Sebenarnya saya masih sedikit pusing dan badan masih panas, tapi saya sedikit tergelitik untuk menuliskan pengalaman dan refleksi ini karena menurut saya sangat penting. Ini sebenarnya melanggar anjuran dokter dan BangAip supaya saya harus beristirahat.
Cerita ini dulu pernah diceritakan sama guru saya. Karena saya nggak jago bercerita, maka kurang lebih intinya seperti ini :
Ada 5 orang remaja sekolahan (SMA). Salah seorang diantara mereka adalah anak orang berada (kaya). Mereka nongkrong di pinggir jalan sambil makan bakso, dan si anak orang kaya (SAOK) itu yang mentraktir teman-temannya.
Setelah makan bakso dan membayarnya, SAOK itu kemudian membeli semua bakso dari tukang bakso itu yang masih ada/tersisa. Ada kira-kira 18 porsi yang masih tinggal, dan semua dibayarkan oleh SAOK itu. Setelah membayar 18 porsi bakso itu, dia kemudian membuang semua (18 porsi) bakso yang sudah dibelinya itu.
Teman-temannya heran dan bertanya kenapa dia memesan bakso tapi malah membuangnya.
Si anak orang kaya itu menjawab : “Ini kan punya gue. Gue udah beli pake duit gue. Dan terserah gue dong mau diapain. Mau dibuang, dikasih pengemis, dikasih sama anjing, atau dimakan, terserah gue dong“.
Bagaimana tanggapan anda ? Bisakah kelakuan si anak orang kaya itu dibenarkan ?
Saya sedikit heran melihat fenomena di blogsphere yang mirip kejadiannya dengan cerita diatas. Mungkin dalam bentuk yang berbeda tapi intinya tetap sama.
Pertama kali berpapasan di blogsphere dengan Teh Joerig (yang entah kemana) saya cukup terkejut dengan falsafah yang ditulis di blognya : Blog Aing Kumaha Aing (BAKA). Kurang lebih berarti ini blog saya, terserah saya.
Yang kemudian dituliskan ulang oleh Pak Budi.
Terus terang, tidak ada yang salah dengan falsafah itu. Memang blog ini adalah kepunyaan saya dan terserah saya untuk mengapa-apakannya. Termasuk menghapus, menulis suka-suka, atau malah membiarkannya begitu saja. Blog jadi disamakan dengan rumah tinggal atau barang milik pribadi, dan terserah kita mau berbuat apa saja disitu.
Tapi, berikutnya saya jadi tersentak ketika Hoek Blogirang menuliskan tulisan dengan nada “satir nan kurang ajar”
yang berjudul “Bloger Goblok Jangan Ngeblog”. Disitu, Hoek menyorot tulisan-tulisan yang menurutnya “tidak bermutu” dan sebaiknya blog harus berisi tulisan-tulisan yang bermutu. MUTU, kata yang bisa bermakna subyektif.
Cara penulisannya memang satir karena menyindir sesuatu dan “menggoblok-goblokkan” bloger lain. Tapi intinya bukan sekedar hanya “the lesson about goblokness“, tetapi suatu anjuran terselubung bahwa kita sebagai bloger sebaiknya menulis sesuatu yang bermutu.
Bagi saya pribadi, yang sudah terbiasa dengan gaya satir menyentil, tulisan itu memberikan pencerahan. Setidaknya memacu saya untuk menulis lebih baik, walaupun terkadang rasa jenuh dan malas masih jadi penghambat. Tulisan itu saya tangkap dengan nada positif sebagai suatu anjuran positif agar saya menuliskan sesuatu yang bermanfaat.
Tapi selalu saja ada jawaban yang mirip dengan kasus SAOK dan falsafah BAKA yang dipelesetkan :
Ini kan blog gue, mau gue tulis apa juga terserah gue dong. Mau gue bunuh juga terserah. Mau ditulis yang maki-maki juga terserah. Pokoknya TERSERAH gue dong.
Ada yang salah dengan ucapan diatas ? Oh, benar-benar tidak ada yang salah. Memang itu salah satu jawabannya. Tapi coba lihat lebih dalam lagi, dan kita bisa merenungkannya kembali.
- Adakah yang salah dengan anjuran dari Hoek (selain caranya yang satir dan “kurang ajar”)
sehingga kita menjawab dengan cara demikian ?
- Apakah suatu anjuran positif harus ditanggapi dengan gaya si anak orang kaya (SAOK) dan BAKA ?
