Dan bukan hanya menggali sejarah yang dapat membahayakan kita; kadang sejarah itu sendiri pun dapat mengulurkan cakar-cakarnya yang muram dan mencengkeram kita.
(The Historian, Elizabeth Kostova. p.7)
Sungguh menarik menyaksikan tarik ulur dan perdebatan seputar Lagu Kebangsaan Indonesia Raya di internet belakangan ini. Saya tidak akan menambah keruh permasalahan itu, tetapi mencoba menarik hikmah atas persoalan seputar sejarah khususnya sejarah Indonesia : masih banyak misteri seputar sejarah kita.
Ir. Soekarno, presiden I RI, pernah mengeluarkan pidato tanggal 17 Agustus 1966 yang berjudul “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”. Sejarah adalah bagian dari diri sebagai bangsa, dia tidak bisa dipisahkan apalagi dilupakan. Melupakan sejarah – apalagi meninggalkan sejarah – sama artinya dengan kehancuran sebuah bangsa.
Saya bukan seorang pakar sejarah, walaupun sejak dulu punya ketertarikan terhadap sejarah. (dan berharap masuk jurusan sejarah di perguruan tinggi, dan ternyata gagal….
). Tapi saya mencatat ada beberapa hal yang ada dalam sejarah yang membuat saya tertarik dengan bidang ini. Tentunya ini dalam perspektif pribadi.
++++++++++++++++++++
Sejarah Itu…..
Ditentukan oleh “Siapa Yang Berkuasa/Menang”
Saya selalu percaya bahwa sejarah minimal ditentukan oleh 2 Unsur :
1. Fakta
2. Interpretasi
Fakta adalah sesuatu yang niscaya, dia terjadi demikian sesuai dengan kondisinya. Dan mungkin hanya Tuhan-lah yang tahu seperti apa fakta yang sebenarnya, karena tidak ada satupun pihak (bahkan yang terlibat dalam fakta itu) bisa mengklaim bahwa hanya merekalah yang tahu fakta yang “sebenarnya”.
Masalah mulai timbul ketika orang lain mulai menginterpretasikan suatu sejarah. Interpretasi atas fakta SELALU [dan SELALU] bermuatan subyektif. Bahkan interpretasi yang bertujuan ILMIAH sekalipun tidak pernah lepas dari subyektivitas. Tidak ada ilmu yang bebas nilai, itu alasannya. Dan apa yang kita ketahui selama ini tentang suatu cerita sejarah tidak lain adalah sebuah interpretasi atas fakta sejarah yang sebenarnya.
Apa isi dari interpretasi yang subyektif itu ? KEPENTINGAN. Suatu sejarah ditulis dan diinterpretasikan dengan sejumlah kepentingan. Seobyektif apapun sebuah tulisan sejarah (interpretasi sejarah), tulisan itu punya kepentingan, atau dengan bahasa lain, TUJUAN.
Sejarah Indonesia juga ditulis dengan sejumlah tujuan dan kepentingan. Terkadang ada tujuan mulia didalamnya (melestarikan nilai-nilai sejarah, agar tidak melupakan sejarah bangsa sendiri, dll), tetapi ada juga tujuan “terselubung” di dalamnya.
Apa itu tujuan dan kepentingan “terselubung” didalam penulisan sejarah ? Salah satunya adalah melestarikan kepentingan “SIAPA” yang berhubungan dengannya. Dan oleh karena itu, kepentingan siapa yang memegang otoritas atas penulisan sejarah akhirnya masuk dalam interpretasi itu.
Siapa yang memegang otoritas adalah “Siapa Yang Berkuasa” alias “Siapa Yang Menang”.
Dan bukan sesuatu yang aneh kalau peristiwa pembakaran buku-buku interpretasi sejarah adalah hal yang menjadi lumrah. Bagi siapa yang berkuasa/menang, sejarah bukanlah ajang demokrasi dan perbedaan pendapat. Sejarah adalah otoritas, dan oleh karena itu wajib disamakan persepsinya.
Coba kita baca lagi buku-buku sejarah selama masa Orde Baru, kira-kira seperti apa tendensi dari buku-buku sejarah itu ? Tidak lain adalah “Melestarikan Kepentingan Si Pemegang Otoritas“. Interpretasi sejarah seperti sebuah tarik tambang dalam pentas kekuasaan. Yang merasa kuat akan menarik tambang sejarah itu kearah diri mereka sendiri, sementara di pihak lain, yang berkepentingan juga akan menarik tambang itu ke arah mereka.
