…i am back….
- suer, ini postingan berat
- maaf kalau tidak bisa memberikan hidangan ringan
- ini juga adalah refleksi pribadi
Moralitas dalam pengertian terbatas sering diartikan sebagai sekumpulan nilai dan norma [baik-buruk] yang dipegang oleh individu atau sekumpulan individu (masyarakat). Moral adalah kesepakatan beberapa orang atas nilai-nilai yang mengatur hidup dan perbuatan mereka.
Dalam titik ini, moral bisa bersifat universal, ketika pegangan nilai dari suatu masyarakat juga dianut oleh orang lain di belahan dunia yang lain. Moral juga bersifat regional, ketika ada suatu nilai-nilai tertentu yang dianut suatu komunitas tetapi tidak diterima oleh komunitas lain.
Lepas dari pandangan itu, Nietzsche juga mengungkapkan 2 jenis moralitas yang dimiliki oleh manusia. Kedua jenis moralitas ini dapat dilihat dengan jelas pada kedua bukunya, On The Genealogy of Morals dan Beyond Good and Evil :
- Herren-Moral atau Morality of Lords (Moralitas Tuan/Majikan),
- Herden-Moral atau Morality of Slaves/Herd (Moralitas Budak/Kawanan)
Apa yang baik dan buruk berbeda dalam pengertian Tuan dan Budak. Apa yang baik dan buruk sebagai ukuran dalam moralitas pada dasarnya bukanlah sesuatu yang sama pada setiap orang, karena perbedaan “tuan/majikan” dan “budak/hamba” menentukan jenis moralitasnya.
Apa yang baik ?
- Apa yang baik bagi sang Tuan adalah perasaan jiwa yang tinggi, bangga, megah, agung, dan hal lain yang senada dengannya.
- Apa yang baik bagi sang Budak adalah apa yang damai, tenang, yang tidak merugikan, menaruh belas kasihan, dan lain sebagainya.
Apa yang buruk ?
- Apa yang buruk bagi Sang Tuan adalah apa yang berlaku umum, biasa, lazim, dan lumrah serta tak bernilai.
- Apa yang jahat dan buruk bagi Sang Budak adalah apa yang menonjol, melebihi kawanan, yang berbahaya, yang luar biasa, dan lain sebagainya.
Moralitas kawanan atau moralitas budak dipertegas lagi oleh Nietzsche dalam buku The Gay Science. Dalam kasus ini, Nietzsche merujuk pada ajaran-ajaran moralitas pada agama (terutama tradisi Judeo-Christian). Nietzsche mengatakan bahwa moralitas budak/kawanan adalah ciri dari moralitas dalam agama :
Morality is herd-instinct in the individual.
(Nietzsche : The Gay Science, section 116)
Sejak ribuan tahun lalu, sejak agama-agama lahir di muka bumi ini, moralitas selalu menjadi salah satu inti dalam ajarannya. Apa yang diberikan oleh moralitas dalam agama adalah suatu perbedaan tegas antara baik dan buruk dan juga benar dan salah.
Perbedaan antara baik dan buruk [juga benar salah] dirumuskan dalam bentuk sublimal yaitu DOSA. Apa yang melanggar aturan-aturan agama yang berasal dari Tuhan dinamakan dan dikategorikan sebagai Dosa. Implikasinya, moral selalu identik dengan dosa.
Tuhan dalam agama akhirnya berujung dalam pemahaman bahwa Dia adalah oknum yang “melarang”, “mengatur”, dan “mengendalikan” hidup manusia. Segala jenis penyimpangan atas larangan, aturan, dan kendali yang telah ditentukan oleh Tuhan dalam bentuk moralitas adalah DOSA.
Semuanya ini biasanya ditanggapi dalam bentuk penerimaan total. Tidak boleh ada pemberontakan disitu. Tuhan menjadi “father“, “mother“, dan “babysitter” bagi manusia. Dan manusia adalah “baby“. Tak heran, ketika manusia akhirnya menjadikan Tuhan sebagai “tameng” dan “perisai” ketika justru mereka bertingkah laku menyimpang. Tuhan dalam agama lalu dipakai untuk menutupi perilaku itu.
