penggunaannya salah dan mendehumanisasikan manusia. Saya pernah tulis juga di
http://fertobhades.wordpress.com/2007/02/01/quotient-impotent-mboten-mboten/
@ Rizma :
waduh, ini pertanyaan sulit
Tes IQ itu banyak dan sangat banyak. Jadi kalau saya sebutin satu persatu bisa habis blog ini membahasnya
Pokoknya mbanyak-nyak-nyak…
@ passya :
Secara umum inteligensi bisa dikatakan sama pada setiap orang dimana saja. Tetapi tes-tes yang mengukurnya yang harus mengadaptasikan budaya setempat.
Memang hasil penelitian diatas dilakukan di luar sono, dan saya juga yakin itu bisa berbeda kalau diaplikasikan di negeri kita ini.
@ hana :
bu dekan kok diragukan kevalidan omongannya ?
tentang pewarisan gen, itu ada jurnalnya tetapi terus terang itu masih diperdebatkan dan tidak diketahui proporsi tepatnya. tetapi keyakinan yang berkembang di kalangan ilmuwan adalah seperti itu.
iya deh…
memang anak-anak jaman sekarang pintar-pintar koq, termasuk pintar yang soal “itu”
Kalau sampai 90% saya malah nggak tau. Tapi variabel lain biasanya sudah ada dalam standar error dari hasil pengukuran. Standard error itu kayak standar deviasi kalau di statistik.
Pernah ngukur IQ ? Saya juga pernah tapi jaman dahulu kala, sebelum masuk psikologi. Dan hasilnya ? Saya malah dikategorikan rata-rata (menjurus ke “bodoh” malah)
Maksud Ma, jenis kecerdasannya,,?? (dari keseluruhan multiple intelligence)
ga mungkin semua jenis kecerdasan itu ditentuin dari IQ aja,,
fakta atau hipotesis
lha kalo Oom menjurus ke ‘bodoh’, aku apa???
perlu tes lg ini kayaknya…embisil aku ini jangan2…
Penawaran menarik itu… yang belum beristri tapi sudah fix boleh juga dong? Gimana kalau bang Fertob tulis itu tips2nya secara terbuka ?
ASI sampai 1,5 tahun kok rakus. Biasa aja lagi, pak
Anjurannya saja sekarang 2 tahun, lebih ya boleh. Ndak ah, ndak rakus.
*masih menyusui si kedua yang sudah lebih dari 1,5 tahun*
Makanan cepat saji ndak sama ah dengan junkfood. Gado-gado, salad, sandwich kan bukan junkfood tho?
ASI melimpah dengan lemak dan protein, tapi bukan junkfood. Keju juga sama, tapi bukan junkfood juga.
IMO, junk atau bukan, yang penting itu jumlahnya. The amount that matters
*lho kok OOT* Maap, ‘gatel’ :p
hmm….
potensi otak masih sangat banyak sekali yang belum digali
Einstein aja yang katanya baru menggunakan 10 % otaknya dah bisa “tenar” kayak gitu
berarti gak begitu sulit dunks…
kita tinggal menggunakan otak kita 1% lebih banyak aja dari einstein
maka udah bisa lebih “tenar” dari einstein
???
10% dari otak berpikir,, (Lobus frontal)
Lobus frontal itu 20%nya otak,,
jadi kira kira cuma 2% tuh,,
(dari temen Ma yang jago banget neuroanatomi,,!!)
edan banget otak manusia itu,,
kayanya bakal susah mau maen ukur ukuran ya,,
Hehehe… yang saya maksud “orang mempermasalahkan Q-Q” itu bukan Bang Fertob (atas penulisan artikel ini)
Hehehe…
Maksud saya adalah orang yg selalu saja beranggapan IQ tinggi itu lebih baik
@ Rizma :
oooo.. maksudnya itu tho…
ehm, Tes IQ yang sudah ada biasanya memakai teori General Factor of Intelligence, jadi ada satu faktor utama (general) yang menjadi indikator seluruh kecerdasan kita. Selain itu dalam teori factor ini juga ada faktor-faktor spesifik lainnya yang juga ada dlm intelligensi tetapi bukan menjadi penentu utama kecerdasan.
Factor Theory sudah lama diterapkan dalam pengukuran kecerdasan, dan ini dapat dilihat pada tes-tes IQ yang secara umum ada di masyarakat.
Teori Multiple Intelligence Howard Gardner tidak mengikuti caranya General Factor, tetapi dia mengatakan bahwa Inteligensi itu berada dalam DIMENSI (bukan faktor) yang berbeda-beda, Inteligensi itu tidak tunggal tetapi bermacam-macam dimensi yang bisa saja tidak berkait.
