Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘agama’

  • lanjutan dari sini
  • ini cukup panjang dan melelahkan
  • maaf kalau sedikit berantakan karena editnya terburu-buru
  • selamat menikmati 😆

(lebih…)

Read Full Post »

Allah

  • tulisan pertama setelah sekian lama hiatus
  • semoga tidak menjadi polemik dan apologetik
  • tolong dibaca dulu tulisan ini dan ini sebagai pengantar 😆







Bagi penganut agama-agama Abrahamaic, kata Allah dan “person” yang menjadi tujuan dari kata itu, sudah pasti mendapat tempat tertinggi dan teragung dari seluruh kehidupan spiritual dan keagamaan mereka. Itu tak dapat diragukan lagi. Kata Allah menjadi pusat dan intisari dari semesta keagamaan mereka.

Pemahaman akan “kata Allah” saat ini kebanyakan sudah bercampur dengan pemahaman teologis dan akidah masing-masing agamanya. Itu juga adalah suatu hal yang wajar karena kata Allah itu sendiri tidak bisa lepas dari pemahaman akan keimanan seseorang. Sudah pasti “kata Allah” mendapatkan suatu interpretasi religius. Allah itu begini, Allah itu begitu. Dan semuanya adalah makna teologis.

Tetapi makna teologis itu sendiri punya sisi negatif. Makna teologis dari “kata Allah” juga bercampur dengan salah satu problem yang ada dalam agama-agama [khususnya agama-agama Avraham/Abraham/Ibrahim) ketika bersentuhan dan bersinggungan.

Apa sisi negatifnya ? Ketika “kata Allah” menjadi klaim kepemilikan dan kepunyaan dari suatu agama, yang kebanyakan dilandaskan pada pemahaman teologis yang sempit. Allah dianggap hanya punya agama tertentu dan tidak boleh digunakan oleh agama lain. Pemahaman ini, bagi saya, mereduksi sesuatu yang lebih jauh dan lebih dalam dari hanya sekedar pemahaman teologis.

Orang jadi lupa bahwa suatu kata (Allah, misalnya) dapat ditelusuri lebih jauh melintasi sejarah suatu agama. Bahkan lebih jauh lagi pada kehidupan-kehidupan pra-religius yang ada di suatu daerah. Saya ambil contoh, kata-kata dosa, manusia, sorga, karunia, dan lain-lain pada awalnya adalah kata-kata yang lahir dari konsep Buddhisme, dengan asal kata dari bahasa Sanskerta.

Kata “Allah” sendiri juga begitu. Kata “Allah” bukanlah sebuah kata yang turun dari surga. Kata Allah mempunyai sejarah perkembangan yang sangat panjang. Mulai dari Avram/Avraham/Abraham/Ibrahim, Yahudi, Kristen, sampai sejarah Islam.

Kata “Allah” mempunyai sejarah perkembangan sebagai kata yang ada dalam bahasa-bahasa Semitik (Aram, Ibrani, Arab). Kata “Allah” mempunyai kesejajaran dengan kata El, Elohim, Elohi dalam bahasa Ibrani. Juga dengan kata Elah, Elaha, Alaha dalam bahasa Aram. Juga dengan kata al-Ilah (Arab).

Pemahaman filologis ini harus dilepaskan dari pemahaman teologis. Mengapa ? Karena pemahaman filologis relatif lebih bebas dari keterikatan akan prasangka-prasangka teologis yang bisa muncul dalam pemahaman teologis. Pemahaman filologis hanya berkutat pada etimologi sebuah kata, perkembangannya, transliterasinya, pemakaiannya, dan lain-lain. Tidak menyentuh penafsiran-penafsiran akan keimanan suatu agama.

Dan saya pernah menyaksikan perdebatan di suatu forum yang saya ikuti tentang masalah “nama”. Mereka memperdebatkan apakah Yesus dan Isa adalah dua nama yang sama, dua orang yang sama, dan mana yang lebih layak dipakai. Mayoritas pemahaman yang digunakan adalah pemahaman teologis dari sudut pandang masing-masing penganut agama. Juga, kebanyakan tidak mengerti bahwa kata “Yesus” dan “Isa” mempunyai akar yang bisa ditelusuri lewat pemahaman filologis; lewat penelitian sejarah akan bahasa-bahasa Semitik dan Yunani pada abad-abad pertama masehi. Untung saja saya tidak tertawa terbahak-bahak melihat debat kusir tanpa arah itu.

Jadi kalau ada yang bertanya :




Apakah Allah yang saya sembah sama dengan Allah yang anda sembah ?




Maka jawaban saya adalah TERGANTUNG. Anda mau jawaban berdasarkan pemahaman filologis atau pemahaman teologis. 😆







Selamat Idul Fitri. Semoga Allah memberkati anda semua.

Read Full Post »