- tulisan ini berat, panjang, dan “brutal”
- jangan dibaca jika anda tidak suka gaya “brutal”
- sebaiknya dibaca dengan kepala jernih
*lihat Index yang jarang diupdate*
Kapan terakhir kali saya menulis dengan gaya yang agak brutal ?
Uh, ternyata di bulan Juni 2007 dan di postingan Anda Harus Punya Musuh.
Ternyata sudah cukup lama saya tidak mengeksplor sisi gelap saya. Dan mudah-mudahan tulisan kali ini bisa menjadi ajang pelampiasan kebrutalan saya. Tentunya saya punya sisi gelap. Bisa saja itu gelap bagi saya dan gelap juga bagi orang lain.
Terus terang saya capek melihat BOTD semiggu ini.
-
Capek karena selalu ada tema yang sama yang selalu muncul dan menjadi Top Post di WordPress. Tema yang berhubungan dengan film Sebuah Penantian alias My Hope.
Capek karena komentar-komentar yang ada kebanyakan hanya berputar-putar di soal-soal itu saja. Orang bicara toleransi, tapi tak tahu seperti apa arti menghargai agama dan kepercayaan. Ada lagi yang berkomentar dengan suara keras karena takut keimanannya akan runtuh ketika dirinya menonton film itu, dan dengan lantang berteriak kepada semua orang supaya sama takutnya dan sama paranoidnya dengan dia.
Capek karena lagi-lagi masalah agama dan pernak-perniknya. Agama yang seharusnya jadi tempat menemukan makna hidup akhirnya harus berakhir dalam ladang ketakutan, masalah keparanoidan, dan ajang hujat menghujat.
Capek karena akhirnya saya gatal juga untuk menuliskannya.
Dan sedih karena salah satu penulis tema itu akhirnya curhat sama saya.
LRose a.k.a Gun-gun nulis kalau dia sedih karena tulisannya yang awalnya cuma berniat curhat jadi entry misuh-misuh. Curhat itu dilarang di wordpress, Gun !
**************
Dan kemarin saya nonton film itu juga akhirnya walaupun tidak sampai habis. Masalahnya cuma satu : saya nggak suka sama filmnya.
Tapi saya punya pertanyaan :
Sudah ada yang tersesat ?
Sudah ada yang bertobat ?
Sudah ada yang murtad ?
Kalau belum ada, mudah-mudahan tulisan ini bisa membuat anda-anda bisa tersesat, bertobat, atau murtad.
Ada yang sudah terhipnotis ?
Kalau belum ada, maka silakan hubungi Romy Rafael.
**************
Dari dulu saya punya hipotesis liar kalau agama cuma sekedar sublimasi dari nafsu-nafsu liar manusia. Anda tahu apa itu sublimasi ? Silakan lihat [di sini]. Kalau masih gelap, saya beri contoh dibawah ini.
Misalnya, anda punya nafsu liar ingin membunuh, sadisme (sado-masokisme), atau memenggal kepala orang lain. Tapi nafsu-nafsu itu sudah barang tentu tidak bisa diterima oleh lingkungan. Atas nama moralitas, atas nama hukum, atas nama kemanusiaan, dan atas nama segala tetek bengek nilai dan norma manusia. Dan anda tentunya tidak ingin masuk penjara, dicap pembunuh, atau dituduh melanggar HAM.
Lalu apa yang anda lakukan ?
Gampang. Bikin aktivitas yang melampiaskan nafsu anda itu tetapi bisa diterima orang lain. Jadilah PETINJU, misalnya, dan anda bisa membantai orang diatas ring tanpa takut dikatakan pembunuh dan pelanggar HAM.
Dan itu juga ada di agama. Nafsu-nafsu manusia seakan memperoleh “pembenaran” dan “penghalusan” dalam agama. Sublimasi maksimal ada disitu karena semua nafsu liar bisa dibuat menjadi “kebenaran”.
Anda ingin membunuh ? Membunuhlah atas nama agama, dan anda akan dihormati dan tidak dicap pembunuh berdarah dingin. Meskipun anda memenggal kepala musuh anda.
Anda ingin berperang ? Berperanglah demi agama, dan anda akan memperoleh pembenaran akan hal itu.
Anda ingin memaki-maki orang lain ? Memaki-makilah atas nama agama. Dan anda akan dianggap suci karena itu.
Anda ingin nafsu anda terlampiaskan ? Beri label “atas nama agama” atas tindakan anda.
.
.
.
Sudah ?
Semoga itu hanya hipotesis liar saja.
**************
Saya juga beberapa hari kemarin dapat e-mail yang bertema yang sama dengan tema Sebuah Penantian (My Hope). Seperti ini bunyi emailnya :
Dear All,
Akan ada film anak-anak yang diedarkan pada bulan Desember ini, berjudul “Golden Compass“. Film ini telah disebut sebagai “ateisme bagi anak-anak” dan dibuat berdasarkan buku pertama dari tiga serangkai buku yang berjudul “His Dark Materials” yang ditulis oleh Phillip Pullman. Pullman dikenal sebagai seorang ateis yang militan dan seorang humanis yang sekuler yang menentang CS Lewis dan karyanya “Chronicles of Narnia”. Motivasinya untuk menulis tiga serangkai buku ini terutama untuk menandingi perlambangan Kristus yang digambarkan Lewis dalam serial Narnia.
