- sebuah tulisan lama berseri dan tak beraturan
- sebagai pembayar hutang bagi yang merasa dihutangi
![]()
- panjang dan membosankan
- tentang sains dan agama
- semoga anda betah membacanya
Tulisan ini intinya adalah sebuah komentar atas sebuah buku. Tidak ada yang istimewa. Yang menjadi istimewa adalah karena buku tersebut adalah sebuah buku yang mencoba membahas Sains dan Agama dari sudut pandang apologetika dan polemik khususnya apologetika Kristen. Bukan maksud saya untuk mengungkap kejelekan agama sendiri tetapi anggaplah ini sebagai sebuah apologetika atas apologetika.
Tema yang dibahas oleh buku itu adalah perdebatan sejak dahulu kala antara Sains dan Agama. Mungkin gambar yang paling jelas menggambarkan konflik tersebut adalah ketika Galileo Galilei tertunduk di depan inquiry Gereja Katolik dan mengaku bahwa apa yang telah dilakukannya adalah sebuah kesalahan besar. “Luka” itu tak kunjung sembuh meskipun banyak ilmuwan dan agamawan yang berusaha membangun jembatan di antara keduanya. Kedua bidang itu seakan-akan dikutuk untuk menjadi musuh.
Cara saya mengomentari isi buku ini cukup aneh karena terkesan melompat-lompat dan tidak teratur.
- Pertama, saya akan mencoba menguraikan buku tersebut secara selayang pandang. Mulai dari judul buku, penulis, dan ringkasan isi bukunya.
- Kedua, saya akan menampilkan kutipan-kutipan kalimat yang ada dalam buku itu disertai dengan sedikit komentar kasar dan tak bermutu yang menjadi penyanggah dan pembantah argumentasi dalam buku itu.
- Ketiga, secara acak saya akan menampilkan beberapa topik-topik “panas” yang menjadi permasalahan antara sains dan agama disela-sela pembahasan buku tersebut. Tema-tema ini berupa konflik-konflik yang ada di sekitar sains dan agama [khususnya agama Kristen].
Catatan :
- Perspektif teologis yang saya pakai dalam membedah konflik antara sains dan agama adalah perspektif teologi Kristen. Hal ini dikarenakan persinggungan antara sains dan agama lebih intens terjadi dalam tradisi Yudeo-Kristen dibandingkan dengan agama-agama lain. Persinggungan antara sains dan agama belum terlalu tampak dalam agama-agama lain seperti Islam, Hindu, dan Buddha.
- Dalam teologi Kristen sendiri terdapat banyak pandangan, tetapi saya menggunakan perspektif doktrin yang lebih umum dipakai dalam Kekristenan Ortodoksi, khususnya Lutheran dan Calvinis. Saya menyadari bahwa perspektif teologi ini kurang mewakili keseluruhan perspektif teologi yang ada tetapi setidaknya ini bisa menjadi contoh.
- Tulisan ini adalah sebuah “apologetika atas apologetika“. Saya menganggap tulisan Dr. Heath adalah sebuah apologetika Kekristenan yang ditujukan terhadap sains. Tetapi bagi saya, sebuah apologetika haruslah didirikan diatas suatu penjelasan dan pembuktian yang baik dari sebuah keimanan. Apologetika yang “asal-asalan” justru membuat agama yang dibela kelihatan menjadi kerdil, tak berlogika, dan asal bunyi.
- Saya pribadi sangat mengagumi tokoh-tokoh agama [Kristen] yang mampu melakukan apologetika agama dengan cara yang sangat baik dan elegan, khususnya apologetika terhadap tantangan sains. Dari jaman baheula saya dapat menyebut beberapa apologet Kristen seperti Origen (dengan buku apologetikanya yang terkenal Against Celsus), Irenaeus (Against Heresies), dan Justin Martyr (First & Second Apology). Atau apologet pada jaman modern seperti Cornelius Van Til (The Defense of the Faith) dan beberapa “anak didiknya” seperti John Frame (Apologetics to the Glory of God) dan Greg Bahnsen (Always Ready: Directions for Defending the Faith). Atau beberapa teolog-ilmuwan yang berusaha menjembatani sains-agama seperti Ian Barbour, Arthur Peacocke, Freeman Dyson, dan Kenneth Miller (saya pengen baca bukunya Finding Darwin’s God)
, dll.
