Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Philosophy’ Category

  • tentang deskripsi diri
  • rencananya mau dibikin 2 subjudul tapi kepanjangan
  • agak rumit

[background]

  • Silver : The Best of the Box – Nirvana
  • Freecell Game – 27 current winning streaks :mrgreen:

Descartes : Nabi Sesat Blogger*

Kalau anda jalan-jalan (blogwalking) ke beberapa blog, baik itu di WordPress atau dimana saja, saya rasa anda mungkin penasaran untuk mengetahui siapa orang dibalik suatu blog. Biasanya ini adalah awal dari perkenalan dan hubungan lebih lanjut. Nah, halaman yang biasanya dikunjungi adalah halaman About – Siapa Saya – Who Am I – Tentang – Myself atau nama yang lain yang memberikan gambaran tentang si blogger.

waspadalah agar anda tidak tersesat…

Read Full Post »

  • tulisan ini berat dan panjang
  • sebenarnya cuma iseng
  • maaf buat Mbak Gadiza Fauzi kalau namanya digunakan. 🙂
  • tersentil dari tulisan [ini] dan [ini]
  • tidak ada kata hujatan disini
  • kalau tulisan ini berharga, silakan di-save terlebih dahulu

Sebenarnya bukan tulisan ini yang ingin saya publikasikan karena ada tulisan lain menyangkut jenis kelamin Tuhan yang lebih “penting”. Tapi berhubung saya sedang iseng dan sedang mood untuk menulis yang berat-berat, maka tulisan ini yang nongol.

Tapi sebelum saya menuliskan postingan kali ini, saya sempat bermain-main dulu ke blog NewsAnchorAdmirer dan melihat-lihat gambar-gambar “segar” seputar pewarta berita (anchor) televisi. Ada berita tentang anchor MetroTV yang baru yaitu Githa Nafeeza, juga ada berita Anchor of the Year 2007 yaitu Gadiza Fauzi, serta Rahma Sarita, Anchor of the Month bulan February 2008.

Menarik. Selama ini saya kalau menonton berita sangat jarang memperhatikan SIAPA yang menjadi pewartanya (anchor). Karena lebih fokus pada berita yang disampaikan, saya jadi tidak begitu mengetahui siapa-siapa saja anchor berita di televisi. Padahal semuanya cantik-cantik, ganteng-ganteng, dan berpenampilan menarik, setidaknya begitu kata orang. 🙂

Lalu menurut blog itu, Gadiza Fauzi dinobatkan sebagai Anchor of the Year 2007. Saya sebenarnya juga suka sama Gadiza Fauzi karena senyumnya yang manis dan imut-imut itu. 😆 Tapi cara menyampaikan beritanya seperti hendak “terpeleset” dan salah ucap. Lain lagi kalau Zelda Savitri yang menyampaikan berita di Metro This Morning atau program berbahasa Inggris di Metro TV lainnya, dia berbicara seperti meluncur dengan ski es diatas salju dengan kecepatan tinggi : lancar dan sangat fasih. Saya yang listening ability dibawah rata-rata bisa jadi bingung sendiri. Beda kalau Kania Sutisnawinata yang menyampaikan berita.

Tapi anchor berita favorit saya, selain Gadiza Fauzi dan Kania Sutisnawinata, adalah Amelia Ardan. Suaranya enak didengar, empuk, menyejukkan, dan senyumnya itu lho…. keibuan banget. 🙂 Nah, kalau saya yang menjadi juri tunggal siapa Anchor of the Year 2008, maka saya akan memilih Amelia Ardan dari MetroTV. Pokoknya™ Amelia Ardan itu favorit saya. Ada yang protes ?

lanjut aja deh….

Read Full Post »

  • masih membingungkan
  • bahasa yang rumit
  • masih berlanjut

Salah satu kesulitan utama ketika berbicara tentang manusia adalah : dengan cara apa manusia itu dipahami. Yang dimaksud dengan “cara” adalah pendekatan yang diambil ketika seseorang membicarakan manusia. Adalah sesuatu yang kurang tepat jika ketika membicarakan manusia, seseorang menggunakan pendekatan keseluruhan (wholeness).

