- lanjutan dari sini
- ini cukup panjang dan melelahkan
- maaf kalau sedikit berantakan karena editnya terburu-buru
- selamat menikmati
![]()
BAGIAN 2
Bagian 2 ini akan berisi berbagai kutipan yang saya ambil dari buku tersebut. Kutipan-kutipan ini akan disertai dengan komentar yang mencoba “membantah” apa yang menjadi inti argumentasinya.
Kutipan #1 :
Karena melihat kemajuan teknologi yang amat pesat, banyak orang menyangka bahwa intelek manusia sedang berkembang. Sebaliknya Alkitab mengajar bahwa intelek sedang merosot karena dosa.
(Bab 1, hal. 15)
Komentar :
Doktrin Hamartologi (Dosa) dalam teologi Kristen tidak pernah mengkaitkan kejatuhan manusia dalam dosa dengan konsep intelektualitas. Seorang bisa berbuat dosa sambil tetap memiliki intelektualitas yang tinggi. Apa yang dimaksud dengan “intelek” dalam kutipan diatas merancukan pengertian “intelek” dalam konsep-konsep pengukuran psikologi.
Istilah “intelek” dalam kutipan diatas dapat diterima jika dimaknai sebagai moralitas, akhlak, dan etika. Lalu [sebenarnya] apakah “intelek” bermakna sama dengan akhlak, moral, dan etika ?
Hakikat dosa sendiri [dalam beberapa teologi Kristen] dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Ada yang menekankan pada sudut pandang Sebab-sebab Dosa (Ketidaktahuan, Kesalahan, dan Kurang Perhatian). Ada penekanan pada Sifat Dosa (Salah Sasaran, Tidak Beragama, Pelanggaran, Kejahatan, Kurangnya Integritas, Pemberontakan, Pengkhianatan, Pemutarbalikan, dan Kekejian). Ada juga penekanan pada Akibat Dosa (Kegelisahan, Keburukan, Rasa Bersalah, dan Kesukaran). Dan tidak ada satupun yang mengkaitkannya dengan “intelektualitas”.
Lalu apa maksud dari kalimat “intelek sedang merosot karena dosa?”
Kutipan #2
Kata sekular dipakai dalam arti humanis, yaitu pandangan umum bahwa manusia tidak mungkin mengenal Allah.
(catatan kaki Bab 1, hal. 17)
Komentar :
Saya rasa bukan itu pengertian dari sekular/sekuler yang tepat [dalam arti humanis atau apapun juga]. Sekuler dapat berarti “tidak berhubungan/berkaitan dengan agama”. Sekuler juga bisa berarti “memisahkan agama dengan hal-hal dunia” seperti yang dilakukan beberapa negara “sekuler”. Jadi tidak pernah kata sekuler diartikan dengan kalimat “manusia tidak mungkin mengenal Allah”.
Istilah “manusia tidak mungkin mengenal Allah” bukanlah definisi dari “sekuler” tetapi istilah yang dikenal dalam teologi sebagai konsep “Allah yang transenden”. Allah yang transenden adalah Allah yang jauh, tinggi, tak terjangkau, dan berjarak dengan manusia. Allah transenden adalah Allah yang tak mungkin dikenal dan diketahui oleh manusia.
Istilah “manusia tidak mungkin mengenal/mengetahui Allah” adalah juga pengertian dari Agnosticism. Salah satu bentuk agnostisisme adalah kita tidak mengetahui apakah Allah ada [atau tidak], yang sering digolongkan sebagai “agnostisisme lunak”. Pengertian lain adalah kita tidak dapat mengetahui Allah, yang sering dikatakan “agnostisisme keras”.
Jadi kata “sekuler” dan artinya dalam kutipan diatas itu adalah salah kaprah.
