Bagi penganut agama-agama Abrahamaic, kata Allah dan “person” yang menjadi tujuan dari kata itu, sudah pasti mendapat tempat tertinggi dan teragung dari seluruh kehidupan spiritual dan keagamaan mereka. Itu tak dapat diragukan lagi. Kata Allah menjadi pusat dan intisari dari semesta keagamaan mereka.
Pemahaman akan “kata Allah” saat ini kebanyakan sudah bercampur dengan pemahaman teologis dan akidah masing-masing agamanya. Itu juga adalah suatu hal yang wajar karena kata Allah itu sendiri tidak bisa lepas dari pemahaman akan keimanan seseorang. Sudah pasti “kata Allah” mendapatkan suatu interpretasi religius. Allah itu begini, Allah itu begitu. Dan semuanya adalah makna teologis.
Tetapi makna teologis itu sendiri punya sisi negatif. Makna teologis dari “kata Allah” juga bercampur dengan salah satu problem yang ada dalam agama-agama [khususnya agama-agama Avraham/Abraham/Ibrahim) ketika bersentuhan dan bersinggungan.
Apa sisi negatifnya ? Ketika “kata Allah” menjadi klaim kepemilikan dan kepunyaan dari suatu agama, yang kebanyakan dilandaskan pada pemahaman teologis yang sempit. Allah dianggap hanya punya agama tertentu dan tidak boleh digunakan oleh agama lain. Pemahaman ini, bagi saya, mereduksi sesuatu yang lebih jauh dan lebih dalam dari hanya sekedar pemahaman teologis.
Orang jadi lupa bahwa suatu kata (Allah, misalnya) dapat ditelusuri lebih jauh melintasi sejarah suatu agama. Bahkan lebih jauh lagi pada kehidupan-kehidupan pra-religius yang ada di suatu daerah. Saya ambil contoh, kata-kata dosa, manusia, sorga, karunia, dan lain-lain pada awalnya adalah kata-kata yang lahir dari konsep Buddhisme, dengan asal kata dari bahasa Sanskerta.
Kata “Allah” sendiri juga begitu. Kata “Allah” bukanlah sebuah kata yang turun dari surga. Kata Allah mempunyai sejarah perkembangan yang sangat panjang. Mulai dari Avram/Avraham/Abraham/Ibrahim, Yahudi, Kristen, sampai sejarah Islam.
Kata “Allah” mempunyai sejarah perkembangan sebagai kata yang ada dalam bahasa-bahasa Semitik (Aram, Ibrani, Arab). Kata “Allah” mempunyai kesejajaran dengan kata El, Elohim, Elohi dalam bahasa Ibrani. Juga dengan kata Elah, Elaha, Alaha dalam bahasa Aram. Juga dengan kata al-Ilah (Arab).
Pemahaman filologis ini harus dilepaskan dari pemahaman teologis. Mengapa ? Karena pemahaman filologis relatif lebih bebas dari keterikatan akan prasangka-prasangka teologis yang bisa muncul dalam pemahaman teologis. Pemahaman filologis hanya berkutat pada etimologi sebuah kata, perkembangannya, transliterasinya, pemakaiannya, dan lain-lain. Tidak menyentuh penafsiran-penafsiran akan keimanan suatu agama.
Dan saya pernah menyaksikan perdebatan di suatu forum yang saya ikuti tentang masalah “nama”. Mereka memperdebatkan apakah Yesus dan Isa adalah dua nama yang sama, dua orang yang sama, dan mana yang lebih layak dipakai. Mayoritas pemahaman yang digunakan adalah pemahaman teologis dari sudut pandang masing-masing penganut agama. Juga, kebanyakan tidak mengerti bahwa kata “Yesus” dan “Isa” mempunyai akar yang bisa ditelusuri lewat pemahaman filologis; lewat penelitian sejarah akan bahasa-bahasa Semitik dan Yunani pada abad-abad pertama masehi. Untung saja saya tidak tertawa terbahak-bahak melihat debat kusir tanpa arah itu.
Jadi kalau ada yang bertanya :
Apakah Allah yang saya sembah sama dengan Allah yang anda sembah ?
Maka jawaban saya adalah TERGANTUNG. Anda mau jawaban berdasarkan pemahaman filologis atau pemahaman teologis.
Selamat Idul Fitri. Semoga Allah memberkati anda semua.







Bahasa lagi bahasa lagi…
BTW, ada hubungannya dengan kasus yang di Malaysiakah?
Jangan-jangan masalahnya cuma di pemahaman bahasa selama ini?
Welkam bek bang….
Saya ingat pernah berkunjung ke sebuah blog yang menyatakan bahwa bahasa Arab itu adalah bahasa yang paling indah dan paling puitis sedunia. Saya tidak begitu mempermasalahkannya (karena penjelasannya terdengar cukup netral)…sampai ada komentator di bawahnya yang melihat itu sebagai suatu penjelasan ilmiah yang membenarkan iman mereka terhadap Islam yang dominan (if not all) menggunakan bahasa Arab dalam teologi dan praktik agamanya.
Rage ensued. -_-;
Internet dah nyampe kesana?
Kalo saya lebih tertarik menyelidiki siapa atau apa itu Allah.
Bagaimanapun, saya pendukung Arsenal!
Saya benci fans yang menyebut nama “The Gunners”. Apalagi yang dengan lancangnya menyebut “Tim Gudang Peluru”. Mereka semua itu bid’ah!!
Sebaiknya mereka kembali mendukung Arsenal tanpa embel-embel™! Uoooohh….!!!
*bikin huru-hara*
[/sarcasm loh]
@ Catshade
Halah, itu mah penjahat apologi. Dikit-dikit nyambung aja, langsung dijadikan “bukti kebesaran”.
(remember “Mekah pusat bumi” dan hoax “suara dari dalam bumi”)
Maklum dong, deh.
wes pokoke selamat kembali ke dunia blog
apakah allah saya sama dengan allah anda? pasti sama. allah yang sebenarnya lho ya..
bukan yang difahami dan diterima saja. karena bisa jadi si a menganggap pohon besar itu allahnya. sementara yang lain menganggap patung batu itu allahnya.
jadi, apakah hanya semata masalah bahasa om?
[met idul fitri. maafkan salah dan khilaf saya]
*dapet istilah baru*
Weeee………
Fertob Tangi Turu Langsung Kuliyah Apa itu Allah…..
***wis boss,… ndak ada abisnya ngomongin inih. sayah numpang mbaca ajah dan selamat datang di duniya maya…***
Gara-gara masalah ini, ada yang ngeyel ngganti kata-kata Allah, dan Tuhan dalam Alkitab dengan Yahwe, Elohim dan Adonai.
Mungkin lain agama harus mulai mematenkan kata-kata ya? Nanti di agama Kristen ada Yahwe™ dan Yesus™, dan di Islam ada Allah™ dan Muhammad™, kalau di Buddha mungkin Sidharta Gautama™.
Akhirnya, jika menggunakannya secara sembarangan bisa dituntut. Akhirnya kita bisa secara literal memenuhi hukum Tuhan ketiga, “Jangan menyebut nama-Ku dengan sembarangan.”
Ah, welkambek dulu.
AFAIK sih, kata “Allah” adalah “nama” dari “jabatan” “Tuhan” dalam kitab mereka yang mengklaim kepemilikan kata itu. Sementara dalam Alkitab, ketidaktepatan terjemahan (CMIIW) telah menyebabkan keduanya bertukar posisi, “Allah” sebagai jabatan & “nama”-Nya ialah “Tuhan” …
Merujuk pada keterangan/berita masbro dnial, IMHO seharusnya pembukaan 10 hukum taurat (yg bagian #3nya dikutip beliau) seharusnya:
“Akulah Yahweh, Tuhanmu…” dan bukannya
“Akulah Tuhan, Allahmu…” seperti yang tercetak sekarang ini…
tergantung siapa yang ditanya ? Allah yang mana…
jelas bagi sebagian orang , ada yang mengganggap Allah mereka bengis dan memegang cambuk kanan api di tangan kanan dan neraka di tangan kiri..
