Sudah cukup lama saya tidak menulis tentang tema psikologi. Tetapi semua tulisan-tulisan saya sebelumnya biasanya selalu “beraroma” psikologi walaupun hanya sekedar “aroma” dan bukan inti tulisannya.
Tapi ada peristiwa beberapa hari lalu yang membuat saya sadar bahwa ternyata selama ini saya sepertinya kurang tepat dalam menata otak khususnya dalam menata memory. Dan akhirnya terjadi peristiwa yang memalukan : saya lupa nama teman.
Yah, memang sudah lama tidak berjumpa tetapi tetap saja cukup memalukan.
Banyak sekali cara-cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kerja otak, khususnya dalam hal optimasi memori. Tetapi dari sekian banyak cara itu (method of loci, mind map, peg system, dlll), tidak satupun yang sukses saya terapkan. Kalau saya memakai cara-cara itu, biasanya otak saya justru “berantakan”. Saya punya cara sendiri yang sangat subyektif dalam memaksimalkan memori.
Nah, dari peristiwa memalukan itulah, saya sadar bahwa ternyata saya juga bisa LUPA. Dan diikuti oleh rasa malu akibat lupa. Huh…!!!
Tulisan dibawah ini adalah hasil dari proses mengingat tanpa bantuan referensi apapun juga. Saya berusaha mengingat apa yang dulu pernah didapatkan, dan semoga hasilnya betul.
Lupa
Ah, kalau diceritakan panjang lebar, sepertinya bisa habis ratusan halaman.
Secara definisi, LUPA (forgetting) adalah suatu kondisi dimana hilangnya suatu informasi (loss of information) yang telah disimpan (encoded, rehearsed, and storaged) dalam memori otak jangka panjang (long term memory). Ini adalah definisi dengan pendekatan kognitif.
Jadi dari definisi kompilasi diatas ada beberapa elemen penting yaitu :
- informasi yang hilang
- informasi yang telah disimpan (melalui suatu proses)
- long term memory
Lha, sudah disimpan kok bisa hilang ? Berarti ada yang curi dong..!!
Bisa jadi ada yang “mencuri” tapi bisa juga karena kita meletakkannya secara sembarangan. Memori otak itu harus diatur sama seperti kita mengatur letak file di hard disk komputer. Salah tempat maka akibatnya bisa gawat.
Memori sendiri ada yang bernama Long Term Memory (LTM) atau tempat penyimpanan jangka panjang.
LTM ini adalah tempat penyimpanan terakhir dari proses mengingat (remembering) sesuatu. Kapasitasnya besar tetapi tidak diketahui seberapa besar, bisa menampung apa saja asalkan sudah diberi makna (meaningful), dan mempunyai jaringan (network) antara satu informasi dengan informasi lainnya. Dan yang pasti letaknya pasti di otak dan tidak mungkin di dengkul.
Otak sebelah mana ? Oh, tanyakan saja pada dokter ahli syaraf.
Lalu mengapa seseorang bisa lupa ?
Saya memakai segala macam pendekatan dalam memaknai lupa disini. Bukan hanya pendekatan kognitif (cognitive approach) tetapi juga yang lain.
Singkat kata singkat cerita, lupa itu katanya manusiawi.
Betul, tapi kebanyakan lupa bukan soal manusiawi karena bisa jadi soal penyakit (alzheimer, dkk). Lupa yang spesifik juga bisa berarti ada masalah dengan dunia bawah sadar (unconsciousness). Tetapi tidak lupa sama sekali berarti dia bukan manusia.
Okeh…okeh… kembali ke jalan yang lurus : mengapa seseorang lupa ? Ada beberapa penjelasan dan kemungkinan disini :
- Lupa terjadi karena proses penyimpanan pada LTM tidak dilakukan atau dilakukan secara tidak tepat/sempurna. Lupa jenis ini terjadi karena suatu informasi hanya disimpan pada Short Term Memory (STM)
tidak pake J (jahe)
dan tidak diantarkan dengan mulus sampai LTM. Proses penyimpanan ke LTM bisa melalui beberapa cara misalnya dengan mengulang-ulang, memberikan makna subyektif pada informasi itu, atau yang lainnya.
Misalnya anda mendapat nomor telepon dari seorang gebetan.
