- sambungan dari [sini]
- mirip kuliah etika
![]()
- sekaligus jawaban bagi beberapa pertanyaan yang belum dijawab
Terus terang, saya sangat terkejut ketika melihat tulisan saya yang berjudul Dilema AIDS & Kondom mendapat tanggapan beragam dari para komentator. Padahal saya menuliskannya dengan semangat setengah bercanda dan setengah serius, walaupun isinya bisa dipertanggungjawabkan. Mungkin cara menuliskan yang aneh dan kejelasan argumentasi yang kurang yang membuat tulisan itu mendapat tanggapan beragam.
Seperti tulisan-tulisan sebelumnya, ketika saya mengajukan suatu opini, maka saya sendiri tidak akan “meninggalkan gelanggang” sebelum argumentasi saya disajikan dengan jelas. Argumentasi itulah yang saya lihat tidak ada di tulisan Dilema AIDS & Kondom. Maka tulisan berikut ini semoga bisa menjadi penjelas argumentasi di tulisan sebelumnya.
Saya melihat opini itu diterima dalam beberapa kutub. Ada yang benar-benar kontra terhadap kondom, ada yang menerima dengan catatan, dan ada yang pro terhadap kondom. Tapi saya tidak mempersoalkannya. Perbedaan pendapat adalah hal yang biasa.
Tetapi saya tetap pada suatu kesimpulan bahwa kondom adalah salah satu alternatif solusi bagi HIV/AIDS.
*******************
Mungkin ada kesan negatif bahwa opini saya di tulisan itu mempunyai tendensi bahwa saya menghalalkan segala cara demi suatu tujuan tertentu. Hal itu tidak benar. Saya bukan pemuja teleologi dalam filsafat etika. Bagi saya, tujuan adalah memang sesuatu yang harus dicapai, tetapi pencapaian (cara) ke arah itu juga harus melalui cara yang benar, dan bukan menghalalkan segala cara.
Saya tidak seperti Bung JK yang mengatakan bahwa demokrasi hanya alat dan bisa dinomorduakan sementara yang terpenting adalah tujuan masyarakat yang sejahtera.
Dalam pertimbangan-pertimbangan moralitas terhadap suatu masalah, kita tidak bisa lepas dari tujuan. Tujuan bisa mengarahkan cara. Pertimbangan moral terhadap suatu cara bisa dilakukan dengan juga mempertimbangkan tujuan dari suatu masalah. Tujuan dan cara memang tidak bisa dipisahkan.
Pertimbangan Moral, AIDS, dan Kondom
Ini adalah beberapa opini saya soal HIV/AIDS, Kondom, dan Moralitas.
Ada sifat utama dari suatu tujuan yang bagi saya tidak bisa dikurangi dan direduksi dengan alasan pertimbangan moral. Sifat utama itu adalah adanya Tujuan Yang Tidak Tereduksi dalam masalah HIV/AIDS yang semakin marak. Tujuan yang tak tereduksi ini adalah suatu pertimbangan moral tertinggi ketika kita berhadapan dengan dilema dan pertentangan moral antar berbagai solusi.
Gampangnya begini. Ketika kita memutuskan sesuatu masalah yang mempunyai pertimbangan moralitas, maka selalu ada pertimbangan-pertimbangan moral [yang bisa menjadi dilema] diantara beberapa keputusan yang kita ambil. Kita mempunyai suatu pertimbangan moral sendiri ketika, misalnya, mengapa kita menolong seorang tetangga yang kesusahan.
Contoh sederhananya adalah kasus yang saya rasa anda sudah tahu :
Ada sebuah pesawat yang mengalami kerusakan sewaktu terbang. Di dalam pesawat itu ada 6 orang, yaitu seorang nenek-nenek berumur 70 tahun, seorang ibu yang sedang hamil, seorang anak laki-laki berumur 6 tahun, seorang presiden negara berkuasa, seorang ulama/pendeta agama tertentu, dan seorang mahasiswa yang baru kuliah.
