- tulisan ini masih memusingkan
- tapi lumayan membuat rasa jenuh saya sedikit berkurang
- selamat menikmati
Nietzsche mendobrak konstruksi sosial yang telah tertanam di Eropa selama berabad-abad, khususnya tradisi Judeo-Christian yang berkembang selama Abad Pertengahan dan Rasionalisme yang berkembang pasca Aufklarung.
Gaya Nietzsche terpengaruh oleh Romanticism Eropa yang merupakan sebuah pemberontakan terhadap Rasionalisme yang seolah mendapat pembenaran setelah kejatuhan kekuasaan Gereja. Slogan utama yang sering terdengar adalah Carpe Diem (harvest the day), suatu slogan yang bisa setara dengan hedonisme.
Bagi Nietzsche, moralitas dan akal adalah suatu produk jadi-jadian manusia yang bersumber dari kecemasan manusia itu sendiri. Nietzsche mengatakan bahwa sebenarnya sesuatu yang fundamental dalam diri manusia adalah Hasrat, dalam hal ini dia merujuk pada Hasrat untuk Berkuasa (the will to power). Kekuasaan dan kekuatan adalah eksitensi hasrat manusia yang sebenarnya. Konsep Will to Power adalah perlawanan terhadap konsep Will to Live dari Schopenhauer.
Hampir dalam semua karya-karya Nietzsche, dia menjelaskan panjang lebar (kebanyakan dengan bentuk aforisme) tentang Hasrat untuk Berkuasa.
Nietzsche mengangkat manusia setinggi-tingginya, lepas dari moralitas dan akalnya, dan menempatkan hasrat manusia (hasrat berkuasa) sebagai dorongan utama hidup manusia.
Nietzsche menolak moralitas agama dan akal yang menempatkan manusia dalam bentuk Moralitas Budak. Yang terpenting dan terutama bagi manusia adalah mewujudkan Moralitas Tuan. Manusia, bagi Nietzsche, harus disadarkan bahwa mereka adalah makhluk yang bebas dan merdeka. Bebas dari segala produk nilai-nilai yang berasal dari luar, dari agama dan Tuhan.
Tidak ada nilai-nilai yang berasal dari Tuhan 1. Manusia yang bermoral Tuan adalah manusia yang menentukan nilai-nilainya sendiri. Manusia sendirilah yang mesti bertanggungjawab atas nilai dan kebernilaian hidupnya. Hasratlah yang menjadi patokan dalam penentuan nilai itu. Nilai mana yang akan dipilih sangat tergantung pada hasrat manusia itu. Kekuatan manusia yang menentukan semua itu. Human, All Too Human, kata Nietzsche.
Manusia yang ideal adalah manusia yang berhasrat untuk berkuasa. Manusia yang karena hasratnya untuk berkuasa membuat dia membentuk Moralitas Tuan dan bukan moralitas budak. Itulah sebabnya Nietzsche memperkenalkan jenis manusia seperti ini : UBERMENSCH.
“Dead are all the Gods : Now do we desire the Overman to live.” Let this be our final will at the great noontide!
(Nietzsche : Thus Spoke Zarathustra, Chapter XXII The Bestowing Virtue, section 3)
Ubermensch adalah manusia-manusia yang bermoral Tuan, dan memiliki hasrat untuk menguasai dunianya serta tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh dunia. Inilah produk manusia ideal menurut Nietzsche.
Konstruksi hasrat Nietzsche dimulai dari penghancuran atas segala bentuk moralitas agama yang justru membuat manusia bermoral budak. Nietsche menihilkan segala kemapanan itu, dan membangun “manusia ideal” dari reruntuhan kehancuran moralitas tersebut. Apa yang bermoral adalah apa yang memiliki hasrat berkuasa, karena dari situ akan membentuk moralitas yang baru (Tuan) dan menjadikan manusia ideal (Ubermensch/Overman) yang menguasai dunia.
I want to teach men the sense of their existence, which is the Overman, the lightning out of the dark cloud—man.
