- tema filsafat
- tentang skeptis
- memusingkan
Beberapa hari kemarin saya sempat berdebat dengan seorang teman tentang topik yang tidak populer sama sekali. Yah, tidak populer karena bagi anda pembenci jidat berkerut, maka tema ini justru membuat jidat anda berkerut. Saya tidak menutup mata kalau saya lebih suka jidat berkerut daripada jidat nong-nong.
Apalagi kalau lihat cewek cakep yang bukan saja jago senyum tapi jago bikin jidat berkerut.
Temanya adalah skeptisisme dan menjadi seorang skeptis.
Saya adalah seorang skeptis, sama seperti beberapa begawan bloger lain yang ada di blogsphere. Maaf kalau saya tidak bisa menyebutkan nama mereka. Hal ini berhubungan dengan kerahasiaan informan.
Apa itu skeptis, skepticism, dan varian-variannya, dapat anda lihat di Wikipedia.
Mungkin ada yang bertanya, kenapa saya menggunakan nama Pyrrho sebagai nickname saya yang cukup sulit dieja. Hal ini berhubungan dengan skeptisisme yang saya anut dalam beberapa tahun terakhir. FYI, Pyrrho adalah seorang filsuf Yunani pasca-Socrates yang memproklamirkan dirinya seorang skeptis. Yang kemudian menjadi ide dari berdirinya aliran Pyrrhonism beberapa abad sesudahnya, yang didirikan oleh Aenesidemus.
Nah, inti perdebatan dengan teman saya itu berkisar soal : apakah seseorang bisa menjadi skeptis absolut ?
Terus terang, saya bukan skeptis absolut. Bagi saya, posisi sebagai seorang skeptis absolut tidaklah mungkin bisa terjadi di muka bumi ini. Dalam ranah filsafat, posisi skeptis absolut sama rapuhnya dengan solipsisme dan doktrin “homo mensura“-nya Protagoras.
Ada satu doktrin yang dianut oleh seorang skeptis absolut :
Pikiran Manusia Tidak Dapat Mencapai Kebenaran Obyektif
Mari kita lihat kesalahan mendasar dari doktrin itu.
- Secara materiil (apa isi doktrin tersebut) mungkin saja kita bisa mengatakan BENAR terhadap doktrin itu. Misalnya dengan alasan-alasan sebagai berikut :
- pikiran manusia terbatas
- manusia tidak sempurna sehingga tidak mungkin mencapai kebenaran
- ada hal-hal yang tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia
- Tetapi secara formal (melihat bentuk pernyataan), doktrin itu adalah suatu keraguan atas keraguan. Maksudnya begini, ketika seseorang secara YAKIN menyatakan doktrin itu, maka KEYAKINAN itu adalah juga penyangkalan atas KEYAKINANNYA sendiri.
- Sebab sesungguhnya ia berpendapat bahwa sekurang-kurangnya ada satu pendapat yang pasti benar secara obyektif, yaitu PERTIMBANGANNYA SENDIRI. Menurut doktrin itu, secara obyektif manusia tidak dapat mencapai kebenaran obyektif, tetapi di lain pihak dengan pernyataan itu seharusnya hal itu juga berlaku untuk pernyataannya sendiri. Bahwa pertimbangannya (doktrinnya) juga bukanlah sebuah kebenaran obyektif.
- Dengan kata lain, pernyataan itu adalah bentuk lain dari penyangkalan atas diri sendiri : seseorang yakin bahwa dia tidak dapat yakin.
Ini hampir mirip dengan Epimenides Paradox atau sering disebut juga Megarian Dilemma. Dalam logika, pernyataan terhadap sesuatu bertentangan dengan kondisi subyektif dari si pemberi pernyataan (penyangkalan diri).
Versi singkatnya seperti ini :
Fertob berkata, “semua laki-laki itu pembohong“
Pernyataan ini adalah sebuah paradoks karena sifatnya justru menyerang si pembuat pernyataan. Apakah dia menyatakan dirinya juga pembohong ? Btw, Fertob adalah seorang laki-laki.
Terkecuali yang mengeluarkan pernyataan itu adalah para perempuan.