Kalau melihat Syech Siti Jenar,dengan ajaran manunggaling kawula gusti..Allah berada didalam diriku, dan aku berada di dalam Allah..Ya fungsi Allah ada dalam pribadi kita. Apapun kriterianya.
Yiha…
bang fertob telah kembali…
Apa Allah-ku sama dengan Allah-mu? mungkin hanya Allah yang tahu
@ Geddoe :
Bahasa memang sangat bermakna.
Bukan hanya soal Malaysia, tapi memang menyangkut juga kesana.
@ ManusiaSuper :
Oh, tentu saja tidak. Tetapi kesalahpahaman soal bahasa bisa menjadi masalah terbesar.
@ Catshade :
Bahasa Arab memang dikatakan sebagai bahasa dunia Islam. Dan dari sini, hampir secara otomatis pengetahuan tentang bahasa Arab menjadi pengetahuan tentang Islam. Aspek pemahaman bahasanya (filologis) bisa dilupakan karena tumpang tindih dengan aspek pemahaman keimanan (teologis).
Hampir sama ketika Mel Gibson memproduseri film The Passion of Christ, dia menggunakan bahasa Aram (lebih tepatnya campuran Aram-Ibrani) sebagai bahasa pengantar dalam film itu karena menurutnya lebih menggambarkan suasana dalam film itu. Jadi apakah bahasa Aram/Ibrani adalah bahasa agama Yahudi ?
Ndak tau saya. Lalu bagaimana dengan bahasa agama yang lain ?
Nah, bahasa Arab sendiri satu rumpun dengan bahasa Ibrani dan Aram (rumpun bahasa Semitik). Banyak sekali ditemukan persamaan diantara bahasa-bahasa itu. Tapi kalau pemahaman bahasa langsung dijadikan kesombongan teologis, itu bisa lain ceritanya lagi.
@ dana :
Sialan….
Memangnya ini negeri antah berantah.
Kalau saya lebih tertarik dengan menyelidiki dan memahami makna di balik nama itu.
@ Soran :
Penjahat Apologi ?
Dan kebetulan tulisan saya berikutnya bertema apologetik dan polemik dalam agama. Tapi tidak selamanya apologetik itu bernuansa negatif, tetapi kalau polemik itu sudah jelas “mengacau”.
@ mBel :
Nggak kok mas, itu tulisan lama yang mengendap di draft karena belum sempat keluar sudah keburu pulang.
@ dnial :
Nah, yang mengganti nama dan mengklaim nama sebagai kepemilikan itulah yang pantas dipertanyakan pemahamannya tentang bahasa. Saya sebenarnya mau menjelaskan panjang lebar tentang YHWH (tetragramaton), Elohim, Adonai, Kurios, al-Lah, al-ilah, ilah, dan lain sebagainya, tapi takut kepanjangan. Lebih baik search aja di internet.
Suatu “kata” dipatenkan ?
Dan itu bisa berarti penelitian tentang bahasa akan berhenti di titik pematenan itu. Bahasa itu dinamis dan berkembang, saling mengambil dan memberi, saling mempengaruhi, berubah, dan sebagainya. Lalu bagaimana dipatenkan ?
@ jensen99 :
Tidak selalu begitu lho mas. Dalam sejarah perkembangan nama “Allah”, kata ini sudah banyak dipakai di kawasan Arab bagian utara. Transliterasi Ibrani-Aram-Arab sendiri juga menyejajarkan kata Allah dengan El, Elohim, Eloah, Elohi, Elah, Elaha, Alaha, al-ilah, al-Lah. Alkitab tidak salah menerjemahkan kata YHWH menjadi Allah. Ada alasan yang sangat kuat dibalik pemakaian kata Allah dalam Alkitab.
Saya pengen menuliskannya tetapi nanti saja. Bisa kepanjangan soale.
Terjemahan itu sudah tepat. “Akulah Tuhan, Allahmu….. jangan ada padamu ilah (sembahan) lain di hadapan-Ku”. Ilah itu berarti sembahan dan digunakan secara umum. Konteks ini menempatkan al-Lah (transliterasi) sebagai satu-satunya ilah yang layak dan pantas disembah oleh umat Israel dan tidak ada ilah lain selain al-Lah. Sama juga dengan ayat yang lain “Dengarlah wahai Israel……. Allah itu Esa”.
Konteksnya sama dengan credo pertama (syahadat) dalam Islam, “Tiada tuhan selain Allah”. Credo ini berimplikasi 2 hal : negasi dan konfirmasi. “Tiada tuhan” adalah sebuah penyangkalan bahwa tidak ada yang layak disembah (ilah) di muka bumi ini. “selain Allah” adalah konfirmasi bahwa hanya Allah-lah satu-satunya ilah yang layak disembah. Dan dosa terbesar dalam agama-agama Abrahamaic adalah menyekutukan Allah dengan ilah-ilah (sembahan-sembahan) lain.
Lihat kesamaannya dengan hukum Taurat diatas. Mengenai konteks bahasa, agak sedikit rumit kalau dijelasin karena terlalu panjang lebar. Lain kali aja….
@ Iman Brotoseno :
Kalau saya yang ditanya juga tergantung, mas.
Yang bertanya mau jawaban yang mana…..
Allah yang dipersepsikan dan dirasakan menurut pribadi masing-masing orang yang mempercayaiNya adalah Allah yang imanen. Allah yang ada pada dirinya sendiri, jauh nun disana, tak tertangkap oleh makhluk apapun juga, adalah Allah yang transenden.
Dan Allah yang transenden dan imanen inilah adalah Allah yang dikenal dalam agama. Sedikit banyak jadi rumit kan ?
@ det :
Kalau pohon besar itu bukan allah dan Allah, itu adalah ilah. Begitu juga dengan patung. Ini kalau kita memakai konteks agama-agama Ibrahim.
Kalau pemahaman bahasa sudah bercampur dengan pemahaman keimanan, kita jadi sulit mengurai makna filologis dari suatu kata [yang memiliki sejarah panjang], karena dipengaruhi oleh pemahaman teologis.
Sama seperti mas Det belajar tentang Islam, maka otomatis belajar tentang bahasa Arab. Bahasa Arab sebagai “bahasa” jadi sangat sulit dipisahkan dari Islam. Begitu juga dengan bahasa Ibrani Kuno yang jadi bahasa ritual ibadah di sinagoge Yahudi.
Duhh senangnya, Fertob telah kembali….
Saya ingat alm ayah dan ibu, yang dulu sering mengatakan Gusti Allah….yang dimaksudkan adalah Allah dari segi kepercayaan apapun.
Saya pusing deh urusan yang meributkan hal seperti ini, karena saya terbiasa menghormati agama apapun….sejak dulu saya terbiasa melihat saudara sepupu ke gereja setiap hari Minggu, ada yang ke Pura…dan ada yang ke mesjid. Dan semuanya merasa menyembah Gusti Allah.
coba bandingkan tempat tongkrongan tuhan masing-masing. kalo sama berarti sama kalo memang beda itu hanya sekedar bahasa.
Jadi agama yang mencoba memisahkan kedua hal itu bisa dibilang lebih superior?
*coughprotestantismcoughvaticansecondcouncilcough*
mungkin itu yang menyatukan manusia. lihatlah dari kesatuannya. bukan perbedaannya, agar bisa saling sinergi.
Tapi bang…
Hal ini juga bukan berarti bahasa Arab itu bahasa suci dan yang terbaik kan? Cuman saja, intepretasi Alquran memang harus dipahami dari konteks bahasa Arab.
Begitu pula dengan bahasa lain, Aram, Yunani, Ibrani, Latin dll.
@catshade
*coughlatinbiblecoughlatinprayercoughlatinliturgycough*
Bukannya Katolik masih terikat sama bahasa Latin.
