Siapa oknum yang seharusnya beristirahat dalam kedamaian abadi ? Siapa oknum yang sepantasnya beristirahat setelah sekian lama di seret-seret ? Siapa oknum yang seharusnya mundur dan mengaso sebentar setelah terlibat dalam kepentingan tidak penting umat manusia ? Siapa oknum yang selayaknya diberikan kesempatan untuk beristirahat dari pertempuran tidak perlu umat manusia ?
Siapa ?
Siapa ?
hhmmmmm…..siapa ya ? *pletak*

Jawabanya cuma tunggal :
T U H A N
Mengapa ? Iya, mengapa ?
***************
Dunia manusia adalah dunia kepentingan, atau lebih tepatnya dunia dengan banalitas kepentingan manusia. Kepentingan yang mengatasnamakan Tuhan dan membawa-bawa Tuhan dalam segala macam urusannya. Tuhan dipakai oleh manusia atas nama suatu kepentingan.
Sejak ribuan tahun yang lalu, Tuhan telah diseret-seret, didorong-dorong, dipanggul, dikokang, dan diarahkan ke kepala setiap musuh manusia yang ditera dengan tanda “Musuh Tuhan” di kepalanya. Tuhan dipakai dalam setiap tindakan manusia sebagai tameng dan juga sekaligus senjata menghadapi musuh-musuh manusia.
Tuhan dipakai dalam perdebatan di dunia maya dan nyata, diskusi di berbagai kalangan, bahkan di kehidupan sehari-hari seperti hubungan pertemanan, aturan perkawinan, ucapan selamat Hari Raya, dan segala macam kepentingan manusia.
Tuhan digunakan dalam setiap kebencian manusia yang mengatasnamakan Tuhan. Segala perpecahan, penyebaran kebencian, fitnah-memfitnah, ad-hominem, pengadilan, hujat-menghujat, kafir-mengkafirkan, dan juga segala macam kepentingan manusia.
Tuhan dipakai dalam setiap aksi yang menumpahkan darah. Segala pengeboman, peperangan, terorisme, kontra-terorisme, perang agama, penculikan, pembunuhan, dan juga segala macam kepentingan manusia.
Tuhan dipakai dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Segala politik negara, politik daerah, politik kampus, pemilihan presiden sampai pemilihan ketua RT, kampanye, pengeboman tempat ibadah, pelarangan ibadah, penyerangan agama/kepercayaan lain, dan segala macam kepentingan manusia.
Tuhan ada dan dipakai selama manusia mempunyai kepentingan.
Tapi siapakah “Tuhan” sehingga Dia diam saja dan membiarkan manusia memakai namanya dalam segala kepentingan manusia ? Apakah “Tuhan” yang dipakai dalam segala macam kepentingan manusia adalah benar-benar Tuhan yang manusia sembah dan puji sejak ribuan tahun yang lalu ?
Ya, itu dia masalah utamanya. “Tuhan” yang dipakai oleh manusia dalam setiap aksi dan pemikirannya adalah benar-benar Tuhan yang manusia sembah dan puji sejak ribuan tahun yang lalu. Nama itu asalnya suci, kudus, mulia, maha, dan segala macam atribut tertinggi yang bisa diberikan.
Tuhan yang suci dan kudus sebenarnya hanyalah tawanan dari kepentingan manusia. Tuhan yang mulia dan maha sebenarnya tidak lebih dari sebuah alat pemuas nafsu kepentingan manusia. Tuhan dipakai dalam semua alasan dan argumen manusia demi sesuatu hal yang absurd : Pembenaran Diri Sendiri.
Tuhan yang benar dalam dirinya, kemudian menjadi alat untuk membenarkan setiap tindakan manusia. Tentunya dengan embel-embel “Tuhan Beserta Kami”, “Tuhan Beserta Saya”, “Tuhan ada di belakang umatNya”, “Tuhan menyetujui tindakan saya”.
***************
Sudah sepantasnya Tuhan beristirahat dalam damai (requiescat in pace). Beristirahat dari segala macam kepentingan manusia yang mengatasnamakan dirinya. Tuhan yang R.I.P adalah Tuhan yang tidak perlu dibawa-bawa dan diseret-seret dalam setiap pembenaran diri umat manusia. Sudah selayaknya manusia melupakan Tuhan dari segala macam kepentingannya.
Tuhan sudah “sangat lelah” didorong, diseret dan dipergunakan oleh manusia. Tuhan-nya manusia sekarang ini tidak lebih daripada seorang budak yang disuruh-suruh demi kepentingan si Tuan Besar (manusia).
Tuhan yang beristirahat dalam damai adalah Tuhan yang Maha dan Suci. Tuhan yang dipakai dalam kepentingan manusia adalah Tuhan yang semu dan fiktif.
Tapi, maukah manusia membiarkan Tuhan beristirahat dalam damai ?
gambar diambil dari sini







Susah memang untuk berbuat mandiri…
Eh ini bukan tentang kemandirian manusia ya, tetapi kepengecutan manusia dan perbudakan Tuhan oleh manusia…
Manusia mana mungkin membiarkan Tuhan beristirahat. Soalnya kan diajarinnya kalo Tuhan itu Tidak Lelah Mengurus Hamba-Nya dan Tidak Tidur.
setubuh…. eh setujuh.
Banyak yang sok kenal dan sok dekat dengan Tuhan
Tuhan tak perlu dibela…..gak butuh….apalagi disuruh istirahat…..gak butuh……
sepertinya Tuhan ga perlu semua itu ya …
[...] manusia malah membela tumpah darahnya pada agama yang dianut, seharusnya dia tinggal tidur pulas di kediamannya di Surga (mungkin Firdaus; dalam konteks agama saya). Atau mungkin malah membunuh diri – Nya [...]
Beh…
Banyak yang mengatasnamakan Tuhan untuk merusak rumah ibadah orang, masih banyak…
Mungkin karena Tuhan itu hanya imajinasi saja? Jadi bisa di bentuk sekehendak hati .
sepertinya susah. Tapi saya doakan semoga bisa deh.
kenapa Tuhan dijadikan alat?
saya koq melihat sisi-sisi bertolak belakang di tulisan yang anda buat…
satu sisi anda mengatakan tidak usah menggunakan Tuhan sebagai alat.. eh disisi lain ternyata anda menggunakan Tuhan untuk menjadikannya RIP…
Sama aja anda dengan teman2 yang lain yang mengatas namakan Tuhan kalo gitu…
Heemmm…
Sebaiknya berhati-hati pak, sebagian kita mungkin cenderung keliru menafsirkan kata-kata…
Tuhan tidak pernah beristirahat bukan?
Fer, pertanyaan gw: kalau nama loe dicatut oleh seseorang/sekelompok orang untuk kepentingan mereka, apakah itu artinya loe tidak beristirahat
? Apakah itu berarti loe menjadi “tawanan” dari kepentingan orang2 lain
?
Menurut gw sih itu yang terjadi pada Tuhan. Tuhannya sih udah istirahat dengan damai
Gak merasa jadi tawanan or whatever.
He [God] is just capable of being indifference, not trapped in love-hate, like-dislike, favor-distaste, etc
Jadi ingetlagi katasiapaitu: “Selama ini Tuhan hanyalah seperti anjing herder yang selalu disuruh-suruh untuk menggigit setiap musuh tuannya”
)
Tapi bener tuh kata -may- diatas, tuhan sebenernya udah ga peduli, mau namanya dipake gimana juga ga akan bertindak apa-apa. Buktinya, selama ini namanya dipake jahat, dipake saling bunuh, dia juga ga ada komplen kan?
Jangan-jangan bukan hanya tak peduli, tapi memang sudah mati beneran
@ All :
Sepertinya tulisan ini benar-benar tersirat. Dari sekian banyak komentar, sepertinya belum ada yang menangkap something behind the lines…
Tulisan diatas hanyalah kiasan. Kalau ada yang berbeda menangkap arti kiasan, sekali lagi slogan saya cuma satu : Death of the Blogger…
*menerka-nerka*
Ini… Kampanye pemikiran sekularisme kah?
*pro sekularisme*
*ikutan nebak ah*
mungkin bang fertob hendak menyuruh kita yang istirahat.
Eh bang, requescat itu artinya apa sih?
@ deking :
bukan mas deking, sekali lagi bukan….
@ hana :
iya mbak, Tuhan itu tidak lelah, tapi manusia bisa membuat Tuhan “lelah”… *kiasan lagi…*
@ leviathan :
setuju apa mas… ?
setuju kalau tulisan saya diatas kiasan ?
@ geddoe :
saya juga terkadang SKSD sama Tuhan…
@ Joerig :
nggak perlu “semua” apa teh ?
@ chaosregion :
banyak dan amat sangat banyak…
@ danalingga :
semoga mas dana, saya nggak mendoakan tapi cuma berharap (sebelum berhenti berharap)
@ thewanderer79 :
iya, Tuhan nggak butuh dibela, disuruh istirohat, dan lain sebagainya (siapa yang nyuruh Tuhan istirahat ?)
Tapi Tuhan nggak nyuruh saya berhenti menulis kiasan kan ?
@ arul :
hehehe… anda terlalu harafiah membaca sebuah teks yang berisi makna kiasan.
@ mansup :
bukannya kita sudah terbiasa dengan penafsiran yang berbeda dari teks yang sama ?
bahkan teks yang tidak mempunyai makna konotatif saja bisa ditafsirkan berbeda, apalagi teks diatas yang bermakna konotatif ?
*saya akan berhati-hati*
@ mbak maya :
yup, Tuhan tidak terjebak dalam dirinNya sendiri, tetapi Tuhan terjebak dalam “kepentingan manusia”.
Tuhan yang being-in-him/herself tidak pernah beristirahat dan sudah beristirahat dalam damai (paradox…?)
tapi Tuhan yang being-in-human interest tidak pernah beristirahat dan menjadi tawanan manusia.
@ Guh :
Tuhan sudah mati di dalam diri orang yang telah mematikanNya….
@ Kopral Geddoe :
bukan mas…
ini kampanye pemikiran filsafat yang terselubung… spiritualisme yang terkikis religiuisme….
*saya juga pro-sekularisme*
@ dana :
ada betulnya mas, kita manusia yang beristirahat dan mengistirahatkan “oknum” lain…
requiescat artinya rest (beristirahat) atau lengkapnya rest ini peace…
requiem…requiem….
Aha! Apa ini tentang divine providence?
Bagaimana manusia memperbudak Tuhannya?
Lho, dimoderasi
[...] 21st, 2007 by fertobhades Saya sempat kaget melihat tulisan saya sebelumnya (Requiescat in Pace : Tuhan) kebanyakan ditanggapi dengan harafiah. Saya perlu menegaskan bahwa tulisan itu murni bermakna [...]
tuhan ada nggak ya tanpa manusia ?
@ Mas Joyo
Tergantung Tuhan itu apa dulu
Bentar Bang…jadi penasaran nich kira-kira pesan apa dibalik tulisan ini…
Saya baca lagi dulu ya Bang
Nice posting bung! Cool , tidak memihak tapi sebenernya pakai perspektif ajaran mana ni kok terlihat sangat universal?
@ Geddoe :
hahahaaa… mas Geddoe ini benar-benar rajin menebak.
tulisan ini bisa berarti apa saja kok mas, bisa juga dibawa ke konsep pelacuran… *lho..*
@ joyo :
yup betul, tergantung tuhan apa dulu, seperti kata Geddoe…
@ deking :
nggak usah mas deking…. ini ciri-ciri tulisan aneh disaat otakku lagi susah berkonsentrasi. jadinya ngawur dan maknanya bisa ambigu…
@ evelyn :
ini nggak pakai ajaran dan perspektif manapun, ini cuma tulisan yang ditulis dengan “ngawur” dengan perspektif pribadi. maknanya bisa macam-macam…
wah Mas berat juga
saya jadi mikir nih
analoginya kayak Tuhan yang dimanusiakan
dan Tuhan yang diTuhankan
hmm kalau Tuhan Yang Tuhan….wah mesti mikir lagi nih
salam damai
@fertobhades :: saya mengerti koq kalo itu kiasan, tapi kan tulisan anda juga menyinggung anda sendiri
@Kopral n Bang Fertob
tuhan = Alat yang digunakan manusia untuk memenuhi kepentingannya
Tuhan lagi ngakak baca postingan ini..
[...] di debat. Dengan kata lain, “keajaiban” tersebut sudah mendekati kata malaikat atau bahkan Tuhan, karena sama sama [...]