Orang-Orang Dungu*
Orang-orang DUNGU
berjalan tegap
berderap
gegapKami adalah kebenaran
yang disuarakan
dengan pendoktrinan
dan pembantaian
serta pemaksaan
juga pemerkosaanOrang-orang DUNGU
mengangkat dagu
membawa peluru
memburuL A W A N[1]
Adalah suatu kedunguan dan kebodohan jika memaksakan interpretasi sejarah kedalam benak masyarakat. Pembakaran dan pemusnahan buku-buku sejarah adalah bukti kebodohan luar biasa bagi orang-orang yang tidak terbiasa dengan perbedaan. Menghukum orang-orang yang menentangnya terlebih lagi adalah kedunguan yang lain.
Saatnya menghentikan kedunguan di negeri ini. Sejarah dan interpretasinya adalah milik anak bangsa. Bukan milik orang-orang dungu.
PS :
* Dukung Bersihar Lubis [dan situs lainnya]
[1] Mengenang Widji Thukul







saya speechless…… gak tau harus ngomong apa soal kasus ini. Tapi mungkin inilah yang terjadi kalau orang-orang yang gak bisa dikritik dan gila hormat dikatakan dungu….
“Hanya satu kata: Lawan!” Ungkapan ksatria dari seorang Widji Thukul (WT) yang selalu saya kenang setiap kali melihat kesewenang-wenangan dan penindasan. Semoga muncul WT2 baru yang berani menyuarakan pemberontakan untuk melawan kebiadaban dan kezaliman.
Sudah ada tuh WT lanjutannya: saWali Tuhusetya
*Ikut melawan dengan keterbatasan kemampuanku*
Well, “history is written by the winning general” katanya sih…
*bingung mo ketik apa*
Sampai lupa dukungannya!
Saya setuju post ini!! Mari lawan pemaksaan interpretasi sejarah di negera ini!
bagaimana ya? mirip seperti komen-ku sebelum-nya di tempat Pak Guru Sawali, Bang Aip dan juga Hoek, kalau peng-kerangkeng-an per-bedaan pendapat adalah benar-benar salah, dan tidak bisa di-terima dengan alasan apa-pun!.
tapi, di-satu sisi, aku ber-tanya tentang sejarah, terlepas dari benar atau tidak-nya, bukan-kah bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarah-nya?, dan di-kasus ini, peniada-an terhadap beberapa coretan sejarah pada buku-buku tersebut, bagaimana-kah kita menyikapi-nya?
[...] berfikir (thinking)?” Aktivitas berfikir apa maksudnya? Itu lho, seperti kasus Bensihar Lubis, dan terakhir kasus Nasr Abu [...]
Yupp.. Hanya ada satu kata; LAWAN!!!
Orang dungu mau ngelawan siapa? paling cuman orang dungu lainnya yang mau ngelawan. Soalnya orang bijak n orang pintar bakal mengubah si perlawanan orang dungu supaya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan mereka sendiri. Atau setidaknya mengubah orang dungu menghilangkan kedunguannya kalau memang bisa.
huh jadi inget lagi cerita perpustakaan sang maestro pram di babat habis oleh tentara
menyedihkan, tapi saya masih terlalu dungu untuk bisa melawan
sejarah..masih belum tau haruskah percaya pada sejarah bangsa ini..
entahlah. . .
LAWAN DUNGU!!
uhmmmm membaca puisi diatas kok sayah jadi ingat satu quote faforit sayah yah…
*nyambung ga yah*
dungu.. memang dungu itu! menurut saya tepat sx.. itu adalah gerakan, bukan?
dungu orang2 pembawa peluru dan belati dan tahi dan secuil otak2 kosong.. sngt tepat deskripsi ttg kedunguan bangsa ini melalui puisi, atau gambar2, corat-coret, seni, pandangan polos, abstrak, murnian; segala yg murni dan tak trkontaminasi oleh kedunguan, kedangkalan!
tapi, bagaimana kita dpt menilai kedunguan ketika kedunguan itu telah menjd bagian dr diri kita; bahkan mngkn 98% masyarakat beserta pemerintahan bangsa ini trmasuk d dalamnya, maka apa kedunguan itu pd akhirnya tdk d terima sebagai hal yg wajar? klo semua orng dungu bkn berarti kedunguan itu wajar? kewarasan adalah gila, kepintaran adalah bodoh; yg ada hanya lah kedunguan, maka bangsa yg pintar akan selamanya melihat ‘kita’ sebagai dungu apa adanya, bukan begitu?