Masalahnya bukanlah pada pendekatannya, tetapi pada hal yang berusaha dipahami. Ketika berusaha membahas manusia, pada dasarnya seseorang sedang membedah, mengurai, menganalisis (bukan sintesis) seperti apa itu manusia. Dan dengan demikian yang dilakukan adalah berusaha melihat dari suatu dimensi yang ada pada manusia.

Misalnya kalau kita bicara tentang konsep manusia dalam hubungannya dengan Tuhan. Pemikiran yang ada selama berabad-abad biasanya selalu menempatkan konteks ini dalam sebuah perdebatan seru. Dalam beberapa isme yang membahas hal ini, hampir semuanya berujung pada pemahaman bahwa Tuhan itu susah untuk dipahami dalam konteks manusia.

Contohnya seperti ini.

Idealisme berbicara tentang manusia. Menempatkan ide, konsep, dan pikiran manusia sebagai keseluruhan manusia. Semua berawal dan berakhir dalam tataran ide, dan manusia juga begitu. Jika ini diamini maka Tuhan tak lain adalah sebentuk ide dan konsep yang “diciptakan” oleh manusia.

Materialisme berbicara tentang manusia. Manusia tak lain dan tak lebih adalah materi, dan itulah keseluruhan manusia. Ketika materi yang nyata secara fisik menjadi ukuran, maka hal-hal lain yang tidak hadir secara materi ditolak. Itulah yang membuat Tuhan tidak hadir dalam keseluruhan manusia karena ketidakhadirannya sebagai materi yang nyata.

Eksistensialisme juga membicarakan manusia. Eksistensialisme menolak idealisme dan materialisme menjadi “alat ukur” utama manusia. Manusia keseluruhan bukanlah sekedar ide yang abstrak atau materi yang fisikal. Manusia ditempatkan dalam ukuran eksistensi, atau Eksistenz, mengutip Jaspers dan Heidegger. Karena ukurannya adalah eksistensi manusia, maka Tuhan bukan lagi sesuatu yang relevan karena keseluruhan manusia dilihat dari eksistensinya dan Tuhan tidak mendapat tempat disitu.

lanjut ajah….

Read Full Post »

  • mengikuti saran Guh… 🙂
Kalau anda pernah membaca tulisan-tulisan dari para filsuf kontemporer sekarang ini, mulai dari Baudrillard, Derrida, Kristeva, Foucault, Barthes, Eco, atau siapa saja yang sering dikategorikan post-structuralism, maka selalu saja ada sesuatu yang dihubungkan dengan tulisan-tulisan mereka. Sesuatu yang tiap detik membombardir kesadaran manusia dengan berbagai informasi sehingga tidak mampu lagi membedakan mana yang “real” dan mana yang “semu”.

Dan sesuatu itu adalah MEDIA INFORMASI.

Dikatakan bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk menyaring informasi mana yang penting dan mana yang tidak, dan informasi mana yang perlu dilanjutkan untuk diolah dan mana yang berhenti sampai pada level penginderaan. Tapi media punya kemampuan lain yang bisa mengeliminasi kemampuan manusia itu. Media mempunyai kemampuan untuk menumpulkan penyaringan subyektif psikologis pada diri manusia.Pembombardiran tiap detik dengan informasi dari beragam media (televisi, internet, surat kabar, tabloid gosip, radio, dll) justru membuat kenyataan yang dihadapi oleh manusia bukanlah kenyataan yang sebenarnya (the real) tapi kenyataan yang dipaksakan oleh media kedalam kesadaran tiap orang yang bersentuhan dengannya. Kenyataan itu bukanlah kenyataan an sich, tapi kenyataan yang terdistorsi.