(Nietzsche : Thus Spoke Zarathustra, Prologue, section 8)
**********
Dilain pihak, Jacques Lacan mengembangkan psikoanalisis-strukturalisme berdasarkan Classical-Freudian yang saat itu sedang berkembang pesat. Berbeda dengan “Sang Guru”, Lacan menolak habis kekuatan maha dahsyat yang dimiliki oleh Ego dalam mengendalikan hidup manusia. Lacan menolak Psikologi Ego yang menjadi arah lain perkembangan psikoanalisis.
Lacan mengatakan bahwa Ego manusia tidaklah sekuat yang dibayangkan orang. Ego bukanlah suatu institusi psikologis yang resisten terhadap dorongan-dorongan dari dalam dan luar. Pada dasarnya Ego itu lemah, karena dia tidak mampu menyeimbangkan seluruh dorongan-dorongan yang ada.
Dan Id-lah yang mempunyai sifat korosif dan koruptif terhadap ego. Id (Hasrat) menggerogoti ego agar mencapai taraf kepuasannya sendiri. Manusia tidaklah mampu untuk menahan dan mengekang kekuatan penetrasi dari Hasrat karena hasrat berasal dari dalam diri sendiri yang menyatu dan lahir sejak kelahiran manusia. Hasrat tidak dibentuk oleh konstruksi luar, sebagaimana halnya dengan moral.
Hasrat muncul adalah akibat kodrat manusia yang serba berkekurangan. Sebagaimana Nietzsche yang mengatakan bahwa eksistensi manusia ada dalam Overman/Ubermensch, maka manusia yang berhasrat muncul dari manusia yang berkekurangan secara eksistensial. Dengan kata lain, eksistensi manusia bisa dilihat pada hasrat-hasratnya.
Hasrat merupakan perwujudan dari manusia eksistensi yang serba berkekurangan. Kekurangan inilah yang memunculkan hasrat untuk memiliki dan hasrat untuk menjadi. Orang ingin menjadi sesuatu, orang ingin memiliki sesuatu, semuanya karena hasrat. Ketika hasrat itu muncul, maka disitulah eksistensi manusia mewujud.
Hasrat melampaui biologi, karena meskipun kekurangan biologis telah/tidak tercukupi, hasrat tetap bekerja dan bermanifestasi. Pada dasarnya, hasrat muncul dari manusia sebagai “makhluk yang serba berkekurangan”. Hasrat juga bisa melenturkan dirinya dan membentuk formasi yang lain ketika dihambat dan dikekang.
Hasrat bisa memakai “topeng” sublimasi dalam bentuk yang lebih diterima masyarakat. Misalnya, ketika nafsu-nafsu badaniah (hasrat) seseorang ingin terpenuhi, maka dia bisa menyalurkan hasratnya menjadi bentuk lain yang lebih diterima secara norma. Inilah yang menjadi dasar ketika saya berhipotesis liar bahwa agama bisa juga menjadi bentuk lain penyaluran hasrat manusia.
Agama [dan moralitas] yang menjadi formasi pembentuk superego, bisa dikorupsi dan dimanipulasi juga oleh hasrat demi tujuan penyaluran hasrat itu sendiri. Bentuk inilah yang lebih dapat diterima oleh masyarakat, tetapi pada dasarnya adalah bentuk penyaluran hasrat.
Hasrat dapat disalurkan lewat bentuk yang “suci”, “kudus”, “relijius”, dan “rohani”. Semua bisa diterjang oleh hasrat.
catatan :
1 Nietzsche awalnya bukanlah seorang atheis, karena dia lahir dalam keluarga yang religius. Perkembangan karya-karyanya kemudian menegaskan bahwa dia seorang atheis, dan terlebih lagi Antitheis.
….continued to Chapter 3 : Self/Existence….







Maaf, persediaan Pertamax terbatas, silakan antri….
Maaf juga kalau saya belum/tidak menjawab komentar/pertanyaan saudara/i semua di serial tulisan ini. Alasan sebenarnya karena saya belum selesai menuliskan semua omong-kosong memusingkan ini.
