- agak panjang
- buat anda kaum lelaki yang “perkasa”
![]()
- perempuan juga boleh baca
- tentang “hero”
Satu hal yang langsung terpikirkan oleh saya ketika membaca novel dan menonton film Ayat Ayat Cinta (AAC) adalah kata “hero“. Begitu juga ketika saya menonton serial Smallville yang sempat ditayangkan di televisi lokal tanah air : “hero“.
Hero dalam kedua film itu juga mengingatkan saya akan Jungian Psychology dan juga buku kontroversial karya Dan Brown “The Da Vinci Code” yang penuh dengan simbol ikonografi dan pemujaan.
Dalam AAC dan Smallville, saya melihat satu kesejajaran ketika sebuah produk pop-culture ditampilkan ke muka publik maka yang terhidangkan adalah adanya sesosok karakter “hero” dengan segudang keperkasaan dan dijadikan panutan dan idola oleh orang lain. Dan lebih sering dijadikan karakter tokoh idaman yang diimpikan dan kalau bisa diperebutkan sampai mati.
Bukan plot cerita dalam AAC dan Smallville yang membuat saya tertarik. Tetapi yang lebih membuat saya terkesan adalah penggambaran seorang tokoh arketipal, seorang karakter “hero”, dan seorang sosok “idaman” dalam film itu. Fahri dalam Ayat Ayat Cinta dan Clark Kent dalam Smallville. Keduanya sangat-sangat stereotipe digambarkan dengan kekhususan yang terkadang dikatakan “tidak dimiliki oleh orang lain”.
Apa Yang Menarik ?
Sepertinya bukan sebuah kebetulan kalau salah satu tema utama dalam film AAC adalah CINTA. Ya, cinta yang dalam beberapa konsep teologis sering dipinggirkan. Apalagi kalau menyangkut cinta antar 2 insan yang berbeda jenis kelamin atau yang sering dikatakan cinta erotis.
Dan juga bukan suatu kebetulan kalau salah satu konflik utama dalam serial Smallville adalah juga tentang CINTA. Sama dengan AAC, tema cintanya adalah cinta erotis juga. Sesosok makhluk dari planet seberang akhirnya menemukan konflik cinta disebuah desa terpencil bernama Smallville.
Yang menarik lainnya adalah cerita tentang kedua tokoh itu (Fahri dan Clark Kent) mempunyai banyak kemiripan. Fahri AAC dikerubuti dan disukai oleh 4 perempuan yang memujanya dan sepertinya rela mati demi dirinya. Clark Kent Smallvile disukai oleh banyak perempuan baik itu disekolahnya maupun di lingkungannya.
Tetapi yang sangat menarik bagi saya adalah ketokohan “hero” pada kedua karakter itu yang ternyata jauh dari bayangan sempurna. Inilah yang menjadi alasan ketertarikan saya.
Bagaimana melihat Fahri dan Clark Kent ?
Penggambaran yang sangat tipikal dari karakteristik tokoh arketipal. Mirip dengan Boy dalam Catatan Si Boy atau Spiderman. Dalam tokoh-tokoh arketipal yang sering digambarkan dalam film [juga novel atau media lainnya], kita bisa melihat adanya suatu sosok “hero” dalam diri tokoh tersebut. “Hero” digambarkan sebagai seorang tokoh yang mempunyai kelebihan-kelebihan yang membuatnya berbeda dengan tokoh-tokoh lain di sekelilingnya.
Tokoh arketipal model “hero” seperti ini sangatlah umum. Biasanya digambarkan sebagai seorang lelaki/perempuan yang mempunyai suatu kemampuan khusus, berfisik menarik, bermoral bagus, berotak cemerlang, social ability mumpuni, dinaungi keberuntungan, disukai banyak orang, dan lain sebagainya.
Ada juga tokoh arketipal lainnya yang mungkin saja tidak masuk golongan “hero” karena dalam hal-hal tertentu mempunyai kekurangan. Saya ambil contoh saja Harry Potter yang mediocre dan Hamlet yang cenderung fatalistis. Walaupun demikian, mereka disukai bukan karena kemampuan-kemampuan khususnya, tetapi lebih karena pada dasarnya inti cerita berputar disekitar mereka dan mau tidak mau merekalah yang menjadi menonjol.