Mari kita mulai….
BAGIAN 1
1. Judul Buku
Judul buku ini adalah Sains, Iman & Teknologi : Manakah Yang Benar Firman Allah atau Sains Modern. Karangan W. Stanley Heath. Penerbit Yayasan Andi, Yogyakarta, 1997.
Dari judul bukunya saja, saya sudah bisa menyimpulkan bahwa penulis berusaha untuk mengarahkan pembaca agar mempunyai satu pilihan yang pasti : Firman Allah (Alkitab) atau Sains Modern. Kedua kubu ini dipertentangkan dan dijadikan sebuah konflik oleh penulis.
Saya jadi teringat dengan “ramalan” di novel Harry Potter : “salah satu dari Potter dan Voldemort harus mati“. Jika ini kita aplikasikan ke dalam judul buku diatas maka salah satu dari Firman Allah (Alkitab) dan Sains Modern pasti salah dan akibatnya harus mati. Menyedihkan, karena seandainya “ramalan ala Mr. Heath” ini menjadi kenyataan, maka saya tidak tahu harus memilih yang mana karena saya sudah “tercebur” dalam keduanya.
2. Selintas Isi Buku.
Buku ini adalah sebuah buku yang ditulis dari sudut pandang Kekristenan khususnya Kekristenan dari perspektif si penulis. Penulis menggambarkan betapa sains (ilmu pengetahuan) telah menggeser Firman Allah dari hampir semua segi kehidupan. Tidak ada tempat lagi untuk agama dalam kehidupan modern karena semuanya telah diambil alih oleh sains dan teknologi.
Buku ini dibagi atas 3 bagian yaitu Bagian I yang terdiri dari 6 bab dan membahas pertimbangan-pertimbangan filosofis, teologis, dan historis. Bagian II yang terdiri atas 5 bab dan membahas penjelasan khusus menurut bidang-bidang sains seperti geologi, astronomi, biologi evolusi, psikologi dan sosiologi, serta genetika dan etika biomedis. Terakhir adalah Bagian III yang berisi kesimpulan.
Pokok utama dari setiap bagian dan bab dari buku ini berisi pernyataan bahwa Firman Allah (Alkitab) adalah benar dan sains telah terbukti sedang memperkenalkan sebuah mentalitas baru yang sebenarnya tidak dapat dipertanggungjawabkan secara obyektif. Dari sudut pandang penulis, sains (apapun itu) jika berisi sebuah pernyataan yang bertentangan dengan Alkitab maka sains tersebut harus disingkirkan dan dianggap salah. Patokan tertinggi bagi sains adalah Firman Allah.
Penulis juga mempolarisasikan kedua hal ini dengan sangat tajam.
Bahasan tentang Sains dan Teknologi harus berawal dan berakhir dengan sorotan teologis.
…..
Tegasnya, ada Ilmu Pengetahuan (Alkitabiah) dan Ilmu Dugaan (Sekular)(Kata Pengantar, hal ix)
Ada beberapa tema penting dari kutipan diatas :
- Ada 2 ilmu di dunia ini yaitu (1) Ilmu Pengetahuan berdasarkan Alkitab, dan (2) Ilmu Dugaan (Sekuler).
- Ilmu Dugaan (Sekuler) adalah kata lain dari sains (science) yang selama ini kita kenal.
- Seluruh penelitian dan aplikasi dalam sains harus mendapat “restu” oleh Ilmu Pengetahuan (Alkitab)
Sebentar….sebentar…. saya mau batuk dulu.
*coughmisuhmisuhcoughmarahmarahcough*
Hampir semua tulisan dalam buku ini berisi serangan-serangan atas sains yang dianggap oleh penulis “tidak dapat dipertanggungjawabkan secara obyektif“. Beberapa bidang sains yang mendapat serangan antara lain adalah Geologi (khususnya teori tentang pembentukan kulit bumi dan pertentangannya dengan teologi Air Bah jaman Nabi Nuh), Kosmologi (khususnya tentang pembentukan alam semesta), Biologi Evolusioner (khususnya tentang Darwinisme), Psikologi (khususnya tentang hakikat dan sifat-sifat manusia), Sosiologi (masyarakat dan lingkungan sosial), dan Genetika (khususnya tentang dilema etika yang ada didalamnya).