Bahkan ketika perilaku itu sama sekali tidak bermoral, perilaku itu bisa “dihaluskan” atas nama Tuhan. “In-the-name-of-God”, I can do anything. Manusia lalu menjadi budak dari keinginannya sendiri dan menjadikan Tuhan sebagai perisai dari keinginan itu. Tak ada tanggung jawab pribadi sebagai manusia yang bebas dan merdeka disitu, karena segala tanggung jawab telah dilemparkan kepada Tuhan.
Inilah yang dikritik dan dibongkar habis oleh Nietzsche ketika dia melontarkan ide Moralitas Tuan dan Moralitas Budak. Pada dasarnya, moralitas yang tampak dalam agama yang dilakukan oleh umatnya dengan bangga adalah bentuk lain dari moralitas budak.
Berbeda lagi kalau kita melihat dari sisi rasionalisme yang pernah menguasai pemikiran-pemikiran di dunia selama berabad-abad. Bagi agama, IMAN dan DOSA adalah ukuran dari moralitas yang diagung-agungkan. Tapi bagi filsafat pasca Socrates dan Descartes, bukan iman yang jadi patokan, tetapi AKAL BUDI.
Segala ukuran tentang baik dan buruk, diletakkan dalam pemahaman bahwa manusia adalah makhluk rasional yang berakal budi. Pada titik yang ekstrim, segala sesuatu harus dilenyapkan, termasuk Iman dan Dosa, dan tiba saatnya untuk mengagungkan rasio sebagai panglima dalam hidup manusia.
Cogito, Ergo Sum ala Cartesian menjadi semboyannya. Apa yang baik dan buruk adalah apa yang dipikirkan melalui rasio. Bahkan hasrat biologis pun bisa dikendalikan dengan rasio. Dan memakai analogi dari Nietzsche sebelumnya, kita bisa menjadikan sebuah paradigma baru :
What is good ? Whatever augments the common sense, logic, and any view appealing of reason.
What is evil ? Whatever springs from “the goblokness“![]()
Pada moralitas yang dikenal, setidaknya kita dapat melihat 2 sisi yang kelihatan sangat jelas. Sisi pertama adalah Iman yang jadi pegangan dalam agama. Dan sisi kedua adalah rasio yang diagungkan dalam filsafat rasionalisme.
Mana yang lain ?
…..continued to Chapter 2 : Passion….







Meski nyang ini refleksi pribadi, sayah bisa connect, boss.
Btw, berarti akal budi sangat mempengaruhi moralsitas seseorang.
Betool begetoo….???
Apakah kedua sisi itu terpisah bang?
atau seperti sistem, yang saling berkait??
cuma mo komentar: skinnya jelek mas… gak suka aku…
cuma pendapat pribadi kok
kedua-duanya bersifat baik, tapi saya menyoroti seperti ini:
dalam kaitannya dengan konteks kemanusiawian, ada celah diantara iman dan rasio(akal budi)
iman, adalah sifat agama. didasari pada hal yg disebut ‘keyakinan’. dari keyakinan tersebut manusia akan menjalani keimanan. Tapi keyakinan adalah sesuatu yang diluar akal. Ketika kita ‘yakin’ maka hal apapun didalam ataupun diluar akal akan kita jalani, dan inilah yang mengakibatkan kerusakan moral yang disoroti seorang Nietzsche.
sedangkan akal budi, didasari pada panca indera. apa yang kita lihat, kita dengar, kita lakukan dll. dari hal2 tersebut sel otak kita bekerja untuk memilah baik buruk, benar salah. Dari sini muncul norma2 masyarakat. Norma2 ini terus berkembang mengikuti perubahan. dan norma2 akan berbeda disetiap tempat.
kalau saya?? saya memilih akal budi sebagai landasan utama.
btw, penjabarannya keren bang, pulang membawa pencerahan..
dan ini ber-arti tidak ada standar baku untuk moralitas itu sendiri kan bro? nah se-andai-nya benar begitu, bagaimana kita menyikapi-nya dong?