Anda tidak mencatatnya tetapi hanya mengulangnya 2 kali. Lalu anda katakan : ok, sudah saya ingat. Benarkah ? 2 hari kemudian ketika anda ditanyakan nomor itu, maka saya yakin anda pasti sudah lupa. - Lupa terjadi karena adanya proses interference. Proses ini terjadi karena adanya pencampuran (mixing) antara berbagai informasi yang akan kita keluarkan. Informasi yang lama mengganggu informasi yang baru dan akhirnya menghilangkannya dan begitu juga sebaliknya. Ada 2 jenis interference yaitu retroactive interference dan proactive interference.
Contohnya sering terjadi pada mahasiswa yang menerapkan metode belajar SKS (Sistem Kebut Semalam)
Anda belajar ngebut malam ini, memasukkan mentah-mentah semua pelajaran dalam sekali kunyah. Nah, ketika ujian tiba, apa yang anda ingat dan pelajari minggu lalu bisa saja hilang (interference) akibat apa yang anda pelajari tadi malam (retroactive), atau bisa juga sebaliknya (proactive). - Lupa karena waktu (time away). Lupa ini terjadi karena kita mengingat sesuatu pada masa lalu tetapi seiring berjalannya waktu akhirnya kita lupa. Terjadi karena kita jarang menggunakan informasi itu dan tidak pernah memakainya. Ini sama dengan suatu informasi yang jarang digunakan akhirnya menghilang dengan sendirinya.
Nah, ini yang menurut saya terjadi pada kasus saya diatas. Saya tidak pernah bertemu dengan teman saya lebih dari 10 tahun, dan tidak pernah mengingatnya selama lebih dari 10 tahun itu. Dan akibatnya gawat : saya lupa namanya walaupun masih ingat wajahnya. Saya masih ingat kejadian-kejadian dulu dimana kami bertemu tetapi tetap saja lupa namanya. Sial…
- Lupa karena melemahnya/hilangnya jejak penyimpanan. Ini hampir sama dengan masalah waktu. Suatu informasi ketika disimpan, selalu meninggalkan jejak (trace) di memory. Sama seperti sistem indexing dalam dunia komputer. Nah, karena banyak informasi baru yang datang, maka jejak (trace) informasi lama akhirnya menjadi kabur dan lemah dan akhirnya hilang.
Analoginya bisa dilihat pada jejak kaki pada pasir di pantai. Awalnya jejaknya jelas, tetapi ketika datang jejak kaki yang lain disekitarnya dan juga menimpa jejak informasi awal, maka jejak awal itu jadi kabur dan akhirnya lenyap. Makanya, bikin cara penyimpanan yang teratur.
Kecuali anda punya memori sangat super.
- Lupa karena peristiwa-peristiwa traumatis dalam hidup. Peristiwa traumatis (kehilangan orang yang dicintai, dirampok di jalan, nyaris tertabrak becak,
nyaris ketabrak kereta api, dll) secara psikologis berpengaruh terhadap ingatan kita. Persitiwa traumatis itu bisa menyebabkan terjadinya amnesia, baik itu sementara, parsial, maupun total. Ada juga yang retroactive amnesia dan proactive amnesia. - Lupa karena masalah medis dan klinis. Ini terjadi pada kasus-kasus dimana ada penyakit yang mempengaruhi memori otak, misalnya alzheimer, hypotiroid, dementia, tumor di kepala, trauma kepala (gegar otak) dan lain-lain. Kalau sudah ini yang terjadi maka silakan hubungi dokter
kelaminahli syaraf terdekat. Ini bisa berbahaya. - Lupa karena “sengaja melupakan“. Apa pula ini ? *batak mode ON*
Nah, ini adalah pendekatan psikoanalisis. Singkatnya, ada peristiwa-peristiwa traumatis yang terjadi dalam hidup. Dan akibatnya karena kita tidak mampu untuk coping the problem, maka yang terjadi adalah secara tidak sadar kita melakukan mekanisme pertahanan diri (defense-mechanism) yaitu menekan ingatan itu kedalam ketidaksadaran kita (repressed traumatic memories into unconsciousness). Sering disebut juga motivated forgetting.