Orang lalu merekonstruksi suatu kenyataan berdasarkan apa yang didengar dan dilihat dari media. Orang akhirnya membentuk suatu opini bukan dari hasil pengalamannya dengan kenyataan sebenarnya, tetapi opini yang terbentuk oleh media sebagai sebentuk kenyataan baru. Inilah cikal bakal realitas baru, yaitu realitas yang semu atau kata beberapa filsuf yang saya sebutkan diatas : hiper-realitas.

Sebegitu hebatkah kemampuan media [komunikasi] itu ?

Contoh kehebatannya bisa dilihat pada berita tentang Soeharto kemarin. Hampir semua media membicarakan hal itu. Tiap hari kita diberikan sarapan detik-detik menegangkan dari RSPP, ditambah analisis para pakar, ditambah tayangan infotainment para pejabat dan selebritis yang masuk media hanya karena membezuk Soeharto, ditambah pro-kontra soal Soeharto, dan ditambah spekulasi-spekulasi metafisik dan paranormal tentang Soeharto.

Perumpamaan lain bisa anda lihat pada contoh fiktif dibawah ini.

Anda diberikan suatu informasi [oleh media] tentang ancaman kelaparan dan kekurangan gizi di Amerika Serikat. Digambarkan banyak anak-anak yang kurus, berbalut tulang, mengais-ngais tanah sembari ditonton Burung Pemakan Bangkai. Kondisinya sangat memprihatinkan.

Diberitakan bahwa AS sedang menuju pada kehancuran karena kekurangan bahan pangan, dan akhirnya mengemis-ngemis kemana-mana untuk mencari bantuan pangan. Pertanian AS hancur karena pestisida dan perubahan musim yang ekstrim serta kebijakan yang tidak becus. Ditambah dengan bencana alam yang susul menyusul.

Dan informasi itu diberikan terus menerus dan berkesinambungan kepada anda tiap hari, tiap detik, tiap menit, menjelang sarapan pagi, dan menjelang anda tidur.

Lalu kemudian anda ditanya : Apa pendapat Anda tentang hal itu ?

Dan itulah yang terjadi dengan kasus “detik-detik menegangkan menjelang, ketika, dan sesudah meninggalnya Soeharto” kemarin.

Realitas tentang Soeharto berubah, bukan lagi realitas sebenarnya tentang apa yang menjadi masalah utama, tetapi realitas yang ditampilkan media dengan berbagai informasi yang tiap detik menerjang kesadaran manusia. Pertahanan filter manusia akhirnya runtuh disitu. Dan memang sudah sewajarnya runtuh.

Setelah realitas baru (hyperreality) itu ditampilkan dan dijadikan sebagai sepenggal kebenaran baru, kemudian orang-orang ditanya : apa kesan-kesannya tentang Soeharto ? 😕

Hohohohohoho…. *ikut gaya Pak Raden* 😆

Dan saya tidak heran kalau akhirnya opini yang terbentuk adalah hasil dari realitas semu yang ditampilkan oleh media. Mau terbelah dua, mau pro-kontra, mau memaki-mengkultuskan, mau memaafkan-menghukum, dan sejuta yang lain, pada dasarnya orang-orang beropini bukanlah atas dasar realitas yang sebenarnya. Tetapi realitas yang ditentukan oleh media dengan memakai momentum kedukaan kasus Soeharto.

Sebenarnya, realitas tentang Soeharto yang kita santap beberapa hari yang lalu adalah suatu hiper-realitas. Dan apa jadinya kalau kita beropini diatas suatu kondisi realitas seperti itu ?

Mbuh, tanya aja sama para pemikir-pemikir itu. Saya masih pusing ini. :mrgreen:

Read Full Post »




Semua manusia mati. Soeharto manusia.
[maka] Soeharto mati

Itu logika silogisme [ala Aristoteles] yang saya rasa pernah kita pelajari. Intinya, segala sesuatu yang partikelir [khusus] harus mengikuti yang universal [umum]. Maaf kalau mengkaitkannya dengan mantan presiden Soeharto yang baru saja meninggal dunia. 🙂




Logika itu tidak bisa dibalik menjadi seperti ini :




Semua manusia mati. Soeharto mati.
[maka] Soeharto manusia.