– dari penonton yang bingung saat misa Natal Vatikan, tuh orang ngomongin apa sih -
setahu saya
dulu orang2 itu yang selalu mencari dan bermeditasi (merendahkan frekuensi otaknya) merasakan/mempersepsikan ada kekuatan dahsyat yang kesulitan dia sebut, orang tionghoa jauh sejak sebelum masehi menyebutnya “titik hitam yang absolut”. Orang2 jaman dahulu berlomba-lomba untuk mengurai “kekuatan maha dahsyat ini” ini sebenarnya bagaimana. Siddharta Buddha mencoba meleburkan diri dengannya. Lalu diikuti Jesus from Nazareth, lalu Mohammad, kemudian dalam Islam banyak sekali muncul Tasawuf, yaitu jalan menuju Allah dengan versi masing2. Ada yg berputar2 menari seperti Jalalludin Rumi. Ada islam yang meleburkan diri dengan Tuhannya seperti Al Hallaj, dan juga Syech Siti Jenar. Dari itu semua opini saya sebenarnya mereka selain antar saling terinspirasi/mendapatkan feel saja, konon Jesus usia 12 tahun sejarahnya gelap sampai muncul lagi di usia 30 tahun, dan masa itu konon dia berada di negeri Timur yang kemungkinan India atau Tibet. Mohammad sendiri sering melakukan transaksi perdagangan ke Syiria dan dekat dengan rahib2 Yahudi dan Kristen. Ada anjuran Mohammad bahwa belajarlah ke negeri china (saya kira ini tepatnya Tibet). Jadi antar masing2 saya berpendapat saling menginspirasi saja dan melengkapi sesuai dengan nilai2 baru dari “meditasi” yang mereka dapatkan. Wajar saja jika agama terbaru kelihatan paling logis, selain tenggang perubahan masa-nya belum lebih lama agama baru tentu merupakan hasil dialektika dari semakin banyak perkara yang didapatkan sebelumnya. Membaca “History of God” sepertinya mereka2 semua itu hanya hendak menyebut 1 hal kekuatan Inti pokok yang mengendalikan alam semesta.
salam
wawan
OOT : welkam bek bang….
@dnial:
Makanya saya sebut Reformasi Luther dan Konsili Vatikan Kedua. Yang pertama memanfaatkan penemuannya Gutenberg untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa Eropa lain dan mencetaknya secara cepat dalam jumlah besar sehingga bisa dibaca rakyat jelata. Sementara itu yang kedua mendorong dan memperluas digunakannya bahasa lokal dalam doa dan ibadat resmi gereja-gereja Katolik di belahan dunia yang lain.
Kalo masalah misa Natal Vatikan yang masih pake bahasa Latin, saya rasa alasannya karena sudah tradisi. Tapi itu seenggaknya sudah kemajuan yang besar dalam liberalisasi bahasa-agama ketimbang misa Tridentine abad pertengahan yang harus full-Latin, gak peduli pastor dan umatnya cuma ngerti bahasa Jawa.
@wawan setiawan:
That doesn’t explain scientology
@Catshade
Saya agak kesulitan explain hal tsb dalam wacana singkat, namun saya lebih suka berada di mind tataran filosofis dan di relativitas, atau di layer dibawahnya keyakinan/dogmatis.
Sesungguhnya saya tidak suka mempersoalkan hal2 bahasa, term, dan benar salah, karena itu produk2 dari persepsi2 yang dibangun oleh mind, saya lebih suka di wilayah tataran komputer yang belum terinstal system operasi (masih kosong dan hampa) dan menginstal operating system baru, dan ketika mendapat suatu aksi, maka saya mencoba bereaksi dengan instal system operasi di mind saya yg adaptive dengan aksi yang saya terima.
Sesungguhnya saya tidak percaya thd suatu agama apapun karena wilayah itu wilayah keyakinan atau wilayah diatas operating system mind, sehingga mendebatkannya rasanya membuang banyak energi.
Statemen saya thd
“Wajar saja jika agama terbaru kelihatan paling logis, selain tenggang perubahan masa-nya belum lebih lama agama baru tentu merupakan hasil dialektika dari semakin banyak perkara yang didapatkan sebelumnya.”
saya hanya mencoba menangkap gelombang2 persepsi dari umat muslim.
Kalau Anda sudi membaca blog saya di
http://alexarussia.blog.friendster.com/
dan comment saya di diskusi di blog ini dengan tema lain http://fertobhades.wordpress.com/2006/07/23/atheisme-yang-tidak-bertuhan/
sesungguhnya bagi saya dari semua agama itu sangat tidak rasional, sama tidak rasionalnya sendiri thd apa yg disebut Tuhan, Allah atau apapun untuk menyebut Inti kekuatan maha dahsyat.
Saya juga mencoba beropini thd artikel ini di blog saya, agar menulisnya disini tidak kepanjangan di
http://alexarussia.blog.friendster.com/2008/10/bahasa-transformasi-komunikasi-dan-agama/
Sekali lagi memang saya lebih memilih di hal filosofis/hakekat, karena bergerak di terapan2 atau aplikasi2 dari filosofi2 itu sering mengakibatkan gesekan yang membuang energi.
Dipermukaan air laut kelihatan gelombang, namun di dasar laut selalu tenang, kecuali ada gempa bumi bawah laut kali ya
Sekali lagi saya lebih memilih selalu mendekontruksi/uninstal system dan merekontruksi/instal ulang system mind saya, sehingga kadang2 bisa ada keyakinan, dan sering sekali tidak ada keyakinan.
salam
wawan
@catshade
Baru tahu.
Soalnya waktu ikut2an misa (jangan tanya kenapa plis
) ada bagian doa yang masih latin. Waktu itu aku belum bisa bahasa latin, jadi nggak paham (sampai sekarang juga belum bisa
) dan ketiduran.
I’m so go too hell, don’t I?
Yaaaaahhhhh…………….
Kirain gereja katolik masih mbuka Latin Conversation Class.
*membuang berkas pendaftaran*
Nothing can explain scientology. That’s why it’s valid and true, it is THE GREATEST TRUTH. Greatest truth can never be explained!!!
@Catshade
Saya agak kesulitan explain hal tsb dalam wacana singkat, namun saya lebih suka berada di mind tataran filosofis dan di relativitas, atau di layer dibawahnya keyakinan/dogmatis.
Sesungguhnya saya tidak suka mempersoalkan hal2 bahasa, term, dan benar salah, karena itu produk2 dari persepsi2 yang dibangun oleh mind, saya lebih suka di wilayah tataran komputer yang belum terinstal system operasi (masih kosong dan hampa) dan menginstal operating system baru, dan ketika mendapat suatu aksi, maka saya mencoba bereaksi dengan instal system operasi di mind saya yg adaptive dengan aksi yang saya terima.
Sesungguhnya saya tidak percaya thd suatu agama apapun karena wilayah itu wilayah keyakinan atau wilayah diatas operating system mind, sehingga mendebatkannya rasanya membuang banyak energi.
Statemen saya thd
“Wajar saja jika agama terbaru kelihatan paling logis, selain tenggang perubahan masa-nya belum lebih lama agama baru tentu merupakan hasil dialektika dari semakin banyak perkara yang didapatkan sebelumnya.”
saya hanya mencoba menangkap gelombang2 persepsi dari umat muslim.
Kalau Anda sudi membaca blog saya di
http://alexarussia.blog.friendster.com/
dan comment saya di diskusi di blog ini dengan tema lain http://fertobhades.wordpress.com/2006/07/23/atheisme-yang-tidak-bertuhan/
sesungguhnya bagi saya dari semua agama itu sangat tidak rasional, sama tidak rasionalnya sendiri thd apa yg disebut Tuhan, Allah atau apapun untuk menyebut Inti kekuatan maha dahsyat.
Saya juga mencoba beropini thd artikel ini di blog saya, agar menulisnya disini tidak kepanjangan di
http://alexarussia.blog.friendster.com/2008/10/bahasa-transformasi-komunikasi-dan-agama/
Sekali lagi memang saya lebih memilih di hal filosofis/hakekat, karena bergerak di terapan2 atau aplikasi2 dari filosofi2 itu sering mengakibatkan gesekan yang membuang energi.
Dipermukaan air laut kelihatan gelombang, namun di dasar laut selalu tenang, kecuali ada gempa bumi bawah laut kali ya
Sekali lagi saya lebih memilih selalu mendekontruksi/uninstal system dan merekontruksi/instal ulang system mind saya, sehingga kadang2 bisa ada keyakinan, dan sering sekali tidak ada keyakinan.
salam
wawan setiawan
@ bang fertob
Sori bang, lagi sakit jadi lambat apdet…
Sederhananya, bang fer setuju kata “Allah” boleh dipake siapa saja & tidak boleh diklaim ya? Sementara sy melihat kemungkinan mengeluarkan kata tersebut dari Alkitab & mencari kata penggantinya, untuk;
1) menghindari kerancuan arti (& permasalahan klaim) dengan “Allah” sebagai “nama” dari Tuhan dalam Islam (lihat syahadat yg bang fer contohkan)
2) kalo bisa, sperti dalam Islam, menghindari penterjemahan untuk nama Tuhan (sperti penggunaan “the LORD” dalam versi2 Alkitab bhs Inggris)
Ini sih benar. Diluar masalah etimologi, kata Elohim tidak eksklusif untuk Tuhannya orang Ibrani saja, tapi juga untuk Sesembahannya bangsa2 lain. Kata “allah” di Kel 20:3 diterjemahkan dari sini kan? (CMIIW)
Dengan contoh Kel 20:2 yg kita pake diatas, Alkitab tidak menerjemahkan kata YHWH menjadi ‘Allah’, tapi menjadi ‘TUHAN’ (semua capital).
Kalo merujuk kepada sembahan bangsa lain, mo pake kata allah (dgn “a” kecil), ilah, dewa atau apapun jg terserah deh
Tapi kalo tuk sembahan bangsa Ibrani (& kita), IMHO pake “Tuhan” saja.
Shema Yisrael….. Adonai Echad. Nah, kenapa gak pake bahasa Ibrani-nya saja (Adonai) daripada pake bahasa Arab (Allah)? Seluruh PL kan memang kitabnya wong Israel
Ini justru contoh yg paling bagus.
Dalam syahadat, yg disembah memegang jabatan sebagai “Tuhan”; Nama Tuhan itu adalah “Allah”.
Teks Alkitab skrg, yg disembah memegang jabatan sebagai “Allah”; Nama Allah itu adalah “TUHAN” (semua kapital). Jadi kalo ada kredo serupa dalam Kristen bunyinya bakal; “Tiada Allah selain TUHAN”. Gmn yaa…? Apa gak ada terjemahan lain…?
Waduh, panjangnya…
Sori ya bang! 
BTW, bang fertob masih di Sorong?
@ goldfriend
[OOT]
Ah, itu sekadar ungkapan ketidaksukaan saya pada perilaku beberapa oknum.
Mentang-mentang ada sedikit kesamaan, langsung dihajar. Padahal belum tentu dia menguasai dalil apologi yang dibicarakan.
(e.g. aktivis religi berkedok pseudosains. grip-nya cenderung lemah + kurang bisa dipertanggungjawabkan)
Yup, ada beberapa apolog yang menyampaikan ide dengan runtut, logis, dan sopan. In a sense, respectable. Sayangnya jumlah mereka sedikit.
Oh well. ^^;;
[/OOT]
[kerasukan dawkins]
Allah itu meme, secara filologis maupun teologis.
[kerasukan dawkins]
@jensen
Kemungkinan dan alasan sih banyak, Mas. Tetapi, dampak psikologisnya apakah bisa diatasi dengan mudah? Saya punya beberapa teman Kristen yang tidak tahu banyak tentang Alkitab. Saya tidak membayangkan saja apabila pada suatu hari dia membaca Alkitab dan tidak menemukan kata Allah di sana, atau ketika berada di gereja kata Allah juga tidak lagi disebut. Apa yang terjadi apabila dalam LAI, Tuhan “ganti nama”? Pada level umat, merubah “nama” Tuhan itu bukan perkara sepele saya kira. Dulu Cak Nur pernah usul terjemahan syahadat Islam diganti menjadi “Tidak ada tuhan selain Tuhan” dan banyak orang yang protes. Saya pun pribadi merasa risih dengan terjemahan semacam itu. Karena kata Allah sudah ditanam sejak saya kecil. Tuhan itu Allah. Saya tidak perduli kalau ahli bahasa bilang itu tautologis. Yang jelas Tuhan itu Allah.
@Catshade
Saya agak kesulitan explain hal tsb dalam wacana singkat, namun saya lebih suka berada di mind tataran filosofis dan di relativitas, atau di layer dibawahnya keyakinan/dogmatis.
Sesungguhnya saya tidak suka mempersoalkan hal2 bahasa, term, dan benar salah, karena itu produk2 dari persepsi2 yang dibangun oleh mind, saya lebih suka di wilayah tataran komputer yang belum terinstal system operasi (masih kosong dan hampa) dan menginstal operating system baru, dan ketika mendapat suatu aksi, maka saya mencoba bereaksi dengan instal system operasi di mind saya yg adaptive dengan aksi yang saya terima.
Sesungguhnya saya tidak percaya thd suatu agama apapun karena wilayah itu wilayah keyakinan atau wilayah diatas operating system mind, sehingga mendebatkannya rasanya membuang banyak energi.
Statemen saya thd
“Wajar saja jika agama terbaru kelihatan paling logis, selain tenggang perubahan masa-nya belum lebih lama agama baru tentu merupakan hasil dialektika dari semakin banyak perkara yang didapatkan sebelumnya.”
saya hanya mencoba menangkap gelombang2 persepsi dari umat muslim.
sesungguhnya bagi saya dari semua agama itu sangat tidak rasional, sama tidak rasionalnya sendiri thd apa yg disebut Tuhan, Allah atau apapun untuk menyebut Inti kekuatan maha dahsyat.
Sekali lagi memang saya lebih memilih di hal filosofis/hakekat, karena bergerak di terapan2 atau aplikasi2 dari filosofi2 itu sering mengakibatkan gesekan yang membuang energi.
Dipermukaan air laut kelihatan gelombang, namun di dasar laut selalu tenang, kecuali ada gempa bumi bawah laut kali ya
Sekali lagi saya lebih memilih selalu mendekontruksi/uninstal system dan merekontruksi/instal ulang system mind saya, sehingga kadang2 bisa ada keyakinan, dan sering sekali tidak ada keyakinan.
salam
wawan setiawan
@ gentole
Wah, pasti tidak. Sy bahkan sudah melihat, mendengar & membaca berbagai perdebatan bahkan perpecahan diantara jemaat karena masalah ini.
Eeh, silahkan kok mas… ^^;; Walopun kokoh pada opini saya diatas, saya tidak mengkampanyekan apa2, juga tidak menyalahkan terjemahan LAI yang masih saya pake juga.

AFAIK materi tentang legal/tidaknya kata Allah dalam Alkitab ada banyak kok di cetakan & internet. Saya juga masih terus belajar…
Anyway, makasih dah menanggapi.
@gentole
Saya sangat bisa memahami Anda yang bersikukuh bahwa Tuhan itu Allah, karena saya memahaminya itu wilayah cara kerja mind,biarlah orang menyebut satu titik yang dianggap sangat berkuasa dan mengendalikan alam semesta itu sebagai “titik hitam”, Tuhan, Allah, Hyang Widhi, atau apapun selama hatinya nyaman saja (lebih baik membuat kenyamanan),selama itu membuat atau mempertebal keyakinannya yang menciptakan energy positive baginya. Dalam hal permainan mind ini saya juga menggunakan metodenya, anak saya yang masih kecil dan tinggal di Russia selalu saya bisiki Jesus, God, Allah, supaya kelak ketika menyempatkan diri mengunjungi Indonesia mengalami dejavu ketika mendengar kata2 yang pernah saya bisiki tanpa anak saya saat ini mengerti sebelumnya.
salam
wawan
Eh, ada juga kan, orang-orang Islam yang menolak disebut sebagai “Moslem” dalam bahasa Inggris, dengan alasan yang sangat masuk akal sekali.
Btw, saya kadang-kadang lebih seneng nama versi Barat lho, macam Michael daripada Mikail, Joseph daripada Yusuf..
*dasar orang murtad..
welkombek, bang Fertob…
Minal aidzin wal faidzin..
kalau informan saya (wehh!) ga salah, allah adaah sebutan tuhan bagi kaum penyembah berhala arab kuno. sayangnya ini ga dipublikasikan entah dengan tujuan apa
@wawan|jensen
Mohon maaf kalau kesannya saya maksa bahwa “nama” Tuhan itu Allah. Saya sih sebenarnya bebas aja.
Makasih juga sudah menanggapi.
[...] sendiri untuk para apolog yang dalam karya-karyanya gemar mengumbar logika cacat dan non sequitur: penjahat apologi. Terdengar sedikit pedas memang, tapi toh istilah yang dia buat tidak langsung menyerang konsep [...]
Mmm…
.
Soal bahasa ya…
Ada dua kata, setidaknya, yang saya ketahui sampai saat ini. Pertama, kata “Illah” dan yang kedua ialah kata “Allah”.
.
Kata “Illah” merupakan kata benda yang paling umum (common noun) yang memiliki bentuk jamak “Ilallah”. Sedangkan kata yang kedua, kata “Allah”, merupakan kata benda khusus (proper noun = kata benda yang merupakan sebutan bagi sesuatu).
.
Dalam bahasa Inggris, disebut “god”, dan memiliki dua jenis penulisan, yaitu “god” (dengan huruf ‘g’ kecil) dan “God” (dengan huruf ‘g’ besar). Kata “god” sama artinya dengan kata “Illah” yang merupakan kata benda umum. Sementara kata “God” digunakan sebagai ‘proper noun’ yang memiliki arti; selalu tunggal. Jadi, ketika berdo’a, hanya kepada Yang Tunggal saja, yakni Allah.
.
Ini mungkin bisa menjawab argumen para atheis yang sering saya jumpai, mengatakan bahwa yang ada hanya kata “Tuhan” (padahal huruf “T” besar mereka menunjukkan Tuhan Yang Satu; Allah. Mereka mengaku atheis namun berkata bahwa yang ada hanya Tuhan, bukan Allah)??
.
Rrr… kalau di dunia mistis-tasawuf, sih… katanya Dia Yang Segala Maha itu tidak memerlukan nama, ya…
.
.
Btw… Hee… selamat
dagangdatang kembali, ya guru…@ All :
Maaf kalau saya tidak bisa menjawab semua komentar dan juga agak terlambat membalas komentar. Lagi-lagi karena persoalan teknis semata.
@ edratna :
Ah, ini masih coba-coba untuk kembali, Bu. Untuk sementara masih belum bisa blogwalking kemana-mana karena masih banyak kesibukan.
@ Ronsen :
Itulah salah satu kelemahan ketika sebuah teks asli kitab suci diterjemahkan kedalam bahasa-bahasa lain. Selalu saja ada “kekurangannya”. Tapi masalahnya bukan sekedar bahasa, tapi pemahaman teologis yang “dipaksakan” kedalam pemahaman filologis.
@ Catshade :
Hahahaha…. bukan saya yang bilang lho. Tapi superioritas apakah tergantung pada hal itu ?
@ treen :
Setuju, tapi kalau ada persamaan pasti ada perbedaan.
@ dnial :
Saya jadi ingat apologi seorang “pengagung 4 kata” yang bahkan mengatakan bahwa Bahasa Ibrani adalah bahasa Tuhan. Dia merunut jauh pada sejarah Nuh dan ketiga anaknya (Sem, Ham, Yafet), dimana kata “Ibrani” berasal dari Eber, seorang cucu Sem.
Lalu mengambil kesimpulan : Dengan bahasa apa Tuhan berkomunikasi dengan manusia ? Pasti bahasa Ibrani, jawabnya. Dan dari kesimpulan itu kemudian dikatakan lagi kalau bahasa Ibrani adalah bahasa yang dipakai Tuhan untuk berkomunikasi dengan umatNya.
Interpretasi yang mengatakan bahwa bahasa Arab, bahasa Ibrani, dll adalah bahasa yang terbaik itu adalah interpretasi yang sudah tercampur dengan pemahaman teologis masing-masing agamanya. Atau mungkin sudah tergolong pada Kesombongan Teologi, atau malah jadi Penjahat Apologi seperti kata Sora9n.
@ Wawan Setiawan :
Kalau urutan lahirnya agama dijadikan urutan ke-palinglogis-an sebuah agama, kok kesannya bahwa semakin maju sebuah peradaban maka akan muncul agama-agama baru yang paling logis. Logis dan kurang logis hanya didasarkan pada perkembangan jaman.
Saya kok jadi pengen bikin agama baru yang lebih logis….
@ Itikkecil :
Tengkyuverimach, mbak Itik.
@ Dnial | Catshade :
Saya jadi pengen komentari kenapa penggunaan bahasa Latin yang sekian abad dijadikan “bahasa suci” bagi umat Katolik. Awalnya sebenarnya dari teks Perjanjian Lama yang berbahasa Ibrani, kemudian teks ini diterjemahkan kedalam Bahasa Yunani oleh kurang lebih 72 bapa Gereja, dan diberi nama Septuaginta (LXX : Tujuhpuluh). Teks Septuaginta-lah yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Latin atas perintah Paus (saya lupa siapa…) dan dikenal dengan nama Vulgata.
Dari sinilah bahasa Latin dijadikan bahasa pengantar sewaktu misa, dan itu bertahan sampai pertengahan abad ke-20 sebelum konsili Vatikan 2.
Tapi coba kita ambil pengandaian lain. Bahasa dalam Taksonomi (cabang ilmu biologi) adalah bahasa Latin. Lalu apakah kalau saya belajar Taksonomi maka otomatis saya belajar bahasa Latin, atau apakah kalau saya belajar bahasa Latin maka otomatis saya belajar Taksonomi ?
Hakikat dari pemahaman sebuah teks kitab suci adalah penerjemahan. Itu menurut saya, karena “membahasakan” sebuah konteks yang terjadi ribuan tahun lalu pada konteks bahasa dan budaya setempat lebih membuat teks itu membumi. Tapi kelemahannya adalah bisa muncul “kekurangtepatan” dalam memahami konteks ribuan tahun lalu kedalam bahasa setempat.
@ jensen99 :
Heh ? Kamu ternyata fasih juga bahasa Ibrani ya ?
Saya setuju dengan point-pointnya. Tapi yang perlu diingat, Kata “YHWH” baru muncul pada masa Musa ketika dia bertanya nama Tuhan. YHWH tidak pernah muncul pada masa Adam sampai Abraham. Allah menyatakan dirinya kepada Abraham bukan memakai kata YHWH!!! Tapi dengan nama El, Elohim, juga dengan julukan2 yang lain seperti ElShaddai, dan lain-lain.
YHWH sendiri bukanlah sebuah kata yang turun dari surga. YHWH adalah kata yang dipakai oleh TUHAN kepada manusia sebagai sebuah nama yang sudah dikenal dalam sejarah pra-religius mereka. Dalam sebuah inskripsi kuno yg pernah ditemukan (saya lupa dimana tapi nanti saya carikan), ada sebuah sumpah yang diucapkan dengan menyejajarkan nama YHWH dengan dewa-dewa Kanaan lain seperti Asyerah. Berarti kata YHWH pernah menjadi sebuah nama yang dikenal oleh para pemukim Kanaan pra-Israel dan setidaknya pernah bersentuhan dengan kaum Israel.
