Apa yang terjadi di blogsphere selama 2 minggu ini ?
Sebelum menulis postingan ini, saya sempat main-main ke blognya Chaos Region (DeBe) dan membaca postingan War at Indonesian WordPress. Ada 5 perang yang tertulis disitu dan saya menyempatkan diri untuk menelusurinya satu-satu. Lumayan ramai dan menegangkan walaupun ada juga yang perang jaman dulu.
Tapi saya cuma sedikit heran, di Perang #4 (The Sunset versus the Sunrise) saya tidak bisa menelusurinya lebih jauh. Blognya Ade tidak bisa diakses. Kenapa ? Apakah si pemilik blog telah menghapusnya ? Atau dijadikan restricted area ? Padahal saya termasuk pengunjung setia blog itu meskipun hanya sekedar pembaca saja dan sangat jarang memberikan komentar (hanya 1 komentar kalau nggak salah).
Blog itu (Ade/Sayap) mengajarkan banyak hal pada saya. Terlepas dari polemik palsu-asli atau tuduhan memanipulasi penderitaan, tapi setidaknya memberikan pelajaran bahwa begitu banyak cerita-cerita dibalik penderitaan seseorang. Membuat saya bertambah sadar akan arti sebuah perjuangan.
******************
Dua minggu kemarin saya offline dari dunia perblogan karena ada urusan yang sangat mendesak. Menempuh perjalanan ke beberapa kota sekaligus dan pulang dengan membawa rasa capek.
Dimulai dari Bandung, lalu ke Jakarta, terbang ke Pekanbaru, naik mobil ke Padangsidempuan, balik lagi ke Pekanbaru, dan akhirnya terbang lagi ke Jakarta.
Banyak cerita yang menarik, banyak pemandangan indah yang bisa dilihat, banyak pengalaman yang bisa didapat, dan banyak pelajaran yang bisa diraih. Sangat banyak.
Tetapi ada satu kejadian yang selalu menimpa diri saya selama menempuh perjalanan itu. Semuanya terjadi berurutan di 3 kota [dari 4 kota] yang saya kunjungi. Dan semuanya berhubungan dengan satu hal sepele di negeri ini :
A n t r i

what the hell ?
Pengalaman Pertama
Pengalaman Pertama berhubungan dengan antri saya dapatkan di Bandung. Waktu itu saya hendak berangkat ke Jakarta dengan menggunakan mobil travel Cipaganti di Bandung Trade Center (BTC) di kawasan Pasteur.
Saya sedang mengantri untuk mendapatkan tiket yang telah dipesan sebelumnya. Di depan saya ada seorang bapak, sementara antrian saya nomor 2. Tiba-tiba, tanpa ada hujan dan petir,
seorang ibu-ibu (agak tua) langsung menyalip [atau menyerobot] giliran saya ketika bapak yang di depan saya itu selesai. Saya terpana, kaget, dan tidak bisa berbuat apa-apa. Cuma memaki dalam hati dan menunjukkan ekspresi wajah kesal, yang herannya, dihadapi dengan pandangan tak bersalah.
Sabar….sabar….sabar Fer ! Katanya orang sabar disayang pacar.
Pengalaman Kedua
Pengalaman Kedua terjadi ketika saya mengantri untuk check in di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta dalam penerbangan menuju Pekanbaru. Kali ini antrian agak panjang dan saya berada di antrian ke 7 atau 8. Ketika maju dan semakin dekat ke counter check-in, peristiwa itu terulang lagi, tepat di hari yang sama dengan penyerobotan di Bandung.
Kali ini seorang bapak yang kelihatan tergesa-gesa menyerobot antrian saya. Mungkin dia terburu-buru karena terlambat check in sementara pesawatnya akan segera terbang. Tapi kali ini saya cepat sadar, dan dengan sopan saya memperingatkan bapak itu untuk antri. Untungnya dia sadar.
Fuiihhhh…. 2 kejadian yang sama di hari yang sama. Mimpi apa semalam.
Pengalaman Ketiga
Pengalaman Ketiga terjadi di Pekanbaru 2 minggu sesudahnya. Di Bandara Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru, saya mengantri check in pesawat untuk kembali ke Jakarta. Antriannya tidak terlalu panjang, hanya sekitar 6 orang termasuk saya.