Siapa yang Menang, itulah yang akan menuliskan [dan mendoktrinkan] sejarah
Contoh lain adalah sejarah Perang Dunia II (PD II). PD II dimenangkan oleh Allied Forces (USA, Inggris, Uni Sovyet, dan kawan-kawan). Kebanyakan interpretasi sejarah PD II adalah sesuai dengan kepentingan negara-negara pemenang perang. Itulah yang membuat kasus Holocaust kaum Yahudi oleh NAZI bisa menjadi sesuatu yang bombastis dan besar-besaran, sehingga kita bisa kesulitan merunut kembali seperti apa cerita yang sebenarnya (atau mendekati benar).
Holocaust bisa saja suatu kenyataan, tetapi apakah versinya seperti yang diceritakan oleh banyak media (buku, film, dll) di dunia ini ? Tidak heran kalau kemudian Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad bersuara keras menentang peristiwa holocaust. Apakah Ahmadinejad sedang menginterpretasikan ulang sejarah ? Ya, dan dia menginterpretasikannya menurut kepentingannya juga.
Tiada yang abadi selain kepentingan sendiri, begitu kata pepatah lama.
Perang dan Kejam/Berdarah
Saya pernah membaca buku lama 100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah karya Michael Hart. Dan saya menghitung sekitar 35% tokoh yang ditulis dalam buku itu berhubungan dengan Perang dan Penaklukan. Dengan kata lain, tokoh-tokoh sejarah menurut M. Hart kebanyakan (dibandingkan ilmuwan, tokoh agama, dll) adalah orang-orang yang telah menumpahkan darah melalui perang dan penaklukan.
Seperti itukah sejarah ditulis ?
“Kau tadi bertanya padaku bagaimana sejarah ditorehkan, Jack,” kata Ali. “Kau baru saja melihatnya.”
“Apa maksudmu ?”
“Kau tidak memerlukan kami untuk menjelaskannya padamu,” kata Golovko.
Orang-orang yang memulai perang, atau mencobanya, dieksekusi seperti penjahat di alun-alun pasar, pikir Jack. Bukan preseden yang buruk.
(The Sum of All Fears, Tom Clancy. p.815)
Sejarah dunia (termasuk sejarah Indonesia) adalah sejarah perang. Mungkin benar kata pepatah lama : Perang Membentuk Sejarah. Perang ada dan akhirnya dicatat sebagai sebuah peristiwa yang pernah (dan mungkin akan) ada dalam sejarah umat manusia.
Seperti apa Indonesia jika tidak ada perang menghadapi penjajah dulu ? Saya rasa wajah Indonesia bukanlah wajah sekarang ini. Wajah Eropa sekarang ini dibentuk oleh perang di wilayah itu sejak ribuan tahun yang lalu. Begitu juga dengan perang-perang di tempat lain.
Orang-orang di Amerika Selatan pasti tahu siapa itu Hernando Cortez dan Fransisco Pizzaro, karena mereka berdualah Sang Penakluk Amerika Selatan dan juga memporak-porandakan kebudayaan Indian di sana. Juga menjadi awal masuknya budaya Spanyol di tanah Amerika Latin. Tapi, orang-orang Amerika Selatan dari Bolivia sampai Venezuela juga kenal dengan nama Simon Bolivar, Sang Penakluk Spanyol di benua itu. Bolivar mengusir Spanyol dari mulai Venezuela sampai Chile dan namanya dikenang sebagai pahlawan.
Tapi siapakah mereka dan dengan cara apa mereka dikenang ? Mereka adalah pemimpin perang, dan perang (penaklukan dan pembebasan) adalah cara mereka mengukir (interpretasi) sejarah, Bukan hanya sejarah mereka pribadi tetapi juga sejarah suatu wilayah. Begitu juga banyak contoh yang lain.
Jadi, pertanyaan Dr. John Patrick Ryan di buku Tom Clancy mempunyai salah satu jawaban yang cukup sederhana : Sejarah ditulis dengan Perang dan Darah yang Tertumpah. Tentunya masih banyak cara lain menulis (interpretasi) sejarah.