Chapter 13 : Sains dan Reduksionisme
Sains berkembang dengan sangat pesat mulai era renaisans yang terjadi di Eropa. Sebagai anak kandung dari filsafat Yunani [dan juga tradisi dunia Islam yang akan diterangkan nanti], sains akhirnya mengambil bentuk sendiri dengan memberi penekanan yang lebih besar pada hal-hal yang empiris atau yang dapat diamati. Peran filsafat empirisisme [dengan salah satu pelopornya David Hume] menjadi bagian dari perkembangan sains.
Salah satu ciri khas dari sains adalah batasan yang dibuat oleh sains itu sendiri dalam memahami fenomena-fenomena alam yang diamati dan diteliti. Hal ini adalah sebuah prapengandaian filosofis ketika sains berusaha memahami alam. [Dan terus terang ini adalah ciri khas materialisme ilmiah dalam sains].
![]()
- Sains hanya memperhatikan aspek-aspek material dari dunia alamiah. Materialisme ilmiah hanya meneliti aspek-aspek “materi” belaka dari alam semesta ini. Implikasinya, segala sesuatu yang dipandang memiliki aspek “non-materi” tidak mendapat tempat dalam sains. Kalau dikaitkan dengan agama, maka konsep-konsep seperti Roh, Malaikat, Tuhan, Jiwa (soul) tidak mendapat konfirmasi dari sains karena sifatnya yang non-materi. Dengan kata lain, hanya materi yang tersisa dalam sains, dan tidak ada tempat bagi spiritualitas.
- Sains hanya membatasi dirinya pada penyebab sekunder dan melepaskan pertimbangan tentang penyebab primer sebagai bagian dari suatu struktur penjelasan. Penyebab primer [misalnya penyebab primer ilahi/prima causa] tidak menjadi suatu pertimbangan dalam penjelasan kausalitas dalam sains.
- Sains berusaha membatasi sistem-sistem yang diamati hanya pada bagian-bagian komponennya sebagai cara menyederhanakan pengamatan dan menjelaskan perilaku suatu organisasi pada aras yang lebih tinggi. Sains bergerak dari “level terendah” dan mengekstrapolasikan dirinya pada “level tertinggi”.
Batasan-batasan yang adalah dalam sains [materialisme ilmiah] membuat konsep-konsep agama menjadi sesuatu yang sulit untuk dipahami dalam konteks sains. Tetapi bagaimanapun juga, batasan-batasan itu perlu untuk memberikan sebuah sistem yang ketat dan terstruktur dalam penjelasan suatu fenomena.
Selain beberapa batasan-batasan dalam materialisme ilmiah diatas, ada konsep lain yang diterima dalam sains, yaitu Reduksionisme. Reduksionisme pertama kali berkembang dalam konteks filsafat sebagai salah satu cara berpikir yang mendegradasikan segala sesuatu dalam bentuk yang lebih sederhana. Sebagai contoh filsafat berciri reduksionisme adalah reduksionisme Nietzsche yang bahkan mendekati Nihilisme.
Filsafat reduksionisme kemudian masuk dalam konteks berpikir dalam sains, meskipun tidak semua ilmuwan dan cendekiawan menerima reduksionisme. Alasan dan keberatan mereka terhadap reduksionisme adalah sifatnya yang tidak melihat hal-hal yang “gestalt” sebagai sebuah realitas.
Ada beberapa reduksionisme yang dikenal dalam sains :
- Reduksionisme Metodologis, adalah klaim dan strategi penelitian untuk mempelajari keseluruhan dari bagian-bagiannya dan menerapkan teori-teori yang berhasil dalam satu bidang ke bidang keilmuan yang lain.
- Reduksionisme Epistemologis, adalah klaim bahwa proses, sifat, hukum, atau teori pada tingkat kompleksitas yang lebih tinggi seluruhnya dapat diturunkan dari tingkat yang lebih rendah.
- Reduksionisme Ontologis, adalah pandangan bahwa entitas pada aras yang lebih tinggi semata-mata merupakan organisasi yang kompleks dari entitas yang lebih rendah (sederhana).