Dan tiba-tiba, tanpa ada banjir dan tsunami,
seorang cewek cakep binti cantik menyerobot antrian saya. Ada juga cewek cakep di Pekanbaru ya ?
Dan sama seperti kejadian di Bandung, saya cuma terpana dan kaget. Terpana menikmati kecantikan cewek itu dan kaget karena diserobot. Dan lagi-lagi cuma bisa memaki dalam hati, “cakep-cakep kok tukang nyerobot…”
Sabar…sabar Fer ! Orang sabar katanya bisa kena cacar.
Ada apa dengan nasib saya yang sering diserobot waktu mengantri ? Dan kenapa juga saya selalu tidak bisa berbuat apa-apa kalau yang menyerobot itu berjenis kelamin perempuan. Sorry, saya tidak bias gender, tapi mungkin disitulah kelemahan saya…[maksudnya lemah sama perempuan]
******************
Ada Apa Dengan Antri (AADA) ?
Apakah kita termasuk orang yang sulit untuk mengantri ? Mengapa antri sepertinya jadi sebuah hal yang susah untuk dimengerti ? Apakah antri berhubungan dngan ketidaksabaran dan temperamen seseorang ? Atau antri berhubungan dengan masalah disiplin yang katanya masih sangat rendah di negeri ini ?
Tenang saja. Saya tidak akan membahasnya dengan segudang teori-teori psikologi [sosial]. Nanti makin rumit dan pusing.
1. Budaya Antri
Apakah antri itu suatu budaya, atau lebih jelasnya produk dari suatu budaya ?
Tapi sebelumnya, apa itu budaya ? Anda bisa lihat di tante wikipedia [di sini]. Dengan bahasa sederhana, budaya adalah semua yang dihasilkan dari suatu komunitas, baik itu pemikiran, tingkah laku, kepercayaan, hukum, benda, teknologi, dan apapun itu yang juga diwariskan dari generasi ke generasi. Ada juga yang mendefinisikan budaya sebagai cara hidup dari suatu masyarakat. Budaya dan produk budaya biasanya merupakan suatu kesatuan.
Sangat luas memang. Tapi dari definisi itu kita bisa secara cepat mengatakan ANTRI juga adalah BUDAYA, atau lebih tepatnya PRODUK dari suatu BUDAYA.
Jadi antri itu budaya ? Iya, itu jelas. Antri lahir dari peradaban manusia.
2. Membudayakan Antri
Lalu, kalau antri adalah [produk] budaya, mengapa antri masih belum membudaya [khususnya di negeri ini] ?
Hehehehe…. ada yang mau jawab ? Bisa pecah kepala saya kalau berusaha menjawabnya.
Membudayakan antri adalah membuat sebuah tingkah laku bernama antri menjadi bagian dari kehidupan manusia di negeri ini. Membudayakan antri berarti menjadikan antri memasyarakat. Lalu apa yang terjadi dengan manusia-manusia yang tidak mau mengantri, apakah sama dengan manusia yang tidak berbudaya ?
Hohoho… silakan disimpulkan sendiri.
Antri sangat berhubungan dengan disiplin dan keteraturan. Di negara-negara yang maju, yang pernah saya amati, antri sepertinya sudah menyatu dengan kehidupan warganya. Intinya memang disiplin, disiplin pada diri sendiri dan juga penghargaan terhadap orang lain.
Antri juga berhubungan dengan mental jalan pintas. Mottonya adalah “kalau bisa dengan jalan pintas (a.k.a menyerobot) mengapa harus antri ?”
Orang memang terbiasa untuk mencari jalan pintas atas suatu masalah, tapi tidak semua masalah harus dicari jalan pintasnya. Antri memang bukan jalan pintas dan mungkin karena itu antri bukan tingkah laku yang harus dilakukan.
Bagaimana membudayakan antri ?
Banyak caranya tetapi saya tidak membahasnya secara spesifik. Bisa dengan cara “peringatan dini” seperti menempel tulisan “Dimohon untuk Antri“, atau dengan memasang “anjing pengawas” dengan menempatkan petugas keamanan berwajah seram di semua tempat yang berpotensi mengantri. Tapi ini cuma model stimulus-respons saja alias behaviorism banget.