Anda bisa melihat kesamaannya ? Om Deking pernah membahasnya dalam tulisannya yang berjudul “Ternyata Semua Laki-laki adalah Pembohong“. Sayang, Om Deking sudah lama hiatus non-interuptus. Saya kangen dengan Deking dengan tulisannya yang bikin jidat berkerut.
*************
Memusingkan ?
Intinya, seseorang tidaklah bisa menjadi seorang skeptis absolut. Karena dengan menyatakan bahwa dirinya ragu akan pencapaian kebenaran obyektif dari pemikiran manusia maka sesungguhnya dia sendiri ragu terhadap dirinya (pemikirannya) sendiri.
Setidaknya skeptisisme saya tidaklah absolut. Cogito Descartes adalah sebuah bentuk skeptisisme yang juga tidak absolut. Pada satu titik dia mengakui bahwa “aku yang berpikir” adalah titik terakhir dari keraguannya. Dekonstruksi Derrida juga adalah bentuk sebuah skeptisisme yang tidak absolut. Pada satu titik dia mengatakan bahwa proses dekonstruksi berhenti pada titik yang tidak dapat didekonstruksi lagi.
Dan bagi saya yang berkepercayaan, titik itu juga akan berhenti. Dan seperti yang pernah saya tulis sebelumnya [disini], saya hanya ingin mengatakan bahwa perhentian itu juga ada.
Pertanyakan segala sesuatu sampai dia tidak bisa lagi dipertanyakan/didekonstruksikan. Dan perhentian terakhirnya adalah pada Sang Maha Baik, penyebab segala sesuatu.
Amin.






kan ada lagunya…
“tidak semua laki2…..*
pusing….
pertanyaan saya, kapankah kita tahu itulah titik perhentian?
apakah kalau pertanyaannya hanya bisa dijawab dengan “Hanya Tuhan yang tahu” ?
*kok jadi kayak lagu dangdut ya?*
http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/04/30/apakah-menteri-kesehatan-bakal-dicopot-mundur-kompromi/
Oohh gitu : skeptisis adalah selalu meragukan hal-hal yang belum pasti; alias meragukan hal-hal yang belum diperiksa kebenaran atau obyektivitasnya; berarti juga meragukan hal-hal yang belum diperiksa apakah tidak benar dan tidak obyektif…teruskan sendiri deh hehehe…
Salam Merdeka
dari penggemar filsafat yang ogah pusing
*jidat berkerut*
Jadinya mbulet dunk bang?
*jidat masih berkerut*
owkey… bahkan jidat saya yang tengah berjerawat ini pun berkerut juga….
kalau begitu….
saya sih setuju-setuju saja™
sejujurnya saya masih agak kurang paham dengan isi postingan ini dan tengah menunggu deking atau siapalah menjelaskan isi postingan ini dengan lebih damai lagi bahasanyaintinya skeptis itu boleh ngak bang?
Skeptis sama gak dengan egois???
waduh, otak saya berusaha mencerna semua tapi belum bisa mencapai taraf yg diinginkan. langsung klik judul postingan ini, karena temanya sama dgn skripsi sayah mengenai skeptisisme terhadap klaim. menurut yg saya baca (kebanyakan jurnal marketing n dikit jurnal psikologi sih) skeptisisme adl meragukan sampai ada bukti yg bisa dipercaya. kalau ini di ranah filsafat, glekk sumpah g bisa fast reading deh. mending baca lagi.
** scroll ke atas lagi**
(mungkin g akan komen lagi, tapi saya ingin belajar memahami skeptisisme ini disini)
kayaknya memang ndak bisa jadi skeptis absolut, bahkan untuk jadi skeptis aja rasanya gak semua orang bisa
b..bahas apa ini?
*panggil deking buat jelasin*
Hmm… ya ya ya
*gak ngerti apa-apa*
Udah lama gak mikir ginian. Tapi intinya skeptis absolut itu tidak mungkin ?
skeptis absolut? nggak ngerti…
Dalam hal antara skeptis dan tidak, saya sendiri seperti berada di antara 2 posisi
seperti mu’tazilliyang sesuai dengan subjek yang dihadapi, dan tentunya kondisi ruang dan waktu dimana saat itu saya berada.Kalau skeptis absolut… sukar agaknya. Untuk menjadi skeptis absolut (IMHO) kita mesti menolak semuanya. Semuanya, bahkan keberadaan diri kita sendiri.