Dengan jelas, tujuan utama Pullman adalah untuk menghancurkan Kekristenan dan mempromosikan ateisme. Tanpa ragu Pullman mengakui dalam sebuah wawancara di tahun 2003 bahwa “buku-buku saya adalah mengenai pembunuhan Allah”. Ia bahkan telah dikutip bahwa ia ingin “membunuh Allah dalam pikiran anak-anak”. Juga dikatakan Pullman bahwa ia adalah “penulis yang sangat paling akan didoakan oleh para ateis apabila mereka berdoa.”
Walaupun film “The Golden Compass” itu sendiri nampaknya lebih halus dan tanpa dosa, buku-buku Pullman sangat berbeda. Dalam tiga serangkai buku itu, seorang gadis jalanan terjerumus masuk ke dalam perjuangan bersejarah yang akhirnya berhasil mengalahkan kekuatan Allah yang pikun. Tokoh lain adalah seorang mantan biarawati, yang mengatakan Kekristenan sebagai “kekeliruan yang paling dahsyat dan meyakinkan”. Dalam buku terakhir, ada tokoh-tokoh yang melambangkan Adam dan Hawa yang akhirnya membinasakan Allah, yang kadang-kadang disebut YAHWE. Setiap buku dalam tiga serangkai buku-buku itu semakin menunjukkan kebencian Pullman akan Tuhan Yesus Kristus.
Film “The Golden Compass” yang dibintangi Nicole Kidman ini diatur untuk tayangan perdana pada 7 Desember ini, selama musim Natal, dan mungkin akan diiklankan besar-besaran. Para pendukung film ini berharap agar para orang tua yang tidak curiga terhadap motif di balik film ini akan membawa anak-anak mereka untuk menonton film ini, sehingga kalau mereka menyukai film ini, anak-anak itu diharapkan akan menyukai buku-buku Pullman.
Tolong sebar-luaskan pesan ini kepada sesama orang percaya agar pikiran anak-anak tidak diracuni oleh paham ateisme yang mau ditanamkan sejak kecil. Biarlah para orang tua apa agenda di balik film dan buku-buku Pullman yang sarat dengan hujatan terhadap Allah. Banyak hal-hal yang berasal dari dunia kegelapan akan dikemas dalam bentuk yang tanpa noda. Jangan biarkan anak-anak anda menonton film ini.
Saya melihat inti masalah dari selebaran e-mail diatas sama dengan inti selebaran dalam film Sebuah Penantian. Selalu saja ada yang ditakutkan dan dijadikan sebuah kewaspadaan ketika keimanan bersentuhan dengan hal-hal lain diluar dirinya yang punya potensi mengancam.
Sudah sejak ribuan tahun lalu, kepercayaan (belief), baik itu simple belief maupun organized belief, bersentuhan dan berbenturan dengan paham lain yang bertentangan. Sebagai bagian dari sebuah paham (isme), belief tidak pernah lepas dari perbenturan itu.
Dan sering juga perbenturan itu dianggap sebagai bahaya yang mengancam. Bukan saja mengancam keimanan dalam diri setiap orang tetapi dianggap bisa meruntuhkan sebuah organized belief.
Apakah sebuah isme dapat meruntuhkan isme yang lain ?
Apakah sebuah belief dapat meruntuhkan belief yang lain ?
.
.
.
Kalau kita pakai pertanyaan diatas dan menganalogikannya pada kasus film Sebuah Penantian dan film The Golden Compass, maka ada analoginya bisa seperti ini :
Kristenisasi bisa meruntuhkan Islam. Atheisisasi bisa meruntuhkan Kristen
Dan tentu saja saya tidak sepenuhnya setuju dengan analogi itu. Sebuah isme/belief adalah sesuatu yang tertanam di otak dan benak manusia. Mengubah belief tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan ketika sebuah fakta kebenaran sudah dihidangkan di depan hidung si pemilik belief itu.
Dalam aplikasi di lapangan, hal itu bisa saja terjadi. Misalnya ketika Mustafa Attaturk mengganti sistem kenegaraan dan pemerintahan di Turki. Ketika Ayatollah Khomeini memperkenalkan pemerintahan para mullah di Iran dengan menggusur Shah Pahlevi. Bisa secara aplikatif.
Tetapi belief tidak bisa dibunuh jika dia sudah masuk ke dalam benak setiap orang. Membunuh belief pada setiap orang diibaratkan seperti menabur garam di lautan luas.
….
Lalu apa yang ditakutkan dari perbenturan antar isme/belief itu ?
Apa ?
.
Iya apa ?
.
Jawabannya tentu banyak. Termasuk tidak bisa menerima sebentuk isme/belief lain dalam kehidupan interaksi sosial.
Ada yang mau jawab, Mengapa persentuhan dan perbenturan antar isme/belief selalu diterima dengan ketakutan dan keparanoidan ?
Saya juga punya teori sendiri tentang evolusi perkembangan belief. Saya pernah menuliskannya [di sini], meskipun demikian saya akan menuliskannya lagi. Sorry BambangGed, komen-nya dihidangkan kembali.