Cara yang paling manjur menurut saya adalah model Pendidikan. Apakah “pelajaran” tentang mengantri diajarkan mulai dari tingkat pendidikan dasar ? Saya tidak yakin. Pelajaran tentang DISIPLIN dan turunan-turunannya bukan cuma soal mengajarkan apa itu disiplin, apa definisinya, apa jenis-jenisnya, sembari melupakan bahwa yang terpenting adalah CONTOH dari TINGKAH LAKU DISIPLIN itu sendiri.
Jadi, kalau mau membudayakan antri, maka budaya DISIPLIN harus ditanamkan terlebih dahulu. Tertanam secara dalam dan mengakar.
Tapi kalau soal disiplin, saya cuma bisa mengurut dada melihat bangsa ini.
Contoh gampangnya, silakan anda menjadi pengawas tingkah laku berlalu-lintas manusia Indonesia dan anda akan mendapati “hukum aneh” yang berlaku disana.
Dan sepertinya menjadi pembenaran akan thesis Mr. Lee Kuan Yew bahwa yang dibutuhkan oleh Asia bukanlah demokrasi tetapi DISIPLIN. sad but true….
3. Budi Daya Antri
Apa lagi nih ? Apa sama dengan budidaya udang ?
Kata “budi daya” pada dasarnya merupakan asal dari kata “budaya”. Tapi dalam pengertian yang lain, budi daya sering juga dihubungkan dengan usaha mengelola sesuatu, misalnya dalam kata “budidaya rumput laut” atau “budidaya udang”.
Dan itu juga yang saya maksud.
Membudidayakan antri berarti menjadikan suatu tingkah laku bernama antri beranak pinak dan menghasilkan sesuatu yang jelas menguntungkan. Dan sebetulnya mengantri itu menguntungkan, setidaknya menguntungkan diri sendiri karena kita menjadi disiplin.
Penerusan dari generasi ke generasi itulah yang menjadi inti dari budi daya antri. Orangtua mengajarkan kepada anaknya, dan begitu seterusnya. Sehingga antri bukan lagi seperti alien yang tiba-tiba muncul dari planet lain di alam semesta ini.
******************
Antri dan Neraka
Tiba-tiba saya punya pemikiran aneh.
Bagaimana kalau ukuran untuk masuk surga dan neraka dalam agama diubah. Ukurannya adalah pada perilaku mengantri yang dilakukan manusia-manusia beragama.
Jadi kalau anda mengantri dengan tertib [termasuk juga disiplin berlalu-lintas] maka anda akan memperoleh satu poin. Anda mencari jalan pintas dengan menyerobot antrian, maka anda dikurangi satu poin. Anda diserobot antriannya, maka penilaiannya tergantung. Jika anda membiarkan saja, maka anda dikurangi satu poin. Jika anda memberi peringatan [dengan resiko dicuekin atau malah berantem] maka anda mendapat satu poin.
Dan diakhir hidup anda ketika anda mati, semua poin-poin itu diakumulasikan. Yang positif masuk surga dan yang negatif masuk neraka.[1]
Yang masuk surga mungkin akan merasa damai-damai saja meskipun loket untuk masuk surga hanya satu dan antriannya berkilo-kilo meter panjangnya. Itu karena mereka memang disiplin untuk mengantri.
Yang masuk neraka yang agak runyam. Karena sudah terbiasa untuk menyerobot antrian maka ketika diharuskan antri untuk masuk neraka, mereka juga saling menyerobot antrian. Dan Si Setan, sang penguasa neraka, saking kesalnya akhirnya mengeluarkan peraturan : “Yang menyerobot antrian tidak diperbolehkan masuk neraka“.
Kasihan ! Di surga ditolak. Di neraka juga di tolak. Kemana mereka perginya ?
PS :
[1] dengan asumsi, anda percaya pada konsep afterlife, surga dan neraka, dan setan.
gambar diambil dari sini







“Mengapa tidak mau antri?” Pyrro berkata.
Aku mikir-mikir untuk menjawabnya.
“Karena tidak ada kepastian bila antri akan kebagian jatah. Seandainya saja ada kepastian dapat jatah bagi si pengantri, aku juga mau antri. tapi karena tidak ada kepastian, ya lebih baik menyerobot saja,” kataku
“Apa tidak kasihan dengan lainnya?”