Bagi saya, itu sama saja dengan sikap defensif. Kita mempertahankan diri kita dari suatu anjuran yang menurut kita “menyinggung diri kita” secara pribadi. Padahal, anjuran itu sebaiknya bukan ditanggapi dengan sikap defensif, tetapi setidaknya kita bisa mendapatkan pelajaran dan pencerahan dari situ. Walaupun cara menuliskannya satir.
Sama saja dengan pengalaman saya waktu kecil yang melempar kaca jendela rumah tetangga kemudian berkilah macam-macam ketika ditanya oleh orangtua. Saya lebih memilih sikap defensif dan tidak mengakuinya daripada mengakui tetapi nanti akan dihukum.
Sikap defensif itu manusiawi. Tetapi sikap itu menutupi diri kita dari suatu pelajaran berharga bahwa ada anjuran positif yang bisa membawa kebaikan dari hal-hal yang kita sikapi secara defensif itu.
Intinya, berusaha mencari hikmah dan pelajaran dari mana saja bahkan dari suatu makian dan celaan sekalipun. Sikap defensif dan upaya membela diri yang dilakukan terlebih dahulu pada dasarnya hanya menutup mata terhadap suatu perubahan ke arah yang lebih baik.
*************
Saya jadi teringat pada kasus video “pemerasan” oleh polisi di Bali yang dilakukan oleh oknum polisi. Video itu dimuat di youtube dan ada beritanya [disini].
Dan “lucunya”, selalu saja ada jawaban tipikal dari pejabat yang melakukan upaya defensif terlebih dahulu dan bukannya mencari makna dan kebenaran dibalik kasus itu. Seperti yang diucapkan oleh Kadiv Humas Mabes Polri [disini], yang inti jawabannya menggunakan pola reaksi yang tipikal : sangkal, cari jawaban lain (rekayasa), dan salahkan korbannya juga.
Banyak pelajaran yang bisa diambil dari situ. Juga dari dunia blogsphere yang bervariatif ini. Saya cuma mau bilang, janganlah menolak dan bersikap defensif terhadap sebuah anjuran positif walaupun disampaikan dengan cara-cara yang “kurang ajar”.
Janganlah membuang air cucian beras sekalian dengan berasnya.
sehingga kita menjawab dengan cara demikian ?





Ya ya… Kita memang harus menerima apa yang mungkin seharusnya kita dapatkan dari perbuatan kita…
Hmm….
Apa sayah mingsih perlu Introspeksi lagee ya, terhadap isi dari Blog sayah….???
BAH!!! Suka sukakulah bang, blog saya ini.
Apa blog juga memang sudah seperti dunia nyata ya? Dimana kebebasan pribadi di batasi kebebasan orang lain, jadinya harus kompromi.
Blogger prilakunya defensif bisa diterima lah, ngeblog juga pake duit dia, kita ga doyan tinggal tendang aja dari feed reader. Tapi kalau KADIV HUMAS POLRI prilakunya masih defensif murahan gitu (sangkal dulu, rekayasa, ngarang2 jawaban, salahkan korban) kok sepertinya ga pantes, dia menjabat disitu kan digaji pake duit rakyat? Harusnya beliau diamankan secepatnya supaya prilakunya yang berbahaya itu tidak menular ke yang lain
Mohon maaf, namanya ketinggalan, maksud saya KADIV HUMAS Irjen Polisi Sisno Adiwinoto .
Hehe… semoga google secepatnya mencatat ini
Blog aing, kumaha aing…? Memang tidak ada yang salah, tapi tidak adanya pengekangan atas konten suatu blog (dengan mengabaikan dulu batasan-batasan bikinan WordPress), sebenarnya tidak mesti berujung pada kebebasan tidak terbatas.
Misalnya, ya, boleh-boleh saja si SAOK (akronim yang unik
) menghambur-hamburkan bakso si abang bakso. Memang menurut opini saya pribadi, dia bebas berbuat demikian. Tapi konsekuensinya bukannya tidak ada, misalnya tentu dicap sebagai SAOK yang arogan.
Begitu pula dengan dunia blog. Misalnya Ratu Adil dulu (alias Polisi Alam Supersakti Kaisar Langit Sri Hucusuy, apalah namanya). Menurut saya beliau benar-benar bisa dikatakan sebagai paragon dari falsafah “blog saya, suka-suka saya” itu. Betapa tidak, jangankan dimutilasi, komentar seringkali diubah sesuka hati. Belum lagi topik-topik yang benar-benar nyentrik. Silakan, memang, tapi tentunya ada reputasi yang mesti dipertaruhkan.
