Problem utamanya, menurut saya, bukan terletak pada seberapa kuat anda memegang salah satu teori dan mengabaikan teori yang lain. Bukan terletak pada masalah pertentangan antara iman dan ilmu pengetahuan sambil mengabaikan salah satunya. Problem terbesarnya terletak pada seberapa besarkah kita memahami keimanan dan kelimuan dan mampu membangun jembatan yang menghubungkan keduanya tanpa mengorbankan hal-hal yang prinsipil dari situ.
Dengan kata lain, pilihannya bukanlah antara iman atau rasio, tetapi iman tanpa rasio atau iman dengan rasio. Pilihannya bukanlah antara rasio atau iman, tetapi rasio tanpa iman atau rasio dengan iman.
(fertob, pada suatu perdebatan tentang ilmu pengetahuan dan agama)
Saya tidak tahu seperti apa jembatan yang dibangun diantara kedua ranah itu. Dan istilah “membangun jembatan” menyiratkan seakan-akan kedua ranah itu (sains dan agama) adalah sesuatu yang statis dan tak bergerak.
….masih bersambung….






Saya pilih iman dengan rasio.
*quick vote*
Ditunggu sambungannya, bang.
Pffft! Menurut saya ‘iman dengan rasio’ jauh lebih superior dan masuk akal dibanding ‘rasio dengan iman’…
…
*coughs* anyway, memang sulit ya
berdebatberdiskusi dengan orang yang pandangannya masih either-or dan melihat semuanya dalam false dilemma…Kan ndak harus bikin jembatan beton, jembatan tali malah lebih fleksibel.
Hmmmm…..
Menarik.
Sayah tunggu kelanjutannya….
sains sangat dinamis bang dan ga’ mungkin disangkal, teori akan terus berkembang walaupun otak manusia tetep sejengkal.
dan seharusnya religion juga berkembang, ditilik dari barometer sejarah, agama adlh sesuatu yang dinamis juga tetapi jauh lebih lambat dibandingkan sains. Dekade yang dilalui agama berbeda ribuan kali lipat dibanding sains.
contoh, perubahan henpon dari tahun 2001 hingga sekarang bisa dibayangkan.. dari basic function nya yang hanya untuk nelpon sampe sekarang yang bisa moto 10MP.. gile cing.. 8 tahun revolusinya gila2an.
berbeda dengan agama. Skala waktu revolusinya bisa berabad2. Agama samawi mengalami perkembangan dalam hitungan abad. Bayangkan range kelahiran Ibrahim hingga Jesus dan Muhammad. Dan masih terus berkembang saya rasa.. hanya saja “agama” terlalu sensitif untuk diperdebatkan dan dibantah
ngelirik EP PE I. yah tapi itupun bergantung pada kedewasaan manusianya. Tapi saya yakin nantinya akan ada revolusi baru untuk agama.. suatu saat nanti…ah.. itu sudah..
Konon Tuhan itu sendiri adalah ilmuwan paling jenius…
Ah, nunggu saja lah..
iman + rasio = mantap
layer paling dasar dari mind kita itu belief system, kalo iman duluan maka rasio terkekang oleh belief system, kalo rasio duluan maka lebih bebas dan “tercerahkan”. Iman bisa kita setting/rekonstruksi sendiri sesuai kepentingan kita untuk maju dan sukses. Ingat juga cara kita hidup yang sesuatunya cuman dikerjain oleh otak kanan dan kiri saja.
Kalau mau masuk lebih dalam join saja bang di milis spiritual-indonesia@yahoogroups. disana banyak “orang2″ aneh yang menggunakan intuisi-nya untuk menuju diri Sejati, mengakses hati Nurani, Menuju “Tuhan”, berekstase menggambarkan Tuhan melalui pengalaman dirinya, (memang pengalaman Tuhan adalah ranah individu), ada yang mengaku mendapat fenomena penampakan Jesus Kristus.
saya kemaren juga barusan mendapat petunjuk dari guru saya yang dulu sempet muncul di acara kick andy dalam tema Indigo, bahwa kalau agama abang protestan, maka memang paling dekat menuju ke pembebasan, kalau katolik sudah diselamatkan oleh Konsili 2 vatikan, kalau Islam saya tidak bisa berkomentar (tidak ada maksud menghina, semua keluarga saya muslim).
salam
wawan
(fertob, pada suatu perdebatan tentang ilmu pengetahuan dan agama)
Menempatkan agama dulu diatas ilmu pengetahuan hanya mengakibatkan ilmu itu tidak berkembang
ingat bahwa Darwin dan Karl Marx itu menjadi pinter begitu karena kebebasan berpikirnya.
salam
wawan
Iman dan rasio……
Entahlah mana yang pas ya, karena saya memang ga fanatik…bagi saya agama dan iman memang saling melengkapi.
saya belajar bahwa otak bisa menipu sedangkan hati ga bisa dibohongi
*komen ga nyambung, tp suwer, itu yg lgsg terpikir begitu baca post ini*
@restlessangel
Hati itu letaknya dimana? apakah hati=liver?
Kalau hati yang anda maksud rasa=feeling
Bahasa Indonesia memang agak kacau, definisinya tidak jelas,lain kalau bhs Inggris, lebih specific. Bhs Inggris tidak akan menyebut apa yang Anda maksud dengan liver, tapi feeling.