satu-dua orng brkoar2 soal kepintaran, kecerdasan, kebersihan, kebaikan, namun siapa yg peduli? sejarah bangsa ini mengarah kepada ‘kedunguan kekal’, jd siapa yg akan menganggap seekor keledai itu pintar? tdk ada! seekor macan akan tetap memangsa keledai dn binatang2 dungu lainnya! dn kita senang sebagai keledai dungu yg selalu melayani dn risih bila d layani.. masyarakat hafalan yg selalu mengekor pada masyarakat pemikir
tapi sejarah itu dibuat dn semata2 d bentuk oleh orng2 ‘besar’, orng2 yg berada d puncak itu, bukan? pejabat, pengusaha, raja2, presiden2, dan rakyat jelata, proletar berada d bawah kaki mereka; memohon agar mereka sdkt brbelas kasih, mengais2 kotoran para atasan, mengemis, tp klo anak manusia sdh brkuasa siapa yg dpt mengaturnya? ‘kau rakyat jelata, proletar, takdirmu hny untk melayani! kalian adalah budak2 kami! dn sejarah beserta seisi dunia adalah karya kami, milik kami, bukan anda, kaum proletar, kaum miskin, jelata!’, bukan kah ini yg menjadi suara2 peradaban, dr ribuan tahun lalu sampai skrng dn sampai yg akan dtng..
suara-suara lain hny trdengar lamat2, d bawah tanah, sesekali trdengar sesekali hilang! tp suara2 itu tdk penting bkn! manusia biasa, proletar, jelata, tak berHAK mengganggu ‘kerja-kerja’ orang2 besar itu! dn suara2 mereka selalu tenggelam, tenggelam oleh gelombang kekuasaan; tp memang pantas begitu bukan? orng2 proletar itu krn sdh lama tenggelam mereka akhirnya tak berani melihat cahaya, semakin lama semakin dungu dn gelap, hati pun menjd gelap, takut2, dan akhirnya semakin tenggelam d telan bumi.. nama2 hilang, menguap, orng2 musnah, manusia2 hilang, yg ada hanya keledai2 dungu yg memohon rerumputan segar yg tak kunjung ada!
tapi skrng semuanya dungu; bkn hny manusia2 bawahan tp juga para atasan itu!
krn jenuh trus berada d atas mereka mulai mengais2 k bawah, mereka menjd sok prduli dgn kaum bawah, tebar pesona; sok pintar, dn brmimpi menjd pahlawan! tapi apa mngkn? bawah dn atas pd hakekatnya brbeda, sistem2 yg brbeda, cara brpikir yg brbeda, sudut pandang yg brtolak belakang, kecerdasan brbeda, dn kedunguan (meski sm2 dungu) yg brbeda pula!
kalian pasti suka membaca ini krn semua ini adalah rangkuman dr koran2, majalah2, otak2 kehidupan, pengalaman2, kenyataan, mimpi2 dan kesadaran maupun ketidak-sadaran manusiawi!
dan kita, katakan lah manusia2 yg ‘waras’ atau mngkn manusia2 yg ‘gila’, tdk akan prnah d dengar! suara2 kita hny menjd suara2 tangis yg menjijikan bagi manusia2 dungu.. kedunguan mereka tak mngkn dpt menangkap kecerdasan spt ini! katakan lah mereka itu adalah ilmuwan, pejabat2, dan penguasa2 lainnya dlm segala bidang yg ada.. memang kenyataannya banyk orng dungu malah berasal dr organisasi brsama; krn kesadaran pasti akan mengambil alih segalanya asalkan diberi waktu dn kesempatan untuk itu, namun manusia2 yg brkumpul brsama dgn sesamanya, katakan lah, sesama manusia dungu, seragam, sepakat, seotak, seteks, robot2.. maka pada akhirnya kesadaran alami diriny akan trsumbat, menetap trus krn malu untuk keluar; krn kalau keluar kesadaran itu maka diapun sngt mungkin akan terusir dr ‘komunitas’ dungu itu! SIAPA YG MAU? EMAS KAN HNY ADA D SANA?
keseragaman, solidaritas, persamaan; semua itu adalah lumbung-lumbung emas! kalau kau menyimpang, menyempal, maka kau hanya akan sendiri, sepi, dan yg kau dpt hny hampa; kehampaan kehidupan! mana yg akan kau pilih?
saya pun tak tahu akan memilih yg mana krn aku tahu aku tak mngkn sendirian untuk selamanya meski d hari terakhir itu aku akan kembali sendirian, seorang diri, sepi..
maka kau mesti memilih antara KEDUNGUANMU dan KECERDASANMU SEBAGAI MANUSSIA; KECERDASAN YG MANUSIAWI.. syukur lah kita msh dpt memilih!
sayonara semua!
lalu, soal pembakaran buku2 dn pengekangan pikiran2 individualis pd masa2 trtentu..
semua itu tak akan brlangsung lama..
pemikiran mas pram, kafka, dn manusia2 lain yg brbicara atas nama kemanusiaan akan trsu brsama manusia meski semua raga dn jiwanya telah musnah, buku2 hancur menjd abu.. tdk bisa.. mereka akan ada brsama buah2 pemikirannya!