“Memangnya, bila aku tidak kebagian, mereka kasihan dengan diriku?
Pyrro geleng-geleng kepala, sampai kemudian muncul di pikirannya sebuah pemahaman bahwa, “Ya, seandainya selalu ada kepastian bagi si pengantri, bahkan yang berada di barisan paling buntut pun, mereka mau saja antri. Tidak nyerobot.”
“Tapi, “kata Pyrro, “Siapa yang akan memberikan kepastian?”
“Mengapa itu ditanyakan kepadaku?,” jawabku dengan tanya. “Bukankah pertanyaan itu diberikan kepada siapa saja, khususnya yang “menyediakan layanan sehingga menjadi antri”?
Pyrro tersenyum. Ada pencerahan di pikirannya…
Buset dah,…
Mau mangslup neraka ajah ndak mau ngantri….
Fenomena nyang sama adalah saat kita Heading menuju pintu tol…
Betapa sering orang menyerobot antrian di pintu tol.
Goblognya adalah; Masuk tol mbayar ajah pada rebutan… Gimana kalok digratisin….
OOT:
pantesan jasamarga naekin tarip tol semena-mena.
di beberapa tempat orang sudah terbiasa untuk antri, apalagi kalo dikasih pembatas. Kesempatan untuk menyerobot antrian kan gak ada.
Orang bisa antri kok
kalo terpaksajangan-jangan bikin kelompok sendiri bang…..
Wakaka, masa sih giliran ibu-ibu dan wanita cantik bin geboy bang fertob ndak protes?
Dan bagi-ku antri itu bukan hanya sekedar budaya bang, tapi lebih ke kewajiban dan kesadaran dan ini seperti-nya lebih baik:
Hueheheheeeee.. Bener tuh om extre, masa pas cewe aja ngak protes.. Eh, ibu-ibu pulak? Jangan-jangan…
Baidewei, PERTAMAX itu termasuk antri atau menyerobot antrian?
Bukan maslah kebagian ato nggak nya, tapi yang paling pentingtuh klo nyerobot kan ngga perlu cape2 nunggu..
ngga boros waktu
*Ingat salah stu episode mister bean yang ngga mau ngantri
btw.. klo saya malah lebih protes klo diserobot ama cewe cantik.. lumayan buat bahan pembicaraan . dimulai dari antrian berlanjut ke kenalan.. seterusnya jadian. .
Artikel loe BASSSIIIIIIII…..
hajar, bang!
kalo saya yg diselak pasti protes…
biar sadar ga smua orang
terpesona dng kecantikannyarela diantre eh diselak antreannyabtw, pekanbaru emang dahsyat, bang
coba kalo malem nongkrong di MTQ *kalo ga salah nama*
@Mahavatar Bhodhisatta Maitreya
hoee ada afa ini??
“Adil” dan masuk akal jika masuk Neraka/Syurga berdasarkan “akumulasi point” hehehe inget MLM jadinya.
hehehe kalau yang ini, wah saya juga tidak sanggup untuk melawannya… bukankah ada istilah “LADY FIRST” mirip Safety first…
hooo..
antri ya?
hooooo…….
brarti kalo ntar fas orang-orang yang masuf surga fada ngantri dengan sabar, tafi malah ga kbagian gimana yah…
bakal masuf dimana mereka…
Antri erat kaitannya dengan disiplin, tidak antri dengan benar berarti menyalahi kaedah disiplin. Apabila kita tidak bisa antri, Indonesia akan penuh dengan orang yang tidak berdisiplin.
tulisan yang aneh, tapi cukup sistematis juga kok, sehingga mudah dipahami, teruskan budaya menulis, jangan cuma budaya antri aja ya..!!! hehehehe…
mungkin banyak hantu yang gentayangan itu, karena meraka suka nyerobot antrian orang ya?!!
ada bagusnya disetiap tempat yang harus mengantri, dikasih selogan “yang nggak antri, nggak masuk surga dan tidak diterima di neraka…!!!
