- tidak mengandung unsur pornografi
- tentang film
- juga tentang keparanoidan
- ada gambar
Sebenarnya bukan saat ini tulisan yang akan saya publikasikan. Tetapi, saya tadi mampir ke blog Friendster saya yang lama dan melihat-lihat tulisan-tulisan jadul saya. Dan ketika membandingkan dengan blog saya di WordPress, ternyata tulisan saya di blog friendster itu lebih “bersemangat”, “progresif”, dan “revolusioner”.
Ternyata saya sudah berubah, saudara-saudara.
Dan ini adalah sebuah tulisan yang pernah saya tulis disana. Sebuah tulisan yang menyorot masalah pornografi dan pornoaksi. Sewaktu saya membacanya kembali, saya senyum-senyum sendiri. Tulisan ini disajikan dalam bentuk blockquote dan sedikit dikomentari dengan iseng. Judulnya adalah Apakah Saya P(a/o)rno ?
Menonton film “In the Cut” yg dibintangi oleh Meg Ryan dan Mark Ruffalo, ada beberapa hal yang menjadi berkesan dalam hati. Pertama, filmnya bercerita tentang feminisme ala barat dimana perempuan ditampilkan lengkap dengan dinamikanya, emosinya, hasratnya, dan semua aspek-aspeknya. Kedua, film ini mengumbar adegan-adegan seks. Sudah jelas film ini harus ditonton oleh orang-orang yang berpredikat “D” di kepalanya, karena banyak orang-orang yang sudah dewasa fisik alias diatas 17 tahun tapi belum “D”.
Soal feminisme tidak perlu diperbincangkan. Tapi soal seks dan pengumbaran seks selalu enak dan asik untuk diperbincangkan, apalagi sambil dibayangkan. Terus terang, menonton film itu saya tidak terangsang apalagi membayangkan yang tidak-tidak. Karena dalam kepala saya, jika saya menonton film dengan suatu tujuan, maka tujuan lain dapat dialihkan alias tidak diperhatikan. Ini berlaku untuk semua media, bahwa segala sesuatu yang merangsang selalu hadir dan ada di kepala orang yang melihat media itu. Jika dalam kepala pemirsa tidak ada hal-hal yang menimbulkan rangsangan, maka bisa jadi film yg bertema “bokep” pun tidak akan merangsang. Tapi apabila di dalam kepala sudah ada hal-hal yang merangsang, maka film-film perang-pun bisa membuat merangsang. Nah lo…
Saya sendiri sudah menonton film In the Cut beberapa kali. Dan cukup kaget karena melihat akting Meg Ryan, salah satu bintang film favorit saya, bermain cukup berani di film itu. Film ini disutradarai oleh Jane Campion, seorang sutradara pendukung gerakan feminisme, yang beberapa filmnya bercerita tentang feminisme seperti The Piano dan Portrait of A Lady. Film In The Cut pernah diberikan rating Unrated karena banyaknya adegan-adegan seks vulgar di film itu.
Saya menonton film itu lebih banyak karena keingintahuan saya tentang akting Meg Ryan, dan tidak menjadikan film ini sebagai acuan untuk menonton film porno. Tapi apakah film ini pernah diputar di bioskop-bioskop Indonesia ? Saya malah tidak tahu. Dan saya yakin, kalaupun diputar maka sangat banyak bagian-bagian yang harus disensor.
Ini dia posternya :

saya nonton versi DVD yang unrated
Nah, tentang apakah film ini bisa dikategorikan “bokep”, terus terang saya tidak bisa menjawabnya. Silakan tanya pada [ahlinya] yang sudah menguasai dunia itu.
Soal lain, apakah film perang bisa membuat terangsang ?
Oh, bisa dan sangat bisa. Saya jamin itu. Bagi orang-orang yang kadar sadisme dalam seks (sado-masochism) sangat tinggi atau yang sedikit “gila” soal seks, menonton film yang menaikkan adrenalin (film perang. film horor, film thriller) justru bisa menaikkan fantasinya soal seks. Kalau orang “normal”, saya malah nggak tahu.
Ada juga film perang yang berisi adegan seks, misalnya saja film Enemy At The Gates yang dibintangi oleh Jude Law dan Rachel Weisz. Tapi intinya kan perang dan bukan seks.

