- tulisan ringan
- benar-benar selingan
Ada pepatah bijak yang mengatakan :
Kamu baru bisa menghargai arti sehat setelah kamu menderita sakit.
Ada yang membantah ?
Dan beberapa hari yang lalu saya juga merasakan “sedikit” kebenaran dari kalimat sok bijak itu. Memang tidak sampai terkapar tak berdaya di rumah sakit bertaraf internasional dengan botol infus berkarung-karung atau sampai menggunakan mesin pencuci darah seperti Soeharto. Tapi hanya flu berat yang jadi selingan dan itu juga cuma 1 hari.
Tapi,
Sambil beristirahat, saya justru banyak berpikir dengan bacaan-bacaan berat dan serius yang hanya sekedar “selingan” saja. Dan salah satu yang saya pikirkan adalah kalimat bijak diatas.
Mengapa kita baru memahami arti “SEHAT” setelah mengalami “SAKIT” ? Bukankan kedua kata itu bertentangan maknanya (antonim) dan mengapa satu kata dipahami dengan terlebih dahulu memahami kata yang lain ?
Nah, coba kita mengeksplorasi kalimat bijak itu dengan mengambil kata-kata lain yang mempunyai makna saling berlawanan.
Cinta dan Benci
Kamu baru bisa menghargai arti men-cinta-i setelah kamu mem-benci.
Damn, kok jadi lucu ?
Atau yang lain.
Mati dan Hidup
Kamu baru bisa menghargai arti hidup setelah kamu mati.
Lha, kok jadi makin ngawur ?
Sudahlah. Saya memang sedang sok bijak. Tapi bukan kebijakan yang didapat, tetapi ke-ngawur-an yang merajalela. Atau saya memang tidak punya bakat jadi bijak ? Atau kebijakan hanya diperuntukkan buat orang-orang yang mempunyai kepekaan spiritualitas yang tinggi, dan saya tidak termasuk di dalamnya ?
Dewasa itu pilihan.
Bijak itu…. ?







Bijak itu padanan kata dengan arif. Jadi andai ada kalimat ‘arif’ biasanya ada kalimat ‘bijaksana’.
Contoh kalimat:
“Kamu ini gimana sih! Nama kamu kan arif, tapi kelakuannya tidak bijak sama sekali. Udah tua, masih nggak bisa nyetir. Masak selamanya mao jadi tukang somay terus. Kemana-mana naek sepeda?!”
*Contoh komen yang tidak bijak. Bagi yang membaca, jangan ditiru komen seperti ini. Tidak bijak*
Om Fertob, tetap sehat selalu yaa. Saya kirim doa dari jauh, nih. Moga-moga nyampe.
huhuhu mirip nggak sih ma
“bersyukurlah dengan keadaan mu karna masih banyak yang lebih susah daripada kamu”
bisanya kata2 itu saya dengar ketika seseorang berusaha menghibur orang lain yang sedang kesusahan.
@bang aip…
logonya keren
huhuhuhu
jadi gimana bang?
bijak itu sana..
Nggak apa-apa kok kalau menyadari belum bijak…itu artinya sudah mulai bijaksana…Lho!
Atau kalau anak saya mengeluh..”Pusing nih, udah baca kok nggak ngerti juga, padahal udah dekat ujian. Jawaban saya…”Kalau udah bingung tandanya udah belajar, dan mengerti kalau pelajarannya sulit dan membingungkan. Kalau belum bingung artinya belum baca, alias belum tahu apa-apa..”
Jadi yang penting mencoba…mencoba memahami, mencoba bijak…
Satu lagi, “kamu baru bisa menghargai arti memiliki setelah kamu kehilangan”. Ini nyata terjadi pada saya.
Terkadang tanpa perlu mengalami keadaan yang kebalikan dari yang kita alami sekarang, hanya dengan melihat orang lain mengalaminya, kita dapat belajar bijak juga kok.
Bayangkanlah kalau ada yang bisa…
“Kamu baru bisa menghargai arti kaya setelah kamu miskin.”
“Kamu baru bisa merhargai arti kejujuran setelah kamu jadi pembohong.”
“Kamu baru bisa menghargai arti [INSERT WORD] setelah kamu jadi [INSERT OPPOSITE].”
Lha, saya jadi ketwa – ketawa sendiri begini…
Ah, numpang komen…
Saya rasa benar juga. Baru mengerti sesuatu setelah mengalami kebalikan darinya ya.
Hmm.. jadi apakah ini berkaitan dengan ungkapan ‘penyesalan selalu datang belakangan’?
bisa nggak ya mati dalam keadaan hidup?
Tapi saya punya mengalaman pribadi nih..,
‘Ternyata pedih dan perihnya menyakiti baru terasa pada saat saya disakiti’
*masih bergunakahpenyesalan itu*
ga juga mas, yang mati muda sekarang juga banyak..
Setuju!