Seseorang bisa saja lemah dlm musical intelligence tetapi mempunyai motoric/physical intelligence yang tinggi. Misalnya saja pada atlet-atlet jenius (Michael Jordan & Zinedine Zidane). Jadi setiap orang punya kemampuan/inteligensi yang berbeda-beda dengan besar yang juga berbeda-beda tergantung dimensinya.
Mengenai pengukurannya (dimensi), saya nggak terlalu tau karena Gardner tidak menyertakan pengukuran inteligensi dlm dimensi yang berbeda. Tetapi mungkin saja ada Tes IQ yang menggunakan pendekatan Dimensional terhadap inteligensi, tetapi saya belum menemukannya. Nanti kalau ada saya kasih tau… OKE..
@ danasatriya :
Kalau hipotesis sebenarnya juga nggak tepat, karena hipotesis masih harus diuji sementara apa yang saya tulis diatas sudah diuji melalui eksperimen (ada penelitiannya).
Lebih cocok memang disebut Kesimpulan sebuah Penelitian, atau Tesis. Untuk sementara juga dapat disebut fakta karena sebelum ada fakta lain yang membantah/memeperbaharui hal diatas (seperti sebuah lingkaran pengetahuan)
@ wadehel :
hehehe… pesan sponsornya memang menarik
mengenai tips-tips tunggu aja tulisan berikutnya. Tetapi jangan gara-gara itu nggak jadi menikah.
@ Mbak Lita :
hehehe… iya juga mbak. Tapi yang saya lihat sekarang ini banyak ibu-ibu yang hanya memberikan ASI pada bayinya sampai 8 bulan saja (atau paling lama 1 tahun). Padahal ASI sampai 2 tahun juga nggak masalah asalkan diberikan dengan makanan lain.
Untuk yang makanan, memang junk-food itu nggak masalah selama kandungannya banyak. Bahkan es krim juga nggak apa-apa karena sekarang ini ada es krim yang bervitamin dan baik untuk kesehatan.
Tapi yang saya maksudkan dengan junk-food diatas adalah makanan cepat saji yang hanya mementingkan unsur ‘kenyang’ tanpa mempedulikan apakah mempunyai kandungan yang bermanfaat. Dan bisa saja makanan seperti itu berpotensi untuk menambah kolesterol atau kurang serat.
@ aldrino :
iya mas. potensi otak itu sungguh luar biasa. bahkan penelitian-penelitian neurologi dan neuropsikologi sampai sekarang ini tidak juga bisa mengungkap rahasia otak secara total.
@ Rizma ;
Itu baru otak untuk berpikir, belum lagi dengan bagian otak yang berfungsi dalam emosi (hypocampus-amygdala) dan juga fungsi-fungsi vegetatif.
Secara umum, semua bagian otak berkontribusi terhadap kecerdasan. Bukan hanya lobus-frontal saja, karena lobus temporal, dll juga mempunyai peran dlm kecerdasan manusia.
@ deking :
Itu dia yang sering dipercaya orang sekarang ini. IQ bukanlah penentu utama dalam kesuksesan seseorang. Malah penafsiran yang salah terhadap hasil tes iQ justru dapat mendehumanisasi manusia. Manusia itu unik dan luar biasa.
@ hana ;
nggak mungkin imbisil…. karena bisa menulis blog dan tulisannya juga bagus-bagus
*sudah lama saya nggak dengar kata-kata idiot, moron, imbisil, dlsb*
Nanya pak, yang ngawur itu faktanya, catatannya, atau fakta dan catatannya??
Bingung neh pak, tergolong IQ Tiarap kali ya..?
@ manusia super :
faktanya (atau hasil penelitian) nggak ngawur mas, catatannya yang ngawur
saya dulu dipuji-puji karena IQ-nya termasuk tinggi. dan diperkirakan bakal masuk ipa serta kuliah di dunia musik atau dunia kesehatan. eh ternyata…malah masuk ips, kuliah di komunikasi pula. weleh weleh…tes IQ itu ndak bisa dipercaya.
yes!
#cK
ketahuilah cik, itu untuk menghiburmu aja…biar semangat menjalani hidup…
kekeke…
Kalo butuh info tentang kecerdasan ganda Multiple Intelligence (MI) silahkan hubungi kami di abd.kodir@gmail.com
seorang anak yang memiliki kebutuhan khususpun (salah satunya Autisme) memiliki kecerdasan sendiri. percaya?????
aku dah 40 tahun masih suka ASI makin cerdas dong hek….hek… hekekekekekekekek!