Saya sangat menunggu serangan beliau terhadap teori relativitas [khusus & umum] Einstein dan mekanika kuantum, tetapi ternyata tidak ada satupun tulisan yang membahas kedua hal itu. Padahal serangan terhadap teori relativitas dan mekanika kuantum dapat menjadi ukuran “keilmiahan” sebuah apolegetika terhadap sains.
3. Penulis
Pada cover belakang buku ini disebutkan secara sepintas penulis buku ini :
Profesor Heath memiliki gelar Doktor dalam 3 bidang : teknologi, penggembalaan, dan teologi. Beliau masuk Indonesia pada tahun 1961 sebagai dosen ITB dan pada 1966 menjadi pendiri Institut AlkitabTiranus, Bandung.
Di buku beliau yang lain yang berjudul Teologi Pendidikan : Dasar Pelayanan Kepada Anak, saya mendapatkan beberapa kalimat yang mendefinsikan kepakaran beliau :
Memperoleh 3 gelar Doktor di 3 bidang yang berbeda yaitu Ph.D. di bidang Teknik Kimia dari Syracuse University, D.Div. (Penggembalaan) dari Seattle Pacific University, dan Th.D. (Teologi) dari Clayton University.
Saya sangat meyakini kepakaran beliau dalam bidang sains. Saya juga meyakini kepakaran beliau dalam bidang teologi Kristen. Setidaknya mampu mencapai level S3 dalam suatu bidang bisa menjadi pertanda kepakaran seseorang.
Tetapi apakah itu cukup ?
*sayasepertianaksdmengajarigurubesar*
Chapter 9 : Persinggungan
Sejarah persinggungan sains dan agama sangatlah panjang. Dari sekian lama persinggungan itu kita bisa menemukan beberapa tipe pesinggungan. Setidaknya ada 4 tipe hubungan ketika sains dan agama bersinggungan.
1. Konflik
Tipe konflik sering diwakili oleh para penganut materialisme ilmiah dan literer kitab suci. Kaum materialis ilmiah mengklaim bahwa dunia hanya terdiri atas materi semata, dan tidak ada tempat bagi jiwa, roh, bahkan Allah. Dan hanya sains yang merupakan satu-satunya jalan untuk mendapatkan pengetahuan dan kebenaran. Agama tidak memberikan apa-apa bagi dunia dan manusia.
Kaum literer kitab suci percaya bahwa kitab suci harus dibaca secara harafiah dan tanpa penafsiran. Kitab suci dapat memberikan kepada kita pengetahuan yang benar tentang dunia, manusia, dan Allah. Bahkan banyak yang menganggap kitab suci sebagai sesuatu yang harus menjadi rujukan bagi sains.
2. Otonomi
Tipe hubungan ini menegaskan bahwa agama dan sains menggunakan metode yang bertentangan dan bahasa yang berbeda. Disini, sains dan agama tetap tinggal terpisah dan tidak ada konflik serta juga tidak ada interaksi bahkan dialog. Agama adalah agama, dan sains adalah sains. Titik.
![]()
Banyak yang beranggapan agama dan sains menggunakan bahasa dan metode yang berbeda, misalnya akal lawan iman, sains beradasarkan fakta sementara iman berdasarkan nilai, sains obyektif sementara agama subyektif, dan lain-lain.
3. Dialog
Ini adalah model yang berusaha menghubungkan sains dan agama dalam batas-batas kesejajaran metodologi. Misalnya adanya pertanyaan-pertanyaan yang timbul sebagai akibat dari sains itu sendiri tetapi tidak mampu dijawab oleh sains, misalnya “jikalau alam semesta mempunyai awal, maka apa yang terjadi sebelum itu ?”, “mengapa kita merasakan belas kasihan?”, “mengapa alam semesta itu ada?”, dan pertanyaan-pertanyaan lain. Pada dasarnya cara-cara yang digunakan oleh sains dan agama tidaklah seluruhnya berbeda. Misalnya, keduanya menggunakan data; fakta empiris dalam sains, kitab suci dan pengalaman religius dalam agama. Juga keduanya menggunakan akal untuk memilih satu dari sekian banyak teori (dalam sains) atau doktrin (dalam agama).
