Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Religion’ Category

  • sebuah tulisan lama berseri dan tak beraturan
  • sebagai pembayar hutang bagi yang merasa dihutangi 😆
  • panjang dan membosankan
  • tentang sains dan agama
  • semoga anda betah membacanya

Tulisan ini intinya adalah sebuah komentar atas sebuah buku. Tidak ada yang istimewa. Yang menjadi istimewa adalah karena buku tersebut adalah sebuah buku yang mencoba membahas Sains dan Agama dari sudut pandang apologetika dan polemik khususnya apologetika Kristen. Bukan maksud saya untuk mengungkap kejelekan agama sendiri tetapi anggaplah ini sebagai sebuah apologetika atas apologetika. 🙂

(lebih…)

Read Full Post »




Is religion the problem ? No and Yes. The answer turns in part on how one understands the nature of religion. At the heart of the religious orientation and quest, human being finds meaning and hope. In their origins and core teachings, religion may be noble, but how they develop almost invariably falls short of the ideal. Adherents too often make their religious leaders, doctrines, and the need to defend institutional structures as the vehicle and justification for unacceptable behavior. Whatever one’s personal views about the nature and value of religion, it is a powerful and present reality. Thoughtful people of faith must try to learn more about the perils and promises contained within the global human phenomenon we call religion.

(Charles Kimball, When Religion Becomes Evil, p. 32)




Quote kedua dalam minggu ini dengan tema agama. Mungkin kepala saya lagi penuh dengan tema-tema agama dan sekitarnya. Tapi yakinlah kalau tulisan ini masih bersambung dengan tulisan lain yang lebih panjang dan bikin pusing.










…..masih bersambung….

Read Full Post »

Allah

  • tulisan pertama setelah sekian lama hiatus
  • semoga tidak menjadi polemik dan apologetik
  • tolong dibaca dulu tulisan ini dan ini sebagai pengantar 😆







Bagi penganut agama-agama Abrahamaic, kata Allah dan “person” yang menjadi tujuan dari kata itu, sudah pasti mendapat tempat tertinggi dan teragung dari seluruh kehidupan spiritual dan keagamaan mereka. Itu tak dapat diragukan lagi. Kata Allah menjadi pusat dan intisari dari semesta keagamaan mereka.

Pemahaman akan “kata Allah” saat ini kebanyakan sudah bercampur dengan pemahaman teologis dan akidah masing-masing agamanya. Itu juga adalah suatu hal yang wajar karena kata Allah itu sendiri tidak bisa lepas dari pemahaman akan keimanan seseorang. Sudah pasti “kata Allah” mendapatkan suatu interpretasi religius. Allah itu begini, Allah itu begitu. Dan semuanya adalah makna teologis.

Tetapi makna teologis itu sendiri punya sisi negatif. Makna teologis dari “kata Allah” juga bercampur dengan salah satu problem yang ada dalam agama-agama [khususnya agama-agama Avraham/Abraham/Ibrahim) ketika bersentuhan dan bersinggungan.

Apa sisi negatifnya ? Ketika “kata Allah” menjadi klaim kepemilikan dan kepunyaan dari suatu agama, yang kebanyakan dilandaskan pada pemahaman teologis yang sempit. Allah dianggap hanya punya agama tertentu dan tidak boleh digunakan oleh agama lain. Pemahaman ini, bagi saya, mereduksi sesuatu yang lebih jauh dan lebih dalam dari hanya sekedar pemahaman teologis.

Orang jadi lupa bahwa suatu kata (Allah, misalnya) dapat ditelusuri lebih jauh melintasi sejarah suatu agama. Bahkan lebih jauh lagi pada kehidupan-kehidupan pra-religius yang ada di suatu daerah. Saya ambil contoh, kata-kata dosa, manusia, sorga, karunia, dan lain-lain pada awalnya adalah kata-kata yang lahir dari konsep Buddhisme, dengan asal kata dari bahasa Sanskerta.

Kata “Allah” sendiri juga begitu. Kata “Allah” bukanlah sebuah kata yang turun dari surga. Kata Allah mempunyai sejarah perkembangan yang sangat panjang. Mulai dari Avram/Avraham/Abraham/Ibrahim, Yahudi, Kristen, sampai sejarah Islam.

Kata “Allah” mempunyai sejarah perkembangan sebagai kata yang ada dalam bahasa-bahasa Semitik (Aram, Ibrani, Arab). Kata “Allah” mempunyai kesejajaran dengan kata El, Elohim, Elohi dalam bahasa Ibrani. Juga dengan kata Elah, Elaha, Alaha dalam bahasa Aram. Juga dengan kata al-Ilah (Arab).

Pemahaman filologis ini harus dilepaskan dari pemahaman teologis. Mengapa ? Karena pemahaman filologis relatif lebih bebas dari keterikatan akan prasangka-prasangka teologis yang bisa muncul dalam pemahaman teologis. Pemahaman filologis hanya berkutat pada etimologi sebuah kata, perkembangannya, transliterasinya, pemakaiannya, dan lain-lain. Tidak menyentuh penafsiran-penafsiran akan keimanan suatu agama.