Sementara itu parasut yang tersedia hanya 4 buah. Pilot pesawat memerintahkan supaya para penumpang segera memakai parasut dan loncat sebelum pesawat jatuh.
Menurut anda, siapa yang berhak memakai 4 parasut itu dari ke-6 orang yang ada ?
![]()
Ketika anda memutuskan siapa ke-4 orang itu, maka anda PASTI menggunakan pertimbangan-pertimbangan moral dan norma yang anda punya. Pertimbangan adalah alasan/opini. Dan pertimbangan itulah yang akhirnya membuat anda memutuskan mana yang PATUT [menurut moralitas anda] untuk diselamatkan.
Intinya adalah KEUTAMAAN. Bagi anda, ketika anda memutuskan bahwa si A berhak mendapat parasut terdahulu, maka itu adalah pertimbangan moral tertinggi anda akan suatu masalah. Anda mengutamakan si A dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Alasan/pertimbangan itulah yang menduduki kasta tertinggi dalam berbagai pertimbangan moral anda.
See… ?
Dalam kasus HIV/AIDS juga begitu. Ada suatu pertimbangan moral tertinggi yang bisa kita letakkan dalam memandang kasus ini. Pertimbangan ini melandasi semua argumen dan opini terhadap kasus HIV/AIDS.
Apa pertimbangan moralnya [yang saya sebutkan Tujuan Yang Tak Tereduksi] ?
Sederhana. Kenyataan bahwa HIV/AIDS belum ada obatnya di dunia ini.
Dengan kata lain, ketika seseorang terkena HIV/AIDS disimpulkan bahwa dia tidak bisa lagi diobati. Semua kemajuan teknologi kedoteran sudah menyetujui kesimpulan ini. Mati adalah jalan keluarnya.
Dari situ kita bisa bergerak lebih lanjut. HIV/AIDS berhubungan dengan Nyawa Manusia. Seorang terkena HIV/AIDS, maka nyawa adalah taruhannya, hidup sudah bisa diperkirakan.
Dan ini juga penting. Bagi saya, Nyawa Manusia [dalam kasus HIV/AIDS] adalah Pertimbangan Moral Tertinggi atau Tujuan Yang Tak Tereduksi, ketika kita mencoba mencari solusi bagaimana usaha-usaha penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS. Dalam pencegahan AIDS, maka mindset utama yang ada di kepala adalah : Ada Nyawa Manusia Yang Dipertaruhkan.
Itulah pertimbangan moral tertinggi bagi saya : Nyawa Manusia.
Itulah yang menjadi dasar argumentasi saya ketika saya menuliskan “keberpihakan” saya pada kondom [dan juga dilemanya].
Dalam pemikiran saya soal HIV/AIDS, yang diutamakan dari semua pertimbangan moral adalah Nyawa Manusia. Itu berarti saya bisa meletakkan pertimbangan-pertimbangan moral yang lain dalam urutan berikutnya setelah urusan nyawa manusia itu.
Dengan fakta itu, cara-cara pencegahan HIV/AIDS bisa dilakukan dengan “mengabaikan” pertimbangan moral yang lain, ketika suatu cara yang mempunyai pertimbangan moral terendah [dalam hal ini Kondom] justru masuk sebagai salah satu alternatif solusi yang cukup efektif untuk mencegah prevalensi HIV/AIDS.
[untuk melihat efektivitas kondom mencegah HIV/AIDS, ada disini]
Lalu bagaimana dengan kampanye moral seperti No Free-Sex, No Sex Before Marriage, dan lain-lain ?
Itu adalah hal pertama yang harus dikampanyekan. Cara mencegah HIV/AIDS salah satunya adalah cara hidup yang “sehat”. Sehat secara fisik, mental, dan juga spiritual. Dan ini menurut saya juga masih dikampanyekan oleh mereka-mereka yang terjun di bidang itu (Agama, Etika, dll).