“Hero” dan Kelemahan
Ke-’hero’-an Fahri dan Clark Kent sama dengan tokoh-tokoh superhero lainnya yang bisa kita lihat di komik atau film.
Tokoh arketipal hampir selalu menjadi sosok yang diidolakan. Tidak heran ketika beberapa perempuan yang pernah saya tanyai tentang kesan-kesannya terhadap sosok Fahri cenderung untuk memuji secara berlebihan tokoh dan sifat-sifat yang ditampilkan si Fahri “superhero” dalam film AAC. Orang-orang kebanyakan lalu berkata bahwa inilah sosok ideal seorang pemuda pujaan pemudi.
Seperti apakah sebenarnya sosok Fahri itu sendiri ? Kalau kita lihat dari konflik yang ada dalam novel [di film kurang ditampilkan], maka yang tampak bukanlah Fahri “superhero” yang mampu menyelesaikan masalah tanpa masalah. Fahri tidaklah sesempurna idealisme sebagian kaum perempuan tentang laki-laki idola yang patut dipuja.
Bagi saya, Fahri justru mempunyai banyak sisi lemah yang justru berasal dari ketidakmampuan dirinya untuk mendobrak suatu sistem tertentu. Fahri terlalu terpaku di dunianya atau menurut istilah Pak Fuad Hassan : beku dalam dunianya. Dalam beberapa kasus dia cenderung tidak mempunyai alternatif pemecahan masalah ketika dia berhadapan dengan masalah yang baru. Fahri terlalu hitam-putih sementara dunia yang dihadapinya berwarna-warni. Dan terkadang dia juga fatalistis.
Tapi akhirnya selalu sama karena tidak semua kelemahan menjadi kekurangan. Terkadang justru kelemahan bisa menjadi kelebihan.
Pernah saya tanyakan kepada beberapa perempuan,
apakah laki-laki yang gagah perkasa, selalu melindungi, selalu menjadi tempat bersandar, dan segala kualitas maskulin lainnya adalah lelaki impian anda ?
Ternyata jawabannya kebanyakan adalah :
TIDAK
Bukan laki-laki dengan kemampuan-kemampuan seperti itu yang diharapkan. Laki-laki yang sempurna menurut mereka adalah yang mempunyai kelemahan-kelemahan, kerapuhan-kerapuhan, dan segala kebimbangan-kebimbangan. Laki-laki yang bukan saja menjadi tempat bersandar tapi juga bisa menyandarkan dirinya pada orang lain. Laki-laki yang bukan saja tegar menghadapi masalah tetapi yang juga bisa menangis ketika tertimpa masalah.
Lucu juga ya ? Masalahnya adalah saya tidak pernah membayangkan sesosok superhero menangis dan “lembek”. “Superhero” seperti apa itu ?
Begitu juga dengan karakter Clark Kent : mirip dengan Fahri, punya kualitas tertentu, tetapi punya banyak kelemahan. Dan kelemahan itu jugalah yang membuat mereka dikagumi dan diidolai.
Apa Yang Diidolakan dari “hero” ?
Ya, ini juga yang selalu saya tanyakan. Sebenarnya kalau karakter “hero” itu punya kelemahan lalu apa bedanya mereka dengan saya ? Apa yang membuat mereka menjadi “hero” dalam pandangan banyak orang lalu kemudian diidolai ?
Dengan kata lain : apa yang membuat idola menjadi idola ?
*kok makin mbulet*
Mungkin ada beberapa hipotesis “asal-asalan” yang bisa diajukan saat ini :
- Idola diidolakan karena adanya harapan dan impian dari kebanyakan orang untuk menjadikan dirinya seperti si Idola. Disini, Idola adalah tujuan dari semua jatidirinya sebagai seseorang. Dengan kata lain, karakter, sifat, keberuntungan, dan “kesempurnaan” idola adalah TUJUAN yang harus dicapai.