Multi Sisi
Sejarah dan pelaku sejarah punya banyak wajah. Disatu wajah, pelaku sejarah adalah orang-orang yang dituliskan dengan tinta emas dalam interpretasi sejarah suatu bangsa/kelompok. Tapi bagi kelompok lain, pelaku sejarah yang sama ditulis dengan tinta berwarna merah : dianggap pengkhianat dan penjahat.
Contoh sangat sederhana bisa dilihat dari seorang Saddam Hussein. Bagi banyak orang, Saddam bagaikan serigala kejam yang membunuh lawan-lawannya dengan wajah tertawa. Dia adalah monster. Tapi bagi beberapa orang, Saddam adalah pahlawan karena dia telah mengembalikan harkat dan martabat rakyat Irak (Arab) supaya tidak jeri menghadapi Israel. Jadi seperti apa wajah seorang Saddam ?
Sejarah juga bagaikan 2 sisi pedang yang sama tajamnya. Bagi rakyat dan pemerintah China, apa yang dilakukan oleh Jepang selama Perang Dunia II adalah sebuah kejahatan. Pada masa itu, Jepang membunuh banyak penduduk China dan menjadikan perempuan-perempuannya sebagai Jugun-Ianfu. Dalam buku-buku resmi interpretasi sejarah mereka, kejahatan itu ditulis secara gamblang.
Bagi orang Jepang, penghormatan terhadap leluhur dan pahlawan yang telah berjasa bagi negaranya adalah suatu kewajiban, juga bagi para tentara yang telah gugur selama Perang Dunia II. Dan interpretasi dalam buku sejarah resmi mereka juga sesuai dengan kepentingan mereka.
Dan apa jadinya ? Interpretasi sejarah di China dan Jepang yang berbeda atas suatu peristiwa yang sama akhirnya menjadi masalah yang selalu timbul dalam hubungan kedua negara.
Begitulah sejarah ditulis, selain dengan darah dan perang juga dengan pertarungan kepentingan.
****************
“Kita berdua akan memajukan sejarah karya sejarah melampaui apapun yang pernah dilihat dunia. Tak ada pemurnian semurni penderitaan-penderitaan oleh sejarah. Kau akan memperoleh apa yang diidam-idamkan setiap sejarawan : sejarah akan menjadi realitas bagimu.
(The Historian, Elizabeth Kostova. p.702)
Jadi apa makna dari “pertarungan” interpretasi sejarah tentang Lagu Indonesia Raya ?
Pertarungan itu adalah Pertarungan Kepentingan
Bagi beberapa orang, mengukir namanya dalam sejarah adalah sesuatu yang sangat penting. Bagi mereka, pelaku sejarah, walaupun terkadang jadi pahlawan kesiangan, adalah sesuatu yang diidam-idamkan. Lebih penting menjadi orang yang mengukir sejarah daripada hanya “tergilas” oleh sebuah interpretasi sejarah.
Apakah mengukir sebuah nama dalam (interpretasi) sejarah menjadi hal yang begitu penting ? Mungkin. Setiap orang punya sifat untuk selalu dikenang dan attention-seeking. Menuliskan nama mereka dalam interpretasi sejarah sama dengan menghadirkan realitas sejarah bagi diri mereka. Mereka adalah sejarah itu sendiri.
Tulisan terkait :






Sejarah memang interpretasi dari suatu fakta…
Sayang sejarah dicatat lewat darah, jika manusia lebih cinta damai, atau tepatnya dipimpin oleh orang yang cinta damai maka sejarah akan lebih lembut.
Sejarah selalu menjadi bahan pembelajaran bagi kita … apapun sejarah itu … tapi kadang kita sering melupakan pelajaran yg kita dapat dari sejarah tsb sehingga sejarah sepertinya terulang lagi … dan lagi …
sorry OOT..
just wanna say HaPpY BirThDaY!
=)
Itu sebabnya dalam bahasa Inggris sejarah disebut history, kan? His Story
Tapi.. entah gw yang terlalu optimis atau terlalu positif, gw kok percaya bahwa ada orang2 yang memang menginterpretasikan sejarah dengan subyektivitas seminimal mungkin.