Enemy At The Gates
Dari dulu kita selalu takut akan segala sesuatu yang bernama “SEKS“. Bahkan pada suatu masa seks dianggap menjijikkan dan tabu. Hal itu masih berlangsung sampai sekarang. Segala sesuatu kita lakukan agar terhindar dari DOSA yang bernama SEKS. Akibatnya bisa runyam, begitu kata nenek dulu. Seks ditutup-tutupi, dilarang-larang, bahkan mungkin dulu pernah seks dianggap bahaya laten, seperti kita memperlakukan komunisme. Tapi walaupun demikian, seks selalu enak dibicarakan, karena memang segala sesuatu yang berbau seks pasti mengundang perasaan ingin tahu.
Tapi mengapa kita harus selalu takut akan seks. Sekali lagi jawabannya cuma satu : akibatnya. Tapi, apakah kita tidak bisa mengendalikannya sehingga harus takut pada akibatnya ? Itulah masalahnya. Seks sebenarnya bisa dikendalikan dan diinstitusikan (bahasa kerennya). Seks selalu melibatkan sesuatu yang menyenangkan. Di dalam seks biasanya selalu ada dua unsur. Satu, Prokreasi, yaitu untuk meneruskan keturunan; dan Kedua, Rekreasi, yaiktu untuk kesenangan manusia. Jadi dimana aspek yang membuat seks menjadi bahaya laten ? Sebenarnya tidak ada, tapi menjadi ada karena, kembali lagi, segala sesuatu yang porno, cabul, dan merangsang hanya ada di kepala seseorang.
Nah, saya dulu yakin kalau sesuatu dikatakan porno atau tidak porno selalu menjadi monopoli otak manusia. Artinya apakah sesuatu porno atau tidak itu selalu mengikuti nasihat yang sangat terkenal, “dikembalikan pada diri masing-masing orang“. Apa yang ada di otakmu maka itulah yang menentukan porno atau tidaknya sesuatu.
Tapi klaim ini punya kelemahan mendasar, yaitu menjadikan segala sesuatu relatif dalam pandangan masing-masing orang. Berarti bisa saja film-film seperti JAV, film biru, dan yang sejenisnya tidak bisa dikatakan porno kalau dikembalikan kepada masing-masing orang. Dalam hal ini saya telah terburu-buru mengatakan kalau sesuatu itu porno atau tidak HANYA sekedar persoalan di kepala seseorang.
Tapi tentunya porno atau tidak porno selalu punya batasan. Dan batasan inilah yang selalu dan selalu diperdebatkan. Apalagi ketika istilah-istilah seperti kebebasan berekspresi, seni dan artistik, serta yang lain ikut campur di dalamnya. Dan terlebih lagi kalau dipakai batasan-batasan agama, kesukuan dan tradisi, dan masih banyak lagi.
Lalu ? Lalu kitapun sulit membedakan apakah seks dari sananya memang porno, ataukah otak kita yang “parno” sehingga membuat seks jadi ikut-ikutan menjadi sarana ke-paranoid-an kita. Seperti kata pepatah : buruk rupa cermin dibelah. Apa yang salah dengan seks ? Tidak ada. Seks menjadi salah ketika dia disimpangkan, baik secara sengaja oleh orang yang bertujuan menyimpangkannya atau oleh “orang biasa” yang di dalam kepalanya penuh dengan seks yang parno.

apakah ini porno ?
Ini yang menjadi salah satu kemungkinannya. Apakah seks selalu identik dengan pornografi dan pornoaksi ? Saya pikir tidak. Jadi kalau akhirnya segala sesuatu yang berhubungan dengan seks dikatakan porno, maka sudah pasti ada yang salah pada diri orang yang mencari hubungan itu.
Ini bisa saja karena ada suatu pandangan bahwa seks harus dihadapi dengan kegentaran dan ketakutan. Takut pada seks pada dasarnya sama bahayanya dengan pemujaan terhadap seks.
Disatu sisi dia di-phobia-kan tetapi disisi yang lain dia di-kultus-kan. Satu garis tapi terletak pada titik ekstrim yang berbeda.
Dan pandangan “takut akan seks” serta “parno akan seks” justru membuat seks itu sulit untuk diedukasikan dan diajarkan. Padahal, seks tanpa edukasilah yang lebih berbahaya. Dan apakah seks sudah diajarkan dan dikomunikasikan dengan lebih terbuka di peradaban kita ini ?