Itulah yang mungkin membuat beberapa cara-cara cepat untuk menjadi idola akhirnya dipilih sebagai cara yang terbaik. Berbagai kontes dan festival dilakukan dengan tujuan untuk menjadi idola secara instan.
- Idola diidolakan karena dianggap sebagai role model bagi seseorang untuk membentuk dirinya sendiri menjadi individu. Idola adalah sama dengan model yang menjadikan dirinya layak ditiru dan diimitasi oleh orang lain, bukan hanya soal penampilan fisiknya tetapi juga sifat-sifatnya (yang buruk dan yang baik) sampai caranya berjalan dan berbicara bisa ditiru. Disini, idola adalah SARANA untuk membentuk dan melihat diri sendiri.
Itulah yang membuat begitu banyak orang yang mengecam ketika Zinedine Zidane menanduk dada Marco Materazzi di PD 2006 di Jerman. Salah satu alasannya adalah karena Zidane adalah role model dari jutaan anak-anak di seluruh dunia dan tindakannya dapat berpengaruh buruk bagi mereka. Idola akhirnya sama dengan patung dari kaca yang pantas ditiru tetapi tidak boleh tergores ataupun retak.
- Idola diidolakan karena jauh dalam ketidaksadaran seseorang ada sebuah mekanisme untuk mencari “hero” diluar dirinya. Hero dibentuk bukan sebagai tujuan dan model tetapi sebagai sebuah kenyamanan psikologis ketika dirinya mengidentifikasikan dirinya dengan sang “hero”. “Hero” dan Idola adalah segalanya karena disitulah letak seluruh kepercayaannya, seluruh identitasnya, bahkan seluruh kehidupannya.
Jadi tidaklah terlalu mengherankan ketika banyak orang yang terperangah dengan Sekte Poligami (FLDS Church) sempalan dari Gereja Mormon di Texas (Yearn for Zion Ranch), tapi justru banyak dari “korban”-nya yang merasa nyaman dengan hal itu. Bagi para penganutnya, Warren Jeffs dan ajarannya adalah letak seluruh kepercayaan, seluruh identitas, dan seluruh kehidupannya, sehingga tanpa itu mereka bukanlah siapa-siapa.
Jadi kalau kita kembalikan kepada cerita Fahri dan Clark Kent, maka “hero” dan idola [yang kebanyakan tokoh arketipal] yang dicari-cari dalam hidup setiap orang pada dasarnya berisi semua kelemahan-kelemahan manusia yang sama dengan anda dan saya.
Mereka semua adalah manusia. Mereka tidak berasal dari “dunia lain” yang mempunyai masalah-masalah yang berbeda dari manusia biasa. Mereka sama dengan manusia tetapi diberikan suatu peran atau status (atau apapun itu) yang bernama Idola atau ‘Hero”. Dan meminjam kata-kata Eric Sasono : percayalah, mereka juga manusia.
Atau meminjam kata-kata saya [disini] : percayalah, anda juga adalah “hero”.
Selamat menjadi “hero” yang lemah.







Even heroes have the right to bleed…. *langsung nyanyi*
Antiheroes rule!
Yang membuat hero itu menajadi idola adalah adanya harapan.
Btw, kenapa Tuhan nggak dijadiin hero aja ya? Apa terlalu sempurna seperti dalam tulisan bahwa hero yang diidolakan karena punya kelemahan?
kelemahan-kelemahan yang diciptakan si pengarang itu tak lebih untuk membuat dia tetap berpijak di tanah, dalam arti tetap ‘memanusiakan’ tokoh tersebut. karena kalo sempurna dan tak punya kelemahan, bakal gak seru. gak ada yang ngalahin dia donk..
dan hero juga punya segudang permasalahan, mulai dari cinta, hingga duit (contohnya adalah spiderman yang kehidupannya pas-pasan).
*komenmacamapaini*
sama seperti perempuan ketika mencari pria, apabila si pria terlalu sempurna, rasanya sulit untuk meraihnya. ah…saya baru saja diskusi soal beginian kemarin..
dan rencananya diskusi tersebut akan dipostingdia terbang…
dan air mata bercucuran…
atau
dia bergelantungan di antara gedung-gedung…
dan hatinya telah menjadi serpihan…
barangkali hero, adalah orang yang bisa mengekspresikan kesedihannya dengan cara yang istimewa, hihi
*ngacoo skalii*
menurut saya, manusia yang kelewat sempurna (macam superhero itu) gak ada. Saya malah curiga kalau ada tokoh nyata yang digambarin kelewat sempurna. kan ada peribahasa tak ada gading yang tak retak.