Awalnya adalah kepercayaan (belief). Belief, sepanjang hanyalah sebentuk kepercayaan, adalah sebuah proses internal psikologis dan kodrati manusia. Belief selalu ada dlm diri manusia, dan pada dasarnya adalah berusaha menghubungkan dirinya dengan sesuatu diluar dirinya sendiri. Baik itu berupa kekuatan supranatural (Tuhan atau apa saja) ataupun yang bukan.
Tapi belief itu sendiri bukanlan sebuah konsep yg unidimensional. Dia kompleks dan bisa tersistematisasi. Ketika dia masuk dlm proses sistematisasi, maka belief (baca : system belief) itu mengadopsi konsep-konsep lain kedalam dirinya sendiri. Menjadikan dirinya menambahkan konsep hubungan Diri-Tuhan dengan konsep-konsep lain yang belum tentu berhubungan dengan hubungan itu (spt Doktrin, Ajaran, Moral, Politik, dll).
Dan sesuatu yang tersistematisasi cenderung menjadikan dirinya terorganisasi dan terinstitusi. Menjadikan dirinya sendiri kaku, rigid, penuh dgn doktrin dan dogma.
Dan yang terakhir itulah yang sering kita katakan AGAMA.
Ketika dia (belief) mencapai tahap agama, maka konteks hubungan Diri-Tuhan akhirnya bukan menjadi konsep yang pertama dan terutama, seperti dalam belief (simple belief). Hubungan Diri-Tuhan akhirnya dilupakan dan diabaikan karena manusia (yg merupakan penganut belief/agama) lebih tertarik dgn bumbu-bumbu yang ada dlm hubungan Diri-Tuhan (belief) itu. Bumbu-bumbu itu adalah konsep, doktrin, dogma, dan segala macam tetek-bengek agama.
Lalu dimana Tuhan ?
Masih beruntung kalau Tuhan masih ada dlm hubungan simple belief itu. Karena hubungan Diri-Tuhan biasanya sudah tereduksi (atau terhibernasi, teralienasi atau malah sudah hilang) dan digantikan menjadi hubungan Diri-Dogma.
Teori sederhana ini saya ambil dari penelitian saya dulu tentang mekanisme belief pada diri manusia.
Kalau kita kaitkan antara ketakutan dan keparanoidan dalam berbagai selebaran, e-mail, SMS tentang film Sebuah Penantian/The Golden Compass, maka jawabannya bisa menjadi lain.
Ketakutan dan kepranoidan itu adalah bentuk lain dari ketakutan akan tereduksinya hubungan Diri-Dogma yang menjadi patokan utama dari organized belief (agama). Hubungan Manusia-Dogma (Manusia-Isme) lebih kuat dan lebih berakar dalam agama dibandingkan hubungan Manusia-Tuhan, yang seharusnya menjadi inti dari keberagamaan.
Untuk alasan itulah mungkin mengapa Geddoe mengatakan Tuhan Tidak Pernah Dicintai.
Potensi yang membahayakan dari film Sebuah Penantian/The Golden Compass bukanlah bahaya akan Kristenisasi dan Atheisisasi dalam film itu. Potensi yang membahayakan itu pada dasarnya terletak pada “gangguan” dan “riak-riak gelombang kecil” yang diakibatkan oleh film itu pada hubungan Manusia-Dogma. Potensi berbahaya itu ada pada diri manusia sendiri.
Ketika hubungan Manusia-Dogma dianggap sebagai hal yang paling utama dan terutama dalam keberagamaan, maka setiap riak-riak kecil gangguan dijadikan sesuatu yang berbahaya. Bahaya intinya tidak terletak pada “riak kecil gelombang” itu sendiri, karena bahaya yang real dan nyata bersumber dari diri sendiri yang tidak ingin melihat hubungan Manusia-Dogma tereduksi, teralienasi, atau malah hilang dari suatu hubungan organized belief.
Film itu bukanlah mengancam keimanan, kalau kita katakan keimanan adalah hubungan Diri-Tuhan. Film itu mengancam status-quo dan kemapanan akan hubungan Manusia-Dogma yang dijadikan kebenaran dan keutamaan dalam organized belief.
Pada titik ini, ancaman film itu sebenarnya bisa menjadi pembongkar akan konsepsi keagamaan yang lebih sering menempatkan konsep Manusia-Dogma diatas Manusia-Tuhan. FIlm ini seakan mempertanyakan, apakah keberagamaan kita hanya sebatas dogma saja, atau lebih daripada itu.
Masalahnya, persepsi orang yang sering berbeda. Apakah kita sedang ditampar supaya sadar atau kita sedang diacungi golok ?
Tamparannya adalah asli
Goloknya adalah ilusi
Analoginya hampir sama dengan Phobia.
Phobia mempunyai beberapa simptom untuk dapat ditegakkannya diagnosis sebagai phobia. Dari beberapa gejala itu, ada simptom utama untuk dikatakan phobia [dengan bahasa sendiri] :
- Ketakutan yang berlebihan (intense) dan menimbulkan distress.
- Ketakutan yang unreasonable/unrealistic.
- Obyek yang tidak mengancam/membahayakan.
…dan juga simptom yang lain….
Ketakutan berlebihan dan menimbulkan distress serta ketakutan yang tidak beralasan bisa dilihat sangat jelas pada reaksi beberapa orang atas film-film itu. Ada yang langsung membesar-besarkannya dan menyebarkannya pada orang lain. Ada yang menyumpah-nyumpah film itu sebagai perusak keimanan. Ada yang menambahkan dengan unsur hipnotis massal, tanpa tahu apa itu hipnotis massal bahkan hipnotis itu apa juga belum tentu tahu. Ada yang bahkan menambahi bumbu-bumbu lain seperti diputar di semua stasion TV dan tanpa iklan, bla…bla…bla…
Obyek yang tidak mengancam juga kelihatan disitu. Apakah film itu mengancam keimanan (baca : hubungan Diri-Tuhan) kita ?
Sudah saya sebutkan diatas, yang namanya belief sangat susah untuk diubah dalam sekejap mata. Apalagi dalam 2 jam pemutaran film. Bukan cuma sangat susah bahkan hampir tidak mungkin. Belief itu mengakar sangat dalam psychological system seseorang, lebih dalam daripada tingkah laku sehari-hari, bahkan lebih dalam daripada sikap (attitude).
Seorang mengubah belief yang dimilikinya harus melalui proses panjang. Misalnya, coba tanyakan pada orang-orang yang melakukan konversi agama. Seberapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk memutuskan pindah agama. Apakah hanya dalam 2 jam pemutaran film, atau seperti hipnotis massal yang membuat seseorang dengan sekejap tertidur ? Coba tanyakan juga pada mereka yang memutuskan untuk menjadi atheis, agnostik, atau ignostik. Apakah perubahannya dalam sekejap mata ?
Kalau film-film itu dikategorikan ancaman, maka ancaman yang ada hanyalah ancaman ilusi, ancaman yang artifisial, ancaman yang bukan ancaman, atau dengan kata lain ancaman yang dibuat-buat. Dibuat-buat untuk apa ?
Iya untuk apa ?
.
Apa ?
.
Apa yang ini ?
Atau yang itu ?
Atau yang ono ?
Atau nyang ntu ?
.
**************
to be continued….
Saya masih lelah, letih, lesu, loyo, dan kurang tidur.
Mungkin lain waktu akan dilanjutkan dengan gaya yang kurang brutal.
Tapi saya masih punya pertanyaan :
Kalau Islam takut dengan Kristenisasi, Kristen takut dengan Atheisisasi. Lalu Atheism takut dengan apa ya ? Apa agnostikisasi, hinduisasi, buddhaisasi, atau malah takut pada dirinya sendiri ?
![]()
Plizzz…. tolong jangan dilanjutkan pertanyaannya. Nanti tambah liar tak terkendali.
*mbaca lagi tulisan diatas*
*ternyata kurang brutal*
*tidur dengan kecewa*







PERTAMAX kapling dulu. Sabaaaarrrr… Panti dibaca dan dikomen kok.
anjrit… panjang banget,, nggak cocok kalo dibaca pas shubuh belum tidur gini… tapi kasarnya masih kalah kasar samabahasa saya mas…BTT… ya ya ya… saya kurang setuju kalo isme bisa menghancurkan isme yang lain… menurut saya suatu isme hanya menggantikan isme yang lain, tidak dihancurkan sehingga isme yang tersingkir itu masih bisa menggantikan ulang *setelah dimodif*
overall… post ini aneh *ini post keduanya bang fertob yang aku baca* masalahnya dipaparkan sendiri dan dijawab sendiri… terus saya harus komen apa…???
Nyodorin bukti niatan curhat.
Ini dan ini.
Tanggapan atas hipotesis liar: Kira-kira apa yang saya katakan sama kayak:
“I put no stock in religion. By the word religion I have seen the lunacy of fanatics of every denomination be called the will of God. I’ve seen too much religion in the eyes of murders. Holiness is in right action, and courage on behalf of those who cannot defend themselves, and goodness. What God desires is here–in head–and here–in heart–and what you decide to do every day will make you a good man…or not.”
Hospitaller of Jerusalem — Kingdom of Heaven
Tidak bisa lebih setuju lagi.
OOT: KLARIFIKASI TERBUKA
ini jawaban atas permintaan klarifikasi bung fertob
1.maksud dari komentar tersebut: saya sudah membaca tulisan anda dan beberapa komentar anda di postingan di blog lain yang membahas kondom, dan menurut saya isinya selalu sama, yaitu: anda mendukung kondom. saya tidak mengatakan anda kopi-paste dari tulisan orang lain. tolong dibaca lagi di blog anda sendiri yang bagian kondom
2.ad-hominem? saya sama sekali tidak bermaksud seperti itu dan tidak memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk melakukan itu.
3.menghina kehadiran anda di blog lain? maaf kalo anda merasakan seperti itu. tapi bukan itu tujuan saya. saya hanya terlalu kecewa dengan opini yang anda bangun di mana-mana tentang peranan kondom sebagai solusi utama dan agama adalah bullshit!
saya tidak akan memaksa diri saya menerima opini anda. dan oleh karena itu saya sudah menyatakan walkout dari diskusi kondom itu
akhirnya, semoga klarifikasi ini cukup. mohon maaf jika ada lontaran yang kurang berkenan
*salaman*
Waduh om, saya juga sempat bikin komentar sedikit mirip tentang hal itu.
Namun kemudian saya pikir tidak pas.
Jika manusia memakai agama sebagai alat “pembenaran” dan “penghalusan”, itu mungkin saja.
Namun jika nafsu-nafsu manusia memperoleh “pembenaran” dan “penghalusan” dalam agama, apa iya?
Dengan catatan, kita mau secara jujur dan rendah hati mencermatinya.
Tidak ada sesuatu yang disebut “perang suci” atas nama agama, perang ya perang dan itu kejam dan itu tidak suci (pendapat pribadi
).
Ups, link komentarnya salah, siyal
di sini mas
ada yang terhipnotiskalau ngomong soal sinetron itu, bukankah sudah banyak setantron yang sebenarnya lebih menghipnotis orang?
dan saya sepakat bang fertob, tidak akan mungkin orang akan mengubah belief hanya karena satu tayangan (yang diselingi iklan pula)
“maka silakan hubungi Romy Rafael.”

ya ada afa? maaf, saia lagi sibug menghifnotis fara user dudud ini..
“Dan itu juga ada di agama. Nafsu-nafsu manusia seakan memperoleh “pembenaran” dan “penghalusan” dalam agama. Sublimasi maksimal ada disitu karena semua nafsu liar bisa dibuat menjadi “kebenaran”.”
hmm….mbaca ini saia jadi ingedh FPI, teroris, dan antek-anteknya…
“Anda ingin memaki-maki orang lain ? Memaki-makilah atas nama agama. Dan anda akan dianggap suci karena itu.”
kalo yang ini saia jadi ingedh saadh sang legenda masih iduf, beliau dihina-hina begidu…
“Semoga itu hanya hipotesis liar saja.”
ohh..sukurlah kalo begidu…..cuma hifotesis ternyata
“Tetapi belief tidak bisa dibunuh jika dia sudah masuk ke dalam benak setiap orang. Membunuh belief pada setiap orang diibaratkan seperti menabur garam di lautan luas.”
kalo begidu, yang kmaren cuaf-cuaf sufaya kita-kita ini ndak nonton, adalah orang yang sebenerna ndak funya belief di hati mereka ya bang?
“Film itu mengancam status-quo dan kemapanan akan hubungan Manusia-Dogma yang dijadikan kebenaran dan keutamaan dalam organized belief.”
ah ya, itu maksud saia…overall, buadh saia ini uda brutal sangadh!!!
*aqidahna goyah* duhh…
*girang namanya disebut-sebut*
Masalahnya yang jelas sih bagi saya ada tiga.
Yang pertama jelas; standar ganda. siraman rohani Islam proporsinya sangat besar di televisi. Siraman rohani Kristiani cuma seupil,
agnostisisme malah nggak ada. Kalau ada siraman rohani agama lain, umat bersungut-sungut, takut kalau-kalau imannya yang maha benar itu tergoyah (ini masalah surga/neraka tentu, Tuhan sih nggak masuk hitungan, kekeke). Kadang nggak memikirkan nasib minoritas yang dibombardir propaganda agama lain setiap harinya.Yang kedua; pemberhalaan agama. Seperti yang mas (dan saya) bilang, memangnya kenapa kalau pindah agama? Tetap menyembah Tuhan, bukan? Yang berbeda itu, agamanya. Ini bukan masalah pindah agama itu benar atau tidak, tapi lebih kepada Tuhan betul-betul bukan faktor. Lebih kepada hubungan manusia-dogma yang mas katakan.
Yang ketiga, yang paling menjijikkan; child abuse. Saya setuju dengan (duh) mbah Dawkins dalam perkara ini. Terlihat dari propaganda anti Golden Compass di atas. “Jangan biarkan anak anda menontonnya”. Ini, seperti yang dikatakan sang Darwin’s Rottweiler, mengerikan. Anak-anak dianggap memiliki agama sendiri, dan diharapkan untuk ‘menjaga’ ‘agama’ mereka. Anak-anak tidak diberi kesempatan memilih, semua dididik sebagai pengawal dogma institusi religi tertentu.
*makan permen*
Dan saya mau ada siraman rohani agnostik!
pertama-tama: wuiiiihh puannnjaaangnnya
kedua-dua: topiknya terlalu berat dan kompleks, perlu banyak pemahaman untuk mengkoinsidensikan berbagai statement yang nyaris disetujui sebagai kebenaran oleh sebagian besar pembaca <— maksutnya cuman.. otak ndableg saya ga bisa mencernanya dalam sekali baca mas
ketiga-tiga: saya suka dengan hipotesis liar nya. Itu memang cara yang paling elegan, memperoleh pelampiasan sekaligus tidak tercekal oleh dogma dan segala macam aturan di lingkup sosial
postingannya keren
*baru sekali ni singgah kemari, maklum mas warga kuper*
*menyodorkan tangan bersalaman*
Panjang banget postingannya, cape de…..