Hmmmmm….. *manggut-manggut*
ps :
- parno adalah istilah gaul untuk menyebutkan paranoid







emang bener… sesuatu (dlm hal ini nonton pelem) sangat terpengaruh dng motif awal yak, bang
karena subyektif jadi susah netepin batasan yg agak pas
kalo saya sih selalu nganggep itu adalah karya seni
apakah karya seni yg mengundang hal lain, misal jadi porno ato malah parno seks, ya balik lg ke orangnya
mo belajar, napsu ato sekedar cari bahan hayalan…
Sayah sukak nyang porno-porno….
Kalo sebatas cium-cium atau telanjang mah itu bukan termasuk porno. Menurutku yg sudah termasuk porno itu kalau adegan seksnya diklosup dan menunjukkan alat kelamin pada adegan seks itu.
Kalo orang pikiran ngeres: berciuman saja sudah diblokir!
seks itu sama sekali tidak porno kalo berada di tempat yang semestinya dan dinikmati oleh pasangan sah
seks menjadi porno [dan menimbulkan parno] kalo dilakukan oleh siapa saja [baik pasangan sah maupun bukan] jika tempatnya salah [misalkan di tempat umum yang bisa terlihat orang lain] atau tempatnya benar [misalnya di kamar] tapi diekspos ke luar [misalnya melalui film atau rekaman pribadi yang tersebar]
definisi porno di sini tentu mengacu pada definisi umum ketika material porno tersebut sudah menyebar ke ranah umum
tapi ketika kita sedang sendirian menonton bokep misalnya, definisinya tentu tergantung pendapat pribadi kita, dan bisa saja berbeda dengan pendapat orang lain [relatif]
*cek ke atas, panjang juga*
Agaknya kalau kita melihat blog-blog yang dulu pernah kita bikin waktu pertama nge-blog, yang terasa memang begitu, Bang. Mungkina karena idealisme® sedang tinggi ya?
Eh, itu semua pilem diatas saya pernah nonton itu. Malah adegan yang ‘keren’ di pilem Enemy At The Gates itu waktu mereka melakukan hubungan seks di antara para gerilyawan lain yang sedang tidur
Itu juga seksnya masih dalam ‘soft’ sih di mata saya
Kalau yang lain sih memang perang melulu.
Porno? Naif kayanya kalo ndak suka porno. Tapi ya kadarnya itu… tiap orang kan beda-beda…
Saya sih masih kadar normal.
Ndak pernah lagi pun nyari-nyari torrent begitu itu. Udah ada kesibukan soalnya
Halah…
tag quote-nya lupa ketutup.
Diberesin ya bro
loooh.. emang seks itu identik dengan porno??? bleeeeh.. itu kan sesuatu yang indah (kalo dilakukan pada waktunya… hehehehehe alias sudah menikah…
)
laaaah gimana mo punya keturunan kalo ngga ada yang namanya seks?
kata2 anda benar jeng,,emang semuanya harus tepat sasaran kalau ingin mendapatkan hasil yang memuaskan,,
he,he,,,,,
masalahnya ya itu…. seks dan segala turunannya itu dianggap tabu untuk dibicarakan. makanya ngomongin alat kelamin dalam konteks untuk pelajaran pun bisa dianggap porno.
*maap oot*
menurut saya balik ke pribadi orang tersebut. mbak pengasuh saya dari kecil yang umurnya 30 suka marah-marah kalau saya lagi nonton tipi dan ada adegan ciumannya. bahkan membuang muka ketika melihat adegan tersebut padahal 30 tahun lho..
jadi, balik lagi ke masing-masing. saya sendiri bukan pengkonsumsi film porno, tapi kalau melihat adegan tersebut di film-film barat, ya biasa aja. paling ketawa, abis ada yang aneh
dan kadang menjijikan
love is the name, sex is the game..
let’s just forget the name and just play the game..
*diulek
Ah, justru gara-gara dianggap tabu dan saru itulah, seks jadi menyenangkan untuk dibicarakan.
hahahaha, jadi inget cerita lucu.
