Mau nulis apa ya ?
Sebenarnya banyak yang mau ditulis. Ide di kepala sangat banyak tetapi sangat susah untuk diwujudkan, dan kebanyakan hambatannya adalah pada niat.
Jadi saya tulis yang gado-gado saja.
*************
Gado-Gado #1 (kebanyakan garam)
Ada fenomena baru di WordPress. Ada blogger “aneh”.
Aneh bin ajaib. [anda tau maksud saya kan ?] Bukan maksud saya untuk menuliskannya lagi, karena banyak yang sudah menuliskannya [dan memaki-makinya]. Ini saya tulis hanya sebagai sebuah analisa sempit saja.
Fenomena blogger aneh bin ajaib ini adalah “memanipulasi komentar“.
Mengapa si blogger perlu untuk memanipulasi komentar ? Apa ada yang diuntungkan dari tindakan itu ? Kalau yang dirugikan saya yakin banyak, karena komentarnya masih menyisakan link pada si pemberi komentar. Apa ada yang salah dengan komentar-komentar yang diberikan oleh blogger yang lain ?
Saya mengandaikan sebuah KOMENTAR adalah sama dengan Hak Jawab yang tertulis dalam Pasal 1 ayat 11 Undang-undang No 40 Tahun 1999 tentang Pers. Sebenarnya tidak sama persis konteks dan konsepnya, tapi kita bisa mengandaikannya dengan cara itu. Jika ada suatu tulisan yang “mengganggu” dari seorang blogger [tentang apa saja] maka blogger lain [atau orang lain] berhak untuk menuliskan jawaban [yang bisa berupa kontra-argumen] terhadap tulisan itu.
Dan seharusnya itu dihargai, tanpa manipulasi.
Memang seorang blogger punya Hak untuk tidak meng-approve atau menghapus sebuah komentar yang menurutnya bertentangan dengan ide-idenya dan opininya. Jawabannya sederhana saja : TOLAK atau HAPUS. Itu saja. Penliaian yang diberikan oleh kedua tindakan ini masih dibatas kewajaran. Dan saya tidak akan pernah tersinggung atau marah kalau komentar saya ditolak atau dihapus.
Tetapi memanipulasi komentar ?
Saya ingin mengaitkannya dengan etika. Tetapi saya tahu bahwa blogger seperti ini sudah bisa kita ketahui ETIKA-nya. Blogger banyak yang pintar, cerdas, berwawasan luas, jenius, dan lain-lain kemampuan otak. Tapi ukurannya sebagai seorang blogger yang juga manusia, menurut saya, bukanlah pada batas kecerdasan dan pengetahuan. Yang terpenting yang membedakan setiap setiap blogger [as a human] adalah ETIKA-nya.
Tindakan seperti itu (memanipulasi komentar) adalah tindakan tidak beretika. Dalam bahasa kasarnya tidak bermoral (immoral and not immortal)
Saya punya beberapa asumsi awal tentang karakteristik blogger seperti ini.
1. Tidak Bisa dan Tidak Mau Berdiskusi
Blogger tipe ini adalah tipe orang yang tidak bisa dan tidak mau berdiskusi. Informasi dan opini yang diberikan hanyalah bersifat satu arah (one-liner) tanpa membuka diskusi terhadap suatu argumen. Tipe ini adalah tipe otoriter dan diktator, yang selalu merasa bahwa pendapatnya yang paling benar, sementara pendapat (komentar) yang mengkritik argumennya selalu dan selalu salah.
Orang-orang dengan tipe pikiran yang close minded adalah termasuk pada jenis ini. Tidak bisa membuka dirinya terhadap pikiran dan pendapat dari orang lain.
2. Argumennya Lemah
Apa yang dituliskan oleh seorang blogger seharusnya bisa dipertanggungjawabkan. Jika itu berkaitan dengan ilmu maka bisa dipertanggungjawabkan secara ilmu juga. Minimal pertanggungjawabannya adalah pada hati nurani masing-masing.
Tipe blogger seperti diatas adalah orang yang menuliskan sesuatu [yang menyerang pemikiran lain] dengan dasar argumentasi yang lemah. Ketika argumennya tersebut bisa dilawan (counter-argument), maka tindakan yang paling mudah [selain menolak dan menghapus] adalah memanipulasi komentar.