Saya saat ini masih memilih jadi anak-anak
Relatif menurut saya ….
Tua itu pasti
Dewasa itu pilihan
Bijak itu… JACKPOT.. hehehe..
hehehe berat jiga tuh
Bijak itu hadiah.
Susah kang, penentangnya buanyak buanget…
[...] dengan kematian anak muda….. Jump to Comments Membaca postingannya bung Fertob ini, membuat saya teringat. Beberapa hari yang lalu, selepas petang, di Maga Jl. Pierre Tendean, tak [...]
kok bingung, sengaja yah???
Hmm, saya terkesan rumus yang dibuat DB
menghargai arti mencintai setelah membenci memang rada aneh… versi saya sih, kamu baru bisa menghargai arti mencintai setelah jatuh cinta…
menghargai arti hidup setelah mati sebenarnya gak ngawur kok, andai saja percaya pada konsep afterlife surga-neraka dan tersadar (setelah mati) kalo ‘terkirim’ ke tempat yang tidak diharapkan…
n th e nd, bijak itu berhikmat…
*komen ngawur juga*
“kamu baru merasa sesuatu berharga kalau kamu sudah kehilangan barang tersebut.”
tapi bang fertob kan memang bijak
*dilempar receh sama bang fertob*
@ Bang Aip :
Hahahaha… itu komen yang benar-benar tidak bijak. Memang sebaiknya jangan ditiru karena bisa membahayakan orang lain. Btw, emangnya Bangaip belum bisa bawa mobil ?
Makasih, Bang. Doanya sudah nyampe walaupun menyeberangi 7 samudra dan 7 benua.
@ bedh :
itu juga kalimat bijak, mas. Tapi kalau mirip atau nggak, saya kurang tau.
Hidup BIJAK™
@ cK :
yup, bijak itu selalu di sana dan nggak pernah di sini.
@ edratna :
Makasih bu. Saya jadi teringat dengan Socrates yang mengatakan bahwa orang yang bijak adalah orang yang tahu bahwa dia tidak tahu.
@ streetpunk :
hehehe….makasih mas contohnya. memiliki dan kehilangan memang 2 kata yang berlawan, tapi artinya malah benar kan ?
@ DB :
Hahahaha…. saya juga ketawa-ketawa kalau semuanya dimasukkan dalam rumus itu. Tapi ada juga yang tepat dan lebih banyak yang ngawur dan lucu.
Anomali ?
@ Deathlock :
Penyesalan memang selalu datang belakangan, masalahnya kalau datang duluan namanya bukan penyesalan tapi kesadaran
@ joyo :
kalau mati secara biologis nggak bisa, mas. tapi kalau “mati” yang lain mungkin bisa.
maksud saya, mati hati nuraninya, atau mati alat vitalnya….
@ Arwa :
penyesalan selalu datang belakangan, mas. setidaknya begitu kata Deathlock.
Tapi kalau masih berguna atau tidak, tergantung seberapa tepat kita bereaksi atas penyesalan itu. Dengan kata lain : BIJAK.
@ maxbreaker :
maksud saya, “bertambah tua” atau “bertambah umur”….
Bijak itu relatif ? Oiya, bijak memang relatif, tergantung siapa yang menilainya sebagai sebuah kebijaksanaan.
@ Mbak Maya :
dan kita harus ke Las Vegas untuk mendapatkannya dalam jumlah yang sangat besar.
@ uwiuw :
nggak berat-berat amat kok. setidaknya berat badan saya nggak berat-berat amat…
@ Hana :
Hadiah dari siapa, Han ? Jangan-jangan turun dari langit dan tidak ketahuan asalnya.
@ juliach :
iya mbak, bagi orang-orang yang mengalami sakit memang merindukan yang namanya sehat, padahal selama sehat kurang dijaga badannya.
@ abahoryza :
nggak sengaja kok, bah. memang lagi bingung…
@ jensen99 :
betul juga. tapi itu bukan kehidupan di dunia ini kan ?
dan bagi beberapa penentangnya, jika ada kehidupan yang bukan di dunia ini maka itu bukan kehidupan…
kontradiktif tapi empiris.
@ Ira :
Saya bijak ? Iya, saya memang bijak tapi bijak dari Hongkong… *ngelirik Gun/Ependi*
wew
bijak = meninggalkan jejak ..
[...] Pukul 00.00 kurang (atau mungkin lebih), acara selesai dan ditutup dengan salam-salaman. Salaman dengan para guru, orang tua yang hadir menonton disana, dan tentu dengan sesama kamerad angkatan. Dan saya sempat berpikir bahwa ini adalah momentum untuk melakukan rencana ‘revolusi’ yang telah disusun, namun sayang, rencana hanya tinggal rencana. Karena satu-dan-lain-hal, rencana batal. Sekarang saya benar-benar mengerti ucapan ‘kamu baru bisa menghargai sesuatu setelah kehilangan’. [...]