Misalnya begini, [fiksi mode ON] anda diputuskan oleh pacar anda tanpa alasan. Dan anda akhirnya tahu bahwa dia selingkuh. *tragis amat*
Nah, ketika anda tidak mampu menahan rasa sakit yang mendera karena terus dihantui oleh ingatan menyakitkan itu, maka secara tidak sadar mekanisme pertahanan diri anda muncul. Anda menekan (repressed) ingatan traumatis itu kedalam ketidaksadaran. Dan akhirnya anda bebas dari “ingatan yang menyakitkan” walaupun caranya seperti itu.
Tapi 2 tahun kemudian anda bertemu dengan mantan pacar anda itu di suatu mall. Dia memanggil nama dan menyapa anda. Tapi…. tapi…. anda benar-benar LUPA siapa dia. Anda justru heran kok bisa-bisanya dia kenal anda.
Apa anda memang terkenal atau…. ??? Dia tentunya juga heran kok anda bisa lupa pada dia, mantan pacarnya sendiri. Nah, ini mungkin saja bisa jadi cerita di sinetron….
- Lupa karena adanya distorsi pada informasi yang disimpan. Distorsi terjadi ketika suatu informasi yang disimpan bercampur dengan informasi lain (biasanya yang konsepnya mirip) yang sudah ada. Ketika kita mencoba memanggil (retrieve) kembali informasi tadi maka informasi itu sudah bercampur dengan informasi lain.
Hal ini bisa terjadi karena adanya sistem interconnection dan triggering dalam memory penyimpanan. Maksudnya, ketika suatu informasi disimpan, maka informasi itu dihubungkan dengan informasi-informasi lainnya yang sudah ada (connection) yang berhubungan dengannya. Memanggil kembali satu informasi akan memicu (triggering) dipanggilnya informasi lain yang memiliki koneksi itu. Tetapi kalau koneksinya kurang tepat dan bermakna, yang terjadi adalah pencampuran antara informasi-informasi yang berhubungan itu.
Gampangnya begini. Anda menyimpan suatu informasi tentang perang Iran-Irak. Informasi ini kemudian dihubungkan dalam satu kategori dengan informasi lain tentang perang, misalnya perang afganistan, PD 2, perang kemerdekaan Indonesia, dll. Nah, ketika anda memanggil informasi itu, yang terjadi adalah pencampuran informasi antara berbagai elemen dalam kategori perang tersebut.
Itu hanyalah beberapa sebab kenapa seseorang bisa lupa. Mungkin saja ada yang kelupaan untuk ditambahkan dan saya mohon untuk anda mengingatkan saya. Supaya kita sama-sama tidak lupa.
Memang lupa itu normal, biasa, dan manusiawi. Tetapi kita punya banyak cara untuk meningkatkan kemampuan mengingat. Banyak buku-buku dan artikel-artikel di internet yang membahas hal itu. Kalau ada yang memilikinya, mohon saya juga diberikan. Sekali lagi, supaya tidak lupa.
Oiya, sebelum menulis artikel ini, saya agak sedikit sakit kepala. Tapi entah kenapa sekarang saya sudah lupa sakit kepala. *iklan mode ON*
Akhir kata, saya tidur dulu supaya tidak lupa.
ps :
Tekan F3 di Mozilla dan ketik keyword “lupa” dan ternyata ada 39 kata.






*pingsan*
bang….jd inget mata kuliah psikologi umum dan psikolgi kognitif…. T_T
keforgetan deh,apa ya, yg saya pelajari di mata kuliah itu…..
kl ngomongin lupa dlm konteks agama, katanya manusia itu biangnya lupa….^^
*lupa dulu udah berjanji sama DIA utk tetap di jalan yg lurus*
*pingsan lg…*
eh bang, jd kepikiran, dg menguasai teori lupa, apakah bisa mengatasi kelupaan ??
bleh…saya ini pelupa. bahkan sering lupa nama-nama teman saya, tapi inget tampang.
satu lagi bang, kebanyakan makanan yang dijual pada jaman sekarang ini membuat otak cepet karatan.