Bisa menemukan perbedaannya kan ? Kalau belum, silakan lihat [tulisan ini] 😉

Dari logika itu, selain inti logikanya sendiri dan juga fallacy-fallacy yang mengikutinya, kita bisa mengambil salah satu hakikat manusia yang biasanya selalu dikaitkan dengan siklus kehidupan, yaitu MATI. Lahir dan mati adalah hakikat manusia. Ditengah-tengah antara kedua hal itulah, manusia adalah suatu eksistensi. Tapi apa sebenarnya manusia itu memang banyak menimbulkan pertanyaan.




************




Sejak ribuan tahun yang lalu, para filsuf telah berusaha menjawab satu pertanyaan dasar yang sampai sekarang masih terus dilakukan. Yaitu : Apakah manusia itu ? Pertanyaan ini juga berhubungan dengan apa hakikat, esensi, substansi, dan eksistensi dari manusia. Pertanyaan-pertanyaan lain juga menyusul, termasuk apa perbedaan utama antara manusia dengan makhluk hidup yang lainnya. Jika ada perbedaannya, maka apa dasar [fundamental] dari perbedaan itu.

Ada satu pandangan pemikiran yang bercorak filsafat antropologis yang mencoba menjawab pertanyaan tentang manusia. Pemikiran ini dulu sering diungkapkan oleh Guru saya, Prof. Fuad Hassan ketika menjelaskan tentang filsafat manusia : Ernst Cassirer.

Ada beberapa karya Cassirer yang membahas tentang masalah itu, dan dari sekian banyak bukunya, ada 3 buku yang pernah saya baca, yaitu An Essay on Man, Philosophy of Symbolic Forms, dan Philosophy of the Enlightenment.

Cassirer pada dasarnya tidak terlalu menjauhkan perbedaan antara manusia dan binatang. Dia menyoroti satu sisi dari manusia yang sering terlewatkan dalam sejarah pemikiran filsafat tentang manusia, yaitu manusia sebagai makhluk kultural. Banyak yang mengatakan bahwa Cassirer mencoba menggeser strukturalisme ke arah kulturalisme. Tapi, pemikiran-pemikiran Cassirer, menurut saya, jarang terdengar dan kurang terkenal.

Dunia manusia adalah dunia yang terdiri atas 2 bagian :




  • Sign (tanda)
  • Pada dasarnya, sign dimiliki juga oleh binatang, ketika binatang bereaksi terhadap suatu stimulus yang menghasilkan suatu respon. Respon yang ditampilkan dalam sign adalah respon yang berinterpretasi tunggal (mono-interpretation).

    Pada binatang itu bisa dilihat dengan jelas. Misalnya ketika seekor anjing memberikan tanda berupa air kencing pada suatu benda/daerah, maka bagi si anjing hal itu berarti benda/daerah itu adalah daerah “kekuasaannya”. Respon lain bisa kita lihat ketika kita memberikan makan hewan peliharaan maka apa yang kita lakukan diartikan oleh hewan itu sebagai tanda bahwa dia akan mendapat makanan. Lihat lagi percobaan Pavlov dengan anjing.

    Pada manusia, sign bisa dilihat pada rambu-rambu lalu lintas atau tanda baca yang digunakan dalam menulis. Tanda dan rambu itu selalu bermakna tunggal. Karena hanya sopir gila yang menerobos lampu lalu lintas dan penulis gila yang menulis tanpa tanda baca. :mrgreen:

    Sign lebih banyak dipengaruhi oleh insting dan naluri dari “binatang” yang bereaksi secara terbatas dengan satu interpretasi terhadap lingkungan sekitarnya.