Pengen ikutan nangkring BOTD nih ceritanya
POKOKNYA saya setuju sama bang Fertob!!!
saya takut kalo orang yang saya pinjem duitnya tiba2 datang ke rumah saya dan nagih pelunasan pas ketika kondisi keuangan saya sedang cekak!
sumpah, saya takut!
Panjang sih Panjang, tapi teu puguh
kalo gak punya nafsu, gak punya ambisi, gak punya idealis etc, etc
gak beda kaya kebo atuh om,
sukses selalu, bersama tulisan-tulisan nya
benar benar brutal! sebrutal promosi sebuah pilem dan tanggapan terhadap promosi itu
darah anda telah layak dihalalkan!
Artikel yang bagus. tapi..mm..gak jadi deh.
Kesimpulan:
Film Endonesia banyak teriakan dan caci maki. Film Islam banyak mistis dan kadang pake peri (bahkan film khusus dibulan ramadhan pun pakai peri).
Lebih bagus nonton acara Solusi di SCTV (eh masih ada ga ya).
sama bang…aku jg capek…..
http://restlessangel.wordpress.com/2007/12/17/saya-capek/
maap, walo nama abang di situ aku sebut, tp aku ga nyebar trekbek. biar simpel aja sih, hehe. habis banyak bgt bogger yg membahas topik ini, dr yang setuju sampe yang capek seperti kita2 ini.
hmmm….buat apa beragama kalo ndak menjadikan kita tambah baik, ya ??? maksudnya berguna bagi sesama dan lingkungan.
apakah ‘fobia’ dan ‘paranoia’ thd perbedaan itu -disini konteksnya beda agama / keyakinan- itu disebabkan prasangka ???
aku lg nyari hubungan antara prasangka dan ‘paranoid terhadap perbedaan’ yang menyebabkan konflik antar kelompok yang berbeda. habis, nyari2 jurnalnya kok belom nemu. ato mas fer ada ??? boleh dong, kirim ke aku. buat bahan tesis nih.
kebetulan, intervensi yg aku mo pake adalah appreciative inquiry. asumsinya adl, dengan membangun sikap berdialog yang positif dan mengapresiasi perbedaan & kelebihan -alihalih kelemahan dan menajamkan perbedaan- maka prasangka itu bisa dikurangi.
kl mas fer ada jurnal2 yang berhubungan, wah makasih bgt.
-whew, kok jadi ngelunjak ni^^-
Emang lucu dan naif bro, tanggapan demi tanggapan mengalir tanpa seorang-pun seperti-nya memahami apa yang sedang ter-jadi. Semua-nya ber-dasar pada ke-paranoid-an yang menurut-ku tidak ber-alasan.
Harus-kah kita menakuti sesuatu yang tidak perlu di-takut-kan? Bukan-kah ke-iman-an seseorang adalah pilihan mutlak dari orang ter-sebut, dan bukan miliki orang lain? Maka-nya aku jujur aneh dengan sindrom dan euforia yang ter-jadi sehubungan dengan konteks di-atas
@ deteksi :
Komentarnya OOT.
Saya akan menuliskannya dalam tulisan khusus. Komentar anda di blog ini aslinya seperti ini :
Bagi saya itu adalah ad hominem. Penjelasan anda tidak bisa menjelaskan mengapa anda membuat komentar seperti itu.
Kalau anda kecewa dan tidak setuju dengan komentar dan argumentasi saya mengenai masalah kondom, silakan bantah dengan opini yang lain.
Tapi ingat : Jangan Ad Hominem.
Bersikap ad hominem sama dengan menghina kualitas kecerdasan dan emosi anda sendiri. Sepanjang saya ngeblog, saya tidak pernah menyerang seorang bloger secara personal. Yang saya serang hanyalah konsep dan konteks dan tidak langsung menunjuk pada orang yang bersangkutan.
Terima kasih atas tanggapan anda. Dan terima kasih telah menambah jumlah bloger-bloger yang sering memberikan komentar ad hominem di blogsphere.
@ roze :
Oooo… jadi curhat masih dibolehkan ya ?
*sambil lihat TOS*
Dan sepertinya kita tahu kalau itu adalah keinginan Tuhan.
Jadi ingat quote dari Thomas Szasz :
Tapi sepertinya bukan dari situ ya…. sepertinya “keinginan Tuhan” itu sama dengan “doktrin”
@ Mbel :
Bisa jadi. Kecurigaan mengapa agama-agama besar diturunkan di Timur Tengah yang saat itu masih barbar bisa jadi menyetujui hipotesis itu. Tapi yang saya katakan itu nggak ada hubungannya dengan dimana turunnya agama, mas.
Yang jadi patokan adalah kenapa dlm agama banyak sekali terdapat tindakan-tindakan yg dilakukan oleh umatnya dan melanggar hukum/nilai/norma tetapi “dibenarkan” karena ada label agama diatasnya.
@ sigid :
Gini mas. Itu hanya hipotesis liar saja kok. Tapi hipotesis itu punya landasan.