- Reduksionisme Kausal, yang menegaskan bahwa semua sebab berasal dari “bawah ke atas”, yang berarti ciri-ciri dan proses dari bagian-bagian menentukan ciri-ciri dan proses keseluruhan.
- Materialisme Reduktif, yang menyatakan, dengan lebih gila lagi, bahwa hanya entitas pada aras terendah yang benar-benar nyata.
Tidak semua kalangan ilmuwan menerima reduksionisme ini. Reduksionisme yang ditolak dengan keras oleh banyak ilmuwan dan agamawan yang berusaha membangun dialog antara agama dan sains adalah reduksionisme ontologis dan materialisme reduktif.
Kutipan #3 :
Sikap yang demikian telah melanda kalangan ilmuwan dan cendekiawan. Sikap itu dapat dimengerti tetapi tidak dapat dipertanggungjawabkan. Teknologi, Sains, dan Iman tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi medan-medan yang lepas satu dengan yang lain. Firman Allah memberikan banyak keterangan kosmogonis dan kosmologis: mengenai terjadinya bumi dan pembentukan ulang kulit bumi, mengenai tata hidup dan tata pikir orang beriman maupun masyarakat yang tidak berTuhan. Alkitab kongruen (sesuai) dengan apapun yang diselidiki secara ilmiah.
(Bab 1, hal.
![]()
Saya setuju dengan beberapa point pada kutipan ini, misalnya kalimat “Teknologi, Sains, dan Iman tidak dapat dipisahkan menjadi medan-medan yang lepas satu dengan yang lain”.
Tetapi kalimat itu harus diartikan lebih jauh lagi. Apakah arti “lepas satu dengan yang lain” itu ? Di Bagian 1, saya telah menulis tipe-tipe persinggungan antara Sains dan Agama. Tipe apakah yang dimaksud oleh buku ini ?
Kesan saya, ada satu tipe yang dimaksud dari tulisan diatas, yaitu Konflik. Selain itu, jika saya membaca kesimpulan secara keseluruhan dari buku ini, maka yang timbul bisa jadi adalah Dominasi. Salah satu pihak [yaitu Agama] menjadi pihak yang mendominasi pihak lain (sains). Jika sains ingin “berjalan menurut rel yang benar [menurut agama]“, maka sains harus tunduk pada agama.
Kalimat yang saya tebalkan adalah salah satu permasalahan lain. Saya tidak habis pikir ketika seseorang [entah teolog atau orang awam] mengatakan bahwa “Kitab Suci A sudah menjelaskan tentang fenomena alam X” atau “Kitab Suci A bisa menjadi rujukan bagi penemuan-penemuan sains modern“. Juga dengan literatur apologetik lain yang setipe dengannya.
Hal itu memberikan kesan bahwa Kitab Suci adalah BUKU ILMIAH. Dengan kata lain Agama disamakan dengan sains, padahal kalau kita bedah satu persatu, mulai dari metode sampai paradigma dalam sains dan agama, kebanyakan berisi hal-hal yang bertentangan. Jadi literatur apologetik seperti itu tidak memberikan apa-apa selain hanya “menambah secuil keyakinan” bahwa kitab suci kita memang benar-benar adalah Firman Tuhan.
Kesan lain adalah : Jika seseorang ingin mengetahui kebenaran ilmiah maka tidak perlu repot-repot meneliti, karena cukup baca kitab suci dan…. abrakadabra….. jawabannya sudah ada disitu. Menyedihkan.
Dan satu lagi, kutipan diatas seakan-akan menegaskan bahwa Kitab Suci (Alkitab) tidak perlu ditafsirkan lagi, karena sudah mampu menafsirkan dirinya sendiri. Saya pikir, apa yang dikatakan oleh penulis tentang Alkitab adalah Firman Tuhan dalam penafsiran si penulis; apa yang diartikan dari apa yang tertulis. Sementara apa yang tertulis bisa diartikan bermacam-macam.