Defensif itu natural, kelakuan manusia juga kadang penuh dengan arogansi sehingga defensif adalah jalan pertama yang ditempuh.
Falsafah BAKA juga sebenarnya efek kedepannya bisa subjektif. Kalau tulisannya yang menyinggung yang aneh – aneh, ideologi,/em> macam itu nggak akan dipermasalahkan.
Manusia, begitu..
Ehm, malfungsi HTML.
Defensif memang sesuatu yg wajar — bahkan sebelum manusia menyadarinya manusia sudah terlebih dahulu memasang, katakanlah, kuda-kuda: perlindungan bagi dirinya sendiri.
Tapi saya di sini tak bermaksud memberi komentar mengenai bagian itu. Saya lebih tertarik pada bagian: bahwa ’saya telah membelinya maka saya berhak atasnya’..
Memang sepertinya kalimat seperti itu wajar di tengah dunia yg serba materialis ini. Tapi bila menyangkut soal gagasan, dan saya percaya bawah blog lebih tepatnya adalah wadah untk berbagi gagasan/ide atau semacamnya daripada kertas kosong belaka, maka sifat ’semaunya sendiri’ seperti itu mngkn kurang tepat. Karena:
SEKECIL APAPUN GAGASAN, ATAU IMPIAN YANG
ADA DI DALAM KEPALAMU, SADAR ATAU TAK KAU
SADARI AKAN MENGUBAH DUNIA SEKELILINGMU
Ini bukan kesadaran orisinil saya dan saya merasa tdk perlu untk menyebut sumbernya, namun tentu ini bisa jadi adalah suatu kesadaran yg telah ada di dalam benak kita masing-masing, hanya saja masih abstrak (prematur). Tapi tidak menyadarinya sama sekali adalah suatu hal lain: sesuatu yg mngkn berbahaya.
Karena saya mngkn bukan tergolong bloggers spt kalian, maka saya hny ingin memberi saran: bahwa setiap pemberi gagasan mesti bertanggung jawab atas gagasan/impian2nya, karena gagasan dan impian itu bagaimanapun akan mengubah dunia di sekeliling kita.
ITU SEPERTI MEMBERI PISTOL KEPADA SEORANG
ANAK LENGKAP DENGAN PELURUNYA. DAN SI
PEMBERI LAH YG MESTI BERTANGGUNG JAWAB
Ada banyak sekali gagasan di dunia ini, tapi entah siapa yg bertanggung jawab dan siapa yg seenaknya saja dan tak bertanggung jawab..
Terima kasih atas perhatiannya
*baca komen2nya dulu akh..*
Hemm.. si b itu ada benernya juga sih..
“bahwa gagasan dan impian bagaimanapun itu akan mengubah dunia di sekeliling kita.” keren…
wah…saya defensif juga ga ya?
saat dipojokan dgn dikatakan salah oleh org lain, maka org yang dipojokan itu akan melakukan sikap defensif.
entah dia mo benar apa salah.
saya aja suka nga sadar kapan suka bersikap defensif.
@ Adit :
ya..ya… termasuk yang “pengumuman” itu kan, Dit ?
@ Mbel :
Nggak perlu mas…. situ kan sudah ngasih peringatan kalau blognya berisi “parental advisory”
@ Dana :
Bisa saja mas. Bisa saja ada kesejajaran disitu antara blog dan dunia nyata. Tapi…. ah, masalah ini memang salah satu yang sensitif kalau dibahas.
@ Guh :
sudah diralat Guh…:)
Kalau Kadiv Humas Polri itu memang luar biasa defensif. Itu kan hanya sebuah bukti saja, dan bukannya mencari cara untuk menyelesaikan kasus itu, dia malah mencari cara untuk “ngeles”.
Dan ada juga yang berkomentar spt ini : “kan turisnya juga salah, naik motor nggak bawa SIM, dllll….”
Dan saya cuma bilang : “Two wrong make it right”
@ Geddoe :
Dan akhirnya menjadikan teori “blogger anonim cenderung tak bertanggung jawab” bisa menjadi kenyataan.
Memang batasan moral/etika di dunia blog itu lebih rendah jika dibandingkan di dunia nyata. Dan demi alasan-alasan BAKA itu bisa jadi orang berbuat sesuka hatinya terhadap blognya sendiri, sembari bertindak seperti kasus Ratu Adil itu.
@ Debe :
Yup, dan BAKA yang saya lihat sering dijadikan alasan untuk berbuat “semena-mena” terhadap blognya sendiri. Semena-mena maksudnya bisa hal-hal yang negatif.