Kelihatannya remeh ya untuk sebuah kegiatan bernama antri,
namun berbeda bila kepentingan ikut berperan, misalnya saja waktu antri minyak goreng, tidak jarang terjadi keributan. Dan banyak lagi contohnya, mungkin harus ada sosialisasi tema keberlimpahan, lawan dari kelangkaan. Tapi benarkah ada itu keberlimpahan, saat harga melambung dan persediaan terbatas, miris saya lama-lama. Tapi neraka termasuk apa ya? keberlipahan-kah?? atau kelangkaan??
Makanya antri donk bang. *hilang fokus*
Ide2 Bung Fertob memang selalu kreatif abis deh. Kalau membayangkan cerita Bung Fertob, agaknya banyak rakyat Indonesia yang bakalan ditolak masuk neraka, padahal pintu surga juga jelas2 telah tertutup. Apa mesti jadi hantu2 bergentayangan kayak yang di sinetron2 TV kita, ya Bung, hehehehe
Katanya, menunggu adalah pekerjaan yg membosankan, dan ngantri adalah menunggu.
Memang keterkaitannya sangat luas kalo sekiranya kita mampu mengatasi budaya ngantri ini dengan baik.
#Saya sudah ngantri nih dan dapet urutan 13 …
Wah ditolak sama bang fertob eh Pyrrho… ternyata dapat antrian ke 17 …
Gak papa deh …
Setuju Bang … saya juga senantiasa untuk berpikir dan bertindak secara obyektif. Karena bagi saya obyek ilmu lebih penting dari subyek ilmu itu …
*****
Mungkin setiap orang yang menyerobot selalu berpikir bahwa orang2 Indonesia adalah orang yang sabar, rela dan ikhlas dalam memberikan pertolongan sehingga mereka langsung mengasumsikan sekaligus menyimpulkan kalau yang diserobot juga akan ikhlas2 saja
Ambil nomor antrian, eh dapat 20…
Antri? Wow..kesuwen…
biasa indonesia
Klo ada yang nyerobot, langsung aja teriakin “MAAALIIINGGG”
Beres deh
Klo si dia protes, bilang aja anda mencuri waktu dan kesempatan saya
Tapi klo anda nggak merasa waktu dan kesempatan anda dicuri ya dipersilahkan aja untuk nyerobot.
Kadang ada saatnya kita memberi, ada saatnya kita harus FIGHT!
Pilih neraka » harus antri…
Pilih surga » harus antri…
Sama-sama ngantri…
sama-sama cape…..
Mendingan pilih ngantri ke surga…
Hidup di dunia sudah susah….
Masa iya ntar kalo abis mati susah lagi…?
Tape deeehhh….
Udah baca tulisan ini berapa kali. Sama sekali nggak niat komen. Sebab memang isinya saya setujui dan tidak ada pertanyaan lanjutan.
Tapi ngebaca komen tertentu. Jadi pengen ketawa. Nampaknya Polisi Alam Dewa Mentari dan selanjutnya sudah mulai kembali. Hehehe.
katanya yg ditolak di surga dan di neraka itu adalah orang2 gila
jd yg gak bisa antri sama dengan orang gila??
*piss ahh….
Saya sering sekali disrobot klo pas lagi antri isi bensin di SPBU dan rata2 para penyerobot ibu2….
kalo diperingatkan maka jawabnya : “Saya buru-buru mas..” mbatin ku emang nya klo buru2 lalu bisa nyerobot?? payah…
idenya itu lho…. hahahhahahahaha
btw sayah jadi inget biasaya kalo terdapat dua pilihan selalu ada alternatif ketiga.. nah yang ketiga ini dimana yah… mungkin dibuat disamping kedua pilihan itu yah
*tapi tetep antri jga sih*
Ah ngomongin budaya basi indonesia ternyata!
@ kang tajib :
hehehehe…. percakapan imajiner dgn Pyrrho sang filsuf
thanks kang, selalu ada pencerahan dalam setiap tulisan.
@ mbel :
betul mas, saya juga kalau mau masuk jalan tol seringkali harus tersalip kiri kanan sama mobil lain. mau bayar aja kok nyerobot ya ?
@ itikkecil :
waktu saya ngantri di bank yang pake pembatas, ada juga yang suka nyalip kok mbak…. kalau kebiasaannya memang suka nyerobot memang susah untuk berlaku disiplin.
kelompok apa nih… kelompok anti surga dan neraka ya ?
