Feeds:
Tulisan
Komentar

Archive for Mei, 2010

Mati Gelar

  • sebuah tulisan lama yang sempat tercecer
  • mudah-mudahan bisa aktif ngeblog :lol:










*gaya ngobrol ON*




Sebenarnya apa sih gunanya gelar [akademik] ?

Pertanyaan itu terkadang timbul dalam benak saya ketika melihat begitu banyak orang menderetkan sejumlah gelar di depan/belakang namanya. Saya sendiri punya beberapa pengalaman “lucu” tentang hal ini.

Saya pernah membandingkan kartu nama saya dengan kartu nama rekan-rekan. Banyak persamaannya, tetapi perbedaan yang paling jelas adalah : saya tidak mencantumkan gelar. :-) Hanya nama Fer.. Tob… saja. Tanpa embel-embel.

Entah kenapa kartu nama tanpa gelar itu mengundang beberapa “komentar miring” tentang kemampuan saya. Bahkan ada beberapa pejabat birokrasi yang menanyakan langsung keahlian saya karena tidak melihat gelar di kartu nama saya. Bahkan saya hanya menuliskan nama tanpa gelar untuk mengisi formulir-formulir resmi dari instansi berwenang. Nama yang tertera pada akte kelahiran dan KTP.

Pengalaman itu memang tidak mengenakkan tetapi saya cuek saja.

Ada kisah nyata lain yang cukup lucu. Pada Pemilu Legislatif lalu ada seorang caleg DPR di kota Sorong yang memasang poster di jalan depan rumah saya. Posternya berukuran besar dan lumayan banyak tersebar di kota Sorong.

Nama caleg itu ditulis dengan menderetkan sejumlah gelar yang dimilikinya. Tapi ada yang lucu disitu. Di namanya tertulis :




Dr.(candidate) NAMA CALEG [gelar A][gelar B]





Saya sering tertawa jika sedang melintasi poster itu. Bayangkan, dia menuliskan gelar DOKTOR di depan namanya sementara dia belum lulus/belum sah mendapatkan gelar Doktor dan masih kandidat belaka atau masih menjalani program doktor.

Kalau begitu, SEMUA orang yang berkualifikasi mengikuti program doktor adalah KANDIDAT DOKTOR dan berhak untuk mencantumkan gelar DR. di depan nama mereka meskipun mereka belum lulus program doktor. Berarti saya juga kandidat doktor dong. :-)

Yah, mulai sekarang panggil saya DOKTOR (cand.) Fertob. Oke…







Mengapa Mati Gelar ?




Saya pikir semua orang ingin dikenal dan dihargai karena dia memiliki suatu keahlian dan kemampuan tertentu. Keahlian dan kemampuan itu didapat melalui pendidikan yang berjenjang. Mulai dari jenjang terendah sampai pendidikan tinggi. Gelar yang diberikan oleh perguruan tinggi sendiri dibagi 2 yaitu : Gelar Akademik dan Gelar Profesional (Lihat Keputusan Mendiknas No. 178/U/2001 tentang Gelar dan Lulusan Perguruan Tinggi)

Gelar yang diperoleh menjadi ukuran kemampuan seseorang dalam suatu bidang yang menjadi kemampuannya. Gelar hanya tanda, simbol, dan lambang yang bisa dilihat, sementara kemampuan dan keahlian sendiri tidak terbatas pada gelar itu saja. Bisa saja seseorang yang memiliki gelar justru malah tidak memiliki kemampuan mumpuni di bidang itu. Entah karena cara memperolehnya tidak benar atau alasan lain.