@ b :
Betul, sekecil apapun gagasan itu, gagasan itu memberikan “sesuatu” bagi dunia sekelilingnya. Analogi pistol dan anak kecil itu bagus lho…. dan saya mengandaikannya bahwa gagasan/ide yang kita punya juga adalah senjata yang kita punyai untuk mengubah lingkungan sekitar. Masalahnya, senjata itu digunakan dengan tujuan apa…
@ Sarah :
termasuk gagasan untuk mencari pacar impian kan ?
@ cK :
masa’ sih ?
*buka-buka jeroan blognya cK*
@ Ina :
defensif itu manusiawi kok. apalagi untuk kondisi yang memang mengancam jiwa. tapi sering kita persepsikan sebagai “mengancam reputasi” atau mengancam-mengancam yang lain, dan bukannya mencari pelajaran/kebenaran tapi malah mencari “alasan” terlebih dahulu.
kalo menurudh saia sendiri sih, “tulisan bermutu/berguna” itu sendiri relatif, setidaknya tulisan non cK dikatakan bermutu apabila yang membacanya adalah orang yang terserang badai otak stadium empat setelah membaca tulisan-tulisan yang ada di blog ini…
setidaknya tulisan-tulisan ringan itu bisa dijadikan selingan atawa hiburan yang menyejukkan pikiran. Walopun ujung-ujungnya tergantung dari niat bloger itu sendiri, mo dijadikan apa blognya, dijadikan tempat sampah, istana yang megah atau bahkan dijadikan surga yang indah…
_________________________________________
ah ya, dan bicara soal defensif, hal tersebudh wajar, karena menurudh saia sendiri, hal tersebut sudah menjadi insting setiap menusa, dan sekali lagi, tergantung pada ciri menusanya, apakah dia terbiasa untuk bersikap proaktif atau reaktif…
ps : menurudh saia sendiri, bicara tentang tulisan bermutu + blog = sensitif sangadh. apalagi kalo ditambah : bicara tentang tulisan bermutu + blog + satire + masyarakadh yang primitif = perang dunia…
wah hoek.. masih ada disini?
apa ini arwahnya hoek?
*grrrrr…..kabur*
Ya itu memang bs d lihat sbg masalah..
Katakanlah gagasan/ide/mimpi yg ada d kepala kita adalah sesuatu yg membentuk moralitas kita: mksd ‘kita’ d sini tentu saja adalah ‘aku’… maka itu berarti kita/aku memiliki moralitas tertentu yg mngkn (seringkali) berbeda dgn moralitas umum. Maka ketika kita/aku menyampaikan suatu gagasan yg sifatnya personal (orisinil) maka gagasan itu jg berasal dr moralitas individu kita/aku… Jadi di situlah seringkali muncul kontradiksi: pertentangan antara moralitas personal dgn moralitas umum. Katakanlah memang kita tidak mempunyai maksud atau tujuan tertentu tapi tetap saja kontradiksi itu akan memiliki konsekuensi-konsekuensi tertentu.. dan gagasan yg masuk akal selalu memiliki lbh bnyk kemungkinan untk d ikuti.. tapi ini jg tergantung bgmn memandangnya..
…Tentu saja seseorang yg sadar tidak akan memberikan pistolnya lengkap dgn peluru kepada seorang anak kecil, bukan?
kapan ya … saya bisa nggetok kepala orang trus bisa bilang “tangan saya ini, suka-suka saya dong” ?! *berangan-angan*
btw, setuju dengan komentarnya b, “bahwa sekecil apapun suatu gagasan, akan memberi efek pada lingkungan kita”. *mutilasi
ayatkomen*[...] : tapi kalo gitu ya berarti sama aja dunk? Hoek : ah, blognya siapa sih? ndak usa ribut gitu deh? B.A.K.A kawand! B.A.K.A !!! Soegirang : hmm…*mikir* Hoek : udah..uda…ndak usa dipikirin! eh, ni saia punya trik [...]
positif di sisi yang berharap positif memang bisa bermakna negatif bagi yg di sisi berlawanan, begitukah? selama ada satu sisi yang bisa menikmatinya, why not?
kadang aku defensif dan kadang juga tidak. Semua tergantung situasinya
meningkatkan defence harus dengan sopan santun yah???
tapi keknya buad orang orang tertentu kurang mengena tuh
relaaatiiipppp …. huakakakakak
[...] belum perlu punya anak lagi. Bila kau merasakan kelebihan energi pada dirimu yang belum tersalur, manfaatkanlah untuk mengembangkan diri. Dunia wanita tidak terbatas pada mengasuh anak-anak, [...]