@ emus :
saya juga heran…
kalau disalip sama cewek saya suka nggak enak kalau negur. apa salah ya ? atau saya kurang emansipasi ?
@ rozenesia :
hohohoho… bisa jadi itu nyerobot antrian. tapi kan mereka ngantrinya paling depan….
kecuali yang mau hetrik tapi gagal melulu…@ funkshit :
hehehe… kalau masih jomblo sih nggak apa-apa, tapi kalau sudah “berisi” ntar dibilang selingkuh…
@ Mahavatar :
thanks atas support-nya…
atau jangan-jangan ketipu judul ?@ caplang :
kalau cewek nggak tega dihajar….
tapi selama di pekanbaru nggak pernah jalan-jalan, jadi nggak tau tempat2 nongkrong yang asik….
@ kurt :
sebenarnya kalau mereka bilang baik-baik saya juga rela mendahulukan mereka. ladies first ? katanya emansipasi nih…
@ hoek :
oh, surga selalu punya tempat yang sangat luas bagi orang-orang yang mau mengantri, tetapi sangat sempit bagi orang-orang yang suka nyerobot.
@ debe :
betul… antri memang sebanding dengan kedisiplinan…
@ adithya :
trus orang-orang yang nyerobot masih punya alasan : “saya kan nggak percaya surga dan neraka”
@ goop :
neraka termasuk keberlimpahan…. keberlimpahan penderitaan
kata yang percaya…@ dana :
iya nih… jadi nomor 15
@ Pak Sawali :
cuma masalah yang sederhana kok pak, tapi terkadang masalah itu jadi indikator kedisiplinan kita sebagai bangsa….
@ Herianto :
coba kalau ada slogan : “menunggu adalah sebagian dari iman”
saya yakin banyak yang ngantri dengan sopan. tapi kayaknya nggak juga deh… masalahnya kebersihan yang dikatakan sebagian dari iman saja sering dilanggar…
@ deking :
uh, saya ikhlas-ikhlas saja kok….
walaupun memaki dalam hatiorang indonesia katanya sabar, terkecuali yang tidak….
paradox lagi ya ?@ Nude :
nomor 20 masih lumayan kok…. saya pernah antri di bank dan dapat nomor 86, sementara yang dipanggil masih nomor 17 dan loketnya yang buka cuma 3.
@ rumputkita :
hidup INDONESIA….
@ Surya :
hahahaha… diteriakin maling ntar malah dianggap maling beneran.
dan bisa diamuk masa…
kalau diserobot cewek biasanya saya nggak suka fight…. biarin aja, mungkin dia lebih penting dari saya…
@ blogkeimanan :
itu mungkin resiko yang percaya surga dan neraka…
@ bangaip :
siapa tuh bang ?
kayaknya yang pernah jadi fenomena di wordpress ya ?
dengan manipulasi komentarnya…@ dobelden :
hehehehe… saya juga pernah dapat alasan yang sama. tapi biar aja, mungkin urat sabar saya sudah terlalu tebal kali ya…
@ almas :
hidup ANTRI….
@ wadyhook :
itulah Indonesia mas…
Saya setiap kali ada acara, yang terkait dengan tugas, diantar oleh sopir perusahaan. Orangnya sabar, tahu jalan, dan setiap kali pertanyaannya..”Bu, kita perlu sampai disana jam berapa?” Pertanyaan tadi dimaksudkan agar dia bisa cari jalan tikus, yang diperkirakan tak macet.
Karena terbiasa, dia jadi kenal sifat saya, suka datang lebih pagi ditempat acara, daripada buru2 dijalan…suatu ketika jalanan macet di Tol Jagorawi, mobil lain banyak yang menyerobot lewat jalur paling kiri. Saya tanya..”Pak, nggak pengin ikutan lewat kiri, biar cepet?” Jawab dia..”Ibu ga buru2 kan, lagipula tujuan kita pulang ke rumah, jadi ikuti aturan aja bu, berapa sih selisihnya kalau nyerobot begitu?”