Beberapa bulan lalu aku ngerjain sebuah sistem informasi akademis (siakad). Nah di situ ada satu halaman buat masukin sama update data siswa yang diisikan sendiri sama siswa. *kebetulan buat SMA*. Si pemesan alias kepsek meminta bahwa sistem ini harus dalam bahasa Inggris *katanya sih untuk meningkatkan pamor, padahal penilaian sekolah ini turun gara2 dia gak bisa English*.
Akhirnya semua saya buat dalam bahasa londho, yang berarti tulisan “jenis kelamin” saya translet jadi Sex. Eh, begitu saya tunjukan si kepsek malah marah-marah, katanya saya gak sopan nulis – nulis “seks” di situ….
hehehehe, jadi pusing sendiri. Setelah dijelaskan, akhirnya malah si bapak minta diubah aja ke bahasa Indonesia. Tapi sekarang alasannya karena “mencintai bahasa Indonesia”.
kalo saya sih belum pernah merasa parno ma yang berbau porno…malah sebaliknya….
Kalo istilah SMA dulu ” kalo sudah napsu, kambing dikasi gincu juga diembat” wakakakaka….
@Fertobhades
memang benar kok bro…, saya dulu pernah nonton film bokep tapi pikiran lagi bercabang kemana2 ttg urusan kantor. Hasilnya ya ga “ngaceng2″ liat tuh pilem. hehehe….
@NdaruAlqaz
Ingat :
Peraturan pertama,
kepala sekolahboss tak pernah salah.Peraturan Kedua, kalau
kepala sekolahboss salah, lihat kembali peraturan pertamakl saya, sesuai proporsinya saja. sgl sst yg berlebihan itu ga asik, ya ga, bang ??
misal, tll parno dg seks. jadinya puritan bgt dan menganggap seks adl setan. akibatnya ?? saya jd inget sybill.
tp tll memuja seks juga ga asik. ga ada seninya. hambar.
seks yg sesuai porsinya akan mengena pd sasaran. saya bicara common sense aja deh, lg males bawa2 psikologi.
misal, bareng2 nonton filmnya meg ryan itu, dg partner yg berpikiran dan bersikap dewasa. tentu saja hasilnya akan muncul diskusi seperti postingan ini ^^
tp kl nujukin gambar boneka lg posisi missionaris ke anak kecil, ya salah dong.
film/gambar bokep, se soft apapun, kl ditunjukin ke anak kecil ato mrk yg blm bisa bersikap dewasa, ya malah bikin masalah.
seperti saya lah, ga malu2 dan ga munak mengakui menyukai seks dan apa saja yang berbau seks, salam batas-batas tertentu
toh, kita kan udah dewasa ya, bang fer ??
*digetok wajan*
jd inget bagian dr novelnya nadrea hirata. itu tuh, yg cerita, dia dan kawan2nya nonton film bisokop. liat adegan cewek berbuasana minim aja udah bikin mereka kewalahan.
sementara, pd umur yg sama, ada temenku, cowok, yg dalam sehari menghabiskan 7-10 vcd bokep, huahahaha…..
kembali ke proporsinya…..kenali lawan bicara…….
@ CY
*ngakak*
Itu kan doktrin para senior kampus kalo lagi ngospek anak-anak baru. Ketauan benar ini mantan mahasiswa
jugamungkin saking “tabu”nya bang, pas udah nyobain.. malah jadi doyan kawin..
*kembali merenungi poligami*
[OOT]
Heh? Yang baru kawin udah mikir poligami?
*lapor ke mertua*
*diinjak-injak*
[/OOT]
masaoloh…itu filmnya meg ryan yang belum saya tonton. harus cari habis ini
kalo tentang vasiliy zeitsev, saya malah ndak konsen sama sekali ke adegan seksnya, bang. sibuk terkagum2 sama ketepatan tembakannya. gara2 itu, tiap kali main CounterStrike akhirnya saya selalu ngambil peran sembunyi di belakang sambil nggotong2 magnum. hidup sniper!!!
@ Edy :
Memang motivasi awal sering menentukan apakah seseorang mengganggap sesuatu porno atau tidak, termasuk film. Tapi tetap saja ada sebuan batasan, walaupun terkadang batasan ini yang susah dicari definisinya.
@ Mbel :
Saya juga suka, Mas….