  • Symbol (lambang)
  • Berbeda dengan sign, symbol (lambang) tidak terbatas pada satu interpretasi saja. Simbol penuh dengan multi-interpretasi. Simbol adalah ciri perkembangan “inteligensi” manusia yang membuatnya mampu untuk menginterpretasikan dunianya dan lingkungan sekitarnya dengan cara-cara yang berbeda, dibanding dengan binatang.

    Simbol juga adalah suatu sistem yang kompleks. “From animal reactions to human responses“, itu adalah ungkapan dari Cassirer yang mengatakan bahwa interpretasi manusia terhadap symbol tidak terbatas pada “animal reaction” belaka tetapi respons yang kompleks dan multi interpretasi.

    Pendekatan Cassirer adalah pendekatan budaya (cultural approach). Budaya adalah tanda bekerjanya sistem lambang (symbolic system) pada manusia yang berujung pada 5 bagian, yaitu :

    1. Bahasa
    2. Religi (Agama)
    3. Seni
    4. Sejarah
    5. Ilmu Pengetahuan




Cassirer membedakan manusia pada suatu quote yang terkenal, yaitu bahwa manusia adalah “binatang” yang memakai sistem simbol (animal symbolicum) dalam kehidupannya.

Hakikat manusia adalah Animal Symbolicum.

Sistem perlambangan itu dapat dilihat pada 5 matra (seni, sejarah, bahasa, agama, dan ilmu) yang digambarkan diatas. Itu adalah perbedaan utama antara manusia dan binatang.

Binatang hanya mampu bereaksi (actions) pada apa yang nyata saja (the real). Binatang tidak mampu bereaksi pada kondisi-kondisi yang mungkin (the possible) dalam dirinya. Reaksi binatang hanya terbatas pada “apa yang dialaminya secara nyata disini dan dan saat ini (here-and-now)” dan tidak bisa bereaksi lebih jauh lagi dari itu.

Manusia berbeda. Manusia tidak hanya bereaksi pada kondisi sekarang dan saat ini (here-and-now) tetapi mampu berespons pada berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Dengan kata lain, manusia bisa memasuki apa yang masih “disana dan nanti” (there-and-then).

Itulah makanya bahwa dunia manusia adalah dunia serba kemungkinan, yang tidak ditemukan pada binatang. Manusia mampu mentrasendensikan dirinya dari kondisi sekarang dan disini (here and now) menuju pada kondisi yang memungkinkan dan masih tidak nyata (there-and-then).

Itulah makna dari ungkapan “Men Transcends the Real into the Possible“. Dunia manusia adalah dunia serba kemungkinan dan dengan kemungkinan itu maka manusia bisa memasuki dunia yang “masih belum nyata” dan bisa menjadikannya nyata.




Walaupun melakukan pendekatan budaya dan antropologis terhadap manusia, Cassirer pada dasarnya masih berpendapat bahwa manusia tidak lain adalah binatang, yang membedakannya adalah manusia memakai simbol-simbol yang tidak terdapat pada binatang. Dan dengan simbol-simbol itu, manusia mampu mengembangkan dirinya lewat 5 bagian (matra) dan juga mampu untuk mentransendensikan dirinya pada “dunia yang serba mungkin”.

Walaupun menjelaskan perbedaan manusia dan binatang, pendekatan ini tetap saja menganggap manusia adalah binatang yang memakai “sesuatu” agar terlihat berbeda dengan binatang.

Bagi saya, sebagai “BEING“, manusia memang terikat pada dan merupakan hasil dari budaya. Pendekatan Cassirer ini berusaha mengikatkan manusia pada budaya [habitus] dimana dia hidup dan mengkaitkannya dengan perbedaan manusia dengan binatang.

Hakikat dan eksistensi manusia bisa dilihat jika dilakukan perbandingan [dengan binatang]. Tetapi apakah itu sudah mampu menjawab pertanyaan besar diatas, saya masih meragukannya.
















…to be continued…

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »