ini adalah ekor yang putus dari tulisan berseri sebelumnya.
![]()
Apakah ada yang tahu kalau tempe adalah makanan yang mewah ?
Bagi saya, tempe adalah salah satu hidangan mewah di meja makan. Dulu, ketika saya masih SD sekitar tahun 1980-an di Sorong-Papua, tempe adalah makanan yang jarang tersedia di meja makan. Bukan karena tidak suka/doyan, tetapi karena harganya sangat mahal.
Saya, dulu waktu SD tahun 1980-an, sering menemani ibu untuk belanja di pasar. Pertama kali pagi-pagi kami belanja di pasar ikan. Harga ikan disana masih amat sangat murah, apalagi sebelum beberapa pabrik pengolahan/pengalengan ikan berdiri di kota Sorong. 1 baskom ikan ukuran sedang (kurang lebih 1-2 kg) hanya seharga Rp 500 saja. Kalau sedang bulan purnama dan pasang naik, paling mahal hanya Rp 1000 satu baskom. Dan itu sudah bisa dimakan selama 3-4 hari.
Sangat berbeda dengan tempe. Seiris kecil tempe mentah segenggaman tangan berharga Rp 1000, dan itu hanya cukup untuk beberapa potong saja. Tempe adalah makanan mewah di kota tempat saya lahir dan besar. Tempe juga sangat jarang ada di pasar, karena harus didatangkan dulu dari Surabaya atau Ujung Pandang (Makassar).
Itulah sebabnya tempe bukanlah makanan saya sejak kecil, tetapi ikan laut. Karena sudah terkondisikan sejak kecil, sampai sekarang saya tidak bisa memakan makanan yg hanya berisi nasi + tempe/tahu + sayur. Saya justru bisa makan kalau nasi hanya diberi garam + kecap. Itu lebih nikmat.
Saya baru mengenal tempe ketika datang ke pulau Jawa ini. Disini, tempe adalah makanan keseharian, bisa dijadikan lauk juga bisa dijadikan berbagai penganan lainnya, seperti gorengan dan sejenisnya.
Di pulau Jawa ini, tempe berubah dari “makanan mewah ala Papua” menjadi makanan murah meriah penuh protein nabati. Disini juga saya justru merasa bahwa ikan-lah yang jadi makanan mewah karena sangat sulit mencari ikan, dan kalaupun dapat, harganya sangat mahal. Berbanding terbalik keadaannya dengan di Papua dulu.
**************
Dan saya sangat terkejut ketika tahu bahwa ternyata makanan khas orang Indonesia itu ternyata dibuat dari kedelai yang kebanyakan di import dari luar. Ironis, ketika makanan khas orang Indonesia itu justru bahan bakunya tidak diproduksi dengan cukup di dalam negeri.
Hingga akhirnya ketika gejolak harga di luar mempengaruhi harga kedelai impor, maka sudah bisa dipastikan kalau harga tempe pun gunjang-ganjing seperti gempa bumi. Harga kedelai naik membuat tempe terpuruk. Tempe bukan lagi jadi makanan khas Indonesia yang murah meriah penuh protein nabati, tetapi tempe menjadi makanan yang harga dan ketersediaannya ditentukan oleh siapa yang membuat kebijakan di luar negeri dan siapa yang tidak becus membuat kebijakan di dalam negeri. Ditambah lagi dengan berbagai faktor-faktor tak terprediksi lainnya.
Saya yang bukan penggemar tempe dalam makanan keseharian, secara tidak langsung memang tidak merasakan gunjang-ganjing itu. Naik atau turunnya harga kedelai tidak mempengaruhi nafsu makan saya.
Tempe bagi saya hanyalah makanan ringan (snack) yang tiap malam saya beli dari penjual gorengan di pinggir jalan langganan saya.
Tapi saya jadi merenung ketika membaca sebuah berita di Kompas Cybermedia : Pedagang Gorengan Memilih Bunuh Diri. Lebih terkejut dan terharu lagi ketika membaca tulisannya Bung GM di blog Catatan Pinggir yang berjudul Slamet. Dan juga tulisan Mbak Maya yang berjudul Sarno.
Tempe bukan sekedar makanan sehat nan murah penuh protein nabati, tetapi tempe adalah makanan yang juga bisa “memakan korban”. Tempe bukan hanya makanan khas orang Indonesia yang sangat merakyat, tetapi makanan yang dipengaruhi oleh (meminjam istilah GM) “para birokrat Departemen Pertanian dan Perdagangan, oleh pasar dunia yang bergejolak, oleh ladang dan lumbung di Amerika Serikat, oleh cuaca dan panen di Brazil, dan bahkan oleh struktur agribisnis di Argentina“.
Saya jadi teringat akan masa kecil saya di Papua. Ketika tempe menjadi makanan mewah, karena sangat mahal dan sangat jarang. Perbedaannya, mungkin saja “tempe di Papua” dulu tidak terpengaruh oleh gunjang-ganjing yang diceritakan Bung GM diatas. “Tempe di Papua” hanya masalah distribusi yang tidak dapat menjangkau daerah terpencil di Indonesia Bagian Timur.
**************
Saya juga teringat dengan “evolusi harga tempe” dari pedagang gorengan langganan saya yang sering nongkrong di pinggir jalan.