Landasan pertama adalah konsep Nietzsche tentang “hasrat manusia”. Hampir dalam keseluruhan pemikirannya, Nietzsche berbicara tentang “hasrat”, mulai dari hasrat untuk berkuasa, hasrat manusia sempurna, kematian Tuhan, moralitas subyektif, manusia yang ditinggikan dan lain-lain.
Konsep Nietzsche ini kemudian diterangkan lagi oleh Freud, yang mengatakan bahwa manusia di dorong oleh hasrat-hasrat libidinal-nya (libido). Hasrat-hasrat itu adalah “energi kehidupan” yang memberikan “nafas” bagi manusia. Bagi Freud, hasrat yg direpresentasikan dlm Id adalah sumber kehidupan manusia.
Teori Freud kemudian dilengkapi lagi oleh Lacan. Lacan mengeliminir konsep Freud dimana ego dikatakan penyeimbang antara dorongan-dorongan primitif manusia dan larangan-larangan sosial/moral. Bagi Lacan, fungsi ego tidaklah sehebat itu, ego tetap saja memberikan tempat yang sangat besar pada hasrat (nafsu/id) dibandingkan yang lain. Hasrat adalah pusat dari diri manusia (phallus). Id/Hasrat adalah sesuatu yang berasal dari dalam manusia (internal). Dia bisa mengambil bentuk apa saja asalkan tersalurkan/dipenuhi. Penyaluran hasrat inilah yang bisa mengambil berbagai bentuk termasuk “sublimasi” menjadi bentuk-bentuk yg lain yg dapat diterima.
Moralitas dan Agama tidak berasal dari diri manusia. Dia berasal dari luar manusia (eksternal). Dan moralitas/agama tidak menjadi bagian internal manusia, berbeda dgn hasrat/nafsu.
Dan HASRAT bisa beralih bentuk berupa AGAMA/MORALITAS agar dapat diterima oleh lingkungan. Ekstrimnya, pada dasarnya adalah hasrat, dan bentuk-bentuk lain adalah bentuk penyaluran dari hasrat itu sendiri.
@ Mbak Ira :
betul mbak, hampir nggak mungkin mengubah belief dalam sekejap waktu.
@ hoek :
lho, kok romy rafael jadi nggak jelas sangadh nih…
memangnya mereka mirip ya ?
o iya, sang legenda memang menjadi korban maki-maki atas nama agama.
oh, mereka punya. tapi kepercayaan itu sudah berubah bentuk. bukan lagi I Believe in One Supreme God, tapi diganti jadi I Believe in One Supreme Doctrine.
kalau goyah, cari pegangan mas hoek ! anda butuh pegangan, tapi tolong cari pegangan yang benar menurut mas hoek dan jangan menurut “kata orang”
@ Geddoe :
Sangat biasa dan lumrah kalau mayoritas mendapat porsi lebih banyak. Yang minoritas juga tidak perlu bersungut-sungut karena hal itu. Tapi yang saya kurang bisa mengerti itu kalau siraman rohani dari agama minoritas itu dijadikan kecurigaan dan keparanoidan oleh pihak mayoritas.
Dan itu juga yang saya lihat di polemik film diatas.
Oiya, ini fenomena dimana AGAMA yang disembah dan disucikan, dan bukan TUHAN lagi. Agama menjadi pembeda dan bukan yang lain. Dan memang agama (dogma) akhirnya diberhalakan dan dijadikan sesembahan baru, sementara Tuhan tidak lagi diberhalakan dan disembah, atau dengan kata lain : cuma jadi pelengkap pembenar.
Dan anak-anak memang jadi korban persinggungan dan perbenturan antar belief/isme itu. Anak-anak sudah punya agama sendiri dan agama anak-anak itulah yg harus dijaga. Saya setuju dgn itu.
Tapi bagi orang lain, konsep “pilihan bagi anak termasuk pilihan spiritual” adalah konsep yang sangat asing dan “haram”
ntar kalau saya buka stasion TV sendiri, mungkin acara itu akan saya bikin
kalau nggak dilabrak FPI/yang lain.@ ordinary :
hehehehe….. udah terbiasa dengan tulisan panjang sih…
tolong mbak, plizzzz…. hipotesis liar itu jangan dianggap sebagai sebuah kebenaran. itu cuma imajinasi liar saja, walaupun saya punya dasar utk mengatakannya.
@ pras :
hehehehe… cape deh..
@ dobelden :
seperti kata mas antobilang :
@ joyo :
I’m With You
*sambil dengerin lagu Avril*
@ nw354 :
makasih mas…
panjang emang iya, tapi sudah terbiasa nulis panjang, jadi…..
@ Siwi :
*menunggu hari kiamat*
*sambil manggut-manggut*
@ Joko Supriyadi :
kok nggak jadi mas ?
@ Menggugat Mualaf :
hehehe… sinetron itu sangat jarang yang bagus. tipikal dan stereotip. lebih baik ngeblog daripada nonton sinetron.
*Kecewa karena kurang brutal*
Jujur saja saya capek dan bosan dengan hal-hal seperti itu Bang.
Saya capek dengan sikap reaktif dari berbagai pihak.
Sepertinya banyak pihak yang memiliki “gerak refleks” yang terlalu bagus.