Mungkin cuma Descartes yang pernah sampai ke tahap itu
Setahu saya skeptisisme kalau dijalankan dengan terlalu bersungguh-sungguh akan bermuara ke solipsisme, yang memang sepertinya terlalu mengada-ada.
*atau skeptis sejati bakal skeptis pula akan solipsismenya sendiri?*
Jadi sebaiknya bagaimana, mas?
skeptis seperlunya ajah….
@ hanggadamai :
*goyang-goyang jempol*
@ Ira :
Sampai kita tidak lagi bisa menemukan jawabannya.
Selalu ada pertanyaan susulan mengikuti satu jawaban. Begitu seterusnya sampai kita tidak bisa menemukan jawaban lagi dan berhenti pada titik terakhir tersebut. Apakah itu ? Bisa Tuhan, dan bisa apa saja, karena tidak selalu berkaitan dengan kepercayaan.
*lha, sudah 2 orang yg ngedangdut*
@ Robert Manurung :
Bahkan yang sudah “dipastikan kebenarannya” masih bisa dipertanyakan lagi. Selalu ada pertanyaan yang mengikuti, dan jawaban terakhir itulah titik perhentiannya.
*saya juga lagi pusing nih…*
@ dana :
Nggak mbulet dong…
Masalahnya, saya nggak memeriksa kebenaran dari pernyataan/doktrin itu. Tetapi saya memeriksa dari konsekuensi yang timbul dari pernyataan itu. Setidaknya pernyataan itu bukanlah sebuah kebenaran. Lalu kalau pernyataan itu bukan kebenaran obyektif, maka SEMUANYA menjadi tidak mungkin. Segala sesuatu diluar pernyataan itu menjadi tidak mungkin, dan pernyataan itu sendiri juga tidak mungkin, dan juga yang membuat pernyataan juga tidak mungkin.
Lalu apa yang mungkin ? Tidak ada.
@ plain love :
Hehehehe… makanya lebih enak kalau Deking yang menjelaskan. Dia kan “mantan” guru.
@ aRul :
Skeptis itu boleh kok. Setiap orang pada dasarnya adalah skeptis, tetapi kadarnya yang berbeda. Tetapi tidak mungkin menjadi absolut karena menihilkan segala sesuatu, termasuk dirinya sendiri.
@ indra1082 :
Nggak sama, mas….
@ ocha_milan :
Aduh, sorry kalau saya tidak bisa memberikan jawaban memuaskan. Ini sebenarnya juga saya tulis dengan asumsi semua orang sudah tahu apa itu skeptis dan skeptisisme. Jadi langsung ke pokok permasalahannya.
@ deteksi :
Skeptis absolut sudah pasti nggak bisa, tetapi kalau sekedar skeptis atau skeptis-skeptisan, saya rasa cukup banyak yang bisa.
Wah.. terasa kurang bang!
kenapa terlalu cepat bertemu dengan titik itu dan kembali pada Sang Maha Baik
*berharap lebih membuat jidat berkerut *
saya memang skeptis dengan negeri ini kok…
#19;
Masaolloo….
Salam
Mungkin yang bisa membuat kita memandang skeptis atau tidak tergantung dari masalahnya juga kali *jidat mengkerut*
========
========
KALO MAU BIKIN BLOG, JANGAN LUPA MASUK SINI: http://www.leoxa.com/
(Themenya Keren Abiss & Bisa Pake Adsense)
========
========
rame yang udah berpindah daripada blog-blog lainnya ke blog Leoxa.com karena theme yang keren
kenapa harus berhenti?
saya setuju dengan ke-tidak absolut-an skeptisme.
Tapi ketika terhenti di terminal Sang Maha Baik itu.. ah it’s so pathetic..
*skeptis mode*
terus terang …
aNE skeptis untuk memisahkan kebaikan dan keburukan …
beda-beda tipis …
Skeptis ituh sama dengan pesimis ndak ya Om?
Saya kok bingung….
Kayaknya banyak yang menafsirkan “skeptis” dengan “ragu-ragu” dan “pesimis”…
Mungkin memang serupa, tapi penafsiran saya adalah skeptis sebagai; sikap yang tidak pernah sepenuhnya mempercayai sesuatu, selalu mempertanyakan kebenaran klaim apapun. Termasuk perkara agama, etika, dogma, dan budaya.
Jadi yang dimaksud mas Fertob ini yang mana, ya? *takut ndak nyambung*
@ cK :
bahas yang aneh-aneh, Chik….
@ Gyl :
Hehehehe… maap kalau nggak bisa memuaskan semua pihak….
@ Mbah Joyo :
Skeptis absolut ? Aduh, kalau saya terangkan panjang lebar, nanti bisa kemana-mana. Lihat link-nya aja mas….
@ Alex :
Bahkan tidak mungkin, Lex. Mempertanyakan semua memang adalah sesuatu yang wajar. Tetapi ketika kita berpendapat kita tidak akan sampai pada suatu titik kebenaran obyektif, maka akhirnya yang muncul adalah penihilan segala sesuatu.
Descartes-pun mulai dari keraguan. Tetapi dia sampai pada keberadaan dirinya sebagai “aku yang berpikir” sebagai batas eksistensi itu. “aku yang berpikir” adalah batas keraguan Descartes.
@ Geddoe :
Solipsis dan Skeptis punya titik yang sama dalam meragukan tetapi berakhir pada titik yang berbeda. Kalau skeptis absolut akan menihilkan/meragukan segala sesuatu dan mengatakan tidak mungkin ada kebenaran obyektif, dan akhirnya menyerang opininya sendiri [yang bukan kebenaran juga]. Kalau solipsis justru meragukan segala sesuatu dan berhenti pada titik bahwa ada problem of other mind. Bahwa pikiran orang lain itu tidak eksis dan hanya pikiranku yang eksis.
Ada cerita tentang solipsisme yang cukup lucu tentang seorang “petani yang memiliki ayam jantan“. Sudah pernah dengan, Ged ?
Yup, skeptis sejati/absolut akhirnya skeptis juga pada solipsismenya sendiri, pada pikirannya sendiri, dan bahkan pada seluruh kebenaran akan keberadaan (eksistensi) dirinya sendiri.
@ peyek :
Oh, saya nggak terlalu kecepatan kok. Itu adalah kesimpulan akhir saja. Proses ditengah-tengahnya luar biasa rumit dan sulit. Tetapi mungkin saja saya membiarkan kepercayaan saya mengambil alih tujuan tersebut.
@ Iman Brotoseno :
Saya skeptis terhadap apa saja, mas…
@ Mbah Mbel :
Kenapa, mas ?
@ nenyok :
Ah, apa saja selalu masuk dalam skeptisisme saya. Tidak selalu bergantung pada masalahnya, bahkan agama dan kepercayaan-pun jadi salah satu topik skeptisisme pribadi saya…
@ chuanwei :
Makasih atas promosinya.
Mungkin anda perlu membaca [ini] dulu…..
@ brainstorm :
Kenapa ada perhentian ? Karena pikiran manusia mampu mencapai kebenaran obyektif itu.
Dan semua pertanyaan bisa terjawab, entah kapanpun itu.
Dalam beberapa diskusi tentang dekonstruksi Derrida, banyak yang mengatakan bahwa dekonstruksi akan terjadi terus menerus, berkesinambungan, dan tanpa ada titik akhir. Alasannya eksistensialis, bahwa manusia adalah makhluk yang belum selesai. Makhluk yang menjadi, makhluk yang berproses dan berprogres.
Tetapi apakah segala sesuatu yang BELUM selesai akhirnya akan SELESAI ? Kalau dikatakan TIDAK, maka pernyataan utama akan BELUM itu pasti salah. Yang BELUM SELESAI akan menjadi SELESAI, apapun, dimanapun, dan kapanpun itu. Titik perhentian/selesai akan selalu ada.
Tapi titik itu punya banyak istilah. Bisa saja Kebenaran Obyektif, bisa juga Tuhan, bisa juga Kiamat, bisa juga the end of everything, dan bisa yang lain. Saya tidak memperdulikan apa istilah yang disebut untuk sesuatu yang diujung sana. Tetapi saya mengatakan bahwa sesuatu yang berproses akan mempunyai titik akhir proses. Secara logika itu masuk akal.
Kenapa manusia harus berhenti ? Karena manusia akhirnya selesai.
Kenapa harus Sang Maha Baik ? Karena itu pemahaman subyektif saya.
@ borsalino :
Oh, itu bukan contoh tentang skeptisisme, mas…
@ Nazieb :
Skeptis dan Pesimis beda lho, mas…
@ Geddoe :
Yup, skeptis bukan “pesimis” dan bukan “ragu-ragu”.
Tetapi inti dari skeptis adalah adanya “keraguan” dalam diri kita dan sifat “meragukan” dari segala sesuatu. Dan bukan hanya berhenti sampai disitu saja, skeptis juga bertanya tentang apa yang menjadi keraguan tersebut. Segala sesuatu harus diragukan dan dipertanyakan, apapun itu. Bahkan diri kitapun bisa diragukan dan dipertanyakan.
Kalau dlm bahasa sono, adanya “doubt”, ada “inquiry”, ada “method”, dan lain sebagainya. Dalam filsafat sering dimasukkan dalam epistemologi (filsafat ilmu).
Ya, kemungkinan besarnya akan jatuh demikian. Atau perulangan yang tak henti-henti seperti ini:
Tapi… itu skeptisisme mesti disikapi dengan skeptis juga. Karena sumbernya juga layak untuk di-skeptis-kan
*disambit bang fertob*
*disambit*
Waduhh kalau udah membahas filsafat, memang membikin jidat saya berkerut, untuk memahami arti di balik kalimat-kalimat di atas….
aahhh berat……
tar lagi aja deh komennya belum mandi ni…
hhihihihih
*kabur ……………*
Maaf OOT Bang, apa Skeptisisme (khususnya dalam agama)bisa mengarah ke Agnotisisme?
Berat bgt postingnya bang. Tolong jelasin dong beda pesimis & skeptis. Tapi pake bahasa Indonesia yang awam ya.
Dalam hal ini, yang bikin saya skeptis (atau pesimis?) cuma kelakukan pemerintah yang cuma ngomong doang. Semua kebijakan kyknya cuma dibuat untuk cari muka.
Saya sudah muak (atau skeptis?), biarpun saya kerja untuk pemerintah, saya tetap muak!!
@ fertob
saya kurang setuju bang kalo segala sesuatu akan selesai. karena kehidupan adalah siklus. Secara jujur saya akan menggeser sesuatu yang dinamakan KIAMAT. saya anggap kerusakan dimuka bumi ini hanyalah sebuah siklus keseimbangan.
nah siklus ini tidak akan berhenti, saya ambil contoh.. dulu orang Yunani yakin bahwa Zeus dll adalah Dewa2 yang mengatur kehidupan. Tapi pada akhirnya hal2 itu terbantahkan oleh teori Ketuhanan yang dibawa Paulus. Dimulailah timbul konsep2 ketuhanan (kristiani, islam, Banyak teori2 yang bertahan ratusan abad pada akhirnya (yang bukan sebuah akhir) terbantahkan. Selalu akan ada perubahan, karna hidup adalah proses.
Apakah saya skeptis? saya orang yang meragukan kekekalan teori ketuhanan. mungkin dizamannya nanti teori itu akan diruntuhkan lagi oleh konsep baru ttg Yang Maha Baik (entah akan bernama apa). Mungkin bukan dizaman saya/kita, hidup saya akan terhenti pada satu titik kematian (yang mungkin hanya sekedar siklus kehidupan saja). Tapi kehidupan tak akan berhenti karna kematian saya. Titik itu hanya sekedar halte, sambil menunggu kendaraan berikutnya.
kalo saya sih.. just enjoy life .. hehehe..
sorry mas saya baru ke sini lagi..
@ Alex :
Ya…ya… [teori-teori] saya selama ini juga patut disikapi dengan skeptis. Saya justru nggak enak hati kalau tidak ada yang jadi “devil’s advocate”.
Mau menerima lowongan jadi “pembantah utama” blog ini, Lex ?
@ edratna :
Waduh… padahal saya berusaha menjelaskannya dengan bahasa manusia lho, Bu.
Memang dari sananya sudah bikin pusing.
@ kelepon :
*mandi juga*
@ Amed :
Bisa, Om. Sangat bisa dan sangat mungkin. Tetapi makin bertambah keimanannya juga sangat bisa dan sangat mungkin. Memang pedang skeptisisme itu bermata banyak tetapi pada dasarnya adalah sebuah penjelajahan.
Dalam agama, skeptisisme sering diwujudkan dalam penjelajahan spiritual. Dan ini pernah saya komentarkan di tulisannya Om Dana [disini]
@ Poltak :
Skeptis itu adalah sebuah sikap yang selalu meragukan dan mempertanyakan segala sesuatu. Tidak terbatas pada agama saja. Dalam ilmu pengetahuan dan filsafat ilmu (epistemologi), skeptisisme juga mendapat porsi yang sangat besar.
@ brainstorm :
Saya pernah bertanya pada seorang “guru” saya dulu :
Apa kita sudah berhenti ?
Apa kita sudah selesai ?
Dan dia memberikan ilustrasi tentang sebuah lingkaran yang tidak punya awal dan tidak punya akhir. Itulah semesta ini dan seluruh pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalamnya.
Dan saya menjawab bahwa apa yang punya awal pasti akan punya akhir. Itulah hukum alam semesta ini termasuk manusia. Itulah logika yang masuk akal.
Dan dia menjawab lagi “apakah kita punya awal ?”
Sorry kalau bermastrubasi istilah.
Yup, terkadang konsep tentang linieritas dan sirkularitas semesta ini masih terus diperdebatkan. Umat beragama kebanyakan menganut prinsip linier : bahwa yang mempunyai awal akan mempunyai akhir. Dan terus terang, saya juga menganut linieritas, tetapi bukan bersumber dari agama dan ketuhanan.
Saya mengandaikan seluruh pencarian manusia di semesta ini adalah sama dengan manusia yang tersesat di sebuah rimba belantara. Mencari jalan keluar dengan menjelajah seluruh belantara itu. Apakah ada kemungkinan dia akan menemukan seluruh jawaban atas belantara itu [termasuk dirinya] ? Ya, selalu ada. Dan bagi saya, disitulah ketika manusia yang belum selesai akan selesai.
Saya tidak bicara konsep waktu dan tempat. Saya hanya bisa konsep kemungkinan. Linieritas juga adalah kemungkinan dengan segala cabang-cabangnya.
@ roffi :
wuih…. ada penunggu lama…
Apa kabar mas Roffi… ?
[OOT]
Kontrak kerjanya mesti jelas dulu. Yah, hal-hal sederhan seperti… Berapa gajinya? Saya akan diberi benwit sendiri tidak? Dapat (minimalnya) sebuah Acer Ferari?
*dinjak-injak*
[/OOT]
Ya, saya idem kalo pada akhirnya ada batas akhir pemberhentian sikap skeptis ini. Disaat itu, bisa jadi skeptisnya tolok ukurnya itu sudah menjadi subjektif dan tidak lagi objektif, karena sudah mencapai batas kesadaran dan pemikiran orang yang bersangkutan itu sendiri.
Saya sedikit-banyak seorang skeptik juga, meski tidak begitu ndalemi skeptisime ini. Otak saya ndak mampu kalo uda melingkar-lingkar.
Lha… itu situs yang saya beri sebagai rujukan itu bagi saya salah satu situs yang sangat satir sekaligus skeptik bahkan untuk situs itu sendiri lho, bro
Kalo udah buntu dengan hal-hal yang bikin skeptis di net, ya biasanya saya lari kesana.
baik2 aja mas
kalo saya optimis realistis jaman dulu, kalo sekarang cendurung skeptis juga..