Chapter 17 : Dapatkah Kita Mengetahui ?
Pertanyaan “dapatkah kita mengetahui” adalah pertanyaan yang dikenal dalam epistemologi. Seringkali muncul sama dengan pertanyaan lain seperti “apakah pengetahuan itu” atau “bagaimanakah kita dapat mengetahui” dan lain-lain.
Pertanyaan ini menghantar kita pada satu aliran yang cukup terkenal yaitu skeptisisme. Skeptisisme terbagi lagi dalam beberapa bagian yang saya jabarkan dibawah ini, tentunya dengan batasan-batasan yang longgar.
1. Skeptisisme Lengkap
Ada 2 jenis skeptisisme lengkap. Yang pertama, adalah skeptisis yang menegaskan bahwa kita tidak memiliki pengetahuan apapun. Kita bisa saja percaya ini atau itu, namun kita tidak pernah bisa menyatakan bahwa kita mengetahui sesuatu. Kedua, adalah skeptisis yang memungkinkan kita memiliki pengetahuan dari pengalaman kita yang paling akhir, namun pengetahuan selain itu adalah tidak mungkin.
Socrates adalah salah satu tokoh skeptisisme lengkap, dengan salah satu pernyataannya yaitu, “sepanjang pengetahuan saya, saya tidak tahu apapun”. Pyrrho adalah tokoh skeptisisme lainnya, sama seperti Socrates, yang tidak meninggalkan tulisan apapun tetapi bergaya hidup skeptis. Ternyata skeptis bukan hanya sekedar pemikiran tetapi juga masuk dalam gaya hidup praktis.
Tokoh lainnya adalah Sextus Empiricus. Skeptisisme Sextus Empiricus memiliki tiga tahap : antitesis, epoche, dan ataraxia.
Antitesis meliputi penyajian berbagai pernyataan yang kontradiktif tentang pokok/tema yang sama. Pernyataan-pernyataan ini disusun sedemikian rupa sehingga saling bertentangan, dan tampak sama-sama mungkin atau sama-sama tidak mungkin. Contohnya sebuah menara dilihat dari jarak jauh berbentuk segi empat, namun menara yang sama dari jarak dekat berbentuk bulat.
Epoche adalah penangguhan penilaian. Alih-alih menerima atau menolak setiap pernyataan yang ada, orang harus merangkul semua pernyataan yang tidak sesuai satu sama lain dan tidak memberikan penilaian atas masing-masing pernyataan tersebut.
Ataraxia adalah suatu keadaan tanpa kegelisahan yang penuh kebahagiaan dan kedamaian dalam pikiran. Bila hal itu terjadi, orang terlepas dari dogmatisme. Ia dapat hidup dengan damai dan terbebas dari dogma di dunia, dengan mengikuti kehendak hatinya.
Tokoh lainnya adalah David Hume. Hume terkenal karena serangannya terhadap fondasi pengetahuan empiris khususnya penalaran induksi. Bagi Hume, tidak ada generalisasi tentang pengalaman yang dapat dibenarkan secara rasional. Tidak ada proposisi tentang pengalaman yang diperlukan, atau yang a priori, karena sangat mudah bagi seseorang untuk membayangkan dunia dimana proposisi tersebut menjadi tidak benar.
Contohnya yang terkenal adalah, “matahari akan terbit besok pagi”. Hume mengatakan bahwa “alasan mengapa kita percaya matahari akan terbit besok pagi karena adalah karena matahari selalu terbit tiap pagi hingga saat ini”. Bagi Hume, induksi sama sekali bukan proses penalaran, melainkan suatu kebiasaan untuk mengharapkan peristiwa-peristiwa serupa terjadi dalam keadaan sekitar yang juga serupa.