Justru kalau kelihatan kelemahannya, tokoh itu akan kelihatan nyata
jadi inget soundtracknya smallville
It may sound absurd:but don’t be naive
Even Heroes have the right to bleed
kurang setuju. aku ngomel ngomel berat sama manneke budiman, yg gayanya suka cari musuh, hujat hujatan sana sini. tapi ternyata sok pura pura minta maaf, tapi habis itu dgn gaya yg sama gebuk gebukan sama orang lain lagi dan demikian seterusnya. lha itu di forum yg sama je.
kata manneke : emang gue siapa ? gue kan juga manusia. jadi minta hak untuk bisa menghujat orang lain seenak perut. yg sebel urusan rumah tangga dibawa bawa.
wah, asyik juga nih, salam kenal bos, kayaknya kita sejalur deh…. hehehe…
eh ngomongin hero ya? saya jadi inget belanjaan lho..
*ditabok*
*Terbang melayang*
Tumben banget om, bikin postingan khusus untuk saya…
ya.. mungkin kita semua adalah hero
tapi sayang nya ngga semua orang tau sifat keheroan kita
hero di mata sendiri ?? buat apa
“hero” dalam bentuk manusia adalah makhluk hdup yang tak akan mungkin sempurna
Hmmm, saya belum nonton AAC, jadi ga tau Fahri.
Tapi Kalau Clark Kent (Tom Welling) dalam Smallville. Ada beberapa sisi kemanusiaan dari hero satu ini yang saya suka.
1. Losts his beloved girl. Bisa dibilang Lana Lang adalah cinta matinya bahkan kelemahan terbesarnya. Superhero yang kehilangan cinta sejatinya benar benar manusiawi.
2. Has a perfect family. Ayah bundanya yang teramat menyayanginya, selain Spiderman, saya belum menemukan tokoh superhero yang digambarkan sedemikian hingga. Ini juga manusiawi.
3. Always has dilemma. Same like any humans…
So, everybody is a hero! at least for his/herself..
Soal antihero yang diceritakan dalam artikel seperti halnya Harry Potter, saya mengajukan dua nama : Nobita Nobi (Doraemon) dan Shinji Ikari (Neon Genesis Evangelion). Alasannya mungkin kurnag lebih sama : Keduanya mau tidak mau harus menjadi hero itu sendiri.
Kadang bagi saya, keadaan yang terlalu sempurna menjadikan cerita sedikit stereotip dan membosankan. Seakan tidak nyata dan semau sutradara. Mungkin contoh seperti itu bisa dilihat pada Meitantei Conan (Bayangkan keluarga Shinichi yang seperti itu).
ini fahri versi film atau novelnya?
kalo versi novelnya sara rasa lebih kuat
Aduh, Fahri lagi… =_=!
*nggak respek sama karakter ini gara2 baca novelnya*
*ah, back to topic*
IMO sih, sebetulnya karakter hero/protagonis yang lebih ‘lemah’ itu disukai karena terasa lebih akrab. Well, seolah-olah sang hero itu adalah boy/girl next door yang kebetulan mendapat kelebihan, tapi masih berpijak ke bumi. ^^
Beda, misalnya, dengan seorang protagonis yang dibikin intentionally miskin, tapi sopan, baik, pekerja keras, alim, dicintai tetangga dan para wanita…
*dirajam para penggemar AAC*
*muntah* =_=!
@ Mihael “D.B.” Ellinsworth
Weh, Shinji… ^^”
Protagonis yang ’sakit’ dan menderita, tuh… ^^;;
Ah, nambah.
IMHO, ‘kelemahan’ ini memang manusiawi.
Cuma, dalam kasus Fahri, ini justru membuat dia makin terkesan tidak membumi… Karakternya jadi terlalu detached dari kenyataan, yang pada akhirnya menghilangkan kualitas protagonis boy next door yang saya singgung di komen sebelumnya.
*teringat Peter Parker*
ah ya….
komeng saya yg serius, lwt japri aja ya. soale rada sensitip.
tp share boleh dunx. hero saya itu siapa ya ?? kategori macam apa yg membuat saya meng-idolakan sosok hero itu ??
dan komen dr temen2 di atas mewakili jawaban saya deh…^^
jd dia adl sosok ideal yg saya inginkan (loh tyt msh ada syarat utk jd hero saya) tp sekaligus terasa membumi, dekat dg saya…
Pada intinya, “hero” adalah seseorang yang gambarnya selalu dipampang di setiap ruang kelas sekolah-sekolah dan cerita-cerita tentang mereka selalu menarik sekaligus membosankan untuk didengar.
@ kiMi :
Hehehe… lagu yang sangat bagus…
@ Geddoe :
Bukannya kamu juga salah satu “hero” wordpress, Ged ?
@ danalingga :
Yah, mungkin saja. Dalam sesosok hero selalu ada kelemahan, dan kelemahan itu nggak bisa “dilekatkan” pada Tuhan, kan ?
*kecuali konsep Tuhannya yang diubah*
@ cK :
*takjub karena Chika komen serius*
Nah, ini dia yang kemudian jadi pertanyaan. Kalau hero itu punya kelemahan, sama dengan saya, lalu mengapa dia bisa jadi hero ? Mengapa dia berbeda dari saya dan Chika ?
Apa karena kebutuhan untuk menampilkan hero itu menjadi kebutuhan manusia ? Atau memang menegaskan kalau saya dan Chika juga memang sama-sama hero ?
Ah, memang betul tak ada sosok yang sempurna. Justru laki-laki yang rapuh itulah yang justru lebih “sempurna” (manusiawi) daripada yang hampir tidak punya kelemahan.
*nunggu postingan*
@ Goop :
Yah, mungkin saja. Mungkin juga dia mampu mengekspresikan kesedihan (dan emosinya) dengan cara yang disukai oleh orang lain…
*ngaco juga*
@ Ira :
Hahahaha… dan kisah fiiksi akan tetap selalu fiksi dan tidak akan pernah ditemukan di dunia nyata ? Gitu ya, Ra ?
Kisah fiksi juga terkadang diilhami oleh kisah nyata, dan karakter-karakternya juga diambil dari karakter-karakter di dunia nyata.
@ papabonbon :
Heh, kok misuh-misuh sih Om ? Lagi kenapa nih….
@ Si Pemimpi :
Hehehe… saya di jalur lambat dan penyebarang jalan…
@ cK :
Lebih suka belanja sendiri di Carefour….
*mau ikut Chik ?*
@ mansup :
Yaelah….
Mananya yang cocok nih ? Bagian heronya atau yang lemahnya ?
*tapi kayaknya kelemahannya….*
@ funkshit :
Supaya tahu bahwa dirinya berbeda dengan orang lain. Itulah yang sering beberapa kali saya katakan kalau lagi memotivasi orang lain : Anda berbeda. Anda punya kelebihan. Anda adalah hero bagi diri anda sendiri.
@ nenyok :
Sepertinya itu premis pertamanya deh….
premis kedua : Peter Parker adalah hero
premis ketiga : Peter Parker tak mungkin sempurna
*salah logika nggak nih…?*
@ Farid :
Hehehehe… benar-benar pencinta serial Smallville. Saya nggak terlalu suka, karena pada dasarnya memang saya nggak terlalu suka cerita-cerita tentang superhero. Bukan antipati, tapi skenarionya terlalu berputar di sekitar si tokoh utama dan kurang menyebar.
yeah, i mean it…
@ DB :
Karena situasi dan karakter yang terlalu sempurna tidak memberikan ruang untuk konflik yang lebih luas. Jadinya stereotip dan membosankan. Penekanannya hanya pada kesempurnaan itu sendiri dan tidak ada masalah yang bisa dipecahkan dalam konteks kesempurnaan itu.