@ juliach :
Hehehehe…. tergantung seberapa besar penerimaan seseorang terhadap “sesuatu yang dikatakan porno”. mbak…
@ deteksi :
Aha, itu yang saya setujui. Seks tidak pernah porno karena seks punya lembaga untuk menginstitusinya. Dalam batas itu, seks tidak akan pernah porno.
Tapi batasan lain diluar pernikahan itulah yang sering jadi perdebatan. Misalnya adegan film ada yang berciuman, bagi beberapa orang itu sudah dianggap porno.
@ alex :
Ya, idealismenya memang sedang tinggi-tingginya. Semangat yang menggebu-gebu, tulisan yang blak-blakan, menghantam langsung tanpa basa-basi, dll. Masa muda memang “menyegarkan”…
Kadarnya memang beda-beda, Lex. Dan bukan soal kadar, selera juga beda, dan bahkan definisi tentang “porno” juga berbeda-beda. Tapi justru itulah yang membuat sesuatu yang porno selalu enak untuk diperbincangkan, asalkan tidak ada yang memaksakan definisinya yang harus dan wajib jadi acuan.
@ chic :
Tapi “seks” diluar institusi pernikahan, gimana mbak ?
Apakah selalu porno ? misalnya di film, sinetron, lukisan, dll.
@ Ira :
Woooww….!!!
Saya malah nggak bisa membayangkan kalau guru biologi menerangkan tentang sistem reproduksi manusia sambil mengancam, “ini seharusnya nggak dipelajari. ini kan porno.”
@ Chika :
Latar belakang seseorang memang berpengaruh thdp penerimaan sebuah film yang berkonten “porno”. Bahkan film-film komedi seks itu (misalkan film Indonesia Namaku Dick) ada juga yang menganggapnya porno, lho…
Apalagi kalau filmnya berbicara tentang seks, misalnya Basic Instinc.
@ letsgetluz :
And porn is the law…
*just playing the game, and breaking the law*
@ Nazieb :
Setuju…. karena tabu maka enak diomongin…
@ NdaruAlqaz :
Hehehehe… padahal salah satu terjemahan Jenis Kelamin, ya memang Sex…
*ngakak*
@ Hilman :
Saya juga nggak parno dan nggak porno, mas…
@ CY :
Betul mas, sesuatu dikatakan porno atau tidak biasanya otak kita yang menyumbang sekian persen hal tersebut. Tapi itu batasan subyektifnya. Dalam batasan obyektif, ada batasan lain untuk mengatakan apakah sesuatu itu porno atau tidak. Dan tidak sepenuhnya dikembalikan pada diri masing-masing orang.
@ Memeth :
Segala sesuatu yang berlebihan memang nggak asik. Bahkan makan yang berlebihan juga nggak asik, apalagi seks yang berlebihan ?
Saya saat ini lagi nggak dewasa, kok.
Dewasa kan pilihan (seperti kata orang), dan saya bisa milih kapan saya mau dewasa dan kapan saya nggak dewasa.
Namanya juga pilihan….
Ehm, dulu waktu masih muda
saya juga punya teman yang hobinya nonton film bokep. Dalam semalam dia bisa ngabisin belasan film bokep. Saya aja nonton satu udah nggak tahan….
Tapi itu kan dulu…. Lain kalau sekarang. PRAKTEK dong…..
*sama siapa ? sama kambing ?*
@ brainstorm :
Heh…??? Baru nikah sudah mikir poligami ?
@ Joe :
Segera diburu Joe. Film luar biasa dan sepertinya memang cocok kalau kamu yang jadi pengganti Mark Ruffalo..
tergantung sih, gimana kita melihat dan menikmatinya…
Apakah “parno” dapat di hilangkan ?
Barangkali artikel artikel tentang paranoid berikut berguna >> Paranoid
Lo ingin punya koleksi film bokep gw punya banyak dari yg barat sampai yg china dan Indonesia juga ada, komplit pokoknya. bagi yang berminat email gw aja di agnes_maramis@yahoo.com. Pasti lo puaaaaaaaas.
parno otak gua juga
inget akhiRat!!! hidup ncuma 1 kali!! jangan sia-siakan hidup kamu untuk kejahatan!! apalagi wat porno-pornoan gitu!!!
betu,betul,betul,,,,?
saya jg g suka
inget hidup cma 100 kaliii
buseet bnyak jga