Rencananya, omong-kosong memusingkan ini akan sampai 6 Bagian, dan di bagian terakhir itulah saya akan menjawab semua komentar/pertanyaan yang ada.
Dan mudah-mudahan pertanyaannya sudah terjawab dalam tulisan ini. Biar saya nggak terlalu capek jawabnya.
makasih berat
fertob a.k.a pyrrho
saya cuma mo ngejunk… gak mo nanya kok… narcis amat sih!!! :-p
6 seri… Baidewei aku jadi agak keluar jalur kalau bacanya satu-satu. Sampai saat ini satu-satu dululah, kalau sudah lengkap baru kubaca ulang. Biar ga kehilangan
hasratalur…*tambah pusing*
Saya nunggu sampe 6 aja dulu deh. Eh, kalo bisa entar buat kesimpulannya bang, biar saya baca kesimpulannya aja.
Setuju dengan tuan dana
kesimpulannya, tapi sementara itu, mungkin ada pertanyaan untuk bagian ini.
>> yang disebutkan di atas itu bukankah agama?? jadi meski sebuah topeng, agama perlu juga ya, untuk mencapai will of power.. bukankah ada yg ingin berkuasa atas nama agama??
*
aduh, relevan ga ya…
*ga yakin
*ambil obat pusing*
hasrat adalah tujuan manusia untuk brkuasa; makna kehdpan yg wajib bagi prwujudan eksistensi diri manusia, menurut Nietzsche.
“manusia adalah apa-apa yg perlu d atasi”. -Nietzsche
kata-kata Nietzsche d atas menunjukkan bahwa, seakan-akan; kekuasaan yg ‘wajib’ itu adalah kekuasaan atas dirinya sendiri. tapi mngkn, tdk sekedar ’seakan-akan’, tapi memang demikian lah makna dr kata2 itu.
tentu bila begitu, bkn model kekuasaan eksploratif yg d maksd olehnya. namun, kekuasaan yg hendak d luluh-lantahkan Nietzsche bgmn pun trmasuk kekuasaan agama, dan kekuasaan agama d pandang olehnya sbg sesuatu yg ‘mengeksplorasi’, merongrong (dlm konteks moralitas agamis).
saya hny ingin brtanya: apakah hasrat untuk brkuasa itu msh tetap dlm batasan personal, pribadi, ataukah t’lah menjd brcabang pada bagian2 kuasa yg lain; kuasa untuk memimpin sesama, menaklukkan sesama, menguasai dan mengeksplorasi sesama?
…namun saya brpendpt bahwa kekuasaan Nietzsche itu tetap d tempatkan olehnya pd batas2 personal; yg menyangkut eksistensi diri individu.
lalu, apa Nietzsche sekiranya setuju dgn manusia2 yg mengeksplorasi sesamanya dlm bentuk apapun, toh bgmn pun yg spt itu jg trmasuk ‘brkuasa’, bukan?
mngkn pada tahap inilah yg menyebabkan trjadinya salah tafsir NAZI akan ajaran2 dan pemikiran Nietzsche.. dan krn itu pula saya meragukan tingkat intelektual kaum intelek partai fasis itu
6 bab?? oke lah bang, saya gelar tiker dulu nih
Saya baru dengar klo Nietzsche punya ide tentang ‘hasrat untuk berkuasa’!!!!kalo ga ngerti bahasa inggris ga usah sok-sokan nerjemahin kaleeee!!!!!
The Will to Power is KEHENDAK untuk berkuasa!!!!bukan hasrat untuk berkuasa!!!esensinya lain bung!!!
@ antonius mandosi :
anda sudah membaca kompilasi tulisan tentang filosofi dan psikologi hasrat ? silakan cari di toko buku terdekat.
Atau jangan-jangan anda hanya mengartikan dari kata “will” belaka dan mengartikannya sebagai “kehendak”. Padahal kata “will” bukan hanya bermakna kehendak saja.
Pakai kamus mana nih ?
Atau silakan baca lagi tentang penafsiran tulisan-tulisan Nietzsche yang banyak bertebaran di internet. Terutama dalam konteks hasrat dan nafsu.
ESENSI ?