*sorry, tokoh-tokoh yang disebutin saya nggak terlalu tahu, kecuali Nobita*
@ aRul :
Saya lebih melihat versi novelnya. Versi film kurang begitu menggambarkan karakter Fahri.
Bukan karakter Fahri yang kuat dalam novelnya, tapi penggambaran si pengarang terhadap karakter Fahri-lah yang cukup kuat. Dan terkadang orang lain melihat Fahri dalam konteks “kesempurnaan” sebagai seorang manusia.
Fahri punya kualitas akhlak yang bagus. Itu sudah ditunjukkan ketika dia menolong Noura dan Aisha, dan juga di kasus-kasus lain. Tapi Fahri sepertinya terkungkung dalam pemahaman teologis ketika dia mengaplikasikan pemahaman itu dalam dunia nyata, khususnya ketika dia berhadapan dengan 4 perempuan yang mencintainya itu.
Dia terlalu hitam-putih mengaplikasikan sebuah doktrin/dogma, karena dogma yang seekstrim apapun pasti punya perkecualian dalam kondisi yang mungkin juga ekstrim. Seperti misalnya larangan membunuh pasti tidak akan berlaku kalau dalam situasi kita harus membunuh untuk membela diri. Dan itulah yang saya lihat salah satu kelemahan stereotip Fahri di buku itu.
Mungkin juga karena sifat dari novel itu sendiri yang berbeda dibandingkan yang lain.
mereka jadi hero karena punya superpower yang tidak miliki manusia-manusia biasa.
kebanyakan sih begitu. tapi seperti yang ditulis oleh lois lane, why the world doesn’t need superman, tapi pada kenyataannya, dunia membutuhkan pahlawan.
jadi, kurang lebih, kita memang butuh “hero”, dalam bentuk apapun.
pacar, misalnya..
*nyambung gak ya?*
kalo soal fahri, saya no komen. mungkin fahri terlihat sempurna, tapi…ah..bukan tipe saya wakakakakak…
*ini komen sambil ngebayangin fedi nuril, jadi…begitulah…*
Persis!
Saya mendapati fenomena yang sama di sini, di Aceh ini, Bro. Hal yang membuat saya ternganga takjub, betapa sebuah novel yang digarap dengan sentuhan pop seperti film-film cinderella produksi Hollywood, ternyata bisa melejitkan pemujaan demikian.
Hmm… Hmm… poin yang serupa. Saya melihatnya seperti itu juga. Terlalu pasrah pada takdir, cenderung dogmatis. Apa karena dibayang-bayangi sosok Nabi Yusuf, entah juga
Eh, malah saya ingat ada penulis wanita yang terus-terang berkata bahwa cerita itu – baik novel atau filmnya – adalah karya “pengecut”. Karena khawatir akan reaksi pembaca pada poligami, pada akhirnya salah satu perempuannya dibunuh di akhir-akhir cerita.
Dan saya tidak bisa lain selain setuju dengan pendapat demikian
Berarti untuk menjadi idola mesti harus jadi sosok yg anomali ya, om..??
yang di smallville lebih kental lagi heronya
Mmmm…semula saya akan membahas Clark Kent dari sisi komik terbitan DC-nya, tapi karena rata-rata lebih mengenal lewat Smallville ya gpp. Saya rasa Clark dan rata-rata Hero fiksi dari publikasi Barat mengikuti alur kepahlawanan dari era epik ala Odyssey dan Beowulf. Seorang pahlawan yang harus membuka jalan menuju takdirnya dengan melewati berbagai rintangan. Jadi memang tidak ada yang benar-benar baru
Yang saya cari dalam kisah-kisah semodel ini adalah motivasi altruistis yang melekat pada sosok seorang hero. Meski Clark semula menyembunyikan jati-dirinya karena motivasi tidak ingin kehidupan pribadinya diusik (Sesuatu yang sangat individualistis ?
) Saya rasa keinginan untuk ‘memberi dengan tangan kanan tanpa tangan kiri mengetahui’ juga menjadi alasan kenapa dia kelak mengenakan jubah, dan memakai celana kolor sebelum memakai seragam senamnya *sigh*
haiz
kalo di filmnya, fahri mah laki2 lemah beneran -.-
lemah jiwa dan raga
@ Sora :
Hehehehe… tapi kok banyak yang memuji ya ? Saya juga nggak terlalu respek. Apa kita adalah orang yang berbeda di dunia ini ?