Jika saya menjadi tuan dari nafsuku, maka aku ada.
*penyitiran semena mena*
geleng2, hasil dari kejenuhan aja spt ini
*belajar*
lho udah ganti skin lagi tho… waduh… belum ada 1 hari… keknya lebih bagus yang ini dari yang tadi siang/pagi
penjabaran yg sngt baik menurut saya; semoga inti dari moralitas massal dpt d pahami d sini..
iman dlm agama dan akal budi (rasio) dlm rasionalisme.. ada brbagai konsep yg melandasi iman agama dan brbagai konsep yg melandasi rasio rasionalisme, dan Nietzsche t’lah menghancurkan segala konsep ‘moralitas’ dlm batasan yg paling jauh; ketiadaan konsep; nihilisme..
dikatakan d sana; dia telah mencapai tapal batas trjauh dan menceburkan dirinya sendiri k dlm kegilaan konstan! tentu yg spt itu tdk mudah untk d terima oleh keimanan agama pun jg kaum rasionalis..
tp bagaimana pun moralitas yg t’lah d jabarkan, sekali lg, sngt jls dan mudah d mengerti; semoga tak ada kerancuan dlm menerima inti pemikiran itu
Menurut saya secara extreem ada dua jenis Moralitas: Moralitas Agung (MoA) yang berdasarkan keyakinan sepenuhnya dan cenderung universil berdasarkan kodrad manusia yang meyakini adanya sesuatu yang tak terjangkau oleh akal. MoA tak mungkin terakses oleh kemampuah manusia karena hanya dimiliki oleh Tuhan YME. Moratitas Minimalis yang berdasar kesimbangan antara feeling (irrationil)) , fikiran (rationil) dan kenyataan(relaistis). MoM juga dapat menjadi universil karena dalam kenyataan tak ada manusia yang mau dirugikan dan akan terbukti merugikan lingkungan akibatnya juga merugikan orang itu sendiri yang menjadi bagian dari lingkungan.
MoM ini sangat sederhana memuat interksi antara manusia dan lingkungannya, hingga dapat dimiliki oleh individual,komunitas atau menjadi universil, yaitu kebiasaan berfikir yang tak merugikan diri sendiri dan lingkungan. Namun Mom memerlukan waktu lama untuk dapat menjadi universal,karena memerlukan bukti (experimen) untuk meyakini akan manfaatnya.
Diantara kedua kondisi extreem ini terdapat berbagai varian.
MoM erat kaitannya dengan Teori Minimalis dan Filosofi Minimalis. Ketiganya berbasis pada informatika. sehingga meliputi aspek keyakinan/feeling yang irrationil, aspek logika/fikiran yang rationil dan aspek materi/kenyataan yang realistis.
Dalam feeling merugikan berarti menimbulkan rasa tak nyaman, dalam logika berarti menghasilkan sesuatu yang negatip (semakin lama semakin kecil manfaatnya), dalam kenyataan semakin lama semakin buruk, semakin amburadul.
Kebiasaan dapat terjadi karena perulangan, sehingga akhirnya berjalan tanpa disadari.
Disini jelas bahwa dimensi waktu memegang peranan sangat penting, setiap,proses membutuhkan waktu.
Hidup manusia secara individual sangat pendek, namun dapat ber kesinambungan. Dalam masa perjuangan bangsa Indonesia dikenal semboyan: gugur. satu tumbuh seribu. Jiwa kepahlawanan sangat perlu diwariskan kepada generasi beriktunya. Kontiniutas ini dapat berlangsung lewat sistem informatika, karena informatika merupakan penghubung antar waktu dan ruang.
Untuk mengatasi problema bangsa Indones saat ini, misalnya korupsi, pembalakan liar, kekerasan, dll. lebih mujarab mana moa tau mom? Jelaskan dengan objektif dan tak tendesius.