Argumen yang lemah sering didasari pada usaha asal bunyi alias asal bersuara. Jika tidak suka maka ketidaksukaannya ini dirasionalkan dan dianggap sebagai suatu pembenaran, sementara inti dari ketidaksukaan bukanlah rasio tetapi perasaan dan selera.
3. Mencari Perhatian
Orang-orang dengan sensation-seeking yang tinggi memang cenderung untuk melakukan beberapa tindakan agar mereka dianggap ada. Keberadaan mereka diakui walaupun dengan cara yang “lain”. Istilahnya, “Jika anda mau terkenal, dan anda tidak tahu caranya, maka loncatlah dari Monas“. Dan besok semua berita akan memuatnya, dan anda akan terkenal walaupun mati.
Tindakan memanipulasi komentar adalah tindakan yang bisa dikatakan mencari perhatian. Menulis sesuatu yang kontroversial dan mengarahkan komentar agar mendukung argumen kontroversial itu juga adalah mencari perhatian.
4. Takut
Ada sebuah prinsip yang pernah saya baca dari buku-buku detektif (Agatha Cristie, dll). Intinya adalah : Jika seseorang melakukan sebuah kejahatan (kesalahan), maka dia cenderung untuk berbuat kejahatan (kesalahan) yang lain untuk menutupi kejahatan (kesalahan) awalnya. Begitu seterusnya, dan itu seperti lingkaran setan yang tidak ketemu ujung pangkalnya.
Apa dasarnya berbuat seperti itu ? Ketakutan. Ketakutan bahwa apa yang telah dilakukan (membuat suatu opini) akan berbalik menelanjangi dirinya sendiri. Takut bahwa dia sendiri ternyata mempunyai pengetahuan yang cetek tentang suatu masalah tetapi sudah berkoar-koar di depan umum bahwa dia jagoan di suatu bidang.
Orang-orang yang pengetahuannya masih dangkal terhadap suatu masalah biasanya yang seperti ini. Pengetahuan Dangkal —> Berkoar-koar —> Dikritik —> Takut —-> Tindakan Irasional.
Analogi yang saya pakai adalah analogi mekanisme pertahanan diri ala Freud.
5. Pengecut dan Cari Musuh
Ada juga orang-orang dengan tipe sengaja mencari musuh. Bukan musuh dalam pemikiran tetapi musuh dalam perbuatan dan tindakan. Terkadang kita perlu mencari “musuh” pemikiran untuk mengasah kemampuan kita berpikir, dan selama dilakukan dengan cara yang benar, maka itu sangatlah berguna.
Tetapi mencari musuh karena perbuatan dan tindakan kita memang menimbulkan permusuhan, itu masalah lain. Setiap blogger punya hak terhadap blognya, termasuk setuju-tidak setuju terhadap komentar yang datang. Tetapi jika suatu tindakan di dunia blog yang sengaja mencari permusuhan [dengan cara memanipulasi komentar] maka tindakan itu tidak lebih dari sikap kepengecutan.
6. “Pemberontak” Norma
Ada memang orang-orang tertentu yang mempunyai kecenderungan untuk memberontak terhadap norma dan nilai yang dianut. Bahkan terhadap nilai-nilai etika. Kecenderungan untuk sosiopat ini memang bisa terjadi dengan berbagai sebab.
Tetapi yang paling parah dari kecenderungan ini adalah “tidak merasa bersalah atas apa yang dilakukannya“. Jika saya menampar (memanipulasi komentar) seseorang tanpa alasan dan saya tidak merasa bersalah atas perbuatan itu, tentunya saya bisa diragukan norma dan nilai yang saya punya.
Ketumpulan hati nurani ? Kesalahan logika ? Gangguan psikologi ? Entahlah, saya tidak ingin menjawabnya, walaupun sejuta penjelasan bisa mengikutinya.
7. Anonimitas
BungTante Chika pernah menulis tentang blogger anonim ini, Hargai Blogger Anonim. Saya tidak menyalahkan anonimitas sebagai penyebab (sebab-akibat) dari tindakan itu. Nanti saya bisa digebuki blogger-blogger lain yang anonim.