Nah, inilah yang justru sering tidak terjadi dalam konteks ke-hero-an. Bagi banyak orang, “hero” itu tidak boleh lemah dan bahkan tidak boleh salah. Bahkan bukan hanya tidak boleh tapi TIDAK BISA.
Karena identifikasi diri dengan sang Hero terkadang sudah jadi fanatisme.
Fahri masih terbentur konflik antara nilai dengan kenyataan. Itu menurut saya wajar. Bagi dia, nilai (terkadang dikatakan dogma) adalah sesuatu yang hitam-putih dan tidak bisa ditawar. Ini bukan soal pemahaman nilai, tapi dalam aplikasi nilai, hal itu nggak bisa diterapkan. Nilai itu fleksibel. Bahkan doktrin masih punya perkecualian dalam konteks yang ekstrim.
Fahri itu baik dari sisi moral. Tapi penggambaran karakter Fahri itu yang memang tidak bisa mewakili kualitas seorang hero, dan kalaupun iya maka mungkin dialah hero yang rapuh…. setidaknya dalam pandangan orang dia memang hero, tetapi dia punya juga kekurangan.
@ Medina :
Hero itu subyektif, menurut saya. Itu sama dengan idola, seperti saya mengidolakan seorang Maradona, misalnya. Ciri dan syaratnya tergantung bagaimana seseorang menilai karakter-karakter yang sesuai dengan harapan, tujuan, dan pembentukan jatidirinya.
@ Didik Wicaksono :
Hahahaha… itu pahlawan, mas…
Ehm tapi bahasa inggrisnya kan memang “hero”.
@ Chika :
Kalau Freddie Highmore dan Daniel Radcliffe sepertinya sudah jadi hero buat kamu ya, Chik ?
@ Alex :
Bungkusnya yang mungkin berbeda, bro. Dalam agama, bungkus yang berbentuk pop-culture memang masih sangat kurang. Dan ketika ada satu yang nongol dengan pendekatan yang non-mainstream, orang-orang lalu menaruh harapan banyak padanya.
Atau apakah ini jadi pertanda bahwa konsep dakwah dalam agama memang sudah seharusnya mendapat bungkus pop culture ?
I don’t know…
Mungkin bukan pengecut, Lex. Tapi menghindari konflik dan dilema.
Terkadang dalam suatu pemahaman dogmatis, kita masih bingung menempatkan diri dalam suatu perdebatan, misalnya soal poligami. Dan salah satu cara untuk menyelesaikannya adalah tidak membahasnya sama sekali atau menyelesaikan masalah dengan “kematian”. Stereotip, karena dengan mati maka masalah si subyek selesai.
@ Qzink :
Dan saya nggak heran kalau Qzink memuja seorang Nietzsche.
Betul, terkadang dari anomali itu ada yang menarik, menurut pemahaman subyektif kita.
@ alisyah :
Memang agak berbeda sih. Tetapi menurut saya hampir mirip dengan Fahri soal kelemahannya, meskipun kelemahan itu berbeda sisi.
[...] yang ini lebih sulit dari kriteria-kriteria yang lain. Biasanya superhero sangat picky alias pemilih. Kebanyakan dari superhero memilih perempuan yang sudah mengenalnya jauh [...]
gyaaaa.. mereka hero ya?? *masa sih?? OOT mode
Apakah karena sutradara Smallville lebih dari satu?
Oh iya, sebenarnya saya juga sudah mulai malas mengikuti serialnya. Terhitung sejak Musim ke Lima, bagi saya serial itu udah mulai dipaksakan dan dipanjang panjangkan.
Tapi kok tetap lebih bagusan serial itu daripada Setantron™ Indonesia ya?
