Is religion the problem ? No and Yes. The answer turns in part on how one understands the nature of religion. At the heart of the religious orientation and quest, human being finds meaning and hope. In their origins and core teachings, religion may be noble, but how they develop almost invariably falls short of the ideal. Adherents too often make their religious leaders, doctrines, and the need to defend institutional structures as the vehicle and justification for unacceptable behavior. Whatever one’s personal views about the nature and value of religion, it is a powerful and present reality. Thoughtful people of faith must try to learn more about the perils and promises contained within the global human phenomenon we call religion.
(Charles Kimball, When Religion Becomes Evil, p. 32)
Quote kedua dalam minggu ini dengan tema agama. Mungkin kepala saya lagi penuh dengan tema-tema agama dan sekitarnya. Tapi yakinlah kalau tulisan ini masih bersambung dengan tulisan lain yang lebih panjang dan bikin pusing.
…..masih bersambung….






Weeeeh….
Nampaknya memang bikin fuyenk, soale make bosos linggis…..
Ahahaha… sounds familiar!!!!
Pembenaran yang menyebalkan..
saya kira ini menarik untuk dibaca
http://www.scribd.com/doc/2566877/Gods-Debris
e-book God Delusion –> semoga mencerahkan
http://www9.indowebster.com/390eaabfc6e1afd0b87861ac4bd87cf5.pdf
Dawkins writes that The God Delusion contains four “consciousness-raising” messages:
1. Atheists can be happy, balanced, moral, and intellectually fulfilled.
2. Natural selection and similar scientific theories are superior to a “God hypothesis” — the illusion of intelligent design — in explaining the living world and the cosmos.
3. Children should not be labelled by their parents’ religion. Terms like “Catholic child” or “Muslim child” should make people flinch.
4. Atheists should be proud, not apologetic, because atheism is evidence of a healthy, independent mind.[4]
The secret of the mindset karya adi w gunawan mudah untuk dipahami
Adi menghindar ketika ada yang menanyakan apakah agama menjadi bagian dari Belief System
kalau dia menjawab ya, maka buku dan trainingnya tidak laku di indonesia.
tapi coba buka wikipedia…belief system…agama termasuk didalamnya.
e-book
http://books.google.co.id/books?id=I57c3LN5fI0C&printsec=frontcover&dq=secret+of+the+mindset#PPP1,M1
semoga mencerahkan
salam
wawan
ini aja sudah bikin pusing bang…
*ditendang sampai ke timbuktu*
Kalimat Syahadat
Aku bersaksi bahwa tiada belajar tiada mencerahkan, dan aku bersumpah hanya belajar yang bisa membuatku lebih cerah.
Oh langit, demi dewa einstein bahwa satu-satunya hal yang pasti terhadap esok hari adalah perubahan, dan oh bumi, demi dewa darwin bahwa cara bijaksana dalam menatap perubahan adalah adaptasi.
Demi Roh Karl Marx, bahwa apa yang terjadi hari ini adalah A dan apa yang terjadi besok adalah B.Apa yang terjadi besoknya lagi adalah kembali ke A.
Rohku ingin berbicara dengan rohmu, maka dibuatlah jembatan melalui otak sebelah kiri, sehingga signal rohku bisa kau terima dengan rohmu
Trinitas yang kudus, A berbicara dengan B maka hasilnya C, Thesis bertemu anti thesis menjadi sintesis, Bapa kawin dengan Ibu menjadi anak.
Negation der negation
tidak ada anak tanpa bapa dan ibu, tidak ada obyek tanpa subyek.
Tiada Tuhan tanpa Aku.
Setan adalah 100% kebenaran. Barangsiapa 100% benar adalah setan yang terkutuk.
Setan adalah 100% kebenaran. Barangsiapa 100% benar adalah setan yang terkutuk.
Demi Dewa Trotsky, bahwa manusia adalah kutub A dan B yang bergeser-geser saja. Manusia berhati A bergerak ke hati B, manusia berhati B bergerak ke hati A, sesungguhnya demi malaikat Hegel manusia itu barang yang sangat membingungkan, kerjanya hanya berputar putar saja, namun dari lingkaran revolusi manusia terhadap inti putar galaksi semesta-nya, manusia harus mengambil titik start sebagai keputusan yang absolut. Dari titik inilah diskusi bisa dilangsungkan.
“Quote kedua dalam minggu ini dengan tema agama. Mungkin kepala saya lagi penuh dengan tema-tema agama dan sekitarnya. Tapi yakinlah kalau tulisan ini masih bersambung dengan tulisan lain yang lebih panjang dan bikin pusing.”
Sesungguhnya hatiku hanya ingin berbicara dengan hatimu, sehingga jangan gunakan otakmu agar otakku tidak pusing.
Didalam hatimu sudah terinstal sistem yang sangat canggih berbahasa binary, demikian juga dengan hatiku.
Mahluk ET adalah mahluk yang aneh, namun lebih aneh lagi diri kita, untuk mengenal diri kita pun sulitnya setengah mati.
salam
wawan
Manusia tidak mengenal dirinya
Manusia menciptakan komputer
Manusia menciptakan robot
Sesungguhnya ciptaannya itulah dirinya sendiri,
ciptaannya adalah proyeksi dari sistem berpikirnya sendiri.
seperti Tuhan menciptakan manusia, sesungguhnya Rohku kutiupkan agar kamu bisa hidup.
Maka tidak ada benda lain yang lebih aneh daripada manusia.
Demi dewa Freud, bahwa sesungguhnya manusia adalah mahluk rumit yang paling sederhana. Manusia mencari-cari, membaca-baca buku, hanya untuk mencari pemahaman yang sudah ada dalam dirinya sendiri.
Manusia membutuhkan stimulan2 dari luar untuk memunculkan pemahaman yang sudah berada dalam dirinya sendiri.
Manusia memang gila,
kodratnya dibawah hanya agar bisa keatas,kodratnya salah hanya agar bisa kearah kebenaran.
Kebenaran hanya akan menjerumuskan kepada kesalahan. Itulah agama. Manusia tidak membutuhkannya, manusia hanya membutuhkan dirinya sendiri untuk menemukan kebenaran.
Di Topeng-mu
kulihat 2 dibawah mengarah ke kiri, alihkan ke kanan agar semuanya menjadi simpel dan penglihatanmu bisa menembus langit.
jangan kau buat pusing jemaatmu, hatiku hanya ingin berbicara dengan hatimu, namun topengmu melihatkan bahwa hatimu masih tertutup kecerdasanmu, kamu bisa berbicara dengan hati, hanya perlu waktu sebentar untuk enyahkan segala pikiran, dan biarkan hati dan cintamu menguasai dirimu.
aku akan menangkap gelombang cintamu.
salam
wawan
Ahh Fertob…ternyata renunganmu di Sorong makin panjang…mungkin sambil memandang laut ya….
Tapi memang menarik kok perdebatan tentang agama dan ilmu pengetahuan, yang seharusnya tak berdiri sendiri-sendiri. Tapi kalau baca riwayatnya, seperti di buku “The name of Rose” karangan Umberto Eco dan Imperium….terasa sekali hal seperti ini juga sejak zaman sebelum masehi.
Ternyata menyenangkan juga menjadi orang yg mengenal agama sbg doktrin pada awalnya, di mana dalam perjalanan ternyata dia menemukan kebahagiaan dg beribadah dan mengenal Tuhannya. Tidak memperdebatkan ttg agama krn memang keterbatasan akalnya, namun dia jadi lebih bahagia dan mulia dg ajaran agamanya.