Satu lagi pertimbangannya adalah, nama YHWH tidak pernah muncul dalam teks asli Perjanjian Baru berbahasa Yunani. Mengapa Yesus dan murid-muridNya tidak pernah memakai kata ini ? Apakah itu berarti tak ada kesinambungan antara para penulis injil dan surat-surat dengan penulisan PL ? Saya kok meragukannya ya… Lalu mengapa mereka tidak menuliskan nama YHWH ?
Jawabannya sebenarnya sederhana : karena hakikat dari memahami kitab suci adalah penerjemahan. Tapi kelemahannya adalah adanya “kekurangtepatan” dalam membawa konteks masa lalu kedalam bahasa setempat. Dan salah satu bukti yang sering dipakai oleh pengagung 4 aksara adalah adanya kata “Halleluyah” di kitab Wahyu. Kata “Yah” adalah bukti bahwa nama Yahwe tertulis di PB. Tapi saya pikir itu kesimpulan yang kebablasan.
“Tiada Allah selain TUHAN”. Hehehe…. Kata “Allah” disitu bukan berarti Allah, Yahwe, Adonai, Elohim, melainkan ilah (sembahan). Credo pertama itu dalam bahasa Arab sering juga ditulis “La ilaha illa al-Lah al-ahad”. Dalam bahasa Aram ditulis “Lait alaha ella de Syama”. “De syama” (Sang Nama) sering dipakai karena nama YHWH tidak boleh disebutkan dan dibacakan karena nama itu suci. Lalu muncullah gelar-gelar/nama-nama lain yang sifatnya dikenakan pada nama YHWH, misalnya de Syama, Elohim, Adonai, Rahmana, dll.
Kata “ilah” pada banyak umat Kristen di Indonesia selalu dihubungkan dengan berhala. Itu adalah pergeseran makna yang kebanyakan timbul karena belum selesainya prasangka teologis terhadap umat Islam di Indonesia. Padahal ilah berarti sembahan secara umum, yang ada dalam bahasa Ibrani/Aram.
Saya jadi ingat sebuah puisi dari Emha Ainun Nadjib :
Dan dalam beberapa hal, saya tidak selalu setuju dengan penerjemahan alkitab King James Version (KJV). Karena versi ini dapat dengan mudah “dibelokkan” sesuai kepentingan.
Juga terjemahan yang sering salah adalah pada kalimat yang sering dipakai orang “Jangan ada padamu Allah lain dihadapan-KU”. Kata Allah disitu salah terjemahan, karena seharusnya bukan Allah, tapi ilah.
@ Sora9n :
Apologetik memang bagian yang rumit dari ilmu tentang agama. Karena apologetik sering disamakan dengan polemik dan penyerangan terhadap kepercayaan lain. Padahal asal katanya adalah “apologia” dalam bahasa Yunani yang berarti pembelaan.
Pembelaan, dan bukan pembenaran, pseudosains, dll.
Kecuali ada yang membolak-balik kalimat berikut ini sama saja :
Apologetik polemik sering memakai model Arsenal untuk menyerang keyakinan umat lain. Padahal konteks apologetik dan konteks sepakbola kan beda. Atau sama saja ?
@goldfriend
terus terang saya berpendapat dari tinjauan marxist, dan hukum relativitas. Adapun agama, semakin tua usianya belum terdialektika dengan keras, namun dengan perkembangan jaman/dimensi waktu maka agama2 baru yang bermunculan tentunya lebih terdialektika dengan lebih keras dari yang lama, dengan lebih keras juga dikaitkan dengan hukum negasi dari negasi. Sehingga sesuatu yang baru tersebut lebih”bernuansa sesuai logika pada masa itu. Namun ini sebenarnya hanya persepsi saja atau relative, karena sesunguhnya agama itu di level mind berada diatasnya relativitas mind. Anda sah2 dan bebas2 saja bikin agama baru, dan tentunya dengan penyesuain/adaptasi/complimentary dari hasil2 kemajuan peradaban. Dalam tasawuf islam, dianjurkan setiap muslim mencari Tuhannya dengan cara sendiri2, tidak heran kalau banyak trekat bermunculan.
untuk lebih konkretnya memahami apa yg saya maksud kiranya sudilah mengunjungi blog saya di http://alexarussia.blog.friendster.com
saya mencoba mengurai keterkaitan link antar agama yang ruhnya sebenarnya sama.
di blog saya sendiri, saya lagi “meditasi” untuk membuat agama baru yang membuat umatnya gampang menjadi kaya,saya lagi coba susun syariatnya.
salam
wawan
@goldfriend lagi
mohon maaf tinjauan marxist saya bawa lagi (saya “terpaksa” bermetamorfosa menjadi marxist karena istri dan mertua saya produk marxist)
daripada beberapa hukum marxist ttg dialektika antar 2 kutub, thesis anti thesis dan sintesa, juga ada hukum ketidakpastian dan perubahan. Masyarakat dan material seperti halnya sistem tata surya, yaitu mempunyai gaya tarik yang membuat sistem berotasi dan berevolusi.
Dalam hal perubahan (perubahan molekular) setiap detik ini maka masyarakat dituntut untuk adaptive (darwin) agar tetap exist. Dalam perubahan ini juga selalu terjadi dialektika, menimbukan perubahan2 persepsi yang menyusun thd logika. Logika bumi sbg tata surya telah bergeser menjadi matahari sebagai tata surya. Jadi dalam teori marxist yg saya pahami perubahan2 yg terjadi akan menimbulkan nilai2 baru yg bisa dianggap sebagai logika2 baru juga (tidak penting itu benar atau salah,karena semuanya hanya relativitas).
:revisi
Logika bumi sbg tata surya telah bergeser menjadi matahari sebagai tata surya.
mohon maaf, maksud saya bumi sbg pusat tata surya galaksi bima sakti ternyata gugur dengan kemajuan jaman dan teknologi dan yang benar matahari sbg pusat tata surya dari galaksi bima sakti ini
mohon maaf menambah penjelasan lagi,
di blog saya berjudul Bill Gates matahari terbesar abad ini jelasnya memang saya menjadi umatnya bill gates, dan selalu membaca kitab sucinya “Future in your fingertips”
Saya bersaksi dengan mata kepala dan seluruh indra saya saat ini disertai dengan logika dan akal pikiran saya, bahwa apa yang telah bill gates buat telah masuk dalam kehidupan saya sehinga memudahkan saya hidup dalam peradaban,nilai2/logika abad 21 dimana saya hidup saat ini.
*Jelasnya kedahsyatan teknologi informasi saat ini telah dituliskan Bill Gates 1974, dan selamat datang ke era virtual reality dimana Anda bisa berhubungan seks hanya dengan piranti yang diinjeksikan di otak Anda.
Tapi di Indonesia dialek untuk menyebutkan Allah masing2 berbeda yakz.


jadi tidak ada prinsip saling menyalahkan tentunya antara agama satu dengan agama yang lain
tapi prinsip saya tetap lakum diinukum wal yadin..
welcome back pak… semoga tulisannya selalu mencerahkan.
saya melihat blog mas ferthobades ini ingat akan teori psikologi, terutama 16 klasifikasi versi Jung.
berikut di blog saya http://alexarussia.blog.friendster.com saya kutip sedikit pemahaman saya dalam sejarah agama (history of God) dikaitkan ilmu analisa psikologi
“Memahami perbandingan Christian dan Islam menurut filsafat dialektika materialisme sebenarnya terasa mudah. Christian sebagai thesis didialektika anti-thesis oleh Islam. Christian terasa lebih kuat dalam hal filsafat, sedangkan Islam terasa kuat oleh aturan-aturan/judgement. Yang satu menerima pesan dan menyampaikannya dengan cara (hasil proyeksi) otak kanan lebih dominant dalam menyampaikan, yang satu lagi menerima pesan dan menyampaikannya dengan cara otak kiri lebih dominant dalam menyampaikannya. ”
Begitu pula dalam diskusi topik ini, bagi diskuser yang terlibat, perbedaan penyebutan Allah menjadi masalah karena saya kira hasil dari analisa/proyeksi otak kiri yang dominant, sedangkan yang tidak memasalahkan terhadap penyebutan Allah,Tuhan,Yahwe, saya kira sudut pandangnya (atau gelombang otak saat berargumen membaca topik ini) lagi didominasi/intensitasnya lebih tinggi oleh otak kanan.