Tetapi cukupkah sampai disitu ? Bagaimana dengan orang-orang yang justru [secara sengaja maupun tak sengaja] mengabaikan kampanye itu dan membuat mereka menjadi pihak yang rentan terkena virus HIV/AIDS ?
Apa kita akan mengatakan :
Makanya, loe nggak mau dengar sih. Rasain aja sendiri…!!!
Apa seperti itu ? Apa itu yang namanya Peduli HIV/AIDS ?
Peduli bukan pada mereka yang menjadi korbannya saja. Peduli juga pada mereka yang mempunyai kemungkinan untuk terkena HIV/AIDS.
Itu kan salah loe sendiri…!!
Sekali lagi, apa seperti itu ?
Ketika kita memutuskan untuk Peduli HIV/AIDS, maka satu pertimbangan tertinggi yang kita punyai adalah : Nyawa Manusia adalah taruhannya.
Saya rasa, ketika saudara/teman/orang yang anda kenal, melakukan suatu perilaku yang membahayakan dirinya sendiri, maka usaha maksimal yang anda lakukan tidaklah hanya menghimbau dan menasehati saja. Ketika anda mempunyai kemampuan untuk berbuat lebih untuk mencegah perilaku berbahaya itu, maka saya yakin anda juga pasti akan melakukannya.
Dengan alasan apa ? Saya yakin jawabannya adalah Nyawa Manusia.
Itulah pertimbangan moral ketika kondom justru dikedepankan sebagai suatu alternatif solusi bagi pencegahan HIV/AIDS. Kita bisa memberikan lebih buat mereka yang beresiko terkena HIV, dan bukan hanya sekedar himbauan dan nasehat akan bahaya perilaku seks yang beresiko. Kita tidak bisa mengkontrol perilaku semua orang, tetapi setidaknya kita bisa memberikan sesuatu yang “tidak ideal” sebagai alternatif solusi.
Kondom bukanlah suatu solusi yang ideal. Tetapi kondom menjadi ideal ketika kita berhadapan dengan realitas bahwa banyak orang yang masih melakukan perilaku seks tidak aman. Kondom memang bisa ditafsirkan negatif, tetapi kondom menjangkau mereka-mereka yang beresiko terkena HIV/AIDS.
Dan semua itu dimulai dari dasar Peduli akan Nyawa Manusia. Karena itulah pertimbangan moral tertinggi yang bisa dipunyai. Kondom tidak diperlukan lagi ketika kita [semua] mencapai taraf spiritual tertinggi manusia dalam memahami persoalan HIV/AIDS.
*******************
Sekarang saya ingin melihat pertimbangan moral tertinggi atas Nyawa Manusia dalam berbagai kasus yang lain.
1. HIV/AIDS dan Narkoba
Salah satu cara penularan HIV/AIDS adalah melalui pemakaian narkoba jarum suntik. Salah satu datanya ada disini.
Lalu bagaimana solusinya ?
Saya rasa semua orang akan mengalami dilema ketika kita mendengar ide adanya “legalisasi narkoba suntik terkontrol demi mencegah HIV/AIDS“.
Disatu sisi, pelegalan jarum suntik yang steril justru bisa menambah kasus narkoba di negeri ini. Disisi lain, ketika kita tetap berpegang teguh pada peraturan maka prevalensi HIV/AIDS lewat jalur narkoba suntik justru meningkat.
Apa pertimbangan moral anda ? Mana yang anda dahulukan ?
Apa Nyawa Manusia [dalam HIV/AIDS] atau Pemberantasan Narkoba ?
Sekali lagi, pertimbangan tertinggi selalu diletakkan pada kasus-kasus yang berhubungan dengan Nyawa Manusia. HIV/AIDS tidak/belum mempunyai obat sampai sekarang, sementara pemakai narkoba masih bisa direhabilitasi alias masih bisa disembuhkan.