*alesyan*
dibagi 2 aja bang,
degraded di target retrieval
dan degraded di cue retrieval
(ini cara saya ngapal sem kmarin supaya ga gampang lupa
)
Bang Fertob,
Skrang gmana caranya biar ngga lupa???tolong dibahas dhong.
soalnye ane ini suka sklale lupa. Tape ada enaknya juga lho sering lupa itu. Bisa nyante juga hidup ini.
Lah?!! Terus cara mengatasinya gimana bang?
*sabar nunggu tips*
ya ampyuunn..saya ini biangnya lupa..
eh? sayah jadih lupa maok komeng apa….
wekekeke… akhirnya saya mendapatkan sebagian jawaban atas pertanyaan ini
tapi apa benar cak fertob, kalo lupa itu murni masalah psikologis?
bagaimana dengan amnesia?
saya suka short term memory loss….
kok jadi kayak dory ya?
@ Restlessangel :
Hahahaha…. ini juga memang terinspirasi dari yang pernah didapat dulu. Dan lumayan masih ingat walaupun harus “memeras” otak dengan keras.
Nggak kok. Tapi setidaknya kita tahu kan apa saya yang bisa membuat lupa dan juga bisa tahu bagaimana cara meningkatkan kerja memori. Apalagi yang sudah uzur seperti saya ini…
@ Chika :
Wajar kok, Chik. Memang paling mudah ingat wajah. Tapi supaya gampang ingat nama, cara paling gampang itu adalah mengingat kejadian-kejadian unik waktu dulu kita bergaul dengan mereka. Ingat panggilan-panggilan lucunya, atau peristiwa-peristiwa yang membuat dia itu berbeda dari yang lain. Dari situ baru bisa diingat siapa namanya…
Ah, kata siapa ?
Makanan memang berpengaruh, tapi gaya hidup juga lebih berpengaruh, misalnya pola tidur, tingkat stress, dan yang lain…
@ Dina :
Hehehehe… itu kan terlalu kognitif. Degradasi di tingkat retrieval yang mana yang bisa membuat lupa. Tapi yang tidak kognitif seperti trauma kepala dan psikoanalisis bisa berbeda kan ?
@ Citra Dewi :
Okeh…. kayaknya saya juga harus nulis tips-tips supaya memori bisa optimal. Bukan supaya tidak lupa lho….!!
karena kalau nggak bisa lupa maka itu bukan manusia…
@ danalingga :
Iya Om, nanti ditulis tipsnya….
@ tukangkopi :
Hehehe…. bukan tukang lupa, tapi tukang kopi…
@ Abeeayang :
Saya juga lupa mau balas komen apa nih…
@ deteksi :
*berkunjung ke TKP*
Nggak selalu masalah psikologis. Ada lupa yang bukan masalah psikologis, misalnya karena penyakit-penyakit degeneratif seperti alzheimer, parkinson, dll. Dan itu yang sering kita sebut pikun. Tapi ada juga yang karena faktor usia karena semakin tua kemampuan otak untuk menyimpan hal-hal baru semakin berkurang.
Ada juga yang karena trauma kepala (kepala terbentur, dll) atau zat-zat kimia yang merusak memori otak. Tidak selalu masalah psikologis.
@ Itikkecil :
Ada caranya kok supaya informasi nggak hanya sampai STM saja dan trus hilang. Nantikan tipsnya di episode berikutnya….
*lha, blog ini kan bukan blog psikologi*
Dari dulu saya paling sulit mengingat nama dan wajah orang. Bahkan saat masih muda, berapa kali kena masalah, karena saat plonco masuk asrama, menurut saya wajah bibi yang mengurus asrama (padahal ada 15) nyaris mirip. Sekarang, makin tua, pelupanya makin bertambah.
Saat menjelang MPP, saya ikut pelatihan kewirausahaan, penceramah antara lain psikolog, dokter kandungan, psikiater, pewirausaha dll. Ada hal yang saya ingat dari dokter…bahwa untuk menghambat kepikunan adalah jangan hanya membaca (karena pasif), tapi juga harus menceritakan kembali apa yang dibaca tsb…dan menuliskannya. Makanya saya terus mencoba menulis di blog…kadang mengganggu anak,karena menjadi lupa mau komentar, misalnya tentang kingkong…jadi anak dibanguni…”Le, itu lho kera yang besar sekali, yang ada di film itu namanya apa?” Sambil setengah tertidur, dia menjawab…”Kingkong”…..Ya, ampun, padahal saya berpikirnya udah setengah jam…..gawat bener nih pelupa.