Kedua-duanya kurang mujarab untuk mengobati “penyakit” bangsa Indonesia saat ini.
1.MoA hanya efektif pada masyarakat yang sangat menyakini akibat dosa. Apakah bangsa Indonesia saat ini masih takut terhadap dosa? Jika mereka masih meyakini adanya kehidupan abadi ,sorga dan neraka, mereka tak akan menggunakan hidup yang singkat ini untuk berbuat dosa, sebab yang dipertaruhan adalah kehidupan abadi.
2.MoM hanya efektif bagi yang meyakini hukum sebab akibat yang terjadi dalam kehidupan dan bukan karena ancaman dosa atau norma yang berlaku dalam masyarakat saat ini. Saat ini manusia tak peduli akan akibat dari perbuatan, yang difikir hanyalah keuntungan yang diperoleh dalam waktu yang singkat. Mom membutuhkan waktu panjang untuk membuktikan manfaatnya.
Dalam tanya jawab Teori Minimalis (tjtm4) saya memperkenalkan MoTH sebagai upaya untuk mengatasi/mengobati penyakit bangsa Indonnesia saat ini’ Moralitas Tertib Hukum saat ini telah berlaku diberbagai negara “modern”, misalnya Singapura dan Australia. Kehidupan bermasyarakat sepenuhnya diatur oleh hukum buatan manusia, dari yang paling sederhana, misalnya membuang sampah, meninggalkan anak tanpa pengawasan orang tua, disiplin berlalu lintas dll. MoTH ini akan segera dapat “membuahkan” masyarakat tertib hukum, namun disisi lain manusia sekedar menjadi objek hukum.
Pemberlakuan APP atau papg sebagai bukti ketidak berdayaan Pemerinah/bangsa Indonesia mengendalikan perilaku masyarakatnya dengan MoA hingga “terpaksa” menggunakan MoTH. Agar MoTH dapat berhasil harus diberlakukan sangsi bagi pelanggarnya. Susahnya, bangsa Indonesia sangat majemuk,terdiri dari berbagai budaya dan adat istiadat. Mudah-mudahan APP tak berakibat perpecahan kesatuan Indonesia.
menyatukan dua pemikiran atau lebih,tidak semudah seperti apa yang bisa di bayangkan…tentu harus ada landasan pemikiran akan keduanya…
seperti filsafat dan agama…jika dasar pemikiran untuk mencapai yang di maksudkan dari awal berbeda…maka untuk mencapi suati titik temunya pun sulit…bahkan akan menjadi konflik pemikiran…
alangkah baiknya apabila kita bagi masing-pemikiran..setelah final kita bandingkan…dan kita olah…jangan memaksakan dari satu pemikiran untuk menjadi satu pemikiran yang lain…biarkanlah…perbedaanya terlihat…karena itu sebagai penanda…dari perjalanan hidup tentang suatu pemikiran…..
Perbedaan itu anugrah Tuhan YME yang harus disyukuri. Biarlah yang berbeda tetap berbeda yang sama masih banyak.
Hubungan antara logika dan moralitas:
TM menginformasikan: logika adalah hubungan antara argumentasi dengan kesimpulan, atau hubungan antara suatu sebab dan akibat yang ditimbulkan dan sebaliknya.
Ada berapa tipe logika:
a. Logika keyakinan: tak perlu dibuktikan atau dikaitkan antara berbagai argumen walau bertentangan dengan kenyataan., kalau sudah yakin maka argumentasi tak dibutuhkan. Misalnya hidup hanya sekali, Tuhan maha Adil., kenyataannya didunia ini banyak ketidak adilan. Tak usah dikaitkan satu dengan yang lain.
b. Logika fikiran: diperlukan bukti, namun harus diilimenir kenyataan yang dapat mematahkan hubungan antara argumentasi dengan pengambilan kesimpulan. Logika dalam mathematikan: A=B, B=C maka B=C., kenyataan bola=bulat, kelerteng=bulat, jadi Bola=kelereng tak benar sepenuhnya, kebenaran semu. Argumen tentang ukuran bola, bahan bola harus, disingkirkan sebab dapat membatalkan logika fikir. Logika fikir hanya mengenal true or false, benar atau salah, hitam dan putih.