Kalau kaitannya dgn RS & “Indonesia Raya”.. well, sesungguhnya gw heran kenapa orang2 malah ribut tentang Roy Suryo-nya. Buat gw sih ok2 aja RS mau ngaku2 jadi penemu.. dunia nggak kiamat hanya karena RS mengidap waham kebesaran
Gw sih lebih miris melihat bahwa ada (banyak?) orang2 yang tidak tahu bahwa lagu itu aslinya memang 3 bait. Termasuk orang2 yang katanya memimpin negeri ini. Menurut gw, ini hal yang lebih menyedihkan dan lebih pantas jadi fokus keprihatinan kita daripada RS & wahamnya
Nambah:
BTW, loe ultah, Fer? SELAMAT ULTAH YA..
Panjang umur, murah rejeki, dan semoga cepat dapat istri yang nggak perlu pakai pacaran dulu
Cerita besar adalah cerita sejarah milik penguasa. Cerita kecil adalah sejarah mereka yang bukan penguasa. Keduanya ada, tinggila kita memilih percaya yang mana. Salam kenal, ulasan yang menarik.
WEll, lam kenal nie…
So berat juga ya postingannya yang satu ini tapi aku suka banget tapi mata agak panas harus mandengin layar trus.
SO..emang bener aku setuju dengan pendapatmu bahawa sejarah adalah hail rekayasa antara fakta dan intrepertasi dan itu semua ada ditangan orang yang berkuasa.
Tapi sejarah yang ada terkadang juga baik bagi kehidupan yang akan datang, tapi kadang para penguasa yang punya maksud khusus mendomplengi sejarah dengan maksudnya itu.
Saya orang awampun nggak tahu beda antara sejarah yang pure memang terjadi dengan sejarah yang udah kayak escampur.
Saya aja nggak percaya dengan beberapa sejarah Indonesia yang sudah diajarkan dari TK ampe sekarang.
Bahkan ampe sekarang bukti2nya semakin nggak ada untuk menjawab beberapa pertanyaan sejarah.
Misal: tentang supersemar, G30SPKI dll
Bingung sendiri kalau musingin hal itu.
*maaf baru berkunjung telah meninggalkan jejak yang terlalu panjang *
Setahu saya, penulisan sejarah (secara textbook) dilalui oleh metode heuristik.
Secara sederhana (akibat otak saya yang sederhana), umumnya penulisan itu didahului oleh proses kritisi, lalu dikumpulkan juga saksi mata dan cerita bertutur hingga akhirnya argumentasi.
Proses pengambilan kesepakatan, umumnya dilalui setelah adu argumen diatas, dan melihat statistik analogi argumen tersebut.
Proses penulisan postingan ini, saya pikir juga bagian dari sejarah itu sendiri. Begitu pula penulisnya, jadi salah satu bagian sejarah.
Dan sejarah itu berulang… Sama seperti sejarah hari kelahiran, yang ada pada setiap tahunnya.
Aniwey. Selamat ulang tahun, Om Fertob.
kalo sejarah cenderung bagaimana melestarikan kepentingan penguasa, berarti penguasa yang akan datang menghancurkan sejarah penguasa sekarang?
wuih!
Masa sih nggak ada ilmu yang bebas nilai. Bagaimanapun juga, dua tambah dua pasti akan selalu sama dengan empat kan?
*semoga ada yg nangkep referensinya*
Dan soal perang yang membentuk sejarah, jaman sekarang yang namanya perang terbuka udah menjadi sesuatu yang terlalu mahal untuk ditanggung, bahkan oleh negara adidaya sekalipun. Dimulai dengan Gandhi, tampaknya yang sekarang sedang ngetrend bagi ‘lampu sorot sejarah’ adalah perjuangan perdamaian. Rasanya Nelson Mandela, Bunda Teresa, atau Paus Yohanes Paulus II bakal lebih awet dalam sejarah daripada George W. Bush, Saddam Hussein, atau Ahmedinejad.
Nggak perlu sampe dihancurkan lah. Fakta sejarah yang ternyata salah hanya tinggal dikoreksi saja toh?
@ Catshade:
Quote “Masa sih nggak ada ilmu yang bebas nilai. Bagaimanapun juga, dua tambah dua pasti akan selalu sama dengan empat kan?”
Memang 2 + 2 pasti akan selalu sama dengan 4? Bukannya tergantung logika biner atau apa gitu
Hehehe.. gw nangkap referensinya. Tapi.. bukannya itu yang selalu jadi perbedaan antara ilmu eksakta dan ilmu sosial? Dalam ilmu sosial seperti sejarah, tidak semuanya bebas interpretasi.