kayaknya itu hal yang lumrah sich. bukankah semakin tua panca indra kita memngalami penurunan dalam kualitas ingatnya. asal jangan lupa tobat aja atas segala kesalahan/ kehilafan semasa muda. nah yang itu baru tidak wajar (tak tau diri tuch namanya. hee..ee..ee………..)
buset… dah macem nulis skripsi aja nie…
mantab! Mantab!
apa beber hanya wilayah sikologis, degeneratif seperti alzheimer, parkinson, krotek dll yang dengan pikun pikun??.
apa faktor usia mempegnaruhi kemampuan otak dalam menyimpan hal-hal baru semakin berkurang??.
ich… geri dech, tapi kayak nya jadi lebih geri lagi kalo terkena penyakit lupa yang dikatain arman sich.
liat aja dinegri ini, tampaknya penyakit lupa tidak mengenal usia dan jabatan. bayangin aja banyak anak muda jadi lupa akan jeripayah/ perjuangan orang tuanya dalam menuai kan kasih sayang. banyak para pejabat negara jadi lupa & pura-pura lupa ama janji mereka serta amanah yang diterima mereka dari rakyatnya.
dan yang lebih gila lagi, ternyata penyakit-penyakit lupa yang dicontohkan arman jauh lebih berbahaya karana jika terjangkit oleh para pejabat atau terkemuka pablik maka dampaknya tidak hanya pada dirinya tapi lebih banyak kepada masyarakat luas.
ih…serem baget tuh…, lupain aja deh man, orang kayak gitu ngak usah diurusin “kagak ada obatnya” kecuali lu pancung tuch leher pejabat baru jadi obatkali. Heeee…………..e.. (astaggifirullah..!!)
Hoooooy, kamu semua lucu ya??…
MATAB! MANTAB
Lupa juga berkaitan dgn Gol. darah. “Katanya sih yg B dan AB cenderung lebih sering lupa”
*tambah lagi*
dan supaya ga sering lupa harus diperhatikan jenis makanan yg di konsumsi apakah bertentangan atau tidak dgn diet gol.darah
@ edratna :
Memang makin tua makin pelupa. Daya ingat itu berkurang seiring bertambahnya usia. Tapi banyak tips-tips supaya daya ingat tidak menurun sangat darastis karena usia. Tips jangan hanya membaca tetapi perlu juga “disuarakan” itu adalah salah satunya. Tapi itu biasanya lebih ke arah pemahaman apa yang telah kita dapatkan.
*mungkin saya akan menulis tipsnya*
@ arman :
hehehe… lupa tobat itu lebih sedikit berurusan dengan otak, tapi dengan niat.
@ gimbal :
Hehehehe…. ini juga dengan usaha keras untuk mengingat kembali.
@ ali :
yup, bertambahnya usia mengurangi kemampuan mengingat hal-hal yang baru menurun (fluid) tapi kemampuan mengolah informasi yang sudah ada lebih bagus (crystallized)
@ CY :
Eh, saya malah baru tahu kalau golongan darah punya hubungan dengan lupa. Thanks infonya, mas.
mas fertob, bahaya donk kalau nanti ada reunian temen temen sd hahaha
kayak sy kemarin. reuninya bareng temen sma sih sebenarnya, tapi udah 8 taun ngak ketemu jadi banyak yg bisa diceritain.
udah ketawa ketawa, ngobrol sana sini, tapi saat pulang…sy tetep ngak tau siapa nama cewek yg sy ajak ngobrol
. Padahal sy menunggu banget dia ngak sengaja ngasih hint nama kecil dia atau apalah. biar sy ngak perlu manggil dia, “lu” atau “kamu”. Kan lebih sopan.
Tapi sampe akhir nama dia tetep menjadi misteri padahal dia tau nama sy
saya sering sangat lupa sekarang, lupa jalan, lupa lokasi, dan pernah sekali lupa kalau kereta saya sudah saya masukkan ke bagasi ternyata semalaman motor saya di luar dan saya tidak ingat sama sekali tentang hal itu sampai sehari penuh. apakah lupa ini masih normal????