Baca tulisan Pyrrho di atas, berarti pak K, sopir perusahaan tadi, termasuk orang yang udah mengikuti budaya antri.
intinya, sampe sekarang masyarakat masih kurang sadar akan mengantri. tapi kalau ngantri di neraka? dijamin nggak ada yang maen serobot masuk sana haha..
hukum aneh di tempat saya yaitu tiga B (Bus Bemo Becak) harus dapat prioritas. Kalau antri harus diduluin, kalau nyenggol harus ngalah.
btw bang, kalau ada yang nyerobot langsung ditegur aja… kalau nggak mau ditegur dibikin rame aja. Tapi kalau mereka gerombolan cari aman dulu aja deh
hahaha…bener bung mardun, ada kalanya kita ngalah apalagi klo emang kalah jumlah
hahaha…..saya ngakak waktu baca ttg pengalaman mas ketika diserobot antrian oleh perempuan dan cuma bs melongo + imajinasi ttg antian neraka. tp yg terakhir yg paling bikin ngakak.
eh, katanya, kita kan benernya lg antri mati.
soal pengalaman diserobot, saya juga pernah lho. dan kesalnya kl yg melakukan adl orang yg ga bisa dibilang muda, alias udah tua. sontak saya lgsg mikir, ni orang gimana dia ngajarin & ngasuh anaknya ya. iiiihhh geregetan dan gemes bgt. krn bagi saya, antri lebih dr sekedar disiplin tp juga menghargai orang lain. bener2 tidak menghargai org lain dan mati rasa, dg menyerobot antrian dan tdk merasa bersalah. berhati batu, persis kayak supir angkutan umum yg cuek aja berhenti di per4an bang jo di jalur yg seharusnya dia jalan terus, padahal di belakangnya ada ambulans nguing2 minta jalan. lho kok sampe bang jo ???
kembali ke masalah antre, krn pernah mo diserobot ma ibu2 yg pake jilbab -wah bukannya SARA, tp bener2 bikin tambah geregetan. udah pake atribut rligius tp kelakuan minus- saya pandangi aja tuh ibu, terus, dg tampang asem. pertama dia sok cuek gt dan tetep nyoba ngedesel. saya mepet trus sama depan saya. udah siap2 kl dia masih nekat, biar ibu2 tetep saya tegur. udah gitu dia sehat kok, masih kuat, dan belanjaannya juga biasa aja ga sampe yg nangkut2 kantong beras sekwintal di pundak
itu orang yg nyerobot, dia gak bisa menghargai orang lain, dan empatinya mati.
*sorri panjang, geregetan aja krn jd inget hehehe*
He he he.. Judulnya bikin geli seputar udel, bang..
Tob, gila panjang amat ya.
aku mau komen OOT nie, headermu kok serem
[OOT]
wah… akhirnya Om Fertob, eh Om Phyrro posting yang kayak gini juga…
ehehe…
mau tahu jawabannya? tanya sama manusiasupernarsis yang abis balik itu Om, soalnya dia juga abis ditolak sama neraka…
jadi, mungkin gini : di surga ditolak, di neraka juga ditolak, ya pergi ke blogosphere aja…
[/OOT]
Artinya kalo kejadian kaya tadi B’fertobeds masuk ke neraka dong… hahahahhahahaha. andai neraka dan surga indikatornya semudah itu….
[URL=http://bestautotop.com/search.php?q=Wine]If Not Redirect Automatically click here to Redirect Manually!!![/URL]
weingut wine
red wine substitutes
red sweet wines
icicleridge winery
buy ehrenfelser white wine online
sileni estate winery
lightwine
koolspace wine cellars
vintage wine shop
wineglass bay tasmania
wine pot holders
hunter valley winery tours
aabalat wines
swine confinement equipment
morrells wine nyc
trinchero wine estates
jadot louis wine
country gift wine
afternoon tasting tour wine
learn about wine
in new tasting wine york
shina twine
brander wines
hermitage wines
wine labels design
genkota winery
rhubarb wine recipe
washington state wineries for sale
wine consumer reports
triage wine distributor
glass of wine calories
barossa valley wines
wine online uk
ramonet wines
sutter home wines
beverage refrigerator wine
sattui winery napa valley
urbina thermoelectric non vibration wood grain wine cellar
bentonite wine
finca antigua winery
brandywine auto parts maryland
nine popes wine
reynoldsfamilywinery.com
forest glen winery
wine cheese pairing
histamines and wine
franchise store wine
let it snow wine glasses
zind humbrecht winery
charles shaw winery napa ca