Feeds:
Pos
Komentar

I’m Sorry

I’m sorry….

Lebih dari 2 bulan saya “lenyap” dari rimba perblogan di internet. Lebih dari 2 bulan itu saya tidak pernah mengisi dan meng-update blog ini dengan hal-hal baru. Dan lebih dari 2 bulan blog ini kosong tanpa penghuni.

Ternyata aktivitas kehidupan membuat aktivitas blogging menjadi terabaikan. Apalagi ditambah dengan persiapan untuk menjalani hidup baru.

Tapi dalam beberapa hari ke depan ada beberapa tulisan lagi yang “ringan-ringan” dan “santai-santai”. Saya menjaminnya. 🙂 Apalagi saya tidak terlalu familiar dengan fesbuk yang sekarang tengah digandrungi orang. Blog masih lebih baik untuk katarsis diri dibandingkan fesbuk. Ini cuma opini pribadi.

Jadi, nantikan saja tanggal mainnya.

Iklan

Mengeluh

Kita sudah terbiasa mengeluh. Jalanan macet, mengeluh. Hujan deras, mengeluh. Pekerjaan bertumpuk, mengeluh. Istri/suami/pacar rewel, mengeluh. Suara berisik, mengeluh. Pelayanan tidak memuaskan, mengeluh. Kena tilang polisi, mengeluh.

Mengeluh sepertinya sudah menjadi gaya hidup. 🙂

Mengeluh itu manusiawi. Ketika sesuatu dirasakan telah mengecewakan kita, maka keluhan adalah salah satu cara melampiaskan kekecewaan itu. Saya sendiri juga pernah mengeluh ketika berhadapan dengan orang/situasi yang tidak sesuai dengan harapan saya.

Yang sangat sulit adalah bagaimana menghadapi keluhan, apalagi bagi mereka yang berhubungan dengan produk/jasa. Itulah mungkin yang menjadi alasan banyak perusahaan memiliki “seksi pencitraan”, sebut saja nama mereka misalnya customer service, public relation, corporate social responsibility, atau nama yang lain yang mirip dengan itu.

Saya pun begitu. Sebagai orang yang terlibat dalam menjual sesuatu kepada orang lain, saya sudah terbiasa dengan keluhan-keluhan dari orang yang merasa kecewa dari apa yang saya jual. Mulai dari yang sangat halus, sampai tidak terasa bahwa itu keluhan, sampai yang sangat kasar membentak-bentak dan membuat panas hati.

Lalu apakah saya perlu untuk meninju muka mereka yang mengeluh ? 😆

Say pun bisa berada pada pihak yang lain. Sebagai orang yang memakai produk/jasa tertentu, saya pernah mengeluh terhadap layanan produk/jasa yang saya gunakan. Entah sudah berapa kali PLN mendapat omelan saya ketika listrik tiba-tiba padam tanpa pemberitahuan, atau keluhan akibat lamanya mengurus surat-surat di kantor pemerintah.

Lalu apakah mereka perlu untuk meninju muka saya yang mengeluh ? 😆







Anda boleh percaya boleh tidak, ketika membaca sebuah koran/surat kabar, ada 3 hal/topik yang saya baca terlebih dahulu : Headline, Olahraga, dan Surat Pembaca.

Surat pembaca menjadi prioritas utama karena kebanyakan berisi keluhan. Mulai dari keluhan sangat halus sampai yang cukup kasar. Mulai dari keluhan soal dasi yang robek di binatu terkenal sampai pembatalan penerbangan secara sepihak oleh airlines bersangkutan. Dari situ saya bisa belajar bahwa ternyata keluhan itu punya banyak manfaat jika mampu dikelola dengan baik.

Mengeluh dan keluhan tidak selalu berkonotasi negatif. Bagi orang yang terbiasa hantam dulu belajar belakangan, maka keluhan pasti selalu negatif. 🙂 Bagi yang mampu mengambil hikmah, bahkan dari kotoran sekalipun, keluhan adalah cambuk untuk meningkatkan performance.

Kesimpulan singkatnya : bagi mereka yang langsung mengarahkan tinju pada keluhan tanpa belajar apa-apa dari situ, maka sudah sepatutnya belajar untuk mengambil emas dari tumpukan kotoran manusia dengan menggunakan tangannya sendiri. 😆

Selamat berkeluh kesah dan ambillah hikmah.