Bukan anonimitas yang menjadi sebab. Tapi, menurut beberapa teori psikologi sosial (mau dituliskan sumbernya ?)
kondisi anonimitas membuka kemungkinan besar bagi timbulnya kondisi deindividuasi. Memang ini konsep dalam kelompok. Tapi anonimitas menurunkan batasan-batasan moral dari seseorang dalam bertindak, karena tindakannya tidak pernah bisa disangkutkan dengan sebuah individu yang diketahui. Siapa udang dibalik batu dan siapa monyet diatas pohon tidak ketahuan.
Bayangkan….. *bayangkan sekali lagi*
jika anda memakai Invisibility Cloak-nya Harry Potter. Apa yang pertama kali terpikir oleh anda ? Saya yakin 68% pasti pikiran-pikiran jahat, usil, dan iseng. Dan anda menjadi seperti itu karena berlindung dibalik invisibility cloak, dan seorang blogger bisa [mempunyai kemungkinan besar] menjadikan anonimitas sebagai invisibility cloak-nya.
8. dan lain-lain…
Bisa saja ada yang mengatakan saya menghakimi. Tetapi saya menghakimi suatu perbuatan tidak beretika alias tidak bermoral (immoral). Mengenai argumen etikanya (mengapa tindakan itu tidak beretika) jangan tanya saya, tanyakan saja pada dua guru besar etika saya, F dan K. (sorry guru…)
*************
Gado-Gado #2 (nggak pake garam)
Saya memang senang main game RPG di konsol apapun (komputer termasuk konsol nggak ?). Dan sekarang sedang main Suikoden V yang tidak tahu kapan habisnya karena kelamaan dicicil. Maklum sibuk.
Tapi ada satu quote (dari sekian banyak quote) di game tersebut yang cukup membuat saya terpukau dan terpana seperti melihat bangkai kembang afi tanpa Heineken. Quote-nya seperti ini :
keep your friend close and your enemy closer
(Lady Sialeeds, Suikoden V)
Saya baru tahu kalau ada “pepatah” seperti itu. Sialeeds boleh saja cantik, seksi dan montok, tetapi pendapatnya dia menurut saya hampir meruntuhkan tesis saya tentang Anda Harus Punya Musuh.
Dari hasil googling, saya tahu kalau ternyata quote itu pernah diucapkan oleh Don Michael Corleone dalam film The Godfather. Saya pernah menontonnya, tapi lupa dengan ucapan itu. Dan setelah menontonnya lagi, ucapan itu dikeluarkan oleh Don Corleone ketika ada anggota keluarganya (abangnya) yang berkhianat terhadap dirinya.
Tapi bukan Don Corleone yang pertama kali mengucapkan kalimat itu. Di banyak artikel, hampir semua merujuk ke Don Corleone. Bahkan ada yang mengkaitkannya dengan ucapan Mr. Bush “either you with us, or against us“. Yang pertama kali mengucapkannya adalah Sun Tzu (Sun Wu), dan kalimat aslinya adalah :
To know your Enemy, you must become your Enemy…Keep your Friends close and your Enemies closer
Saya dapat dari mana ? Cari tahu sendiri ya….
Sebenarnya saya ingin membedahnya lebih dalam, tetapi setelah melalui pertimbangan masak-masak (saya suka masak) maka hal itu tidak saya lakukan. Mengapa ?
Banyak anggapan kalau musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Saya cukup setuju dengan pendapat itu. Jika kita “berperang”, maka lawan terbesar yang paling sulit kita kalahkan adalah berperang melawan keinginan-keinginan dalam diri.
Tapi ada kontradiksi memang disitu. Kita adalah orang yang paling tahu diri kita sendiri, sementara kita paling sulit melawan diri kita sendiri.
Dan dilain pihak Opa Sun Tzu juga pernah berucap :
Know thy enemy and know thyself, find naught in fear for 100 battles. Know thyself but not thy enemy, find level of loss and victory. Know thy enemy but not thyself, wallow in defeat everytime
Dan jika MUSUH = DIRI SENDIRI, maka quote itu akan berputar-putar disekitar diri kita sendiri.
Sudah ? Iya sudah sampai disini saja. Saya lagi malas jadi PSK.
*************
ps : sepertinya saya mulai ber ad-hominem di tulisan ini. maaf sejuta maaf, karena saya beradhominem tanpa menunjuk langsung pada orang (sementara syarat ad-hominem adalah adanya obyek langsung yang diserang). jika ada yang menganggap tulisan diatas adalah ad-hominem, maka itu adalah kesalahan asosiasi anda.