Dan saya pernah menyaksikan perdebatan di suatu forum yang saya ikuti tentang masalah “nama”. Mereka memperdebatkan apakah Yesus dan Isa adalah dua nama yang sama, dua orang yang sama, dan mana yang lebih layak dipakai. Mayoritas pemahaman yang digunakan adalah pemahaman teologis dari sudut pandang masing-masing penganut agama. Juga, kebanyakan tidak mengerti bahwa kata “Yesus” dan “Isa” mempunyai akar yang bisa ditelusuri lewat pemahaman filologis; lewat penelitian sejarah akan bahasa-bahasa Semitik dan Yunani pada abad-abad pertama masehi. Untung saja saya tidak tertawa terbahak-bahak melihat debat kusir tanpa arah itu.

Jadi kalau ada yang bertanya :




Apakah Allah yang saya sembah sama dengan Allah yang anda sembah ?




Maka jawaban saya adalah TERGANTUNG. Anda mau jawaban berdasarkan pemahaman filologis atau pemahaman teologis. 😆







Selamat Idul Fitri. Semoga Allah memberkati anda semua.

Read Full Post »

  • lagi-lagi sebuah catatan keisengan
  • bagi seluruh pencinta Liverpool di alam semesta
  • yang lain juga diundang :mrgreen:
  • dan bagi pencinta dan pembenci agama. 😆

Lupakan dulu tentang kekerasan berdarah yang terjadi beberapa hari yang lalu di Monas. Lupakan tentang polemik yang menyertainya. Lupakan juga berbagai tuntutan dan alasan serta hukuman yang menjadi ekor dari peristiwa itu. Juga, kalau bisa, lupakan sejenak kenaikan harga BBM yang cukup memusingkan. 😦

Kita bicara hal yang lain.

Saya menuliskan tulisan ini karena dipicu oleh 2 peristiwa penting yang terjadi di ranah sepakbola, olahraga yang mempunyai penggemar terbanyak di seluruh muka bumi ini.

football and religion…..

Read Full Post »

  • tulisan ini berat dan panjang
  • sebenarnya cuma iseng
  • maaf buat Mbak Gadiza Fauzi kalau namanya digunakan. 🙂
  • tersentil dari tulisan [ini] dan [ini]
  • tidak ada kata hujatan disini
  • kalau tulisan ini berharga, silakan di-save terlebih dahulu

Sebenarnya bukan tulisan ini yang ingin saya publikasikan karena ada tulisan lain menyangkut jenis kelamin Tuhan yang lebih “penting”. Tapi berhubung saya sedang iseng dan sedang mood untuk menulis yang berat-berat, maka tulisan ini yang nongol.

Tapi sebelum saya menuliskan postingan kali ini, saya sempat bermain-main dulu ke blog NewsAnchorAdmirer dan melihat-lihat gambar-gambar “segar” seputar pewarta berita (anchor) televisi. Ada berita tentang anchor MetroTV yang baru yaitu Githa Nafeeza, juga ada berita Anchor of the Year 2007 yaitu Gadiza Fauzi, serta Rahma Sarita, Anchor of the Month bulan February 2008.

Menarik. Selama ini saya kalau menonton berita sangat jarang memperhatikan SIAPA yang menjadi pewartanya (anchor). Karena lebih fokus pada berita yang disampaikan, saya jadi tidak begitu mengetahui siapa-siapa saja anchor berita di televisi. Padahal semuanya cantik-cantik, ganteng-ganteng, dan berpenampilan menarik, setidaknya begitu kata orang. 🙂

Lalu menurut blog itu, Gadiza Fauzi dinobatkan sebagai Anchor of the Year 2007. Saya sebenarnya juga suka sama Gadiza Fauzi karena senyumnya yang manis dan imut-imut itu. 😆 Tapi cara menyampaikan beritanya seperti hendak “terpeleset” dan salah ucap. Lain lagi kalau Zelda Savitri yang menyampaikan berita di Metro This Morning atau program berbahasa Inggris di Metro TV lainnya, dia berbicara seperti meluncur dengan ski es diatas salju dengan kecepatan tinggi : lancar dan sangat fasih. Saya yang listening ability dibawah rata-rata bisa jadi bingung sendiri. Beda kalau Kania Sutisnawinata yang menyampaikan berita.

Tapi anchor berita favorit saya, selain Gadiza Fauzi dan Kania Sutisnawinata, adalah Amelia Ardan. Suaranya enak didengar, empuk, menyejukkan, dan senyumnya itu lho…. keibuan banget. 🙂 Nah, kalau saya yang menjadi juri tunggal siapa Anchor of the Year 2008, maka saya akan memilih Amelia Ardan dari MetroTV. Pokoknya™ Amelia Ardan itu favorit saya. Ada yang protes ?

lanjut aja deh….

Read Full Post »

« Newer Posts