He he, bingung om
Namun dua paragraf terakhir sedikit punya gambaran.
Jadi yang dimaksud memperoleh “pembenaran” itu adalah memperoleh sarana sebagai bentuk penyaluran hasrat ya.
Dan bukan seperti keyakinan itu mengakomodasi nafsu kita.
Gitu ndak njih mas?
“Agama yang seharusnya jadi tempat menemukan makna hidup akhirnya harus berakhir dalam ladang ketakutan.”
Setuju mas, rupanya agama yang saya lihat seperti itu bukan lahir dari asli budaya Indonesia… mungkin ajaran yang dikenal dengan import.. yang kebanyakan suka dengan kekerasan.
Benar2 brutal liar tak terkendali…
*panjang amet, cuma baca paragraf2 terakhir…
Entah kenapa tiap kali disini posting soal agama, saya sulit untuk memberi komentar..
Mungkin karena terlalu rinci hingga tak ada celah lagi untuk dikomentari..
Lagipula saya selalu setuju dgn apa yang dikemukakan bang Fertob..
Bagus sekali tuh katany2…
Ya-ya-ya I just realized it. Therefore some people claim themselves are truth and honest, and bring religion as a license to destroy other. Are we the truth and honest or just blind-fanaticism?
@ exmus :
betul bro, saya juga heran. tetapi itu mungkin masih ciri kita dalam memahami agama.
@ deking :
saya juga kecewa karena “kurang brutal”
“gerak refleks” ? hehehehe…. kalau soal itu memang banyak yg punya reaksi spontan yang sangat luar biasa. bukannya “bangsa kita” sudah terbiasa dengan reaksi spontan dan tanpa rencana ?
@ sigid :
yup, intinya seperti itu mas. penyaluran hasrat keluar itulah yang sering dikatakan pembenaran. masalahnya penyaluran hasrat juga sering berbentuk sublimasi. dan kalau sudah berbentuk sublimasi maka sesuatu yang “mulia” dan “suci” bisa menjadi topeng penyaluran hasrat manusia, misalnya saja agama.
@ kurtubi :
apa itu berarti kita harus memakai agama lokal ?
*setahuku agama yg resmi di indonesia semuanya import”
@ praditya :
lagi menyalurkan hasrat berbrutal-ria…
*makasih kunjungannya mas…*
@ Qzink :
hehehehe…. kalau soal agama, memang saya terlalu amat sangat kritis, tapi menurutku masih kalah kritis dari Geddoe.
@ gimbal :
and the truth is out there….
*ngutip the X-Files*
@ medina :
tentang jurnal, saya ada beberapa tetapi nanti dicari dulu siapa tau ada yg nyangkut.
Pakai appreciative inquiry ya ? saya tidak terlalu familiar dgn pendekatan ini karena pendekatan ini termasuk baru dlm ilmu-ilmu sosial. Tetapi nanti saya bantu kalau ada yang berhubungan dengannya.
*sampai dimana thesisnya ?*
Artikelnya panjang banget sampe bingung,
Manusia memang makhluk yang paling aneh dan unik! Ya gara-gara akalnya itu hehehehehehehe..
Selamat berimajinasi saja! saya numpang lewat! untuk minum sebentar!
nuwun sewu mas! matur nuwun!
Kebrutalan ini berlanjut di perang “Doraemon sesat?” kah???
*Tergopoh-gopoh datang telat*
Mana brutalnya???
*dihajar*
Hehe, kalo saya bilang sih, paranoid itu cuma salah satu reaksi karena takut keluar dari “comfort zone”.
Dan seperti yang pernah saya posting, saya lihat betul juga, kebanyakan dari kita benar-benar dikuasai karakter buruk yang terpatri dalam false belief, illogical emotion dan inconsistency…
[...] Agama? Aku mulai memikirkan kegundahan hatiku kala manusia bertanya kepadaku, apakah agama yang melekat [...]
[...] MUI, poligami, qurban, seks, terrorisme trackback Setelah membaca (dengan sok paham) sebuah hipotesis liar-nya Bang Pyrrho, saya sebagai manusia yang ktpnya beragama, merasa berkepentingan untuk melindungi [...]
sebetulnya bukan agama yang brutal, pun manusia yg menjalankan agama itu. tidak ada yang brutal. semua baik-baik saja. justru yang brutal itu adalah malaikat maut ! sejak diciptakan hingga kini bahkan “mungkin” hingga akhir zaman, kerjaannya cuma mencabut nyawa. harusnya, bila memang tuhan itu ada, maka yang pantas mendapat hukuman paling berat adalah malaikat maut.
bener gak ya hipotesa saya ?
gimana kalo Tukulisme? kayaknya gak ada protes kalo dibikin Tukulisasi. semua bahagia, tertawa, dan sejahtera *barangkali*
Film-film jelek kayak gitu mana bisa meruntuhkan iman?
Kalo “Polar Express”, nah itu baru film yang mencengangkan.
Wong saya aja tercengang. Gimana dengan anak-anak?
Suka Polar Express gak mas?
[...] Agama? Aku mulai memikirkan kegundahan hatiku kala manusia bertanya kepadaku, apakah agama yang melekat [...]