2. Skeptisisme Longgar
Skeptisisme Longgar (mitigated skepticism) ditandai dengan penolakan atas berbagai penyataan pengetahuan yang melampaui pengalaman yang ada, meskipun masih mengakui beberapa jenis pengetahuan yang terbatas. Salah dua tokohnya adalah Bishop John Wilkins dan Joseph Glanvill. Mereka membedakan antara “pengetahuan yang mutlak kepastiannya” dan “pengetahuan yang tidak diragukan kepastiannya”.
Pengetahuan yang “mutlak kepastiannya” tidak dapat dicapai oleh manusia karena kemampuan manusia bisa kurang baik atau buruk. Ia bisa tertipu dengan merasa bahwa berbagai hubungan di dunia ini perlu, padahal sesungguhnya hubungan itu hanya cocok.
Pengetahuan yang “tidak diragukan kepastiannya” menurut mereka masih mungkin. Ada banyak keyakinan yang tidak ada alasan bagi kita untuk diragukan. Contohnya adalah asumsi bahwa “matahari akan terbit besok” atau “air itu basah”. Sesungguhnya bila ada yang meragukannya maka dianggap aneh atau mengalami gangguan.
Dengan adanya perbedaan antara pengetahuan yang mutlak kepastiannya dan pengetahuan yang tidak diragukan kepastiannya, Wilkins dan Glanvill mengembangkan sebuah teori penyelesaian masalah dalam batas “keraguan yang masuk akal” (reasonable doubt). Skeptisisme longgar dan reasonable doubt dianut dalam teori Anglo-Amerika dalam bidang legal/hukum.
3. Skeptisisme Terbatas
Skeptisisme terbatas (limited skepticism) berhubungan sangat erat dengan skeptisisme longgar. Dalam skeptisisme ini tipe-tipe pernyataan pengetahuan tertentu dipertanyakan oleh orang-orang skeptis. Misalnya pertanyaan yang diajukan kepada metafisika dan teologi.
Salah satu tokohnya adalah A.J. Ayer (1910-1970) yang merupakan penganut dan pembela positivisme logis. Ayer menyerang metafisika melalui analisis bahasa yang dilakukan dengan membatasi istilah pengetahuan untuk tautologi yang benar secara logika dan fakta-fakta yang dapat dibuktikan secara empiris.
Yang menjadi persoalan bagi kaum positivis logis adalah bagaimana melihat mana pernyataan yang benar-benar tentang realita dan mana yang bukan. Alat yang dirancang untuk tugas itu disebut prinsip verifikasi atau pengujian (bandingkan dengan falsifikasi Popper dan interogasi Socrates). Prinsip verifikasi mempunyai sejarah yang sangat panjang melalui sejumlah formula dan juga pembuktian kesalahan.
Intinya adalah : “Setiap pernyataan yang terhadapnya kita tidak dapat menunjukkan syarat-syarat yang mendukung atau menyangkal kebenarannya, bukanlah pernyataan tentang realitas dan karenanya bukan merupakan pengetahuan”.
Dengan prinsip verifikasi, Ayer berpendapat bahwa metafisika harus dihilangkan selamanya, karena pernyataan metafisika tidak dapat dievaluasi berdasarkan bukti-bukti empiris, sehingga pernyataan itu bukan pernyataan yang asli tentang realitas. Bahkan dengan ekstrim Ayer mengatakan bahwa metafisika bukan hanya tidak benar tetapi juga tidak memiliki arti.
Tokoh lainnya adalah Anthony Flew yang menyerang pernyataan tentang pengetahuan keagamaan. Flew menyanggah setiap pernyataan kebenaran dan realitas yang berhubungan dengan pengetahuan agama.
Menurut Flew, para penganut teisme memulai dengan apa yang disebut sebagai “hipotesis yang kuat yang menghilangkan seribu syarat”. Flew banyak memberikan contoh tentang hipotesis yang menghilangkan banyak syarat ini, misalnya contoh tentang tukang kebun dan seorang karyawan.