Kok jadi gw yang jawab ya? Harusnya kan fertob.. HAHAHA..
dua sisi sejarah, perspektif mana yang ingin dicerna. yang jelas, melindungi harga diri dan ego pihak yang berkuasa.
*dina*
dulu kaget banget denger rencana pembuatan buku sejarah jepang.
nb: eniwe nelat, ada yang nambah tua gt
masih nunggu kelanjutan sejarah MUNIR, semoga penguasa tidak membuat sejarah sediri soal kematiannya.
@ dnial :
kebanyakan memang sejarah dicatat lewat darah dan perang, tapi juga ada yang dicatat lewat penemuan-penemuan hebat atauyang lain.
@ joerig :
sejarah nggak pernah terulang kok teh…
mungkin maksud dari sejarah akan berulang itu adalah tidak mengambil hikmah dan pelajaran dari sejarah sehingga peristiwa yang sama (kasusnya) bisa terjadi di kemudian hari….
jasmerah…..
@ Ra :
hohohoho….. thanks berat yah….. (udah tua nih)
@ Mbak Maya :
Itu artinya : nggak semua pelajaran di program wajib belajar nempel di kepala setiap orang (apalagi pemimpin kita)
@ annahape :
iya mbak, “sejarah” yang saya maksud dlm tulisan ini memang “cerita besar”. setiap orang pada dasarnya punya cerita sendiri-sendiri tentang dirinya dan juga lingkungannya.
salam kenal juga….
@ evelyn :
[interpretasi] sejarah kita memang bisa jadi sudah seperti es campur, nbak. yang saya takutkan, tidak ada pelajaran apapun yang bisa diambil dari es campur itu. kita tidak bisa lagi melihat mana yang mendekati benar atau mana yang sebuah rekayasa.
orang indonesia memang jago rekayasa kali ya ?
@ bangaiptop :
betul bang…. metodenya memang induktif dan eksploratif. dalam proses argumentasinya memang yang dilihat adalah statistik juga, seperti kesepakatan akan sesuatu.
saya juga terkadang bingung melihat argumentasi seputar hari jadi kota Jakarta yang punya beberapa versi, dan juga ada sejarawan yang nggak setuju dgn penetapan tanggal tersebut (22 Juni) sbg hari jadi jakarta ini.
@ peyek :
mungkin sebagai tambahan mas : semakin otoriter pemerintahan suatu negara, maka kemungkinan yang mas peyek sebutkan bisa jadi semakin besar…
wuihh juga….
@ catshade :
hehehehe…. maksud saya dengan ilmu yang bebas nilai itu terletak pada “si manusianya”
sebuah ilmu selain asal-usul, landasan teori, hukum-hukum, dll…. juga punya aspek yang jarang dilihat oleh orang lain : dipakai sebagai apa ilmu itu ?
ilmu-ilmu murni akan selalu bebas nilai, tetapi ketika ilmu murni diterapkan pada kehidupan manusia, nilai-nilai manusia ikut terlibat didalamnya. Ilmu selalu berhubungan dengan aplikasi, dan ketika aplikasi dilakukan…. manusia menjadi pemegang kendali atas interpretasi atas suatu ilmu.
seperti contoh ini :
@ dina :
itulah kenyataannya…. jadi pembakaran buku sejarah adalah sesuatu yang lumrah ?
*katanya indonesia demokratis….*
*makasih, emang makin tua kok….*
@ passya :
yup, tapi bisa jadi munir punya cerita yang sama menyedihkannya dengan supersemar….
bang fertob tolong bilang om Roy suruh baca buku sejarah doong… lho OOT ya bang…
Selamat ulang tahun dulu, lalu soal sejarah, saya termasuk orang yang tidak mementingkan sejarah, bahaya ga om?
Agak berkaitan dengan komentar Cak Peyek…
Sejarah berasal dari kata sajarotun yang artinya pohon.
Lantas apakah faktor subyektifitas penguasa baru akan mematikan pohon yang lama?
Mungkinkah sejarah ini akan menjadi hutan, yaitu kumpulan pohon-pohon dari masing2 rezim penguasa?
Ataukah akan menjadi satu pohon tunggal yang senantiasa berkembang?
Blog yang menarik.