Masih teringat ketika dengan uang Rp 1000,- saya sudah bisa membeli 4 buah tempe goreng. Beberapa waktu kemudian, dengan uang yang sama, tempe goreng yang saya dapatkan hanya 3 buah, dan itupun dengan irisan yang super tipis. Dan sekarang, saya masih beruntung kalau mendapat 2 tempe goreng dengan uang Rp 1000.
Saya pernah protes pada penjual gorengan itu. Namanya Kang Asep, seorang laki-laki setengah baya asal Sukabumi. Tapi jawabannya membuat saya justru membeli tempe goreng lebih banyak daripada biasanya.
Harga tempe [mentahnya] sudah naik, pak. Jadi mau nggak mau Akang juga harus naikin harga gorengannya. Ini juga untungnya sedikit.
Mungkin suatu saat tempe akan mengalami nasib dengan “tempe di Papua dulu”. Ketika tempe menjadi makanan mewah. Tempe menjadi makanan yang tak terjangkau lagi oleh kebanyakan orang. Hilang sudah satu “makanan khas Indonesia”.
Ironisnya, alasan di balik “tempe di Papua dulu” dan “tempe sekarang” yang sungguh jauh berbeda. Kalau kata GM : “Slamet adalah salah satu indikator keteledoran”. Tapi keteledoran [atau ketidakbecusan] itu justru memakan banyak korban. Bukan cuma tempe yang jadi korban, tetapi rakyat Indonesia yang jadi korban.
Lalu, haruskan saya tetap beranggapan bahwa tempe tidak mempengaruhi nafsu makan saya ?







Doh, dengan mental tempe aku ini….Aku justru misuh-misuh dalam diri sendiri ketika porsi tempe di warung tempatku makan dikurangi dengan harga tetap….
…mungkin saja, menjadi mewah.
*hampir pingsan 2 malam ga tidur*
Iya nih bang. Sebuah paradoks, ketika bahan untuk membuat makanan tradisional malah import.
Denger-denger kemaren di metro tv, ternyata memang dulu menanam kedelai tidak menguntungkan bagi petani sebab harga importnya terlalu murah. Yah, sebuah salah urus saya bilang.
ini sebuab ironi yang terjadi di negeri agraris, bung fertob. kenapa tempe menjadi demikian mewah dan mahal? benarkah para petani kita sudah tak sanggup lagi menanam kedelai sehingga untuk bikin tempe saja mesti impor dari luar? kadang2 saya ndak habis pikir. kenapa pemberdayaan terhadap para petani demikian loyo dan lumpuh? beras dan tempe, kenapa mesti impor? negeri kita kan juga punya departemen pertanian? apakah tak tergerak sama sekali utk bikin program yang menyentuh pemberdayaan petani, sehingga kita semua bisa hidup nyaman dg harga barang kebutuhan pokok yang murah?
Kedelai mahal.
Pemerintah Indonesia mirip keledai.
Oke..
.
.
Berkali-kali diperkosa IMF & Pemerintah AS masih ga sadar [atau pura2 ga sadar].
Mungkin sekarang Pemerintah RI bukan lagi “diperkosa” IMF & Pemerintah AS, tapi sekarang sudah dilacurkan oleh mereka.
Karena sudah “dilacurkan” dan dibayar, orang2 Pemerintah RI jadi pura2 ga tau kalo dia sudah disetubuhi berkali-kali oleh IMF yang busuk dan Pemerintah AS yang suka “jajan”.
Sampai akhirnya Pemerintah RI sadar kalo dia sudah tertular penyakit kelamin (seperti sekarang ini) lalu setengah mati cari obat dan menyalakan mereka yg melacurinya.
Tapi obat tidak lagi ada gunanya, penyakit kelamin Pemerintah RI sudah terlalu kronis. Harus diamputasi dan diganti dengan kelamin yg punya harga diri dan keberanian untuk bilang “tidak”.
Waduh… Bisa sampe bunuh diri gtu…
Di tempat saya 1000 udah gak bisa dapet 2…
Satunya 600 perak..
Hmm.. Jadi inget swaktu dulu harganya cuma 50 perak..
ehm….makanan harga 600 perak tapi bahan bakunya di import.
makanya jadi mahal.
FYI, di furwokerto temfe mendoan masi mayan muyah lho bang…mhuehuehuehue
Ketika tempe menjadi tidak sederhana…
*
saat tempe menjadi penanda…
kemiskinan, dan kesederhanaan yang anehnya mahal…
apakah karena keteledoran…
* ah saya lupa
uhmmmmm mungkin satu hal bang yang ga pernah aku ngerti sama sekali sampe skarang, indonesia bisa dibilang negeri maritim, hasil laut berlimpah ruah tapi sampe skarang tidak digarap secara tuntas.
sayah mengira pemerintah lebih fokus pada daratnya .. yah mungkin dengan fokus menjadikan indonesia sebagai negara pertanian, tapi kenyataannya tu adalah mimpi.
selain itu kayaknya pemerintah lebih fokus untuk membangun industri, tapi lagi2 industri yang didirikan bukan untuk rakyat indonesia….
entah negara ini mo dijadikan negara apa yah
tadi pagi saya makan tempe lho..
disini masih sama deh. gorengan satunya gopek. kalo beli sepuluh ribu bisa dapet banyak…
Prihatin…..terkejut….
tapi apa yg dapat saya buat?
selama ini saya hanya ikut ini..ikut itu tapi terlibat ngga pernah
Jadi..pasrah saja deh sama tuan2 yth.
[...] ini protes terhadap kondisi bangsa ini [...]