Misalnya ada seorang karyawan yang mengatakan bahwa Allah mengasihinya. Dalam perjalanan ke kantor, mobilnya mogok dan ketika dia ke bengkel diberitahu bahwa biaya perbaikan sebesar gajinya sebulan. Ketika si karyawan melanjutkan naik bus ke kantor, di tengah jalan dia dirampok dan uang di kantongnya diambil semua. Setiba di kantor, bos memecatnya. Ketika sampai di rumah dia diberi kabar kalau anaknya kecelakaan.
Tetapi tetap saja si karyawan mengatakan Allah mengasihinya.
![]()
Flew berpendapat bahwa setiap keyakinan yang cocok dengan semua keadaan tidak mempunyai arti. Artinya, kepercayaan teist pada Allah tidak ada artinya karena penganut teisme tidak dapat membiarkan pengalaman apapun untuk dapat melawan pendapatnya/ keyakinannya (lihat cerita si karyawan di atas). Jika para teis mengizinkan bukti-bukti yang berlawanan, kepercayaan kepada Allah akan dipalsukan. Pengetahuan mengenai Allah, menurut Flew, bukan hanya tidak benar namun lebih tepatnya adalah tidak berarti atau tidak masuk akal.
4. Skeptisisme Metodologis.
Lihat pembahasan tentang Cartesianisme yang banyak tersebar di blog ini.
![]()
….masih bersambung (entah kapan juga)……..







*menyesal ndak mematuhi disclaimer*
pusiiiing…
menunggu kuliah selanjutnya aja deh…
Anu… chapter 13 dan 17 yang di-blockquote di atas itu maksudnya apa? Kutipan asli dari bukunya, atau sudah ditanggapi sama mas fertob?
Soalnya kesannya rancu. Ada “kutipan” yang ditanggapi, terus di bawahnya “chapter” — tapi yang “chapter” kesannya satu arah (i.e. tidak dialogis). ^^a
Francis Bacon, yang bilang tantum posumus, quantum scimus (”Kita mampu melakukan sesuatu sebatas yang kita tahu”), masuk dalam skeptisisme mana, Bang?
Ah, mengenai skeptisismenya David Hume, bukannya empirisme demikian, juga ada yang terbantahkan oleh argumen Kant? Saya melihat ada benarnya induksi Hume seperti analogi angsa hitam dan angsa putihnya, tapi argumen Kant yang menunjukkan bahwa empirisme Hume itu memiliki celah yang “lowong”, juga bisa dipahami, bukan?
Saya baru belakangan baca2 buku filsafat lagi, sejak
terpaksanongkrong di toko, jadi maaf kalo komennya ndak lengkap begini. Banyak yang udah lapuk dari ingatanUhuk, sesungguhnya…
Oh, iya:
Contoh tukang kebunnya mana, bang?
Apologetikanya belum sampai pada bagian yang
merangsangmenarik…*penonton masih kecewa*
Tulisannya Terlalu runut sampe2 ga ada celah untuk dikomentari, om..
Nunggu sambungannya aja deh…
Menurut saya simple…
agama, sains, dan sebagainya itu hanya tool atau alat untuk menuju manusia bahagia…sudah menjadi kodrat manusia itu mencari kebahagiaan…so mau ada agama, ada sains, tidak ada tuhan, tidak ada abcde…..asal kita bahagia …mulai dari sekarang….karena masa lalu adalah history dan masa depan adalah ilusi…semua bisa dibuang atau dipake atau dipilah2 untuk menuju kebahagiaan masing2…..sangat simple…
kalau saya jelas…agama membuat saya tambah bingung dan tidak bahagia…jadi ya tidak saya pakai….
salam
wawan
[...] saya menjelaskan tentang skeptisisme dan varian-variannya di tulisan saya sebelumnya, saya memberikan contoh tukang kebun dan karyawan dalam Skeptisisme Terbatas model Anthony Flew. [...]