Kedua logika tersebut digolongkan dalam logika semu.
c.Logika nyata:Berbagai argumentasi dibutuhkan untuk mengambil suatu keputusan, bukan hanya persamaannya dalam satu faktor melainkan juga perbedaannya, perbedaan quantitas dan kwalitas, penggunaan teori probabilitas, motivasi berlogika, situasi dan kondisi lingkungan dan budaya dll hingga sangat kompleks, tak semudah logika semu.
Logika nyata sangat dipengaruhi oleh motivasi si pengambil kesimpulan atau kelompoknya: Logika hukum berbeda dengan logika kedokteran atau logika bisnis, logika politik dll hingga masing-masing sering berbeda bahkan bertentangan.
Logika nyata bagaikan suatu program terapan (applied software) yang bermanfaat untuk mengambil putusasan/ eksekusi dari masukan untuk dilaksanakan dalam perbuatan/tindakan.
Moralitas: adalah norma atau tatatan yang diperlukan untuk mengatur kehidupan ber masyarakat agar tak terjadi kekacauan. Moralitas bermanfaat untuk mengendalikan manusia agar atak berbuat semauanya hingga meruguikan lingkungannya.
Paling tidak menurut TM ada tiga jenis moralitas:
a.Moralitas Agung (MoA): menggunakan dosa sebagai pengendali perbuatan manusia. Masyarakat dapat ditata dengan dijanjikan sorga sebagai yang bebas dari dosa dan neraka sebagai hukuman bagi yang berdosa. Peradilannya dinamakan peradilan akherat.
b. Moralitas Tertib Hukum (MoTH): menggunakan hukum yang dibuat oleh kesepakatan manusia atau penguasa untuk mengatur kehidupan bermasyarakat. Barang siapa melanggar hukum yang berlaku walau buatan manusia akan segera dikenakan sangsinya, tanpa menunggu peradilan akherat. Mereka yang patuh pada hukum yang berlaku buatan manusia akan dilindungi oleh hukum dan pelaksananya.
c.Moralitas Minimalis (MoM): berdasar filosofi Minimalis: Kebiasaan berkeyakinan dan berfikir yang tak merugikan diri sendiri dan lingkungan akan menjadikan manusia tanpa disadari berbuat yang tak merugikan diri sendiri dan lingkungannya. Perbuatan dilandasi oleh keyakinan dan fikiran, bukan karena takut dosa atau hukum buatan manusia. Moralitas ini sangat edialistik, namun manusia/individu yang menggunakan akan merasakan manfaatnya. Kepercayaan adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam hidup bermasyarakat. Mereka yang dipercaya oleh lingkungannya akan segera menikmati hasilnya, namun sangat sulit untuk mempertahankan.
Logika sangat erat kaitannya dengan moralitas individual atau kelompok. a.Mereka yang menggunakan logika keyakinan cenderung meyakini MoA sebagai pengatur masyarakat yang sangat eklektif. b. Yang menggunakan logika fikir akan memanfaatkan MoTH sebagai solusi mengatur kehidupan bermasyarakat , sebab menjadikan orang pintar sebagai penguasa karena dapat membuat hukum dan peralatan untuk menerapkan sangsi hukum buatan manusia. c. Mereka yang ingin hidup bebas dan saling mempercayai satu dengan yang lain seharusnya memilih MoM.
Disamping logika tersebut diatas saya menggagas Teori Paralogika yang menyatakan bahwa manusia memiliki kemampuan membedakan logika keyakinan dan logika fikir, logika semu dan logika nyata, karena menurut teori itu manusia terjadi karena interaksi antara a. biobody yang merupakan interaksi antara clear body dan trans body yang bersifat mekanistik, dengan b. spirit yang merupakan interaksi antara trans body dan soul yang bersifat vitalistik.
Silakan baca: teori paralogika atau teori Som Wyn.