Dan pilihan utamanya akhirnya jatuh pada HIV/AIDS. Itulah yang membuat pemerintah akhirnya membuka dan menambah beberapa puskesmas metadon di wilayah Jakarta. Dengan harapan, bahwa mereka pengguna narkoba jarum suntik dapat menggunakan narkoba yang bebas dari resiko terkena HIV/AIDS. Sekaligus bisa diterapi dan diobati dari ketergantungannya.
What ? Bukannya itu juga melegalkan peredaran narkoba ?
Penggunaan jarum suntik sembarangan pada pemakai narkoba adalah salah satu cara penularan HIV/AIDS. Seandainya kasus HIV/AIDS lewat narkoba suntik di negeri ini semakin merajalela, maka saya rasa kita bisa membuat kebijakan yang cukup ekstrim untuk menanggulangi HIV/AIDS. Misalnya dengan membuka bilik-bilik yang meyediakan jarum suntik steril bagi pemakai narkoba suntik. Cara itu memang terkesan melegalkan narkoba, tetapi pertimbangannya bukan itu saja tetapi HIV/AIDS yang belum bisa disembuhkan.
Narkoba atau HIV/AIDS ? Kalau cuma 2 itu pilihan, saya lebih baik memilih Narkoba.
Itulah pertimbangan moral saya.
2. Aborsi
Saya rasa semua akan menolak aborsi. Baik itu dengan alasan agama, etika, maupun apa saja.
Tetapi coba kalau kita menemukan kasus seperti ini.
Ada seorang perempuan yang hamil, sementara kehamilan itu ternyata secara medis beresiko terhadap nyawa sang calon ibu. Atas pertimbangan medis, maka kehamilan itu sebaiknya diaborsi.
Apa pertimbangan moral anda ? Menyelamatkan si ibu atau menolak aborsi demi menyelamatkan si calon bayi ?
Dilema itu sama-sama berhubungan dengan nyawa manusia. Nyawa si ibu atau nyawa si calon bayi. Saya sendiri menyetujui kalau dilakukan aborsi demi menyelamatkan si ibu.
Lho, bukannya itu menyelamatkan nyawa dengan mengorbankan nyawa ?
Tentunya saya punya pertimbangan moral sendiri.
Apa pertimbangan anda ?
*******************
Itu adalah sekumpulan argumentasi saya mengapa saya masih “berpihak” pada kondom, padahal menurut saya kondom bukanlah solusi yang ideal bagi masalah HIV/AIDS. Kondom bukan solusi yang ideal, tapi kondom punya banyak pertimbangan dan juga realistis.
Thanks….






Seandainya saya melakukan hubungan seks di luar pernikahan, dan tanpa menggunakan kondom, kemudian saya terjangkit HIV/AIDS, kira-kira kalimat penyesalan apa yang lebih tepat untuk saya katakan?
- Saya menyesal telah berperilaku seksual yang nggak bener,
atau
- Saya menyesal mengapa saat itu saya tidak memakai kondom
???
Ciamik tenan boss Fertob….
Btw, sayah setujuh sama kalimat terakhir…
Pertimbangan moral, karena latar belakang masing-masing dari kita. Menjadi susah bila kepala kita sudah terkotak-kotak dan tidak terbuka, pada fikiran yang lain. Pendek kata, menjadi berpikiran sempit. Paradigma atau sudut pandang yang digunakan, tentu hanyalah sepihak, fyuhh menjadi tidak mudah memang sobat.
-salam-
Makasih argumentasi nya bang…… Jadi inget salah satu pejabat di sini yang dengan entengnya bilang
“Kalau para PSK itu tertular penyakit, biarin aja, gak usah diobatin, kan mereka memang berdosa”
Padahal kalau mereka terkena IMS resiko tertular HIV menjadi lebih besar dan akhirnya mereka akan menularkan ke pelanggan dan pelanggan nular ke istrinya.
sayang kalo hanya dimuat di blog, bang..
yg penting tetap ada solusi sesuai kondisi dan fakta saat ini..
pekerja seks » lokalisasi → penyuluhan, bagi2 kondom, dkk
pecandu narkoba → bagi2 jarum suntik gratis [?]
kos2an esek2 → bagi2 kondom [?], sex toys [?]
tergantung hasil penelitian..
siapa tau akan demikian..