Too Much Love Will Kill You




I’m just the pieces of the man I used to be
Too many bitter tears are raining down on me
I’m far away from home
And Ive been facing this alone
For much too long

I feel like no-one ever told the truth to me
About growing up and what a struggle it would be
In my tangled state of mind
I’ve been looking back to find
Where I went wrong

Too much love will kill you
If you can’t make up your mind
Torn between the lover
And the love you leave behind
You’re headed for disaster
Cos’ you never read the signs
Too much love will kill you
Every time

I’m just the shadow of the man I used to be
And it seems like there’s no way out of this for me
I used to bring you sunshine
Now all I ever do is bring you down
How would it be if you were standing in my shoes
Cant you see that it’s impossible to choose
No there’s no making sense of it
Every way I go I’m bound to lose

Too much love will kill you
Just as sure as none at all
It’ll drain the power that’s in you
Make you plead and scream and crawl
And the pain will make you crazy
You’re the victim of your crime
Too much love will kill you
Every time

Too much love will kill you
It’ll make your life a lie
Yes, too much love will kill you
And you wont understand why
You’d give your life, you’d sell your soul
But here it comes again
Too much love will kill you
In the end…
In the end.




Salah satu lagu abadi bagi saya, tentu saja selain In The Arms of The Angel-nya Sarah MacLachlan.

Banyak versi yang sudah saya dengar, tetapi saya lebih menyukai versi yang dinyanyikan oleh Brian May, gitaris Queen, dengan permainan pianonya, khususnya ketika dia tampil di The Freddie Mercury Tribute Concert for AIDS Awareness, April 1992.

Lagu ini memberikan berjuta makna bagi saya. Mungkin juga bagi anda.

















ps :

mp3-nya silakan dicari sendiri di internet. saya tidak ingin dituduh jadi penyebar mp3. :mrgreen:

Usul Iseng

  • tulisan ini hanya usul iseng

Dari dulu saya selalu membenci sesuatu yang bernama diskriminasi. Apapun itu, apapun bentuknya, dan apapun alasannya. Hampir di semua bidang kehidupan, saya membenci diskriminasi.

Ketika menjelang Pemilu 2009, pemerintah mengeluarkan peraturan yang mengharuskan kuota 30% bagi perempuan dari daftar caleg tetap, saya kembali mengerutkan kening. Hal itu bagi saya adalah sebuah diskriminasi dalam bentuk yang diperhalus.

Saya akhirnya mengerti bahwa kebijakan-kebijakan affirmative action masih dibutuhkan di negara ini. Salah satunya adalah masih adanya “ketimpangan gender” dalam wilayah perpolitikan yang sebagian besar masih didominasi kaum laki-laki. Solusinya adalah dengan “memaksa” perempuan untuk tampil di wilayah politik praktis, dan “memaksa” partai-partai untuk mengakomodasi keterlibatan perempuan dalam bentuk yang lebih konkrit, yaitu kuota.

Lanjut Baca »

  • tulisan yang memusingkan

Belakangan ini, nafsu saya untuk menulis benar-benar berada pada titik terendah. Entah kenapa. Tulisan-tulisan yang dihasilkan juga tak lebih dari uneg-uneg belaka, dan tanpa kemampuan mengeksplorasi lebih jauh.

Saya jadi teringat “motivasi” yang diberikan seorang teman dahulu kala :

Lanjut Baca »

Saya Menolaknya, Kawan…!!

  • tulisan ini cuma curhat

Entah mengapa saya tertarik membicarakan soal politik praktis. Mungkin karena Pemilu sudah semakin dekat dan, bagi saya, Pemilu adalah salah satu cara mengubah nasib bangsa ini.

Terus terang, saya tersentil dengan “tuduhan tak termaafkan” yang dilontarkan oleh Manusia Super [disini] yang kira-kira berbunyi :

Lanjut Baca »

Asal Bukan “S”

  • tulisan iseng
  • terinspirasi dari suhu politik yang makin panas
  • terinspirasi dari camer yang jadi caleg yang satu partai dengan “S” sekarang. terimakasih sudah mengijinkan anakmu dipacari orang “brengsek” seperti saya. :mrgreen:
  • sepertinya ini satir, tapi kalau tidak ya mohon dimaafken 😉

Lanjut Baca »