4. Integrasi
Model ini berusaha untuk melakukan penggabungan antara sains dan agama dalam satu kerangka tunggal. Misalnya dengan menggunakan suatu sistem metafisika tunggal, seperti contohnya metafisika proses Alfred Whitehead atau sistem yang lain. Dengan cara ini, konsep seperti ruang, waktu, materi, kausalitas, pikiran, roh, bahkan Allah digunakan dengan cara serupa baik dalam teori dan penelitian teologis maupun ilmiah.
…..bersambung ke bagian 2 (entah kapan)






Saya pilih persinggungan apa ya? Otonomi?
Soalnya, bukannya realm-nya memang beda gitu?
*orang yang percaya Air Bah jaman Nabi Nuh tapi tidak pernah meributkannya*
Bah, mana apologetikamu?!
*penonton kecewa*
wah keren sekali mas tulisannya!
[baca ulang pelan-pelan]
Lah… volume 1, 2, 3-nya mana?
Kok nggak ada? Wah, karya termutilasi™ ini!
*dilempar sandal*
…
…
Ah, BTW, kali ini saya akan jadi penonton yang baik. Ditunggu lanjutannya. ^^
IMHO sih, bagusnya gini mas: Kalau sudah komplit, dibikin file pdf-nya — terus di-link di setiap halaman posting (bagian 1, 2, 3… dst). Berikan notifikasi sbb:
Jadi pembaca yang nggak tertarik mengikuti komentar bisa follow through the argument dengan nyaman. ^^
sekalian isi file .pdf itu juga diindeks sama botnya mbah google.
Wah, seru sepertinya..
*gelar tiker*
@ Jensen :
Saya sendiri tidak tahu dimana.
Sering berada di sisi konflik, tetapi lebih banyak di sisi otonomi dan dialog.
@ Catshade :
Sabar….. tunggu sampai gacoannya keluar.
@ Sora9n :
Lho, bukannya judul Masygul sudah beberapa kali ditulis oleh pendekar-pendekar blog ? Vol. 1 oleh Amed, Vol. 2 oleh Sora dan Vol. 3 oleh Geddoe. Saya cuma kebagian Vol. 4 saja.
Dibikin format .pdf ya ? Masih dipertimbangkan karena ini juga hanya sebuah tulisan yang tidak terlalu “serius”. Nanti kalau sudah selesai semua baru saya bikin .pdf-nya.
Bukan gitu Om… Sora Vol. 1, Geddoe Vol. 2, saya spin-off sahaja
Saya nonton dulu…
Ikutan nonton…
@ jensen99 saya juga percaya air bah jaman Nuh lho! Gimana mau ga percaya? Wong kejadiannya berulang-ulang terus => contoh paling baru tsunami Aceh. Di candi Indonesia (saya lupa baca candi mana) yang memberi gambaran tentang bumi gonjang-ganjing, seperti hidup di atas kura-kura, maksudnya bergerak terus. Jangan-jangan dulu Nabi Nuh tinggalnya bukan di Timur Tengah tapi di Asia Tenggara, daerah rawan tsunami
@ pemilik blog saya malah penasaran kenapa dia ga (berani) nyerang Einstein. Ada penjelasannya?
Ngutip bebas kata buku: Orang-orang suka bingung kalo disuruh memilih antara “hidup” dan “Tu(h)an.” Padahal prinsip ketuhanan itu sendiri terintegrasi dalam kehidupan. Mau dicari di mana kalau tidak dalam hidup? (Helminski, Kabir. A knowing heart: a sufi path of transformation. Shambala, 2000).
@ jensen saya juga percaya bencana air bah jaman Nuh. Lha sekarang aja masih kejadian terus, contoh terbaru tsunami Aceh. Jangan-jangan dulu Nabi Nuh tidak tinggal di Timur Tengah tapi di Asia Tenggara, daerah rawan tsunami.
@ fertobhades Ada penjelasan kenapa Einstein tidak diikutsertakan?
Ngutip bebas kata buku: Orang suka bingung kalo disuruh milih antara “hidup” dan “Tu(h)an”. Padahal prinsip ketuhanan itu terintegrasi dalam kehidupan. Mau dicari di mana selain dalam hidup? (Helminski, Kabir. A Knowing Heart: A Sufi Path of Transformation. Shambala, 2000).
Ngikutin ah…
[...] lanjutan dari sini [...]