“Kau bukan malaikat
Yang senantiasa tetap suci
Namun bagiku
Penuh kasih dan sayang
Kau hanya orang biasa
Tiada lebih di mata mereka
Namun bagiku
kaulah yang terindah”
nyomot dr salah satu reff lagu Aero Band ^^
[...] di mana dan kalaupun bertemu jangan-jangan dia langsung kabur, tapi saya jadi teringat teorinya bang Fertob. Saya suka padanya saya menemukan kelemahannya. Let’s see [...]
waw…keren penjelasannya….
saya sudah mengerti sekarang…ck ck ck ck
nih wawasan yg nulis TOP Banget…..
Saya penggemar serial Smallvile .. karena menurut saya, serial tersebut telah di’manusiakan’ oleh sutradara dan penulis ceritanya. Dimana, dalam serial tersebut, Clark Kent lebih banyak ditonjolkan sisi human-nya dibandingkan kesuperheroannya.
Berbeda dengan film-film dan komik-komik Superman lainnya, Smallvile — lagi-lagi menurut saya — lebih membumi dan cool. Disitu saya merasa ‘kasihan’ dengan Clark Kent yang lemah dan itu justru menunjukkan kekaguman saya pada tokoh tersebut — terlepas dari berlebih-lebihannya.
Ketika Clark kehilangan daya kekuatannya, semangat untuk MENOLONG dan MENYELAMAT kan orang lain tidak pernah padam. Walaupun nyawa jadi taruhannya, dia tetap menyelamatkan orang tersebut. Itu yang saya suka.
Artinya .. dia menolong orang lain karena jiwanya. Kebetulan saja dia punya kekuatan lebih. Moral ceritanya adalah .. pada jiwanya .. bukan kekuatannya. Karena kekuatan bisa hilang. Tapi jiwa tidak.
Dari situ .. paradigma saya tentang Superman berubah. Kalo dulu saya selalu menganalogi kan orang kuat dengan Superman, sekarang tidak lagi. Karena Superman juga memiliki kelemahan. Saya setuju dengan itu setelah menonton Smallvile — sampai2 saya koleksi DVD aslinya
Selain itu, yang saya suka dari Smallvile adalah prinsip pemeran Clark Kent yang tidak mau menggunakan ’seragam’ Superman, karena dia merasa ’seragam’ tersebut telihat konyol. Dan saya dapat memahami prinsip tersebut.
*halah* koq saya malah nge-posting disini sih? hahaha .. gpp ya ..
hmm.
tapi bukankah yang membuat seseorang sebagai ‘hero’ bukan karena ‘kelebihan-kelebihan yang dia miliki’, tapi lebih sebagai bagaimana dia bisa ‘berbuat lebih dengan segala kekurangannya’?
IMO, hal ini pula yang membuat pemirsa (atau pembaca atau apapun medianya) merasa ‘dekat’ dengan sosok ‘hero’ tersebut. saya kira hal ini pula yang membuat sebagian besar pecinta sepakbola masih menganggap Zidane sebagai ‘hero’, walaupun dengan kejadian di final Piala Dunia lalu.
bahkan seorang yang ‘biasa-biasa’ pun bisa dianggap hero dalam konteks cerita/film. saya masih ingat bahwa cukup banyak rekan-rekan (perempuan) yang memandang Haruto Asou di serial 1 Litre of Tears sebagai cowok luar-biasa… walaupun story-wise, karakter tersebut jauh dari sempurna: agak kurang decisive, nggak pedulian, dan juga nggak ganteng amat… tapi toh disayang oleh pemirsa, terutama dari jenis perempuan.
tapi yah, mungkin perlu nonton serialnya dulu sih untuk mengerti kenapa bisa terjadi seperti itu.
~btw
~saya juga nggak terlalu suka karakter Fahri di novelnya
Oh iya…
kelupaan aku kalo beberapa malam yang lalu ada kawan perempuan yang memberi tahu bahwa ia menemukan satu pesan moral yang bermakna dari AYAT-AYAT CINTA.
Pesan moral AAC, “Gunakan Windows bervirus utk bisa dapat cewe secantik Maria”
bukannya hero itu mewakili ekspektasi diri kita?
dan ketika semua telah tercapai maka tidak ada tempat untuk “sosok hero”.
~sebuah pemahaman baru atas film animasi anak-anak The Incredibles~