waduh kliyeng2 bacanya, postingannya dan komentar2nya.
menarik. ah tapi bagi saya yg penting doa yang saya tujukan ituh ke DIA yang tepat untuk ditujukan.
welkambek
selamat idul fitri Pak..mohon maap lahir dan batin..
mumet aku..
numang oot aja deh…
mohon maaf lahir batin..
welakmbek bang…
klo mina mah tergantung orang baca nya gimana kata tersebut, makanya sebetulnya mina lebih suka menulis kata itu dalam bahasa arab, biar ga bias artinya…
ini baca kecepetan, maap klo komennya rada aneh dan ga nyambung, abis bahasan mas fertob ini berat mulu sih..
long time no see mas
kalau bukan dialeg Indonesia apa tetap sama menyebutnya?
mungkin itu hanya perbedaan lidah penyebutan nama Allah menjadi beda2 bgt antara kaum arab, ibrani dan lain2-nya ya?
Mohon maaf
saya hanya berusaha memahami (dan berbagi pemahaman) suatu object dari kinerja dua otak kita saja, kanan dan kiri. Suatu object A dilihat dengan mata dan dianalisa oleh otak yang diklasifikasikan otak kiri, maka A akan tetap terlihat sebagai A, ketika pemrosesan diserahkan kepada otak kanan A akan kelihatan sebagai B,C,D,E,F dlsb. Otak kanan melihat suatu object dari banyak sudut pandang (relativitas).
Allah bersifat filsafat ketika analisis dikendalikan oleh otak kanan, dan bersifat teologis ketika analisis dikendalikan oleh otak kiri.
Tidak heran bung fertob menulis
“Maka jawaban saya adalah TERGANTUNG. Anda mau jawaban berdasarkan pemahaman filologis atau pemahaman teologis.”
Memahami para pembawa “pesan” ke-Tuhanan pun sebaiknya begitu, agar mengerti yang sama kelihatan berbeda dan yang berbeda kelihatan sama.
Namun saya kira lebih baik memahami Tuhan sebaiknya melalui otak kanan, yaitu dengan dirasakan, soalnya ketika dipikirkan maka keadaannya menjadi sempit. Otak kiri untuk belajar ilmu2 terapan saja. Demi kedamaian
Singkatnya hidup kita dipermainkan oleh kerja otak kita saja, sehingga memandang segala hal bisa tampak sama dan berbeda.
seru seru seru ^_^
tapi gak kuat nich bang baca semua komennya, hehe..
Teknologi artificial intelligent atau teknik kecerdasan buatan dan buku2 sistem cara mindset bekerja membantu memahami saya tentang hal2 yang ada di dunia. Termasuk diskusi ttg Ketuhanan
Robot sementara ini hanya mempunyai unsur learching,reasoning,planning, dan learning. Jelasnya robot itu hanya mempunyai logic. Metode belajarnya
Kita input ke robot Tuhan Ada
Kita input Robot, keyword Tuhan relation linking dengan Allah, Yahwe, God, Jesus.
Lalu kita tanya robot
Apakah Tuhan ada?
Robot menjawab Tuhan adalah Allah Yahwe God Jesus, detailnya adalah Tuhan xxxxxx penjelasan lengkap dengan yang kita isikan
Kita tanya lagi jawaban robot sama
Ini namanya kecerdasan logic, A harus selalu sama dengan A, A tidak mungkin bisa sama dengan B, A tidak mungkin berubah menjadi B. Kecerdasan logic ini dicangkok/ditiru dari kecerdasan otak sebelah kiri manusia.
Perkembangan membongkar otak manusia, ternyata manusia mempunyai otak sebelah kanan yang diklasifikasikan membuat suatu pemahaman menjadi berbeda. Otak ini mengendalikan instinc, feeling, emosi manusia. Otak ini sifatnya relativitas. Einstein juga mengaku memindah perpektive melalui otak kanan ketika memahami relativitas dunia.
Dengan Otak sebelah kanan ini maka yang sama kelihatan berbeda. A bisa menjadi B (filsafat dialektika), sesuai perspektive masing2 dan database yang ada di otak Anda sendiri.
Itulah seni menjadi manusia, kalau hanya otak logic saja, manusia tidak bisa berbeda pendapat, seperti robot, suatu pemahaman ditanamkan semua akan menjawab sama.
Hidup kita dikendalikan penuh olah otak2 kita, dan otak2 kita membuat pemahaman2 yang relative saja, hanya membangun persepsi-persepsi saja, hidup adalah ilusi (persepsi), tidak ada yang benar dan salah, hanya perpindahan kerja otak kanan dan kiri begitu cepat.
Memahami Tuhan dengan Logic tidak akan pernah ketemu, harus dirasakan (otak kanan), saya menyebut Tuhan karena keyword “kekuatan besar pengendali alam semesta” terdaftar di database memory otak saya sebagai Tuhan. Mungkin saja itu yang kita2 rasakan sbg Tuhan sebenarnya cuma gravitasi inti bumi yang tidak kita sadari mempengaruhi hidup manusia.
Ketika kecil, otak Anda diisi keyword “Allah” oleh orang tua Anda, dengan otak kanan maka Anda memberi keyword “Allah” di database otak, sebagai yang “patut kita sembah”, ditandai oleh otak kanan dengan emosi tertentu, misal merinding merasakan sesuatu, maka ketika keyword “Allah” terdengar, emosi serupa akan muncul.
Masalahnya adalah, bagaimana yang dari kecil tidak pernah diberitahu/diinput oleh keyword Allah, God, Yahwe, Jesus.
Terdengar kata itu, tidak ada emosi sama sekali dan benar2 tidak tahu apa artinya.
Permainan AI Google.com
Google.com, apa itu Tuhan ??
Google.com akan menampilkan halaman2 yang ter-link-ed dengan keyword Tuhan.
Google.com apa itu hg%^&(??
No pages found
Kita daftarkan hg%^&(?? adalah keyword untuk halaman Tuhan.
Google.com apa itu hg%^&(??
Google.com akan menjawab hg%^&(?? dengan menampilkan halaman Tuhan.
Otak manusia diselimuti oleh keyword-keyword yang disusun dan dilinking untuk menjelaskan sesuatu.
Dengan pemahaman ini, orang setuju menyebut 1+1=2 adalah karena persetujuan para filsuf jaman dulu dan di-logic-kan oleh otak kiri,
Boleh saja menyebut 1+1=5 karena melihat hal lain dari filsafat ini (menggunakan otak kanan yang relativitas), namun dalam pergaulan masyarakat maka Anda akan ditandai dengan komunitas 5% (komunitas gila)
Sebenarnya bukan benar2 gila, hanya karena berbeda pendapat saja, dan tentu saja tidak salah, karena komunitas ini terlalu menggunakan otak kanan.
Jadi manusia beruntung
dilengkapi otak kiri yang membuat 1+1=2 dan otak kanan yang membuat 1+1=sesuai selera Anda
Dua kerja otak tersebut kontradiksi,perpindahannya sangat cepat, bahkan sering tidak bisa disadari.
so kalau Anda menyebut Tuhan, dengan kata Allah dan emosi Anda nyaman, sebutlah dengan keyword Allah terus saja, kalau Anda nyaman dengan keyword Yahwe, sebutlah itu saja terus, yang penting emosi2 kita nyaman dalam menandai dan me-remind suatu keywords. Ketidaknyamanan hanya membuat kita tidak melakukan sesuatu.
salam
wawan
Tambahan:
Proses input dan output bahasa dikendalikan oleh otak kiri, untuk itu ciri2 orang yang berbicara runtut, sistematis, menandai kekuatan otak kirinya dominan, sedang orang yang tidak sistemati, meloncat-loncat menandai otak kanan dominan.
Dengan Bahasa dan logic
Maka Allah harus selalu sama dengan Allah, tidak ada keyword lain yang boleh memanggil halaman yang sama untuk menampilkan halaman Allah.
Untuk sementara saya linking logic otak saya terhadap halaman serupa dengan Keyword Allah, Tuhan, God, Jesus, Buddha.
Namun ketika bermeditasi dan menggunakan otak kanan, rasa menarik energi (entah darimana) itu logic Allah bisa saya ucapkan sebagai &^*^ (*^(^( dlm proses trance, bebas menyebut dan mengungkap rasa tersebut, memang akan menjadi seperti unknown….
Misal
Anda seorang genius matematis 1+1=2, Allah adalah Allah, no another keywords linked,
Bagaimana kalau Anda terkena penyakit strook yang menyerang otak kiri Anda (ditandai kelumpuhan badan sebelah kanan) maka ucapan apa yang akan Anda ucapkan untuk menandai halaman “Tuhan” ? Akan jadi lucu cara pengucapan Anda, kalau Anda marah karena ditertawakan cara menyebutnya, maka dengan gampang “pokoknya yang itu, titik”
akhirnya saya meneukan kedamaian dalam berblogwalking
Allah ya, bagiku bukan hanya sebuah nama, tapi sesuatu tempat dapat merasa tenang dan hidup.
apakah Allah yang saya sembah sama dengan Allah yang anda sembah ?
ga tw ya….
yang pasti Allah ku adalah Allah SWT
yang tak hanya berkuasa atas diriku tapi juga semua yang ada di langit dan bumi serta yang hidup dan yang mati
Subhanallah
Bagi saya Allah/Tuhan merupakan sebuah konsep yang sangat pribadi. saya sangat tidak yakin bahwa ada orang yang mengklaim dirinya lebih mengenal Allah/TUhan dari pada orang lain. Dan saya juga yakin bahwa Allah/Tuhan dengan senang hati disebut oleh bermacam-macam sebutan dari berbagai macam umat-Nya. Umat-Nya-lah yang malah memusingkan hal tersebut, bahkan, (maaf) saling membunuh.
Allah itu nama atau semacam fanggilan buat Tuhan ya?
*Atheis Mode ON*
Oh para pencari-Ku…aku ada di setiap segala bidang yang Kau kerjakan, namun rumahku ada di sebelah KANAN OTAKMU.
salam
wawan
[...] Tuhan itu apa? [...]
Permisi
.
), saya sudah pengen kasih komentar sederhana, tapi gak sempat keburu deadline urusan lain.
Maaf saya terlambat baca tulisan ini.
Pertama kali saya lirik seminggu yang lalu (itu juga sudah terlambat ya
Begitu kembali nengok lagi hari ini, ternyata komentar saya sudah tercover oleh respon sampeyan sendiri :
Itulah salah satu kelemahan ketika sebuah teks asli kitab suci diterjemahkan kedalam bahasa-bahasa lain. Selalu saja ada “kekurangannya”. Tapi masalahnya bukan sekedar bahasa, tapi pemahaman teologis yang “dipaksakan” kedalam pemahaman filologis.
Sebenarnya tidak masalah menerjemahkan isi kitab, toh itu mempermudah penyebaran agama yang bersangkutan. Tapi mbok yo “nama” itu jangan ikut-ikut diterjemahkan.
Saya bersyukur karena versi terjemahan Qur’an tidak dijadikan acuan secara default, dan tetap mengacu pada versi bahasa Arab, sehingga antara umat muslim Indonesia sendiri tidak sampai ada pertentangan serius masalah nama.
Lagipula dalam konteks Islam sendiri, “Allah” itu hanya satu dari 99 nama yang dipunyai Tuhan. Jadi pemilihan nama hendaknya tidak menjadi hal yang terlalu serius.
Dalam memperkenalkan diri kepada hamba-Nya, Tuhan tentu memilih bahasa yang dipahami oleh hamba yang bersangkutan.
Penganggapan bahasa Arab sebagai bahasa paling luhur, mulia, dsb karena kitab terakhir Allah turun di negeri Arab kepada orang Arab yang kebetulan berbahasa Arab, tentu anggapan yang kekanak-kanakan. Dari kemungkinan alasan-alasan mengapa orang Arab yang dipilih sebagai pengantar update terakhir agama Allah, saya yakin dan percaya bahwa “bahasa Arab bahasa terbaik” bukanlah satu di antaranya.
Alasan itu terlalu sepele.
Jadi debat kusir yang sampeyan saksikan (di IF mungkin?) tentang hak paten nama Tuhan itu memang sangat kekanak-kanakan. Memangnya sudah tidak ada lagi nilai-nilai yang bisa dibanggakan dari agama yang bersangkutan, selain nama Tuhannya?
Bukan masalah nama apa yang kita gunakan untuk memanggil Tuhan, masalahnya adalah apa kita percaya bahwa kita tahu siapa yang kita panggil.
@ fritzter
He, pake akun cadangan ya?
Hohoho, mengingatkan pada ini dan ini ya? Entry2 legendaris itu.
Mungkin kamu harus posting versimu sendiri kapan2
@jensen
Gak, akunku cuma satu. Avatar itu mungkin alter ego #3 yang upload, saya sendiri gak pernah ngerasa upload yang itu.
Entahlah…
…………….
Selesai baca 2 entry yang dimaksud. No komen utk punya geddoe, sedang utk 049, pretty impressive, tapi saya gak bisa komen apa2 soal bahasa Arab karena saya sendiri gak tau bahasa Arab. Alasan2 lain yang dia kemukakan, masih lebih lumrah menurut saya daripada melulu soal bahasa.
Ah, nulis tentang agama ya….
. Boro-boro mau nulis
.
Saya cuma punya 5 alasan untuk tidak nulis tentang agama :
1. Not my style
2. Not my style
3. Not my style
4. Not my thing
5. Not my thing.
Lha ini cuma komen saja asal bacot, gak pake referensi apa-apa
Quran itu bahasa inggrisnya koran yah?
Artinya bacaan yah?
Kalau ya
siapa yang baca koran kompas halaman 1 hari ini?
samakah isi-nya dengan pembaca lain?
kalau sama, berarti masih normal
kalau isi koran kompas halaman 1 hari ini lain-lain, yang salah mata pembacanya atau penerbitnya?
numpang nyepam, tp insaolo nyambung :
http://suluk.blogsome.com/2006/02/08/memahami-nama-dia-yang-tak-bernama/
aduh, bang, telad banget aku taunya.
welkambek bang….^^
gimana bisnisnya ?? lancar jaya ??
Penulis cuman ingin mengingatkan bahwa ALlah nya, beda dengan Allah agama lain…
bahasa… ya, benar sekali. bahasa Om…
jadi inget, waktu saya kaget dan reflek bilang “Ya Tuhan…”, tiba tiba teman di samping saya memekik pelan “Ih, kamu kristen yaaa”
aneh kan?
[...] Allah dan bukan Tuhan hanya dengan alasan yang sederhana : supaya tulisan saya yang berjudul Allah dapat dipahami. Anda bisa mengganti kata Allah dengan apa saja yang masuk dalam konteks [...]
bahasa oh bahasa…
Di kampung saya, buntetpesantren malah menyebutkan Allah itu dengan istilah Pengeran kadang juga dengan istilah Gusti. Padahal nama gusti dan pengeran biasanya dipakai untuk kalangan ningrat. herannya, penduduk kampung saya itu kebanyakan keluarga Kyai yang dihormati di kalangan pesantren di Indonesia.
Malaysia sendiri melarang kata ALlah itu dipakai oleh agama lain. Padahal baik di ayat2 milik bible dan Yahudi, mereka menyebut Allah seperti kabar yang direkam Al Quran. Jadi Allah, ya Tuhan kita semua, cara pendekatannya dan cara pemaknaanya yang berbeda-beda.. begitu kah?