*psk = pemikir sok kritis*







bo gado2nya bang fertob emang joss… sayah mo nulis ini ternyata bang fertob malah analisanya lebih mendalam dan bener2 mantap deh
*scrol baca lagi*
uhmmm memang bener sih kalo diliat “dia” sedikit edun dikit.. btw ada blogger yg kenal dia jga dan katanya
*ga tau cara link ke comment asli
*
so paleng emang terkucilkan dari dunia sosial dengan ide2 liar yang cocok dalam mimpi kali ya bang
Tambah satu lagi boleh gak Bang?
Bagaimana kalau ditambah abnormal
Soal dia mau nulis apa itu sih terserah. Blog punya dia sendiri, jadi mau nulis apapun terserahlah…. tapi kalau berani menulis artinya berani juga kalau ada yang tidak setuju dengan tulisan nya…. IMO ya bang…..
maap kalau OOT
tapi….
yup…. i agree with that….
Nggak tahu siapa yang dimaksud, secara saya bukan anak wordpress
Tapi mau ngomentarin kutipan Sialeeds… hehehe… Saya sempat mikir: kok mirip Don Corleone? Eeeh.. ternyata emang Lady Sialeeds ngambil dari situ. Tapi malah baru tahu kalau Don Corleone juga pinjam dari Sun Tzu
wow, pembahasannya lengkap dan langsung kena. btw kenapa saya ditulis tante?!?!
saya khan masih muda!!
hapus kata “tante” itu!
*nyiapin bom kentut buat om fertob*
tetapi sepertinya memang cukup susah untuk mengenal diri (jujur pada diri) sendiri mas … setidaknya ada (kalau tidak ingin disebut mayoritas) yang tidak mampu melakukannya.
bukankah masih banyak dari kita yang mengunggulkan diri, bicara di luar kemampuan … dan berbagai pengingkaran lain pada diri ini.
Hehehe, saya yakin, dapat angka 68% pasti dari ’sang pakar’. Huehehe.
Saya mau ngomentari masalah etika, Om Fertob. Sebab baru beberapa hari yang lalu, saya dan teman-teman diskusi masalah etika internet. Secara Wikipedia NL di down kan oleh pemerintah NL selama dua hari. Dan Wikipedia RRC, dibredel paksa oleh pemerintah Cina. Semuanya cuma gara-gara etika.
Kalau mau bicara etika, saya setuju sama Bertrand Russel. Bahwa untuk menegakkan etika, maka seharusnya ada kontrol. Nah kalau bicara soal kontrol, mau tidak mau, kita akan berbenturan dengan penguasa.
Contoh: Banyak orang yang muak dengan situs-situs paedofili. Namun, apa yang bisa mereka lakukan? Internet adalah perpustakaan yang bebas-sebebas-bebasnya. Apa solusinya untuk menekan pertumbuhan situs kaum pedofil? Mau di diface? Mau di hack? Dijebol servernya? Digebukin admin dan webdevelopernya? Di hancurkan pakai teknik exploit terbaru? Di suntik bug?
Opsi Jawab 1: “Nggak mungkin. Pola mekanisme pertahanan diri seperti itu hanya akan membuat konsep mati satu tumbuh seribu pada situs-situs paedofil”.
Opsi Jawab 2: “Kalau opsi satu ga bisa, gimana kalo kita rame-rame demo ke pemerintah sebagai personifikasi penguasa geografis tempat kita tinggal, untuk menutup/memblokade konten paedofil”.
Kalau memang mau bicara etika. Seharusnya sudah terjadi kesepakatan terlebih dahulu untuk membicarakan hal-hal yang menyangkut etika. Entah tertulis, entah terucap, entah terbisikkan (*ceilee, mirip orang pacaran aje, pake acara bisik-bisikan segala, hehe*). Dan para pemenuh ajakan beretika itu, secara otomatis, akan naik derajatnya menjadi ‘orang yang beretika’. Hingga saat ini, etika dalam dunia blog adalah Term Of Service ketika pertama kali mendaftarkan ke situs blog gratisan. Tapi pertanyaan lanjutan adalah, gimana kalo saya nggak pake blog gratisan? Saya adalah tuhan bagi blog saya dong? Saya bebas berbuat apa saja di blog saya, mau nungging kek, mau mutilasi komen kek, mau jedotin pala ke tembok kek, bebas dong?
Saya pribadi, menilai bahwa mutilasi komentar adalah hal yang rendah dan cabul. Analoginya tentu tidak bisa disamakaan dengan paedofilia. Tapi, ’sakitnya´ si pemutilasi, kurang lebih sama dengan si paedofili. Namun, apa obat untuk membantu si sakit agar sembuh? Melemparkan SPAM yang sama bertubi-tubi sebagaimana ia menyepam/melecehkan komentar kita? Atau meminta pada ‘para penguasa’ agar tulisannya dibinasakan? (*Setahu saya, apabila tidak melanggar Term Of Service, maka sebuah blog masih layak hidup*)
Sampai saat ini, saya bertanya-tanya. Dan selalu bertanya-tanya. Apakah kebebasan demokrasi blog yang saat ini kita hirup memang membebaskan para ‘orang sakit’ untuk menghina dan melecehkan saya? Ataukah saya yang terlalu jumawa, angkuh dan arogan, hanya untuk melihat pendapat yang berbeda?
Saya masih tetap bertanya-tanya. Sebab dalam diskusi kemarin, kami gagal melihat kecenderungan pemerataan kelas pada budaya internet masyarakat dunia. Khususnya, masyarakat internet Indonesia. Sebab apabila semua manusia punya blog, maka mereka tetap saja akan berkumpul dengan orang-orang yang dianggapnya sepaham. Yang doyan anjing, bakalan kumpul ama yang doyan anjing. Yang doyan mabok, bakalan nongkrong ama yang doyan mabok. Kumpulnya para manusia yang berhobi sama itu, tidak lagi melalui tatap muka, melainkan tentu saja melalui blog.
Tapi, diskusi itu masih terus berlanjut. Sebab kami memang belum tahu apa jawabnya.
(*Om Fertob, maap. Komennya ga kira-kira panjang kayak gini. Sama-sama mohon maap menjelang puasa euy. Hehehe*)
@ almas :
dunia maya memang membuat seseorang “tampil lain” dibandingkan di dunia nyata mas….
seperti ada ungkapan “on internet, nobody will know if you are a dog”
@ deking :
abnormal ? waduh, belum sejauh itu saya mendefinisikannya
mungkin perlu didiagnosis dulu…
@ itikkecil :
betul mbak, apapun yang ditulis dia do blognya adalah haknya. dengan kata lain, dia jadi tuhan buat blognya sendiri. tapi dia sudah menempatkan dirinya jadi tuhan buat komentar orang lain
@ mbak maya :
makanya gabung ke wordpress, mbak…
atau perlu saya komporin lagi ?
sumber : Sun Tzu : The Art of War
@ cK :
wuiih… galak amat
bukannya dulu pernah nulis, katanya sudah punya keponakan ? berarti saya salah ya ?
maapin deh….
ok, hak jawab diterima…
@ watonist :
betul mas…. tetapi memahami diri itu kalau dalam konsep Sun Tzu adalah memahami kelemahan dan kekuatan diri sendiri.
@ bangaiptop :
jangan-jangan sang pakar nggak tau darimana dapat 68% itu (asal ngecap doang…)
Saya cukup setuju dengan pendapat Russel, tapi dengan beberapa tambahan. Etika yang dimaksud adalah etika/norma hukum. Kalau etika yang dimaksud adalah moralitas warga negara, kita justru akan menyaksikan negara menjadi pengontrol moralitas warganya. sesuatu yang selalu diperdebatkan dari dulu, tetapi saya berada pada pihak yang menentang (dengan banyak alasan tentunya…).
Etika tidak selalu berujung pada tindakan hukum, bang. Argumen etika berkembang di masyarakat sebagai hasil dari kristalisasi (ciee.. bahasanya
) nilai-nilai yang dimiliki suatu masyarakat. Dan itu berkembang dan berevolusi. Kebebasan di dunia internet, sepanjang tidak melanggar hukum, menurut saya, masih dapat ditolerir. Tapi etika selalu menilai tindakan itu dengan argumen-argumennya, mengapa sebuah perbuatan melanggar etika, dan mengapa yang lain. Dan jika perbuatan itu dirasa sudah melanggar norma hukum, jalan satu-satunya ya ditangkap
dan digebuki.Dan paedofilia memang [secara umum di berbagai negara] melanggar hukum kan ? Beda sama prostitusi, yang bisa berbeda-beda pemahamannya tiap negara. Jadi ingat waktu piala dunia kemarin, para penonton PD diminta untuk memakai kondom kalau berkunjung ke tempat prostitusi dan menghindari tempat prostitusi yang tidak terdaftar. Itu karena prostitusi legal di jerman, dengan syarat terdaftar. jadi ada pelacur terdaftar dan pelacur tidak terdaftar.
Saya cuma menilai dengan parameter tertentu. Kebebasan “si dia” untuk menghina agama itu bukan urusan saya. Itu tergantung caranya memahami agamanya. Tetapi perbuatan “memanipulasi” menurut penilaian saya, itu melanggar nilai etika. Apakah itu berujung pada koridor hukum atau tidak, saya nggak tau.
Mungkin karena Blogger berbeda dengan wartawan yang punya kode etik, atau dengan profesi yang lain. Atau mungkin Bangaip mengusulkan adanya kode etik blogger yang berisi larangan dan ancaman hukuman jika dilanggar, serta dikontrol oleh pemerintah ?
betul bang, tidak ada kata final dalam suatu penilaian etika, karena obyek yang dinilai terus berkembang.
*OOT*
emang punya keponakan sih…tapi saya masih muda™ *prostest™*
misuh-misuhnya sekarang aja. mumpung belum puasa huehehehe…
btw maaf lahir bathin ya om kalau saya ada salah…
*padahal barusan misuh misuh*
yah… komenku ketelen akismet om…
*terpesona aja bacanya*
ckckck
telaahnya sangat mantabs^^
Interupsi sebentar soal Sialeeds, Don Corleone, dan Sun Tzu. Kalau The Don memang jelas kupipes dari Sun Tzu, tapi kayaknya Sialeeds bukan nyontek The Don, melainkan sama-sama ngambil referensi dari Sun Tzu itu sendiri.
Soalnya kalau nggak salah franchise game ini memang sering mengutip filosofi Cina klasik.
@ fertob
Uhhm… mungkin dulu ya? Kalo meliat lonjakan pengguna internet dan sosok-sosok anonymous, sepertinya yang tepat malah: “on internet, everybody knows you’re a dog”.
Jadi, kalo udah masuk ke dunia virtual, don’t ever try to cover yourself… di luar lingkungan virtual tiap individu selalu ada orang2 yang sudah siap dengan prejudice “you’re a dog… no matter what you write or what you say… I don’t believe you ’till I know you better than just a name…”
Betewe, saya sendiri orang yang gak megang teguh prinsip begini. Tapi setidaknya ini berguna kalo bertemu sosok-sosok “mengecewakan” seperti queen-you-know-who™
@ cK :
berarti resmi kan dipanggil TANTE
@ K :
jangan keterusan mas terpesonanya, ntar tersedak….
@ Geddoe :
berarti Don Corleone ngutip dari Sun Tzu juga ya ? atau jangan-jangan kalimat itu juga sudah ada sebelumnya di tradisi Sicillia, tanpa mengutip dari Opa Sun Tzu…
@ alex :
hahaha… bisa jadi. kalau di dunia maya memang bisa saja “on internet, everybody knows you’re a dog”, tapi setelah ketemuan (kopdar) dan saling bertukar pikiran, bisa saja jadi : “man, he/she is really a big dog”
atau “you are a dog, but only in my imagination”
Om Fertob,
“Pertama, sori diskusinya kepotong. Padahal masih banyak yang mau saya diskusikan bersama. Akhir-akhir ini sibuk euy. Hehe”.
Mengenai kontrol terhadap blogger, saya pikir blogger bernama Sora9n dan DamaR Berlari sudah menuliskannya (atau menyenggolnya). Tapi intinya mah, saya berharap (dan akan berusaha) agar tidak terjadi sensor blog dari pemerintah. Sebab apa yag terjadi di negara tetangga (malaysia), sensor blog bukan memperbaiki masalah, malah memperumit.
Yang jadi pertanyaan, ketika tidak ada kontrol terhadap dunia blog, bagaimana kita bisa mengetahui konsep etika yang ada di sana?
(sori kalau ad hominem, sebab saya berangkat dari tesis bahwa kontrol, etika, dan moral, berada pada kerangka yang bersaudara).