Rembulan menangis
di serambi malam
Intan buah hatimu
di cabik tangan-tangan
serigala
Mei itu sangat kelam. Hanya satu kata yang kerap terucap. Ketika suara-suara dibungkam. Ketika harapan hampir pudar. Ketika harga-harga melonjak naik. Dan ketika ratapan berubah menjadi kemarahan.
Mei itu dilanda prahara. Jalanan menjadi saksi. Teriakan bergemuruh dari seluruh pelosok. Juga hanya satu kata : “Reformasi“. Perubahan yang dirindukan. Dengan tangisan dan dengan teriakan. Terkadang dengan kemarahan.
Bintang-bintang muram
beku dalam luka
Untukmu saudaraku
kami semua turut
berduka
Mei itu berdarah. Bunyi tembakan membabi buta. Suara teriakan bercampur tangisan. Jeritan membahana dari jalan-jalan. Terluka dan Mati. Jiwa-jiwa muda ibu pertiwi. Yang hanya punya harapan akan perubahan. Musnah ditelan kekuasaan.
Mei itu merah. Desingan peluru melesat menghantam. Tanpa rasa kasihan. Tanpa pilih lawan. Dan korban-pun berjatuhan. Darah berceceran.
Lolong
Burung malam di rimba
Melengking menyayat jiwa
Tangis kami pecah di batu
Duka kami remuk di dada
Doa kami bersama-sama
Untukmu
Untukmu
Mei itu terbakar. Api menjalar dan membakar. Asap mengepul dan menyebar. Kota itu terbakar. Seperti Roma dibakar Nero. Demi ambisi dan kepuasan. Juga kegilaan.
Mei itu membara. Bukan kegilaan yang menjulang. Tapi kesedihan. Kemarahan. Kedukaan. Jarahan. Kerakusan. Hari itu peradaban berubah jadi kebiadaban. Keramahan berubah jadi kegeraman. Dan kegelapan menggumpal di awan-awan. Kota itu menangis. Runtuh dalam satu sabetan pedang.
Angin pun menjerit
Badai bergemuruh
Semuanya marah
Hanya iblis terbahak
Bersorak.
Semuanya menangis. Semuanya marah. Dan hanya iblis bersorak. Atas nama kegilaan dan keserakahan. Juga kekuasaan yang makin rapuh.
ps :
- Mengenang Mei berdarah 1998.
- Lirik lagu Rembulan Menangis adalah karya cipta Ebiet G. Ade.






terus terang saya agak lupa dengan peristiwa mei karena saat itu saya masih smp. jadi belum banyak mengerti soal tragedi..
*tangan menengadah*
*berdoa*
dan mei kali ini, sepuluh taun setelah mei ‘98, kita masih…. menangis?
ada penyesalan…
ada amarah…..
dan ternyata sampai sekarang kita belum juga berubah…..
saya masih smp waktu itu, di suatu kota di timur jawa. cuman bisa ngeliat dari tv dan koran2. sempat juga menyaksikan detik2 lengsernya Suharto dan gemuruh mahasiswa yang bersorak merayakan kemenangan. tapi kemenangan atas apa ya? sudah 10 tahun…
waktu itu masih di kampus, bang?
dan sudah sepuluh tahun, saya blom juga ktemu bang fertob
revolusi belum berakhir kawan…!!!
Dan kegilaan itu hanya berganti dengan kegilaan lain yang lebih parah..
Mei yang telah menjadi sejarah, semoga tidak perlu terulang lagi.
Mei tahun ini dirayakan dengan naiknya harga BBM…
Rakyat kecil semakin menangis
mei adalah bulan yang kelam *pertama kali putus … diputus cewek*
Salam
Mei itu kelabu, tragedi paling tragis mencabik-cabik hati SANG KEMANUSIAAN
mas mbak ada paket wisata yang gak gratis..he, coba di http://www.kibchome.multiply.com wisata melihat BURUNG GARUDA DI ALAM..
Saya sempat heran juga, mei ko bulannya kerusuhan ya? Padahal saya lahir bulan mei, joesatch juga.. *apa hubungannya?*
semoga tidak akan dan pernah terulang kembali..
Mudah-mudahan tidak menjadi maybe yes maybe not .. alias tidak ada kepastian atas nasib bangsa ini.
Semoga Allah melindungi bangsa ini dari keporakporandaan. Amin.
hehe,
unforgotten day
hampir jadi korban juga
MEI, saya dan pacar saya berulang tahun… gak ada darah loh
Hehehe… Asal jangan kebanyakan nangis aja, bangsa ini udah terlalu piawai dalam menangis baik di sinetron ataupu di mana aja!
@ cK :
SMP di Jakarta kan, Chik ? Pasti lagi libur saat itu…
@ Simbok Venus :
Sampai sekarang masih menangis, mbok…
@ Ira :
Tetap belum berubah. Ada yang hilang dari reformasi kemarin.
@ tukangkopi :
Hmmmm…. para mahasiswa merayakan kemenangan sesaat jatuhnya sang raja. Tetapi setelah itu sama saja.
@ Edy :
Yup, di kampus. Nggak turun ke jalan karena ada alasan pribadi. Tapi mensuport mereka dgn bantuan logistik, dll.
@ plain love :
Saya sendiri tidak tahu apakah seperti ini yang namanya revolusi…
@ Nazieb :
Negeri edan.
@ danalingga :
Semoga, Dan. Tapi sepertinya negeri ini tidak belajar dari peristiwa masa lalu. Dan ada kemungkinan akan terulang kembali.
@ Didik Wicaksono :
Namanya kan pemerataan kemiskinan…
@ NdaruAlqaz :
Hehehehe…. saya malah lebih ingat bulan maret…
(2 kali soalnya…)
@ nenyok :
Benar-benar kelabu…
@ mansup :
Berarti mansup dan joesatch suka bikin kerusuhan….
@ hanggadamai :
Semoga, mas…
@ erander :
Semoga, bang. Semoga bangsa ini tidak hancur lebur dilanda pertikaian.
@ Ade :
Lho, kamu emangnya lagi ngapain, De ?
@ Rindu :
Hehehehe…. justru terbalik dengan saya. Mei itu bulan yang tak berkesan sama sekali….
@ Yari NK :
Yup, kadang tangisannya sulit dibedakan mana yang asli dan mana yang palsu.
@ cK :
smp ???? masak ga gitu inget???
waktu itu saya smu, bang, dan rasanya iri berat dg kakak2 mahasiswa. pengen ikutan tp tentu aja ga boleh.
ga terasa udah 10 tahun…astaga….
dan apa yg tersisa ???
lihatlah cK dkk, generasi yg masih abege pd saat itu.
apa yg mereka ingat ?? apa yg mrk rasakan skrg ???
bagaimana dg para kakak2 pejuang reformasi itu skrg ???
dan bagaimana dg kisah2 kelam dan gelap yg masih belum terkuak kebenarannya ???
the truth is out there…..
mei itu hari ulang tahunnya taurus…
dan saya selalu cinta para taurean!
semoga mei tidak akan apa apa lagi
@ mbak memeth
soalnya sekolah libur dan saya nggak boleh keluar rumah. jadi cuma tahu dari tv dan yang saya tahu hanya soal kerusuhannya saja. yang lain tidak tahu…
bener juga nih, aku malah ngerasa di bulan mei ini kok seret banget…hhihihii..jangan-jangan malah nggak hanya rembulan, tapi matahari pun menangis di bulan mei !!!
Ternyata tidak mudah mengaplikasikan semangat reformasi dalam kehidupan nyata….jadi tetap harus diperbaiki mana yang kurang agar sesuai dengan tujuan semula.
Saya paling ngeri ingat Mei sepuluh tahun lalu, kantor saya tepat disebelah jembatan semanggi, di depan Atmajaya….pagi-pagi di loby kantor ada bekas darah kemarin malamnya yang belum sempat dibersihkan, ATM yang porak porand, terjebak tak bisa pulang ke rumah, dan akhirnya kantor dijaga polisi bersenjata (sniper)…semakin seram karena polisinya masih muda-muda, kalau ketemu demonstran yang juga masih muda, yang kadang kata-katanya keras bisa menimbulkan bentrokan.
inget pas mo brangkat sekolah Papa bingung mo nganter saya dan adik2 coz Mama ga mau kita naek angkot as usual..
saya memang masih SD saat itu…
tapi, ketika melihat pemutaran kembali peristiwa itu kok mendadak saya merasa hidup di negeri pembunuh ya?
serem ngingetnya.. mudah2an gak keulang lagi lah..
:s
Nggggg…. Saya masih 8 tahun saat itu. Duh…
Saya masih SD waktu itu. Tapi saya duduk manis di depan tivi. Nonton kakak2 mahasiswa yang teriak2 heboh. Sumpah. Saya sudah nyaris mau ikut ke sana. Tapi kata bapak saya nanti saja kalo saya sudah jadi mahasiswa.
Sekarang saya sudah jadi mahasiswa. Saya tagih janjinya. Dan izin aksi keluar juga pada akhirnya.
TUGU RAKYAT tujuan kita!!
@ atas saya
Lah, nasehat saya kemaren ga dianggap???
@atas saya
Dianggap sebagai nasehat kok. sesuai porsinya kan?