Feeling ini bisa muncul menurut jurnal neuroscience karena brain Anda memproduksi dopamine yang berlebihan. Dopamine membuat happy, joy,pleasure feeling,euforia. Kalau Anda merasa menerima getaran frekuensi dari Tuhan, itu karena ulah dopamine di otak Anda, dan juga melatonin di pineal, diantara 2 mata anda itu ada pineal, yang disebut cakra/indra keenam.
Untuk itu setiap orang bisa menjadi clairvoyance. Tinggal dilatih saja.
Mau instan jadi clairvoyance ya tinggal minum capsule Zen Buddhism, isinya L-theanine 200 mg, dan juga medicine pemroduksi melatonin di pineal.
Setelah itu rasakan sensasinya. Anda terbang ke langit ke 7.
salam
@Tambahan
Menurut ilmu kedokteran, bahwa God Spot, alam bawah sadar, otak kanan, Intuisi,feeling atau apapun yang menjadi sisi lain dari thinking rasional adalah brain berada di gelombang alfa atau theta. Meditasi juga membawa brain ke alfa atau theta. Sedangkan sadar penuh,logic,thinking adalah brain di gelombang beta. Clairvoyance atau bahasa jawanya dukun itu juga brain di level theta atau alfa, makanya dukun itu perlu konsentrasi sebentar dan memejamkan mata dan pasti di kesunyian, agar gelombangnya turun.
Setiap orang record memorynya berbeda-beda, untuk itu sensasi di alpha dan theta nggak ada yang bisa menggambarkan secara sama. Tidak ada orang yg bisa menggambarkan rasa Tuhan dengan sama.
Roh dan tubuh itu saling mempengaruhi.
Meditasi, artinya mind sengaja membawa brain turun ke alfa atau theta. Namun minum zat dopamine dan melatonin, tujuannya juga sama, membawa ke alfa atau theta.
Sekarang tinggal liat perilaku para pembawa agama itu, kelakuannya sering menyendiri di tempat sunyi dan meditasi nggak?
IMHO, agama itu hasil dari intuisi mereka memahami alam, jadi yang paling mengerti dari ajaran para messenger ya mereka sendiri. Record otak mereka berbeda dengan record otak Anda. Anda pasti dibuat bingung dan kepala terjeduk-jeduk tembok berusaha memahami mereka.
Contoh kawin dengan anak 9 tahun bagi mereka ok, karena record otak mereka terbawa budaya waktu itu, sedang sekarang tentu menjadi hal yang aneh, karena budaya berbeda dan record otak orang jaman sekarang ya pasti udah lain dan unique dan lebih banyak karena tv,radio,internet.
Lebih bijaksana kalau ingin mencari Tuhan lebih baik mencarinya di dalam diri. Pasti ketemu. Mau instan?
Minum L-theanine dan melatonin. (Cinta juga akibat dikerjai dopamine di otak yang kelebihan)
salam
iman dan rasio ya.. Rasanya susah untuk digabungkan.
DMT memproduksi melatonin, yang membuat kelenjar pineal bekerja, pineal disebut juga oleh orang India cakra 6/mata ketiga.
The Missing Link Between Religion and Science
http://alexarussia.blog.friendster.com/2008/11/the-missing-link-between-religion-and-science/
Moses and Ayahuasca – Plant Spirit Shamanism from the Bible
http://alexarussia.blog.friendster.com/2008/11/moses-and-ayahuasca-plant-spirit-shamanism-from-the-bible/
November 10, 2008 · Filed under KeTuhanan · Edit
JERUSALEM (AFP) – High on Mount Sinai, Moses was on psychedelic drugs when he heard God deliver the Ten Commandments, an Israeli researcher claimed in a study published this week.
Such mind-altering substances formed an integral part of the religious rites of Israelites in biblical times, Benny Shanon, a professor of cognitive psychology at the Hebrew University of Jerusalem wrote in the Time and Mind journal of philosophy.
“As far Moses on Mount Sinai is concerned, it was either a supernatural cosmic event, which I don’t believe, or a legend, which I don’t believe either, or finally, and this is very probable, an event that joined Moses and the people of Israel under the effect of narcotics,” Shanon told Israeli public radio on Tuesday.
Moses was probably also on drugs when he saw the “burning bush,” suggested Shanon, who said he himself has dabbled with such substances.
“The Bible says people see sounds, and that is a classic phenomenon,” he said citing the example of religious ceremonies in the Amazon in which drugs are used that induce people to “see music.”
Israeli researcher He mentioned his own experience when he used ayahuasca, a powerful psychotropic plant, during a religious ceremony in Brazil’s Amazon forest in 1991. “I experienced visions that had spiritual-religious connotations,” Shanon said.
He said the psychedelic effects of ayahuasca were comparable to those produced by concoctions based on bark of the acacia tree, that is frequently mentioned in the Bible.
source: Yahoo News.
Paper originally published in:
Time and Mind:
The Journal of Archaeology Consciousness and Culture
Volume I—Issue I, March 2008
TiTLE: Biblical Entheogens: Speculative Hypothesis
pp. 51–74
Benny Shanon is Professor of psychology at the Hebrew university of
Jerusalem (Israel). His main foci of research are the phenomenology of
human consciousness and the philosophy of psychology. His publications
include The representational and the Presentational (1993) and The
Antipodes of the Mind (2002). At present, he is working on book
devoted to a general psychological theory of human consciousness.