Bisa saja seorang SE Akuntansi tidak tahu apa itu Laporan Keuangan Konsolidasi, atau General Ledger atau bahkan tak tahu apa definisi akuntansi. :lol:

Bisa saja seorang sarjana psikologi (S.Psi) tidak tahu tentang Tahap Perkembangan Psikoseksual Freudian, atau apa itu IQ, bahkan tidak bisa membedakan psikologi dan psikiatri. :lol:

Bisa saja kan ????




catatan kecil :
dalam daftar caleg tetap yang dikeluarkan KPU Kota Sorong ada seorang caleg yang menuliskan namanya dengan banyak gelar. Yaitu : Drs. Nama Caleg, M.Si, MM, M.Th.

secara iseng saya menuliskan singkatannya; di rumah saja (drs) XXXX Magister Sia-sia, Magister Main-main, Magister anTah-berantah.

dengan sejuta maaf buat mereka yang mempunyai gelar itu. :lol:





Yang sering saya lihat adalah pencantuman gelar bukanlah menjadi ajang pamer kemampuan dan keahlian tetapi seringkali menjadi ajang pamer gengsi. Itulah yang kebanyakan menjadi dorongan bagi seseorang untuk mendapatkan gelar : menambah gengsi dan harga diri di mata orang lain. Ilmunya sendiri, yang menjadi dasar pencapaian gelar, menjadi prioritas kesekian.

Dan tidak heran kalau akhirnya banyak muncul para calo gelar. Orang-orang yang menawarkan gelar cukup hanya dengan membayar sekian rupiah. Ayah saya pernah ditawarin gelar Doktor dari universitas fiktif hanya dengan membayar sekian juta rupiah. Tetapi beliau menolaknya.

Di Sorong, banyak sekali saya temukan isu-isu yang beredar tentang keabsahan gelar akademik seorang pejabat publik. Itu sudah jadi rahasia umum. Ada seorang anak pejabat yang kabarnya tidak lulus kuliah (S1) tetapi ketika pulang tiba-tiba mencantumkan gelar S2 di belakang namanya. So funny. :-)

Dan masih banyak yang lainnya, termasuk catatan kecil diatas.







Apa Yang Harus Dilakukan?




Ini bukanlah sebuah langkah mujarab tetapi ketika melihat fenomena ini, yang saya sedihkan bukanlah pemakaian gelar itu sendiri. Gelar wajar dicantumkan meskipun saya sendiri hampir tidak pernah memakainya.

Yang justru menjadi perhatian adalah karena begitu pentingnya arti sebuah gelar bagi kebanyakan orang [gengsi, harga diri, dll] maka makna dibalik gelar itu sendiri menjadi hilang. Itulah yang namanya KUALITAS manusia yang memakai gelar. Demi sebuah gelar orang rela menggunakan jalan pintas termasuk membeli gelar.

Dari sisi personal saya hanya bisa memberikan beberapa cara supaya fenomena ini setidaknya bisa dihilangkan.




  • Yakinkan diri anda [dan orang lain] bahwa nama anda adalah unik, spesial, khas, dan sangat berharga, tanpa perlu ditambahi dengan berbagai macam embel-embel yang mengikutinya.
  • Biasakanlah untuk menuliskan HANYA NAMA ANDA di semua lembaran formulir, dokumen, surat-surat, dan lain-lain. Hanya nama saja tanpa perlu menambah atribut-atribut yang menunjukkan siapa anda.
  • Janganlah menilai kemampuan seseorang HANYA karena orang tersebut memakai banyak gelar dan atribut yang menyertai namanya.
  • Jangan merasa bahwa anda akan lebih dihargai jika menambah gelar berderet-deret di depan/belakang nama anda. Penghargaan terhadap manusia tidak bisa dilihat hanya dengan itu saja. Hargailah orang yang justru tidak bergelar tapi menunjukkan kualitas yang mumpuni daripada orang yang bergelar tetapi kualitasnya nol besar.
  • Gelar adalah ukuran kemampuan seseorang dalam suatu bidang tertentu dan bukan ukuran penilaian dalam skala yang lebih luas. Gelar adalah bukti bahwa seseorang berhasil melalui suatu kualifikasi mutu untuk disebut ahli dalam suatu bidang.
  • Hargailah proses daripada hanya sekedar hasil. Proses yang dilalui melalui sebuah perjuangan dan bukan melalui cara-cara instan.




Cara-cara diatas hanyalah sebuah advis personal. Tentunya ada cara-cara lain yang bisa kita lakukan, dan itu terserah pada anda.

Saya masih berpikir, sebenarnya apa gunanya gelar? :lol:

Read Full Post »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.