Sejauh digunakan dgn benar, saya tetap yakin kondom adalah solusi yg masuk akal untuk meminimalisir resiko terinfeksi HIV akibat bersebadan.
Sama bro, seperti aku kata-kan di postingan sebelum ini, aku juga setuju dengan sosialisasi dan kampanye kondom, karena merupakan salah satu alternatif untuk bisa mengurangi penyebaran penyakit ini. Ter-lepas dari masalah moral dari orang-orang yang merasa jengah dengan legalisasi kondom ini yang kata-nya malah akan mem-buka akses lebih besar ter-hadap ter-jadi-nya sex bebas. Bukan ber-arti aku meng-amin-kan sex bebas lho
Simpel-nya, sangat penting untuk meng-guna-kan kondom pada saat ber-hubungan sex secara bebas, tapi akan lebih penting lagi bagi kita untuk meng-hindari sex bebas itu sendiri
Sangat gamblang, mendalam dan bener-bener rasional…
saya setuju dengan pendapat sampean bung, bencana datang, banyak jatuh korban, yang kita pikirkan adalah gimana memberikan pertolongan dan setelahnya adalah aksi pencegahan yang lebih kepada pembelajaran moral dan kesadaran.
kondom memang bukan solusi yang tepat bagi mereka yang belum pernah tersarungi olehnya, maka moral adalah utama
tapi bagi mereka yang sudah nyaman dalam selimut hangatnya ya kondomlah jalan terbaik, karena nyawa dan generasi selanjutnya adalah taruhannya.
Kali ini saya sepakat, walau seringnya juga sepakat. Lah, jika kondom tidak boleh diiklankan sebagai alat pencegah aids, berapa nyawa yang hilang selagi para moralis itu berdakwah?
Wah ternyata saya sudah lama tidak mampir rumah Bang Fertob eh Phyro …
Maaf sebelumnya, jujur saja saya berkomentar di sini tanpa membaca [part 1] terlebih dahulu. (maklum baru “bangun” jadi sekenanya dulu). Jadi maaf jika ternyata komentar saya sama dengan hal2 yang terkandung di [part 1]
Masalah kondom memang dilematis ya Bang, tetapi saya setuju dengan pernyataan terakhir Bang Fertob (masih belum terbiasa dengan nama baru):
OK…mungkin program kondom dianggap mendukung free sex, tetapi apakah dengan tidak adanya kondomisasi lantas free sex menjadi hilang? Sepertinya tidak kan?
**************
SETUJU!!! No further comment
Cara paling manjur mencegah penularan AIDS lewat sex adalah tidak berhubungan sex. Bukan tidak berkawan dengan mereka yang tertular AIDS.
Cara paling manjur mencegah penularan Aids lewat suntikan dan drugs adalah tidak berhubungan menggunakan suntikan dan drugs. Bukan tidak membantu mereka yang tertular AIDS.
Dan seterusnya.
Simple but some people just couldn’t do it.
[...] komentar DEE di tulisan fertob part [...]
program harm reduction macam kondom dan needle exchange itu tujuannya kurang lebih seperti ini :
Sementara kita berusaha menemukan penyembuhannya, kita tidak boleh kehilangan kesempatan untuk mencegah penularan baru.
Bila moral bangsa ini baik, ngga akan ada Hari AIDS. Masalahnya moral bangsa ini……bobrok.
menurut sy, perlu SM (Study Moral)
Tugas kita buat mambangun civil society!
[...] soroti justru kejadian pada saat acaranya. Bukan tentang TWKM nya. Bukan tentang AIDS dan hari AIDS nya. Bukan pula tentang Mapala [...]